Anomaly

Anomaly
Edge of the Arrow


__ADS_3

Seperti sebuah panah yang melayang, hidup seseorang terkadang bisa berhenti seketika.


London, UK, 2024


Robin menarik busurnya, dan setelah beberapa saat membidik, ia melepaskan panahnya yang melesat dan dengan tepat mengenai bagian tengah sasaran tembak dalam jarak 100 meter. Itu adalah jarak yang cukup jauh untuk latihan memanah. Cukup pantas bagi dirinya untuk mendapatkan tepuk tangan dari beberapa orang yang sedang melihatnya dari belakang. Mendapatkan pujian tepuk tangan seperti itu sudah merupakan hal yang biasa bagi dirinya, apalagi saat sedang berada di lapangan panahan. Darah atlet pemanah dari ayahnya yang mengalir dalam tubuhnya memang sudah terlihat sejak dulu saat dia masih berumur 6 tahun.


“Itu adalah tembakan yang sangat bagus.” ucap seorang pria dari belakang Robin. Robin menoleh ke belakang, dan seorang pria berpakaian jas serba hitam terlihat sedang menghampirinya. Pria tersebut kemudian memberikan sebuah kartu identitas yang dengan segera membuat Robin begitu kebingungan.


“Apa-apaan ini ?”


“Kebetulan saja, tempat kami sedang membutuhkan penembak luar biasa sepertimu. Hubungi saja nomor itu kalau tertarik.”


“Tidak akan. Aku sudah tidak ingin menjadi atlet sejak kecil. Maaf.”


“Ini bukan pekerjaan untuk cabang atlet, nak. Tapi sebuah pekerjaan yang akan membuatmu merasakan film action di dunia nyata.”


“Apalagi jadi seorang aktor.” gumam Robin sambil menghela nafasnya.


“Pokoknya, ambil saja ini.” ucap pria tersebut sambil menaruh kartu identitasnya dengan paksa ke tangan Robin, kemudian pergi meninggalkannya tanpa kata-kata sama sekali. Dengan malas, Robin melihat nama yang tertera di kartu identitas tersebut.


“Ass Buttler ? Nama yang agak... Aneh.” gumam Robin sambil berusaha untuk menahan tawanya.


“Aku mungkin akan menyimpan ini sebentar saja.”


...****************...


10.00 AM. Robin memasuki rumahnya yang luas, besar, dan juga begitu berantakan. Ia berjalan melewati berbagai tumpukan baju yang berserakan di mana-mana tanpa peduli sama sekali, langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai kedua. Tanpa melepaskan jaket kulitnya atau menaruh busur panahnya terlebih dahulu, ia membuka pintu kamarnya begitu saja, hanya untuk menemui seorang gadis sedang berbaring di atas kasurnya sambil memainkan ponselnya. Dengan cepat, gadis itu menoleh ke samping saat menyadari kedatangan Robin.


“Annie ? Really !? Kamu seneng banget nyusup ke rumah orang, huh ?”


Tanpa memperdulikan pertanyaan Robin, Annie langsung turun dari kasur dan memeluk Robin dengan senyuman rindu di wajahnya.


“Kamu tahu ? Sudah begitu lama kita nggak ketemuan, dan aku juga sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Omong-omong, pintu rumahmu sudah terbuka sejak tadi.”


“Menahan lebih lama apanya !? Annie, kenapa kamu jadi lebih sus setelah pulang dari LA !?”


Annie hanya tersenyum, seolah sedang menyindir kepolosan Robin saat ini.


“Aku cinta kamu, Robin. Kamu tahu itu ?”


“Tolong, jangan katakan itu padaku, Annie.”


Walaupun kata-katanya terdengar seperti menolak, apa yang dilakukan oleh Robin sangat berbanding terbalik dengan kalimatnya itu. Annie mendekatkan bibirnya kepada Robin, dan Robin pun menerima ciuman tersebut dengan cepat. Terlihat seperti munafik memang.


“Kamu bahkan langsung menerima ciuman ku, huh ?” goda Annie.


Robin kemudian memojokkan Annie ke dekat kasurnya, kemudian menghentikan adegan berciuman itu. Percayalah, tidak pernah ada niatan bejat yang terngiang di kepala Robin, tidak pernah sama sekali. Mereka hanyalah sepasang remaja yang berpacaran, yang sudah terpisah selama 3 tahun berkat pendidikan, dan Robin jelas sangat mengetahui batasannya sebagai seorang pria. Setidaknya, ia sudah bersumpah tidak akan melakukan 'itu' sebelum ia menikah dengan pasangannya.


“Annie, kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu saja dan bertemu dengan 'goodie daddies' mu, huh ?”


“Kayak yang pernah dikatakan orang bijak yang sudah sangat tua, rumahmu adalah rumahku juga.”


Robin dipaksa untuk menghela nafasnya karena kesal melihat tingkah laku pacarnya itu yang terlalu 'romantis', dalam skala yang buruk pastinya.


“Baiklah, itu tidak terlalu bijak menurutku.”


“Plisss, sekali ini aja, oke ?” tanya Annie sekali lagi pada Robin, kali ini ditambah dengan wajah yang memelas. Ngotot banget sih, keluh Robin dalam hati. Dengan sangat-sangat terpaksa, Robin pun akhirnya duduk di kasurnya, secara tidak langsung mempersilahkan Annie untuk tetap tinggal dan membuat kekacauan di rumahnya.


“Jadi, mau makan apa hari ini ?”


Annie seketika tersenyum begitu lebar, dan bersorak atas kemenangannya dalam memaksa Robin yang dingin untuk membiarkan dirinya tinggal di dalam rumahnya berduaan saja. Annie kemudian mulai berpikir sejenak, dan sebuah brand terkenal sempat terlintas di dalam kepalanya.


“Pizza Hut ?”


Robin seketika merasa begitu tersiksa karena request-an pacarnya itu. Dia bisa membeli apa saja, bahkan yang paling mahal sekalipun. Namun Annie justru memilih merk yang menurutnya 'rendahan' bagi standarnya.


“Demi Tuhan, pilih Pizza yang lebih baik setidaknya.”


Dan begitulah. Pasangan sejoli itu menghabiskan hari mereka hanya berduaan saja tanpa ada gangguan sama sekali, bahkan hingga malam hari pun datang menghampiri mereka. Hanya dengan puluhan merk pizza terkenal, stok minuman bir yang berlimpah, dan juga konsol PS 5 yang memainkan game Dewa Perang : Ragnarok, keduanya sudah terlihat begitu senang.


