
“Bertahanlah, Eva.......”
Mata Eva sudah tidak terbuka lagi. Seluruh pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya terlihat seolah akan menembus keluar dari permukaan kulitnya, berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk yang sangatlah menyengat. Sementara Robin masih berjalan di lorong, Eva dalam ketidaksadarannya terus menggumamkan kalimat yang sama berulang kali.
“Apa kita bisa percaya dengan anomali ?? Apa kita........ Bisa percaya dengan anomali ??”
Mata Robin menatap tajam, lurus ke depan. Sesekali, ia melirik dan mengamati wajah Eva yang menunjukkan ekspresi sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Langkahnya semakin cepat saat dirasanya bahwa tubuh Eva mulai mendingin jauh dari batas suhu dingin manusia yang pada umumnya. Dia tidak mungkin dapat membiarkan Eva mati begitu saja. Ia, tidak mungkin dapat memaafkan dirinya sendiri jika hal itu benar-benar terjadi.
Beberapa saat kemudian.
Robin menendang sebuah pintu, kemudian masuk ke ruangan altar dimana sebuah papan batu pengorbanan terletak di tengah-tengah altar. Balkon di ujung paling depan terbuka, menunjukkan bahwa di luar istana mengalami badai salju hebat hingga hanya salju putih tak terhingga itu saja yang dapat terlihat. Secara perlahan, Robin kemudian meletakkan Eva di atas batu pengorbanan tersebut, dan setelah itu mencium keningnya dengan lembut.
“Bertahanlah, Eva......... Aku cuma sebentar aja.“
Robin mengamati Eva kembali selama beberapa saat, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Eva sendirian di atas batu pengorbanan tersebut bersama dengan badai salju yang menemaninya di luar. Yang tidak ia sadari adalah saat pintu dari ruang altar itu ia tutup, tubuh Eva mulai bercahaya.
Bercahaya merah terang........
...****************...
Dasar trope horor sialan.........
Aku terbangun di sebuah rumah kayu kecil, seperti biasa. Gak kaget sama sekali, tapi cuma heran aja kenapa mesti harus kayak begini setiap kali aku pingsan atau apalah sebagainya. Aku mengamati sekitar (seperti biasanya juga), dan menemukan bahwa ini adalah tipikal rumah orang medieval yang biasanya. Ada meja kayu panjang beserta dengan kursi-kursinya, sebuah tangga yang ada di sebelah kananku, pintu di ujung paling depan, dan pastinya, sebuah tungku perapian yang paling menarik perhatianku saat ini. Paling nggak, aku masih bisa hidup di dunia lain setelah semua siksaan di istana sialan itu.
“(Sigh) Apa ini yang namanya isekai ??” gumamku.
Aku menghela nafas, ketika mulai merasakan beban berat di seluruh tubuhku. Gak tau apa itu, dan juga gak mau tau. Setelah sekian lama hanya berdiam di tempat yang sama itu saja, aku pada akhirnya memutuskan untuk berdiri aja. Awalnya, aku cuma mau jalan-jalan di luar sebentar sambil berbaur dengan orang-orang dari isekai yang ada di situ, tapi itu semua hilang seketika saat pintu dari rumah kayu ini tiba-tiba saja ditendang oleh apa yang kelihatannya ribuan orang. Apa-apaan lagi kejadian sialan ini ??
“Dame Elizabeth, ada bola merah aneh di langit sana !!”
“Hah ??”
Mendengar kata 'dame' dari mulut orang-orang di ambang-ambang pintu itu, aku pun mulai curiga kalau aku di sini, adalah seseorang yang sebenarnya sangat penting bagi mereka. Semacam dari kalangan atas, lah. Secara perlahan, aku mulai menyentuh bagian belakangku, dan di saat itulah aku akhirnya mengerti, apa beban berat yang membebani badanku selama ini. Itu, adalah sebuah armor besi. Aku........ Adalah seorang ksatria di dunia sialan ini.
Setelah sekian lama, akhirnya aku di suruh akting lagi, huh........
“Antar aku ke sana.” ucapku dengan ekspresi wajah yang serius. (Akting).
Mereka pun singkat cerita mengantarku ke luar dari rumah kayu itu. Begitu aku dan mereka semua sudah berada di luar, semua orang terlihat sudah mendongak ke atas menatap langit. Mereka yang barusan menendang pintu rumah kayu ku itupun akhirnya menunjukkan kepadaku apa yang sebenarnya ada di atas langit sana. Di tengah-tengah keramaian orang-orang dari isekai itu, aku akhirnya juga ikut mendongak ke atas seperti mereka yang lainnya. Yang mereka katakan tadi kayaknya memang benar. Ada semacam bola api gitu di atas sana.
