
Pulang sekolah jam 3 sore
Semua murid kini telah pulang ke rumah mereka masing-masing namun Nanase belum juga keluar dari kawasan sekolah. Melihat sikapnya yang tadi, membuatku semakin yakin akan bahaya yang akan datang menimpanya.
"Kenapa dia lama sekali? Hei Yuu bagaimana ini, Apa kita perlu masuk dan memeriksanya?"
Mendengar pertanyaan Sagiri aku menoleh ke arahnya, melihatnya dengan pandangan yang entah mengapa sulit untuk di jelaskan.
Sepertinya cinta membuat pemikirannya menyempit, menemuinya saat ini hanya akan memperparah kondisi mentalnya dan juga akan sulit menemukan pelakunya jika dia tau kita sedang mengawasi targetnya.
"Tidak, kita tunggu sebentar lagi."
" ... Baiklah."
Setelah menunggu selama kurang lebih 5 menit, akhirnya Nanase keluar dari pagar sekolah bersama dengan teman baiknya sakura.
Ini buruk, sepertinya dia sudah mengatakan semuanya pada sakura, jika sakura terus bersamanya dalam perjalanan pulang, kemungkinan besar penguntit itu tidak akan melancarkan aksinya.
"Apa kau punya nomor sakura?" Tanyaku pada Sagiri yang berada di dekatku, dia dengan fokus memperhatikan kedua gadis yang baru saja keluar dari gerbang.
"Ni*menyerahkan HP-nya. Cari sendiri."
Aku ingin sekali menonjok wajahnya, sialan.
Aku menyalakan handphonenya melihat daftar kontak dan mulai mencari nama sakura.
*Geser
*Geser
Dapat. Hm?
Mataku terbelalak kaget melihat dibawah nama sakura ada sebuah nama yang agak unik, nama itu dimulai dengan huruf kata N lalu di sambung dengan kata milikku ( N-milikku ).
.... Aku sudah kehabisan kata-kata, apa jatuh cinta benar-benar bisa membuat seseorang jatuh seperti ini? Itu menyeramkan.
Setelah selesai menyalin nomor sakura, aku mengembalikan handphone Milik Sagiri dan langsung menghubungi sakura menggunakan nomer pribadiku.
*Menelpon.
.........
[ Siapa? ]
"Ini aku, Yuu dari kelas yang sama denganmu. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu berdua, sesuatu yang serius."
[ Apa maksudmu? ]
"Mari persingkat pembicaraan ini. Kamu sudah tahu, kan, mengenai masalah Nanase yang diikuti oleh seseorang yang tidak dikenal. Aku sudah membuat rencana dan aku ingin kamu mengikuti rencana ini untuk menangkap pelakunya.
Sebelum itu, tinggalkan dulu Nanase dengan alasan bahwa panggilan ini berasal dari ibumu yang memberi tahumu bahwa salah seorang keluargamu meninggal dunia, mengerti? Oh, iya. Jangan sampai Nanase tau akan hal ini."
[ ... Baiklah ]
*Tutup
Setelah pembicaraan singkat kami selesai, dari kejauhan sakura mulai berakting dengan sangat hebat seolah-olah salah seorang keluarganya benar-benar meninggal dunia. Raut wajah Nanase yang tadinya tenang mulai berubah menjadi gelisah.
Dia juga sepertinya ingin ikut dengan sakura untuk pergi ke tempat keluarga sakura yang meninggal. tapi, dengan kelihaian sakura dalam berakting serta mencari alasan pasti sulit untuk Nanase ikut campur kedalamnya. Tak lama setelah itu, sakura pun pergi menjauh, meninggalkan Nanase dalam perasaan takut dan gelisah.
Dengan ini, kami hanya perlu berpencar dan mencari siapa orang yang mengikuti Nanase dari kejauhan, menunggunya mengambil langkah lebih jauh lalu mengakhirinya. Aku harap semuanya berjalan lancar ... Entah mengapa perasaanku tidak enak tentang ini.