...****************...


Malamnya, jam 20:00 PM. Robin dan Annie sedang berdiri di depan pintu rumah. Keduanya masih bercanda ria, tidak peduli akan dinginnya malam yang sedang menyeruak. Walaupun begitu, dapat terlihat dengan jelas bahwa Annie merasa sedih saat ini.


“Robin, kenapa rasanya aku masih mau tinggal disini bersamamu ?” tanya Annie dengan nada yang manja. Tingkah laku Annie memang selalu membuatnya menghela nafas panjang, tapi itu bukanlah sebuah masalah besar. Robin telah bersumpah bahwa ia tidak akan pernah mengecewakan pacarnya, siapapun itu, dan tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan sampai rambut mereka memutih sekalipun.


“Sayang sekali, tapi goodie daddies mu itu sudah memaksa terlalu berlebihan.”


“Bukankah itu berarti aku tidak akan bertemu denganmu selama 12 jam berikutnya ??”


Pertanyaan Annie barusan itu sempat membuat Robin menggelengkan kepalanya. Bisa aja ada orang sebucin pacarnya itu.


“Kalau begitu, gimana kalo kita ngabisin waktu bareng di mobil ? Perjalanan ke rumahmu butuh waktu 3 jam, kan ?”


“Kamu mau nganterin aku ??”


“(Sigh) Tentu saja.”


Hanya ada satu hal yang tidak pernah bisa ditolak oleh Robin, yaitu permintaan pacarnya yang terkesan seperti memaksa itu. Sementara Annie sedang bersorak kegirangan, Robin masih di tempatnya yang sama sedang memikirkan kembali apakah dia ini budaknya Annie atau bukan.


Akhirnya, perjalanan malam sekitar 3 jam itupun dimulai juga, dengan misi untuk mengantarkan sang pacar kembali ke rumahnya dengan selamat, dan tanpa luka sedikitpun. Jalan-jalan masih begitu ramai, penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Ditemani oleh lagu In the Star karya Benson Boone, mereka berdua bernyanyi bersama mengumandangkan bagian reff nya yang indah dan juga penuh arti. Dan berkat sisinya yang penuh dengan drama, secara tanpa sadar, Annie mulai meneteskan air matanya. Dramatis banget sih, ucap Robin dalam hati saat mengetahui bahwa Annie sedang menangis lewat kaca spionnya.


“Terbawa emosi, huh ?” tanya Robin sambil mengusap air mata Annie. Karena itu, Annie pun terkejut seketika.


“Eh, aku nangis !?”


“Tenang saja, Annie. Kita akan selalu hidup bersama.” ujar Robin dengan matanya masih tertuju ke arah depan. Tentu saja Robin tidak dapat membaca pikiran seseorang, jadi ia tidak dapat mengetahui apa isi pikiran Annie saat ini. Di dalam pikirannya, Annie sedang merasa sangat bersyukur karena telah memiliki seseorang seperti Robin di sisinya. Orang yang selalu menemani dirinya, menyemangatinya, menghiburnya, dan bahkan mengajarinya sesuatu. Tidak peduli seberapa absurd, aneh, dan keterlaluan tingkah lakunya, Robin selalu ada di sana hanya dengan helaan nafasnya yang khas. Diingat-ingat lagi, Robin bahkan tidak pernah marah secara berlebihan kepadanya. Dia adalah seseorang yang sangat luar biasa dalam benak Annie, dengan kemampuannya untuk menahan amarahnya secara berlebihan. Bukankah Robin terlihat sangat sempurna untuk seorang manusia ?


Sayang sekali, perjalanan yang awalnya diperkirakan hanya akan berlangsung selama 3 jam, tak terasa kini sudah berlangsung selama 5 jam. Itu semua berkat sebuah tragedi yang sempat mereka lihat di tengah-tengah perjalanan, membuat jalanan menjadi begitu macet, sampai-sampai seluruh mobil berhenti sepenuhnya. Saat itu, sebuah mobil terlihat sedang berhenti, dan mengalami sebuah kerusakan di bagian kaca depannya saja. Darah bermuncratan di seluruh bagian mobil tersebut, dan itu saja sudah berhasil untuk membuat Annie merasa sangat ketakutan. Tidak ada pengemudi ataupun penumpang yang terlihat, entah kemana perginya mereka. Robin pun dapat mengetahui kejanggalan yang luar biasa dari kecelakaan tersebut. Bagaimana bisa sebuah mobil hanya mengalami kerusakan di bagian kaca depannya saja, tanpa ada bagian lain yang hancur sama sekali ? Sudah pasti itu adalah hasil dari tindak kriminal. Tapi di tengah-tengah jalan tol ? Bukankah itu terlalu ekstrim bagi sang pelaku untuk menyerang secara langsung sebuah mobil yang melaju dengan kencang di tengah-tengah jalan tol ?


Beberapa menit sudah berlalu setelah melewati pemandangan kecelakaan yang mengerikan itu. Robin menolak untuk berpikir dengan keras apa-apaan yang sebenarnya terjadi di pertengahan jalan barusan, dan itu membuat mengalami sebuah panggilan alam. Seolah Dewi Fortuna sedang berpihak padanya, mobilnya saat ini sedang dekat dengan sebuah rest area. Robin pun segera membelokkan mobilnya menuju rest area tersebut dan menghela nafasnya dengan lega, dan di saat yang sama pula mengundang kebingungan bagi Annie. Saat ini, Robin terlihat seperti baru saja menemukan sebuah oasis di tengah-tengah padang gurun.


Robin menghentikan mobilnya di sebuah pom bensin, entah kenapa, dan dengan cepat segera turun dari mobilnya.


“Hei, Robin !! Kamu mau kemana !?”


“Panggilan alam. I'll be back ASAP !!” seru Robin sambil berlari menuju toilet yang ada di dekat pom bensin itu. Kini Annie benar-benar sendirian di dalam mobil, dan entah karena apa, tubuhnya mulai merinding ketakutan.


“Jujur saja, aku takut sendirian.”


Mata Annie tidak mungkin salah, karena penglihatannya kini juga dibantu oleh sorot lampu depan dari mobil milik Robin. Ia dapat dengan jelas melihat sepasang kaki bercelana hitam panjang sedang berdiri di depan mobilnya saat ini, diam saja tidak melakukan apa-apa. Dan untuk alasan tertentu, Annie merasa kalau orang yang berdiri di depan mobilnya itu saat ini sedang menatapnya dengan penuh amarah dan juga nafsu yang mengerikan. Sudah sekian lama, dan matanya masih saja tidak dapat melihat bagian atas dari sosok tersebut.