“Matahari gak pernah semerah ini perasaan.......” gumamku.
Aku mengamati bola api itu dengan semakin cermat. Entah kenapa, saat semakin lama diamati, bola api itu rasanya keliatan jadi makin lebih besar aja daripada yang sebelumnya. Orang-orang di sekitarku masih saling berbisik kepada satu sama lain, sementara aku akhirnya menyadari sesuatu tentang bola api itu. Itu, bukanlah sebuah bola api, melainkan sebuah meteor !!
“Semuanya, lari !!”
Seketika itu juga, semua orang-orang isekai di sekitarku itu mulai berjalan mundur dari posisi awal mereka. Entah kenapa, mungkin karena saking bodohnya, aku bukannya lari, malah menarik pedang yang tersimpan di pinggang kiriku. Mungkin itu adalah reflek bawaan selama aku masih kecil bareng sama yang lainnya buat nge-counter serangan apapun itu, tapi itu adalah meteor, bodoh. Tidak mungkin aku bisa membelahnya dengan pedang........
...****************...
Gelap, tidak ada yang bisa ku lihat sama sekali. Nampaknya, aku saat ini sedang tenggelam di sebuah lautan luas. Begitu dingin dan mencekam, tapi aku bisa merasakan ketenangan di bawahnya. Apa ini, yang terjadi saat seseorang mati ? Tidak dapat merasakan apapun, kecuali ketenangan abadi ??
Aku secara perlahan membuka mataku, melihat ke arah permukaan laut biru yang disinari cahaya matahari dari atas. Apa yang terjadi di atas sana ? Soalnya aku bisa denger suara-suara ledakan bahkan dari dalem sini. Semakin lama, aku semakin tenggelam lebih dalam lagi, dan aku pun tidak berusaha sedikitpun untuk naik kembali ke permukaan. Di atas laut sana, pastinya sangatlah menakutkan. Ledakan-ledakan itu, kayaknya lagi ada sebuah perang yang terjadi. Puing-puing kayu mulai terlihat jatuh ke dalam lautan bersama dengan aku. Kayu-kayu itu, kayaknya adalah bagian dari sebuah kapal. Entahlah, gak peduli juga aku. Sampai aku pingsan atau mati lagi, aku bakalan tetep di dalem laut ini. Setidaknya itu sampai ada suara seseorang yang berseru di dalam lautan dari belakangku.
“Marie !!!”
Sumpah deh, aku berasa kayak punya ribuan nama habis mati dibunuh sama si ****** itu. Atau mungkin, itu karena aku yang saat ini, memang sudah bukan lagi 'Eva' yang dulu ? Sedih banget gak sih ? MC kesayangan kalian, udah digantiin sama orang-orang dari Spider-verse. Buat yang ini, bakal aku sebut sebagai 'Eva-verse'........
“Marie !! Bertahanlah !!” ucap orang itu lagi, kali ini jauh lebih dekat daripada yang sebelumnya.
Itu adalah kalimat yang sama yang aku dengar dari Robin sebelumnya. Apa di juga, punya versi multiverse nya sendiri ? Pria itu mengangkatku hingga akhirnya kembali ke permukaan laut, sementara aku memejamkan mata karena semakin kekurangan oksigen di bawah sana. Gak kerasa aja tiba-tiba udah sampe di permukaan laut. Mungkin, dia adalah penyelam yang udah pro banget.
“Hei, Marie !! Buka matamu, aku mohon !!”
Orang sialan ini........ Kalau memang aku udah mati, aku cuma mau mati dengan tenang aja, bangsat. Bukannya mati terus hidup lagi kayak gini.
Dengan terpaksa, aku akhirnya membuka mataku lagi, membuatku akhirnya melihat wajah orang sialan itu untuk yang pertama kalinya. Bisa di bilang, dia memang agak mirip sama Robin, hanya saja dengan versi bajak lautnya. Seketika itu juga, dia langsung terlihat seperti sangat lega saat mengetahui bahwa aku masih hidup sampai saat ini. Keinginannya memang terpenuhi, tapi gimana sama keinginanku buat mati dengan normal, brengsek !!?
“Laden, tangkap talinya !!” seru beberapa orang dari sebuah kapal besar semacam dari film bajak laut pada umumnya.