Perlahan Nanase mulai berjalan pulang, mengambil rute yang biasanya ia lalui. Dan saat kami hendak mulai mengikutinya, sakura muncul di belakang kami.
"Hei, apa kamu benar-benar sudah mempersiapkan semuanya."
"aaa!! Sial kamu mengangetkanku, dari mana kamu tau lokasi kami?" Tanyaku setelah sembuh dari rasa terkejutku.
__ADS_1
Sagiri yang sedari tadi duduk mulai berdiri perlahan sambil berkata. "Dia pasti melacak nomormu, seperti yang kuduga kamu ada gadis yang berbahaya. Sakura Airi ... Siapa kamu sebenarnya."*menatap tajam.
Melihat tatapan Sagiri, sakura tersenyum ramah dengan kedua mata tertutup lalu berkata dengan lembut. "Hehe itu ... rahasia~ dan aku harap kamu tidak menyelidiki lebih dalam soal identitas ku."
"Haa~ aku mengerti. Jadi berhentilah tersenyum seperti itu, kamu membuatku sedikit merinding." Jelas Sagiri dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri.
Entah mengapa aku kali ini setuju dengan pernyataannya itu, senyuman tadi benar-benar menyeramkan, apa semua wanita mempunyai senyuman seperti itu?
Hm?! Oh, Nanase sudah cukup jauh. Waktunya memulai rencana sederhana ini.
"Ayo."
Setelah melihat Nanase yang sudah cukup jauh, kami pun mulai mengikutinya. Dengan kehadiran sakura yang membawa drone membuat semuanya jauh lebih mudah. Jarak antara rumah Nanase dari sekolah sekitar 500 meter sehingga rencana ini seharusnya tidak memakan banyak waktu.
Dan setelah 221 meter, seseorang dengan pakaian serba hitam yang wajahnya tertutup jaket mulai bertingkah mencurigakan. Yang menyadari hal ini adalah sakura dari drone yang ia kendalikan, sakura kemudian memutuskan untuk mengikuti orang itu menggunakan drone miliknya.
WHUSS!
Tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat jaket pria itu hampir lepas. Namun, kami sudah melihat wajahnya, dia adalah siswa kelas 3, orang yang akhir-akhir ini dekat dengan Nanase di sekolah, senior Tokito.
Menyadari hal itu, sakura menjadi kesal sekaligus marah diwaktu yang bersamaan, rupanya yang menganggu sahabatnya tak lain adalah senior jurusan seni yang ia hormati.
Sakura yang marah mencoba melampiaskan semuanya pada jalan di bawahnya, dia beberapa kali menginjak-injak jalan di bawahnya dengan sekuat tenaga. "Brengsek! Brengsek! Dasar brengsek! Hei!*menoleh ke arah kami. Ayo kita langsung menangka- apa-apaan kalian ini, ekspresi macam apa itu?!"
!!! Apa-apaan orang itu! Sangat jelas, tidak mungkin aku salah lihat, aku harus memastikan ini pada Sagiri sekarang juga!
Aku terkejut sepenuhnya melihat apa yang ada di pinggang Tokito, sesuatu yang bisa menghabisi puluhan nyawa sekaligus, yah itu adalah bom!!
"Hei! Sagiri! Apa kau juga melihatnya?!"
Tap!
Tap!
Sebelum aku sempat mendengar jawabannya, Sagiri berlari sekuat tenaga menuju tempat Nanase. Dia benar-benar memaksakan dirinya sendiri dengan berlari sekuat itu. Tapi, menemui Nanase sekarang hanya akan memperparah keadaan.
[ Ada apa? ]
"Seorang siswa sma sedang berlari menuju target, hentikan dia lalu beri dia borgol. Lalu katakan ini 'urusanmu adalah bagian belakang' mengerti."