“Apa yang sebenarnya dilakukan orang itu ?” gumam Annie dengan sangat ketakutan kepada dirinya sendiri. Ia memutuskan bahwa tinggal tetap di dalam mobil akan jauh lebih aman untuk dirinya, dan itu memang keputusan yang paling tepat. Secara perlahan, setengah bagian dari kedua tangan sosok itu mulai terlihat, sepertinya menggunakan jas lengan panjang berwarna hitam dan juga sarung tangan putih. Orang ini jelas bukan orang normal. Memangnya siapa yang memakai baju seperti itu di malam seperti ini ? Di jalan tol lagi, ucap Annie dalam hati. Belum sampai di situ saja, kini sosok tersebut melangkahkan kaki kirinya ke depan, kemudian berhenti begitu saja. Bagian perut bawahnya mulai terlihat, mengenakan kemeja hitam garis-garis yang di dobeli dengan jas hitam.


Ketakutan Annie semakin memuncak, dan membuat tangannya sangat ingin mengambil ponsel yang ada di kantong celananya saat ini. Namun tangannya gemetaran begitu hebat, membuatnya menjatuhkan ponsel tersebut ke bawah.


“Sialan !..... Sialan !”


Annie menunduk untuk mengambil ponselnya itu kembali, dan saat ia bangkit kembali, betapa terkejutnya ia. Sosok tersebut telah jongkok diatas kap mesin mobil Robin, menunjukkan dirinya sepenuhnya. berjas hitam untuk pengantin pria, mengenakan sebuah Bros bunga mawar di dada kirinya, dan sebuah topeng... Topeng berbentuk kepala kelinci tersenyum yang dipenuhi dengan lumuran darah kering. Annie berteriak begitu kencang sampai tersentak menghantam kursi mobilnya. Dengan ketakutan yang begitu besar dan hebat, kedua tangan Annie secara sendirinya bergerak untuk menyalakan ponsel iPhone-nya. Namun hal itu segera disadari oleh pria bertopeng kelinci imut tersebut. Pria itu mengisyaratkan Annie agar tidak menggunakan ponselnya dengan jari telunjuknya, kemudian menunjuk ke arah belakang Annie, lebih tepatnya ke arah kursi belakang. Dengan penuh kebingungan, Annie secara perlahan menoleh ke arah kursi belakang, dan dirinya menjadi mati rasa seketika. Ia mati rasa bukan karena terkena oleh serangan dengan kekuatan misterius, namun mati rasa saat melihat tiga pria bertopeng lainnya duduk di kursi belakang, dan ketiganya menatap langsung ke arah mata Annie.


Topeng singa, topeng serigala, dan topeng domba. Dari belakang, topeng singa mengancam Annie dengan mendekatkan pisau silet ke leher Annie, sementara topeng serigala meraih tangan kanan Annie yang saat ini sedang memegang ponselnya dengan perlahan. Setelah cukup dekat, topeng domba mengambil ponsel Annie dan menyalakannya, dan dari suara yang terdengar, topeng domba itu sepertinya sedang menghubungi seseorang melalui panggilan darurat. Dering telepon terdengar, namun topeng domba seketika mematikan telepon tersebut hanya dalam beberapa detik setelah telepon tersebut tersambung.


“Apa yang sebenarnya.... Kalian inginkan ?” tanya Annie kepada ketiga pria bertopeng tersebut, sementara dalam hatinya, ia sedang menanyakan kabar dari Robin. Kenapa begitu lama sekali dia ? Apakah dia meninggalkan ku saat ini ? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Annie. Ketiga pria bertopeng tersebut menaruh jari telunjuk mereka di depan mulut, menyuruh Annie untuk diam tanpa kata-kata. Topeng domba kemudian mendorong kepala Annie secara perlahan ke arah topeng kelinci, yang kini sedang menunjuk ke arah kursi pengemudi. Merasa bahwa dirinya sedang terancam, Annie pun melakukan perintah topeng kelinci untuk menoleh ke arah kursi pengemudi, dan kini jantungnya baru saja hampir copot karena terkejut bukan main.


Kini muncul seorang wanita berjas putih dan mengenakan topeng kambing sedang duduk di kursi penumpang, melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Jari-jemari topeng kambing bukankah jari-jari biasa, karena itu dilengkapi oleh bilah-bilah besi tajam yang sudah sangat berkarat. Tangisan ketakutan Annie pecah di saat itu juga, mengetahui bahwa tidak lama lagi dirinya akan disiksa menggunakan bilah besi berkarat itu. Topeng kambing menunjuk mata kanan Annie dengan telunjuk besinya yang panjang, dan tidak lama kemudian ia menusuknya tanpa peringatan sama sekali.


“SAKITTT !!!”


Topeng singa mendekatkan pisau kecilnya ke leher Annie lebih lagi, memaksanya untuk diam seketika. Dari belakang, topeng serigala kemudian menyodorkan sebuah kotak pizza dari kursi belakang, entah dari mana, sementara topeng kambing memutar jari telunjuknya di mata Annie yang telah terluka. Kotak pizza yang ada di depan mata Annie saat ini terasa sama seperti sebuah pereda rasa sakit baginya. Ia teringat kembali akan kebahagiaan terakhirnya saat sedang bersama dengan Robin. Namun itu semua seketika sirna begitu saja sama seperti saat topeng serigala membuka kotak pizza tersebut, menunjukkan dua buah pizza berbentuk figur manusia dengan tulisan: ROBIN AND ANNIE NEVER TOGETHER. Topeng domba mengambil tulisan Annie, namun itu menghilang seketika menjadi debu. Mungkin itu adalah sebuah isyarat bahwa dirinya akan segera menghilang dari dunia saat ini. Emosinya menjadi campur aduk, antara sedih, takut, kecewa, dan juga marah. Sementara itu, Robin baru saja keluar menyelesaikan panggilan alamnya. Setelah ia mengantongi ponselnya, di sanalah ia dikejutkan oleh pemandangan yang penuh dengan kekacauan di sekitar mobilnya itu satu orang bertopeng kelinci imut sedang berdiri di atas kap mesin mobilnya dan sedang mengangkat sebuah kapak besi kasar, sedangkan 4 orang bertopeng yang lainnya berada di dalam mobilnya, mengancam dan mempermainkan tubuh Annie dengan sangat kejam.