Laden namanya, begitulah yang kira-kira aku dapat dari seruan orang-orang di kapal itu. Laden menoleh ke arah mereka, kemudian langsung menangkap sebuah tali yang dilemparkan kepadanya, seraya memegangi badanku dengan seerat-eratnya. Secara perlahan, aku dan orang yang gak aku kenal bernama Laden itu mulai terangkat naik ke dek kapal. Rada ngeri rasanya ngeliat lautan bekas perang itu dari ketinggian sini, tapi gak tau kenapa aku ngerasa aman bareng si Laden ini. Apa 'perasaan' ini bener-bener dari aku sendiri, atau cuma dari tubuhnya si Marie aja ? Semoga, perasaanku itu memang dari si Marie aja.
Singkat cerita, aku dan Laden sudah ada di dek kapal. Orang-orang itu semuanya mengerumuni Laden, lagi memuji-muji dia kayaknya. Setidaknya bukan aku yang dikerumuni sama orang-orang yang punya banyak luka itu. Menggunakan waktu yang luang ini, aku melihat ke sekeliling. Dugaanku memang benar ternyata. Kapal ini, baru saja perang dengan kapal yang lainnya, dan mereka lah yang jadi pemenangnya. Untung aku gak inget waktu perang kayak apa. Masih mengamati sekeliling kapal yang penuh dengan kekacauan itu, tiba-tiba aja ada cewek kecil yang narik bajuku yang basah dari belakang. Aku pun menoleh ke arahnya, dan sesuatu langsung mengejutkan aku saat melihat wajahnya. Dia....... Masih kecil, sekitar umur 14 tahunan.
Dasar pedofil sialan........
“Marie, kamu pasti kedinginan, kan ? Ini teh panas buat kamu.” ucap gadis itu sambil tersenyum kecil dan menyodorkan sebuah gelas kayu besar.
Aku tarik lagi dugaanku. Gadis ini, kayaknya adalah temen deketnya siapapun si Marie ini. Aku gak tau namanya, jadi aku cuma ngambil gelas kayu itu dan langsung minum seluruh isinya sampai habis cuma dengan satu tegukan aja. Badannya si Marie ini........ Hebat juga ternyata........
“Kamu pasti sangat kedinginan di bawah sana, huh ?”
“Yeah, begitulah.......... Tunggu, apaan tuh di atas sana ??”
Sambil menjawab pertanyaan gadis itu, aku menyempatkan diri untuk menoleh ke arah kiri, melihat ke atas langit. Tidak perlu waktu lama lagi buat yang lainnya juga ikutan menoleh ke arah yang sama, menunjuk-nunjuk benda berwarna merah itu sambil kebingungan. Ada yang bilang kalau itu adalah meriam atau apalah, tapi aku tetap pada keyakinan ku. Itu....... Pastinya adalah bintang merah sialan itu lagi. Bintang merah yang sama, yang aku lihat di isekai pertama waktu itu.
Sialan....... Apa-apaan ini sebenarnya ??
“Marie, jangan diam aja !! Kita sembunyi di lambung kapal !!”
Laden berseru padaku dari kejauhan. Tidak mungkin sembunyi di sana bisa menyelamatkan satu orang aja dari bintang kamikaze itu. Sembunyi aja gak bakalan membantu, kecuali...... Kalau kapal ini digerakkan !!
“Oi, Laden !! Gimana caranya nyetir kapal ini coba !!? Sembunyi di manapun itu gak bakal nyelametin kita, tau !!”
“Tidak ada angin di sini, Marie !! Layar kita sudah sobek semuanya seperti baju orang gelandangan di sana !!”
Aku pun melihat ke arah layar dari kapal ini yang sudah penuh dengan lubang di berbagai sisinya. Bodoh banget gak sih aku ? Sempet-sempetnya mikir kalo ini adalah kapal modern yang pake mesin. Kalo udah begitu, cuma ada satu cara yang mungkin saat ini. Aku berjalan menghampiri Laden, kemudian menatap matanya dengan tajam.
__ADS_1
“Oi, Laden. Kita bisa nyelam ke laut, bukan ?”
“Itu memang bisa, tapi bukan 'kita'. Kamu saja.” jawab Laden sambil menepuk pundak ku.
“Hah ? Emangnya kenapa ??”
Laden menoleh ke kiri sebentar, sebelum akhirnya menoleh kembali kepadaku. Entah kenapa, tapi di samping kiri kami berdua terlihat sangat berwarna. Berwarna merah, maksudku.
“Lari aja, Marie !! Bom itu sudah dekat !!”
“Itu namanya meteor, bukan bom, bodoh.”
“Lari aja !! Eva !!”
Di saat itulah, semuanya hancur digantikan dengan debu dan ledakan. Aku belum sempat tanya gimana bisa dia tahu namaku, sialan.
Jangan bilang, dia memang Robin dari dunia lain ??
...****************...
“Apaan lagi ini, sialan !!!?”