[ Oke ]
Sakura yang sedari tadi diam, tanpa aba-aba menarik dasiku kemudian bertanya dengan wajah serius. "Hei! Apa yang sebenarnya terjadi?! Mengapa ketua kelas lari begitu saja?! Apa rencanamu gagal?!"
"Tenanglah, jika rencana ini gagal kamu .... Bisa membunuhku."
" ... Cih!"* Mendorong tubuhku kebelakang. *Tarik nafas .... Buang. "Jadi kenapa ketua kelas tiba-tiba lari setelah melihat rekaman di layar drone ini?"
"Masalahnya bukan di dronenya. Tapi, apa yang ada di pinggang senior Tokito, saat angin berhembus aku secara tidak sengaja melihat benda itu."
"Ha? Benda?"
"Bom pasang, jika tebakanku benar maka, senior Tokito sudah memasang bom pada tubuhnya sendiri."
" A .. apa?! Bom?! Untuk apa dia memasang bom pada dirinya sendiri?!"
"Bukankah sudah jelas, untuk mengancam seseorang."
"Kalau begitu apa yang kita tunggu, ayo pergi sekarang!"
••••••
Aku takut, aku khawatir, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kumohon ... Biarkan aku sampai kerumahku dengan aman.
Meskipun Nanase punya firasat buruk tentang perjalanan pulangnya hari ini, namun, dia tetap mengambil jalur yang biasanya ia ambil. Meskipun begitu, firasatnya menjadi semakin buruk ketika dia akan masuk gang yang biasanya ia lalui.
Apa aku ambil jalan lain saja untuk hari ini? Tidak, itu tidak perlu Nanase, ada cctv di sini seharusnya ini aman-aman saja.
__ADS_1
Nanase yang ketakutan mulai memberi semangat pada dirinya sendiri, menguatkan tekatnya untuk melalui jalan yang biasa ia lalui. Namun, setelah beberapa langkah masuk kedalam gang, seorang pria dari belakang menahannya, dengan satu tangan dimulut Nanase dan satunya lagi di perut.
Dia memeluk Nanase dengan begitu erat sampai-sampai Nanase tidak bisa melepaskan dirinya. Tanpa pikir panjang, pria itu menjatuhkan tubuh Nanase ke jalan dengan dia berada di atasnya.
Nanase berusaha memberontak, namun, apa daya. Ketakutan serta perbedaan kekuatan yang besar membuat Nanase tak berkutik sedikit pun. Melihat Nanase yang sebentar lagi akan menagis pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Nanase lalu berkata.
"Oh Nanase-chan, kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu, kita berdua adalah kesatuan yang tidak mungkin untuk dipisahkan. Aku akan menghamilimu dan membuatmu melahirkan anak-anak dariku, oh! Sungguh masa depan yang indah. Nah, mari mulai."
Saat pria itu membuka jaketnya, Nanase akhirnya tahu siapa dia. Tapi, itu bukanlah hal yang membuatnya terkejut, di tubuh Tokito ada sebuah bom pasang yang akan meledak dengan memutus kabelnya.
Hal itu membuat Nanase cuma bisa pasrah. Tokito mulai menggesek-gesekkan tubuh bagian bawahnya dengan Nanase yang masih memakai seragam sekolah. Dia dengan liar terus menggesek-gesekkan batang miliknya di paha Nanase.
Setelah merasa cukup dengan hal itu, Tokito mulai berniat melepaskan ****** ***** milik Nanase dan mulai memperkaos Nanase. Tapi, sebelum itu terjadi, seorang siswa sma tiba dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya. Dia adalah Yuu.
Yuu-kun?
Melihat Yuu yang baru saja datang, Tokito berhenti dan bersiap menarik salah satu kabel yang ada di badannya. Namun, Yuu langsung menghentikannya.