Di saat itu juga, Robin mematung seketika. Matanya yang sangat jeli tidak mungkin pernah salah. Ia sudah memanah dengan jarak yang memecahkan rekor dunia, 890, 45 meter, dan itupun masih bisa ia lakukan di setiap harinya, atau bahkan memecahkan rekornya sendiri. Dari dalam mobilnya, Annie terlihat sedang memandang Robin dengan penuh kekecewaan. Kelima orang bertopeng tersebut menoleh ke arah Robin, dan saat si topeng kelinci itu mengayunkan kapaknya, penglihatan Robin dipenuhi dengan glitch. Beberapa saat kemudian, penglihatan Robin menjadi normal kembali, mendapati mobilnya yang hanya mengalami kerusakan di bagian kaca depannya, dan bagian interior yang dipenuhi oleh cipratan darah.


Robin tercengang, jatuh berlutut ke jalanan beraspal, dan tanpa sadar meneteskan air matanya. Kita akan selalu bersama. Bukankah itu yang ia janjikan kepada Annie ? Kenapa semuanya berakhir dengan begitu saja tanpa kata-kata ?


“Apa-apaan.... Yang baru saja terjadi ?”


...****************...


“Jadi, Tuan Robin ?..... Katakan apa yang membuatmu ke tempat ini, dan bagaimana caranya ?”


“Aku sudah bilang, bukan !? Pacarku dibunuh oleh 5 orang bertopeng hewan sialan dan mereka semua menghilang begitu saja !”


“Wah wah wah, rileks saja...... Rileks, oke ? Kenapa kita tidak mulai dari bagian yang paling mudah dipahami terlebih dulu ?”


Robin menghela nafasnya, mencoba untuk menenangkan diri sendiri. Tidak pernah ia sangka kalau dirinya akan pergi ke tempat aneh bernama SCR Foundation yang ditunjuk oleh kartu identitas *** (pantat) tersebut. Entah apakah dia harus berterima kasih atau mengutuki orang yang bernama *** (pantat) itu, yang pasti ia berhasil menemukan tempat ini yang ternyata tidak terlalu jauh dari pusat kota London. Seumur hidupnya, ia bahkan tidak pernah menyadari keberadaan bangunan besar ini di tengah kota. Robin mengambil kartu identitas *** (pantat) dari kantong celananya, kemudian meletakkan itu di dekat sang pewawancara.


“Bukankah ini punya si pantat itu ? Jadi orang itu berulah lagi.”


Pertanyaan seketika mengalir di dalam kepala Robin. Apakah itu berarti si pantat itu sudah melakukan yang seperti sejak dulu ?


“Baiklah, langsung ke intinya saja. Apakah kamu melihat ciri fisik dari pelaku itu ? Dan juga keanehan mereka ?”


“Topeng kelinci, topeng singa, topeng serigala, topeng domba, topeng kambing. Keanehan ? Kurasa kemunculan 4 orang sialan itu di dalam mobil ku saja sudah cukup aneh. Omong-omong, kelima orang sialan itu menghilang seketika bersama dengan pacarku setelah si kelinci mengayunkan kapaknya.”


Wajah sang pewawancara bersama dengan peneliti yang ada di samping kirinya tegang seketika, seperti pernah menghadapi hal yang sama di masa lalu.


“Hei, kalian kenal mereka ?”


Pewawancara itu tidak mempedulikan pertanyaan dari Robin, dan ia kemudian membisikkan sesuatu kepada peneliti yang ada di sampingnya.


“Bukankah itu SCR 1314 ? Jadi mereka beraksi kembali setelah sekian tahun lamanya.”


“Kelihatannya memang begitu. Biarkan aku mengirim agen spesial setelah ini.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Sekilas, Robin dapat mendengar bisikan-bisikan mereka berdua itu, dan 2 kata yang paling menarik perhatiannya adalah SCR 1314 dan agen spesial. Tekad untuk membalaskan dendam Annie dalam diri Robin pun seketika membara, dan ia langsung berdiri sambil menggebrak meja dengan penuh semangat, dan juga amarah.


“Agen spesial !? Biarkan aku masuk sebagai salah satu dari mereka juga ! Kalian tahu kalau aku ini punya darah turunan atlet panahan, kan !? Iya, kan !?”


Kedua orang yang berada di depan Robin pun terkejut bukan main karena itu. Mereka mendapatkan sedikit poin dari kalimatnya Robin. Intinya, dia ingin ikut mendaftar sebagai agen spesial, walaupun sebenarnya situs 33 sudah terlalu kelebihan agen spesial untuk saat ini. Sang peneliti kemudian menatap ke arah jendela kaca yang ada di belakang Robin, mendapati sang admin dari Site 33 itu sendiri sedang mengawasi keseluruhan wawancara selama ini. Setelah mendapat anggukan langsung dari sang admin, peneliti tersebut pun terpaksa untuk mengiyakan keinginan Robin yang terkesan seperti keinginan untuk bunuh diri.


“Baiklah. Hanya saja, jangan sampai mati di hari pertama.”


Tekad Robin sudah bulat. Ia bahkan tidak menyesal kalau harus kehilangan nyawanya sendiri, yang penting ia dapat membuktikan kepada Annie bahwa dirinya sedang berusaha sebisa mungkin. Tatapan kekecewaan Annie tepat sebelum kematiannya itu begitu menusuk hati Robin.


Dan begitulah. Berbulan-bulan telah berlalu, dan Robin juga sudah resmi menjadi seorang agen spesial di tempat ini. Selama ini ia telah mengikuti berbagai misi penanganan anomali khusus, namun juga ikut serta dalam penyelidikan kematian Annie. Namun itu semua sia-sia saja. Hingga 4 bulan telah berlalu, dan yang ia miliki sebagai bukti hanyalah identitas dari darah seorang Annie.


Annie Lambert, putri satu-satunya dari seorang Demokrat terkenal di Inggris, Johan Lambert, mewarisi kekayaan sebesar $ 43 miliar di umurnya yang terbilang cukup muda, yaitu 20 tahunan. Namun, bukan hanya kekayaan saja yang diwarisi nya, tapi juga kepintaran dari sang ayah dan juga ibunya. Lulusan dari 2 universitas paling terkenal sekaligus, Harvard dan juga Oxford university, ia lulus dengan nilai paling sempurna sepanjang sejarah kedua universitas tersebut. Robin telah mengetahui itu semua, bahkan sejak dulu. Semua informasi yang dia pegang saat ini tidaklah berguna sama sekali, dan kelihatannya tidak membawanya semakin dekat dengan sang pelaku pembunuhan, SCR 1314.


Sebagai seorang agen spesial, strategi dan juga kepemimpinannya patut untuk diacungi jempol sebagai seorang pemula. Namun tidak dengan kemampuannya dalam melindungi orang lain. Dalam setiap misinya, selalu Robin sajalah yang pulang dengan selamat, entah apa yang terjadi kepada rekan-rekannya. Karena itu telah terjadi berkali-kali, sampai-sampai pihak Foundation terpaksa untuk menghentikan Robin dari pekerjaan lapangan sementara. Dan itulah yang membuatnya duduk di kursi dan meja kafetaria paling pojok itu saat ini, sendirian. Ia memakan sandwich nya dengan sangat lesu, hampir tidak bernyawa sama sekali. Setidaknya kesendirian itu tidak berlangsung lama, karena entah bagaimana, keberadaannya itu akhirnya di sadari oleh seorang wanita dengan baju ketat berwarna hitam, yang kemudian segera duduk di sampingnya.


“Kamu terlihat seperti sedang dalam masalah, huh ?” tanya wanita itu sambil menatap Robin. Robin tidak menjawab pertanyaannya selama beberapa detik, karena ia sedang kebingungan saat ini. Walaupun masih sangat muda, kira-kira 3 tahunan di bawahnya, namun ia dapat merasakan aura mendominasi yang sangat besar dari wanita itu. Terlihat seperti anomali baginya.


“Siapa kamu ?”


“Aku ? Tidak kenal, huh ? Aku adalah admin disini.” jawab wanita tersebut sambil berusaha menahan tawanya. Mata Robin melotot seketika saat itu juga. Ia sudah terlalu sering berpapasan dengan wanita yang mengenakan baju ketat berwarna hitam di dekat ruang lobi, dan juga melihat papan LED yang bertuliskan Administrator Libya, lengkap dengan gambarnya. Kalau diingat-ingat lagi, memang wajah wanita yang sedang duduk bersamanya sekarang mirip dengan wajah yang ada di papan LED itu.


“Tidak mungkin ini adalah kenyataan.”


“Realita memang selalu kejam, huh ?” sindir wanita itu sambil tertawa agak keras. Di sisi lain, Robin semakin merasa direndahkan oleh wanita yang berumur 3 tahun lebih muda darinya itu.


“Kamu tidak seperti admin yang seharusnya. Apa yang dilakukan seorang pemimpin di kafetaria seperti ini ?”


“Sudah sejak umur 6 tahun aku jadi admin disini. Jadi kamu tidak perlu takut kalau tempat ini akan roboh hanya karena aku meninggalkan tugasku sebentar saja.” sindir Libya.


Dunia seketika terasa sudah hancur di mata Robin. Sepertinya sudah tidak ada yang namanya keseimbangan di dunia ini. Lebih buruknya lagi, sejak saat itu juga, Robin mulai selalu diikuti Libya. Tidak peduli dimanapun ia sedang berada, Libya akan selalu dapat menemukannya, dan juga berbincang dengannya selama hampir berjam-jam. Seolah jabatan tidak pernah ada di antara mereka, Robin mulai menjadi dekat dengan Libya, begitu juga dengan Libya yang dengan keinginannya sendiri memilih Robin sebagai pengawal pribadinya. Bukan Robin yang selalu ada di samping Libya, namun justru kebalikannya. Libya selalu memaksa untuk menemani Robin apapun yang sedang ia lakukan, dan selalu menyemangatinya. Stres yang dialami oleh Robin semakin menurun, dan itu semua berkat seorang administrator yang paling berbeda dengan admin yang lainnya, yaitu Libya Karsikoff.


...****************...


28 September 2024, 21:00 PM, Site 33, London, UK.


Robin sedang melatih kemampuan memanahnya seperti biasa. Ia berjalan secara perlahan sambil menembakkan panahnya. Seluruh panah yang ia tembakkan itu mengenai target tepat di tengah, seperti yang diharapkan dari keturunan seorang atlet pemanah profesional. Walaupun sudah berhasil menyelesaikan latihannya sepanjang hari dengan hasil yang sempurna sekalipun, Robin tetap merasakan ada yang janggal dengan dirinya. Seperti masih ada yang kurang dengan kemampuan memanahnya itu.


“Sudah selesai latihan ? Kamu selalu terlihat murung, huh ? Padahal hasil latihanmu selalu sempurna. Memangnya kenapa ?”


Hanya Libya. Dan seperti biasanya, ia dapat menemukan Robin di manapun ia berada, bahkan di tempat paling tersembunyi sekalipun.


“Entahlah. Seperti ada yang kurang dari kemampuanku.”


“Tidak akan ada yang kurang kalau semua nilai mu itu sempurna, bodoh. Karena itu juga aku membawakanmu ini, sebuah senjata spesial, panah eksplosif. Dan lagipula, tidak ada yang salah dengan kemampuanmu, tapi semua itu sebenarnya hanyalah pandangan hidupmu selama ini.” ucap Libya sambil meletakkan sebuah tas panah yang katanya 'spesial' di atas sebuah meja besi.


Semua kalimat yang dikatakan Libya selama ini memang selalu bersifat menyindir, dan Robin pun selalu dapat menerimanya. Namun entah kenapa untuk saat ini, ia merasa kalau apa yang dikatakan oleh Libya sudah terlalu berlebihan dan membuatnya marah seketika.


“Kamu tidak tahu apa-apa tentang pandangan hidup, Libya.” ucap Robin dengan nada kesal sambil berjalan melewati Libya begitu saja.


“Baiklah, itu membuatku marah.” balas Libya sambil melototi Robin yang melaluinya dengan dengusan panjang, dan kesal. Robin berhenti tepat di depan lorong yang mengarah ke pintu keluar, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, emosinya terbakar begitu hebat. Namun tetap saja, sebagai pria yang baik hati, Robin berusaha sebisa mungkin untuk menahannya.


“Apa yang kamu tahu tentang pandangan hidupku, Libya ? Memangnya kamu tahu bagaimana aku hidup selama ini !?”


“Oh, aku tau semuanya, Robin. Aku tahu semua tentang apa yang selalu kamu pikirkan selama ini, Robin ! Kamu selalu saja mementingkan untuk menyelamatkan nyawa orang lain sebanyak mungkin di atas hidupmu sendiri !! Itulah yang menjadi pandangan hidupmu, bukan !?”


“Lalu apa salahnya dengan itu !? Bukankah itu baik !? Bukankah itu adalah tujuan tempat ini diciptakan !?”