"Ha ha ha ... Aku kelelahan. Tunggu senior, aku tidak bermaksud menghentikanmu, aku hanya ingin merekam kejadian ini untuk plog ku, bisa, kan?"
"Ha?! Berhenti menggangguku dan pergilah jika kau tidak ingin meledak di tempat ini. Aku harus menyelesaikan ini sebelum malam hari."
"Eee ... Tapi, aku yang membuat temannya pergi tadi senior."
"Apa? Ceritakan detailnya."
Otak orang ini sudah rusak. Pikir Yuu.
"Jadi begini senior, sebenarnya Nanase tadi ingin pulang bersama temannya yang bernama sakura, senior pasti kenal dengannya bukan?"
"Ya aku kenal dengannya karena dia mengambil klub seni yang sama denganku."
"Yap, dia sebenarnya ingin pulang bersamanya tadi, tapi aku menghubungi sakura menggunakan nomer palsu, mengubah suaraku dan memberi tahunya bahwa salah seorang keluarganya meninggal dunia di Osaka, yang membuat Nanase terpaksa pulang sendirian."
Osaka? Tapi, sakura bilang keluarganya yang meninggal ada di luar negri. Pikir Nanase yang masih terbaring di jalan.
"Juga, ada cctv di sebelah sana*tunjukku ke arah tiang listrik yang mempunyai cctv di sana. Namun, senior tidak perlu khawatir, aku juga sudah menyelesaikan masalah cctv itu, jadi senior tidak perlu khawatir. Karena! Semuanya sudah selesai!!"
Dikalimat terakhir, seorang siswa berlari dari belakang, menahan kedua tangan Tokito dan langsung memborgolnya, tak berhenti di sana, pria itu juga melancarkan tendangan keras ke kepala Tokito sampai di tersungkur di jalan dengan kedua tangan terborgol. Dia adalah Sagiri.
"Hei kamu baik-baik saja Nanase?" Seorang gadis muncul dari belakang Yuu dengan ekspresi sedih diwajahnya. Dia adalah sakura yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Dengan penuh air mata ia berlari memeluk Nanase, meletakkan kepala Nanase di pahanya lalu berkata dengan lembut. "Semuanya sudah selesai Nanase, kamu tidak perlu takut lagi, aku bersamamu disini."
"Sakura-chan, aku takut, sangat takut, uaaa!! Hiks! Uaaa! Kenapa kamu meninggalkanku tadi! Aku benar-benar takut sakura. Aku sangat tak-" sebelum perkataan Nanase selesai dia tiba-tiba berhenti, dia melihat teman baiknya sakura kini menagis lebih banyak daripada dirinya sendiri dan memutuskan untuk memaafkannya.
Setelah pembicaraan kedua gadis itu berakhir, sakura mencoba memindahkan Nanase ke tempat yang lebih baik yang berada di Balik tempat sampah, sakura yang tidak bisa kehabisan tenaga karena menagis meminta bantuan Sagiri untuk memindahkannya.
2:45 menit kemudian
Polisi sudah tiba. Seorang polisi muda kini berjalan mendekati Yuu lalu berkata sambil melihat Tokito yang tengah pingsan. "Sepertinya berhasil, ya."
"Ya, sisanya kuserahkan padamu."
Tig ... Tig .... Tig ...
Suara apa itu? Pikir Yuu.
Yuu yang penasaran kemudian mendekati Tokito dan suara yang mengganggunya semakin keras. Setelah dia melepas celana Tokito, dia terkejut setengah mati, bom itu sedang memulai hitungan mundurnya.
00:07 sial
"Semuanya!! Tiarap!!"
Sial, tidak sempat! Apa ini hukuman bagiku? ... Karena selalu memanfaatkan orang lain?
Yuu berlari ke belakang dengan sekuat tenaga tapi, sebelum dia keluar dari gang, bom itu meledak, menutupi seluruh tubuh Yuu dengan ledakan.
__ADS_1