“Karena itulah kamu selalu terluka dalam hati !! Karena itulah kamu memaksakan dirimu di ambang batas !! Setelah kehilangan begitu banyak orang, kamu menyimpan penyesalan yang begitu dalam dan mengubahnya menjadi dendam !! Itulah kehidupanmu selama ini, bukan !? Kamu kehilangan ayahmu karena ketidaksengajaan, kemudian bertekad untuk melindungi Annie pacarmu dan kehilangan lagi, kemudian bertekad lagi dan kehilangan Autos, Mercy, Frost, Castle, dan yang lainnya ! Kamu bersumpah, dan bersumpah lagi, memaksa dirimu untuk melindungi semuanya. Itulah yang membuat dirimu merasa ada yang kurang selama ini !! Kamu sendiri yang mengatakan tidak ada manusia yang sempurna, tapi kenapa kamu berusaha untuk menjadi satu dengan kesempurnaan itu !? Aku selalu ingin mengatakan ini, tapi kamu selalu terlihat biasa-biasa saja dengan luka dalam hati mu itu !!”


“Jadi, itulah yang membuatmu mengikuti aku selama ini ?”


“...... Begitulah.”


“Lucu.” jawab Robin dengan singkat, kemudian berpaling dan meninggalkan Libya lagi, berjalan menuju pintu keluar dari ruang latihan. Hanya ada keheningan mutlak, itulah yang sedang terjadi di antara mereka berdua.


Kalau kamu mencintai seseorang, maka kamu harus bersiap untuk kehilangan seseorang itu, dan juga melindungi seseorang itu.


Dan bagaimana kalau aku mencintai semua orang yang ada di seluruh dunia ini, ayah ?


Ekspektasi mu itu terlalu berlebihan, nak.


Seketika, dialog antar dia dengan ayahnya saat masih berumur 7 tahun itu kembali teringat di dalam kepalanya. Sebuah dialog sebelum semua bencana dalam hidupnya terjadi. Kalimat yang dikatakan oleh ayahnya itulah yang selalu ia pegang teguh sebagai pedoman hidupnya. Jika kamu mencintai seseorang, kamu harus siap untuk kehilangan dan juga melindunginya. Namun ia masih tidak siap untuk kehilangan seseorang. Serangan demi serangan mendatanginya terus tanpa henti, dan ia hanya dapat bertahan selama mungkin. Itu sama seperti dirinya menyerang gerombolan monster hanya dengan menggunakan ujung panah yang kecil saja, dan tidak pernah ia ganti. Ia menggunakan ujung panah tersebut terus-menerus, tidak peduli betapa rusaknya ujung panah itu. Tidak peduli sudah berapa banyak karat yang menghiasi ujung panah itu, ia tetap tidak peduli dan masih saja menggunakannya. Hingga ujung panah itu akhirnya hancur, dan ia masih tetap saja berdiri melawan ombak besar dengan kedua tangan kosongnya.


Betapa menyedihkannya anakmu ini, ayah. Bukankah begitu ?


Tiba-tiba sebuah guncangan hebat menghantam Site 33, dan itu terasa sampai ke tempat Robin dan Libya berada saat ini. Tembok-tembok mulai retak, dan lantai pun mulai hancur berantakan.


“Libya, keluar lah dari sini sekarang juga !!”


Alih-alih berlari seperti yang disuruh oleh Robin, Libya justru mengambil tas panah eksplosif yang ada di meja dan berjalan dengan santai untuk memberikannya kepada Robin.


“Sialan itu, dia datang lebih cepat daripada yang diduga !”


“Tunggu, sialan apa !?”


Keduanya dengan segera keluar dari ruang latihan itu, kemudian Libya menghentikan langkah Robin untuk berbicara sebentar dengannya.


“Robin, kamu lari dari sini saja lebih dulu. Masih ada yang ingin ku aktifkan di ruanganku saat ini !”


“Alarm sudah berbunyi, tahu !! Memangnya apa yang mau kamu aktifkan !? Beritahu saja aku dan aku akan melakukannya untukmu !!”


“Bodoh ! Kenapa kamu masih saja memaksakan dirimu sendiri seperti biasanya !? Apakah ceramah ku yang panjang kali lebar itu masih belum cukup untuk mengubahmu !? Ini adalah tugasku dan hanya aku saja yang mengetahuinya !!”


“Begitu juga denganku ! Adalah tugasku untuk melindungi seorang admin sepertimu, Libya !!”


“Cih, kamu terlihat sangat bodoh saat memaksakan diri seperti itu. Kenapa kita tidak melakukannya bersama saja ?”


“Baiklah, kita melakukannya bersama-sama.”


PERHATIAN : CONTAINMENT BREACH TELAH TERJADI. HARAP SEGERA EVAKUASIKAN DIRI KE TEMPAT YANG LEBIH AMAN.


SEKALI LAGI, CONTAINMENT BREACH TELAH TERJADI. HARAP SEGERA EVAKUASIKAN DIRI KE TEMPAT YANG LEBIH AMAN.


Robin dan Libya berlari dengan cepat melewati atap-atap yang perlahan mulai runtuh menimpa lantai. Mereka harus berlari lebih cepat, atau jika tidak, mereka berdua akan ikut tertimpa oleh reruntuhan atap itu. Sambil berlari, mereka berbincang sedikit saja.


“Libya, sepertinya kamu tahu ini akan terjadi. Sejak kapan ? Dan juga seberapa jauh ruangan mu itu dari sini ?”


“Sangat jauh, dan juga sudah sejak lama. Karena ada waktu luang, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi mu tadi. Betapa baiknya aku ini.”


“Kamu sudah tahu kalau ruanganmu jauh dan masih saja mengunjungi ku !? Itu adalah sebuah kebodohan yang mutlak, Libya !!”


“Memang, aku tahu itu.”


Menggunakan seluruh tenaganya, Libya yang awalnya ada di belakang Robin kini dengan cepat menyalipnya seperti dalam kecepatan cahaya.


“Itu benar-benar gila.” gumam Robin. Ia pun mempercepat larinya, menyusul Libya yang sudah jauh di depan sana.


Berbagai puing-puing yang berjatuhan dapat mereka hindari dengan mudah. Alarm yang berbunyi berulang kali dapat terdengar dengan jelas, bahkan hampir memekikkan telinga mereka. Getaran hebat terjadi di mana-mana, begitu juga dengan ledakan beruntun di berbagai tempat. Fasilitas ini sedang dalam kekacauan yang dahsyat.


Robin dan Libya akhirnya tiba di sebuah lorong yang penuh dengan kerumunan staf yang sedang berlari menyelamatkan diri mereka sendiri. Di saat yang lainnya berlari menuju pintu evakuasi, di sanalah mereka, Robin dan Libya, berlari melawan arus kepadatan para staf yang begitu ketakutan.


“Sialan. Libya, mereka terlalu menghalangi kita !!”


“Santai saja, kita sudah dekat dengan ruangan ku.”


“Santai !? Bagaimana bisa kita santai di saat-saat seperti ini, bodoh !?”


Mata Libya kemudian menangkap seseorang, sosok yang jarang sekali terlihat di yayasan sedang berlari dengan sangat panik. Bukankah itu *** ? tanya Libya dalam hatinya. *** pun sepertinya juga menyadari Libya dan Robin, dengan segera menghentikan larinya.


“Admin Libya, dan kau si pemanah ! Kenapa kalian malah melawan arus, bangsat !?”


“Hei, pantat sialan ! Apakah ada orang di ruanganku yang tinggal untuk mengaktifkan meriam !?”


“Tidak ada.”


Libya seketika menggeram, kemudian langsung melihat ke arah ruangannya yang sudah tidak jauh di depan.


“Karena itulah aku dan Robin melawan arus seperti ini, sialan.” gumam Libya. Goncangan hebat terjadi lagi, dan bahkan membuat seluruh lampu yang ada di lorong yang menanjak itu mati seketika. Asap terlihat di berbagai celah tembok, membuat Robin berpikir bahwa lorong ini akan meledak tidak lama lagi.


“Libya, keadaannya semakin parah ! Tidak ada waktu untuk memarahi atau memecat orang lain saat ini, oke !?”


“Aku tahu itu.”


Dengan cepat, keduanya berlari melawan arus kerumunan staf yang semakin panik, meninggalkan *** di tempatnya.


“Um.... Semoga Tuhan selalu bersama dengan kalian !!” seru *** dari kejauhan, kemudian lanjut berlari menyelamatkan dirinya.


Robin mendobrak masuk ke ruangan Libya, disusul oleh Libya itu sendiri. Terlihat sebuah panel kontrol yang begitu panjang, dan beberapa tombol di sana telah menyala.


“Semua sistemnya telah aktif, kita hanya perlu menarik tuasnya saja !” seru Libya sambil berlari mendekati panel kontrol tersebut.


“Begitukah ? Itu jelas sangat membantu.”


Robin menyusul Libya mendekati panel kontrol tersebut, dan dibuat kebingungan oleh Libya yang diam termangu mengamati panel kontrol itu.


“Ada apa ? Segera tarik tuasnya bodoh ! Bangunan ini tidak akan bertahan lebih lama lagi !!”


“Hanya memastikan saja. Semua sistem memang sudah diaktifkan dengan benar, itu saja.”


“Aku bahkan tidak tahu fungsi tombol-tombol aneh itu, bangsat.”


Robin meletakkan kedua tangannya di atas tuas, kemudian menariknya dengan sekuat tenaga. Mengejutkan, tuas itu tidak bergerak sama sekali.


“Sialan, kenapa tuas ini tidak mau bergerak sedikit saja !?”

__ADS_1


“Itu karena kamu butuh kekuatan nakama untuk melakukannya, bodoh.”


Libya menoleh ke arah Robin, dan kemudian tersenyum menghinanya sama seperti biasa.


“Hmph, sudah kuduga kamu ini bukan admin biasa.”


“Memang, karena aku adalah admin yang luar biasa.”


Setelah keduanya saling menatap satu sama lain dan tertawa kecil bersama, mereka pun berteriak sekencang mungkin, mengeluarkan seluruh tenaga mereka. Namun tetap saja, tuas itu tidak bergerak seinci pun.


“Libya, siapa yang menciptakan tuas bodoh macam ini sebenarnya !?”


“Aku juga tidak tahu ! Yang pasti orang bodoh itu bukan aku !!”


“AHAHAHA, beruntung aku ikut bersamamu, bangsat ! Bagaimana ? Sepertinya kita akan mati bersama di sini ?”


“Kalau begitu, aku sudah siap untuk mati. Kamu sendiri bagaimana !?”


“Kalaupun harus mati, aku akan tetap memaksakan diriku dan mencegahnya. Kedengaran hebat, bukan ?”


“Dasar keras kepala !! Itu terdengar seperti pahlawan yang kuinginkan selama ini !!”


Keduanya berteriak semakin kencang, mengerahkan seluruh tenaga mereka lebih banyak lagi. Dan beberapa saat kemudian, tuas itu akhirnya bergerak untuk pertama kalinya, menyalakan monitor yang ada di samping kanan Libya.


“Hei ! Sepertinya kita berhasil !! Bukan satu saja, tapi dua sekaligus !!”


“Bukankah itu hebat !?”


“Masih ada dua tahap lagi, bodoh !!”


“Oh, sialan.”


CHAMBER 1 TERBUKA : MENGISI ENERGI.


CHAMBER 2 TERBUKA : MEMANASKAN ENERGI.


“Hei, apa ini aku saja, atau tuasnya terasa semakin berat !?”


“Salahkan yang membuat tuas ini, tapi itu memang sudah sistemnya !!”


“Dasar pembuat bajingan !!”


Setelah beberapa saat berjuang, tuas itu akhirnya turun untuk yang ketiga kalinya.


CHAMBER 3 TERBUKA : MENGALIRKAN ENERGI.


“Tinggal sekali lagi, Robin Crossfire !!”


“Dimengerti. Tapi kedua tanganku rasanya sudah ingin patah sekarang, Admin Libya Karsikoff !!”


“Kalau begitu bertahanlah.... Sedikit lagi !!!”


CHAMBER 4 TERBUKA : MENEMBAKKAN ENERGI.


Sebuah ledakan api panas berwarna biru dan merah menyembur seketika dari atas ke bawah. Kekuatan semburannya yang dahsyat dengan cepat menghempaskan Robin dan Libya hingga terjatuh ke lantai. Semburan api tersebut masih berlangsung lama, bahkan sampai setengah menit pun itu masih bertahan.


“Apa-apaan itu ?”


Libya segera bangkit berdiri, kemudian berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar.


“Kita harus segera keluar dari sini, Robin. Kekuatan dari semburan laser itu juga akan membantu menghancurkan gedung ini.”


“Apa !?”


“Maafkan, tapi aku benar-benar lupa untuk memberitahumu.”


Robin pun berdiri dengan cepat dan segera berlari menuju pintu ruangan Libya, kemudian membukanya. Hanya saja, begitu pintu tersebut terbuka, keduanya langsung diam mematung. Seluruh atap dan lantai besi yang menanjak, semuanya telah menghilang bagaikan ditelan bumi bulat-bulat. Robin pun menutup pintu kembali dan menaruh kedua tangannya di atas bahu Libya.


“Baiklah, jadi kita sudah tidak punya jalan untuk keluar lagi, bukan ?”


“Sepertinya memang begitu.”


Keduanya saling menatap satu sama lain tepat ke arah mata mereka, dan tersenyum pasrah.


“Sepertinya kita memang akan mati bersama di tempat ini, bukan ?”


“Tidak ada yang tahu, karena Dewi Fortuna selalu ada bersamaku.”


“Kamu sudah diberkati Tuhan terlalu banyak, huh ?”


“Hah, itu sudah biasa.”


Keduanya hening sejenak, membiarkan suara bising dari meriam laser di tengah ruangan mengambil alih.


“Karena sebentar lagi kita akan mati, sepertinya mengucapkan kalimat terakhir memang sudah menjadi sebuah keharusan. Kalau begitu, aku hanya ingin berterimakasih karena sudah memarahiku tadi. Memang aku sejak dulu dan sampai sekarang, tidak pernah siap untuk kehilangan seseorang. Terima kasih sudah menghajar ku seperti seorang ibu.”


“Hmph, satu kata bangsat untukmu karena sudah memanggilku seorang ibu. Kalau begitu, kata-kata terakhir dariku. Terima kasih sudah selalu menerima keberadaan ku apa adanya. Kamu selalu sopan di hadapanku, tidak peduli seberapa menyebalkannya aku saat bersamamu. Kamu juga mengajari aku cara menggunakan senjata api, dan itu akan selalu menjadi momen yang sangat berharga bagiku. Seperti darah yang mengalir di dalam tubuhmu sejak lahir, kamu memang penembak yang sangat hebat.”


“Bukan penembak, tapi pemanah.”


“Ah, benar juga. Seorang pemanah.”


Ini memang terdengar sangat aneh, dan juga tidak masuk akal. Tapi entah kenapa, aku dapat merasakan seorang Annie yang terlahir kembali di dalam mu, Libya.


Berkat mu, aku akhirnya menjadi lebih siap akan kehilangan seseorang. Berkatmu, bukan ujung panah lagi yang ku gunakan untuk bertahan dari serangan ombak, namun sebuah busur dan juga panahnya. Kamu membuatku menjadi seperti utuh kembali, sama seperti yang pernah dilakukan oleh seorang bernama Annie. Aku bukan lagi orang yang mencari kesempurnaan, karena itu semua adalah sia-sia.


Aku mencari kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Dan karena bersamamu, kesempatan itu kini sudah berada di dalam genggaman tanganku.


“Ah, satu lagi.”


Robin terlihat sangat gugup saat ingin mengucapkan kalimat terakhirnya, namun Libya terlihat sedang dengan sabar menunggu agar Robin mengucapkannya dengan segera.


“Apa itu ?”


“Ini memang terdengar bodoh dan juga mungkin tidak akan berguna, karena kita akan segera mati setelah ini. Sepertinya, aku jatuh cinta denganmu, admin Libya.”


Libya tersenyum kecil, dan dengan cepat mencium bibir Robin seketika, membuat wajahnya Robin memerah saat itu juga.


“Itu tidak terdengar bodoh sama sekali tahu ! Karena aku juga merasakan hal yang sama !!”


“Begitukah ?”


“Benar.”


...****************...


“Hei, guys ! Siapapun tolong jawab pertanyaan ku !! Ada yang masih selamat di sini !?”


“Demi Tuhan, tolong jangan katakan kalau tidak ada yang selamat di sini. Semuanya !! Ada yang selamat di sini !!?”


Rook berjalan di antara reruntuhan, menyangga tubuhnya dengan palu dan perisai miliknya. Kepalanya penuh dengan keringat, dan juga darah yang mengalir dari atas kepalanya ke bawah. Tidak ada yang menjawab sama sekali, hanya ada suara reruntuhan yang diinjak-injak oleh kakinya sendiri.


“Sialan, jangan lagi.” gumam Rook. Namun ketakutannya menghilang seketika, karena di depannya, seseorang muncul dari balik reruntuhan.


“Oh, hei. Apakah itu kamu.... Robin ? Si pemanah terhebat ? Syukurlah masih ada yang selamat di sini.”


Robin menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan mendapati agen spesial Negro yang sedang berdiri di kejauhan.


“Dan kamu..... Adalah Rook, benarkan ? Sulit untuk mengingat berapa kali kita bertemu selama ini.”


“Sangat jarang. Aku dengar prestasi mu meroket, huh ?”


“Itu benar. Sialan, aku kira aku sudah mati, senior Rook.”


“Aku juga sempat memikirkan hal yang sama, junior. Omong-omong, kenapa kita menyebut satu sama lain sebagai... Brother ?”


“Brother ?”


“Brother.”


Robin dan Rook saling mendekati satu sama lain, dan kemudian, berjabat tangan dengan kekuatan penuh.


“Kamu masih selamat, BROTHER !!”


keduanya berseru secara bersamaan. Itu adalah sebuah keberuntungan melihat ada yang masih selamat dari kejadian maut itu.


“Lagipula, semuanya sudah dievakuasi, Rook. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.” ucap seorang wanita dari samping kanan, yang ternyata adalah Libya.


“Admin Libya ! Ternyata kamu bertahan hidup juga !” seru Rook penuh dengan syukur.


“Jangan peluk aku seperti kamu memeluk si pemanah itu, bangsat !!”


Mereka bertiga hening sejenak, dan kemudian tertawa bersama-sama.


“Jadi, kenapa kita tidak pulang ke rumah saja ? Besok akan ada libur yang sangat panjang, lho.”


“Benar juga. Tempat kerja kita sudah hancur jadi tumpukan bebatuan, bukan ?”


“Junior, apa aku harus memberitahu kalau masih ada yang namanya 'pemindahan ke situs lain' ?”


“Oh, itu terdengar seperti mimpi buruk.”


“Rook !! Jangan hancurkan mimpi indahnya, bodoh !!”


“Ahahaha, semoga saja itu tidak terjadi.”

__ADS_1


“Benar, semoga saja.” sahut Robin.


__ADS_2