Aku terhempas oleh sesuatu yang tidak diketahui. Badanku berguling-guling di atas tanah berbatu yang sangat panas. Telingaku mendengung dengan kencang seperti baru saja terkena sebuah ledakan. Memang bintang merah sialan itu baru saja menghantam ku bersama dengan Laden tadi, tapi, aku tidak ingat kalau aku waktu itu ada di dekat permukaan tanah. Atau mungkin, ini adalah isekai yang lainnya lagi. Setelah beberapa saat terus berguling-guling di tanah itu, akhirnya aku berhenti juga, berkat menabrak sebuah batu besar sialan. Aku membuka mataku secara perlahan sambil kesakitan. Tulang punggungku udah retak rasanya.
“Rose, kamu gapapa !!?” seru seseorang dari kejauhan, ditemani dengan satu orang lagi yang jauh lebih tinggi daripada dia. Orang itu perempuan kayaknya.
(Sigh) Isekai benar-benar ajaib ternyata. Pertama kalinya aku sadar bangkit kembali di dunia, aku ada di desa, terus jadi ceweknya bajak laut, dan kali ini, aku ada di padang gurun perang dunia ketiga ?? Aku sih siap-siap aja buat mati mengenaskan habis ini. Tidak lama kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di hadapanku, tanpa basa-basi langsung memeriksa seluruh badanku. Bagaimanapun juga, melihat dua muka orang ini....... benar-benar membuatku nostalgia dengan masa sekarang........ Entah kenapa.......
Cewek ini........ Si bocah brengsek bersayap i**tu !!?
“Oi !! jangan bilang kamu mau pingsan lagi !!”
Bahkan di dunia lain pun, bocah ini masih aja sama nyebelinnya. Nampaknya, manusia memang berevolusi ke belakang, huh ??
“Aku masih melek, bangsat.”
“Heh, baguslah........” ucap 'Suzaku ?' sambil tersenyum kecil.
Aku 100% sangat tidak yakin kalau itu adalah sebuah penghinaan untuk aku. Itu lebih seperti........ Semacam senyum kepedulian. Aku gak salah liat, kan ? Aku lebih berharap kalau si kepala ungu berjari sakti itu datang ke sini dan menghancurkan setengah dari seluruh alam semesta sekarang daripada ngeliat versi baik dari ****** merah tersebut.
“Dia sudah gak bisa ikut perang lagi. Tapi paling tidak, dia gapapa untuk sisanya.” ucap seseorang yang mirip dengan 'Rook ?' setelah selesai mengecek keadaan tubuhku.
“(Sigh) Baguslah....... Rose, kita pergi dulu. Lizbeth masih harus diselamatkan sekarang.” sambung si 'Suzaku ?' sambil beranjak berdiri, melihat ke arahku sekali lagi sebelum akhirnya lanjut berjalan ke arah depan bersama dengan 'Rook ?'.
Gak tau lagi siapa itu Lizbeth, gak pernah denger seumur hidupku soalnya. Yang penting, si 'Suzaku ?' itu kayaknya bener-bener nggak nganggep aku sebagai Eva. Oh, bener juga ! Bukannya dia manggil aku dengan 'Rose' tadi ?? Jadi penasaran siapa itu Rose sebenarnya.......
“Oi, uh....... Suzaku ?? Kamu tau siapa nama ibuku ??”
Di saat itu juga, Suzaku berhenti berjalan bersama dengan Rook, kemudian terlihat seperti sedang menghela nafasnya. Dia kayak udah gak terbiasa sama 'nama' itu, gak tau kenapa.
“Oh........”
Apa !!? Bukannya itu nama belakangku !!? Aku pergi ke bulan juga !!? Gimana cerita full nya, anjir !!?
Suzaku kemudian berbalik lagi ke arahku sebentar, sambil menunjukkan wajahnya yang ceria. Dia benar-benar seperti orang yang berbeda di dunia ini.
“Event Emergence ini memang menyebalkan, Rose. Kapan-kapan, kamu pasti bisa ketemu lagi sama mamah mu, jadi cobalah buat nggak kejatuhan meteor kayak yang lainnya, oke !? Bye !!”
Event Emergence ? Bodo amat soal itu. Jadi mereka bener-bener bakal ninggalin aku di sini sendirian ?? Gak tau dimana dunia ini l, tapi yang pasti, mereka berdua sangat, sangat, sangat menyebalkan !!
“Yah, daripada ngeliat meteor itu nimpa aku lagi kayak yang kemarin-kemarin, mending aku tidur aja di sini sekarang.......”
Aku mengabaikan semua suara tembakan dan ledakan yang terdengar di sekitarku itu. Secara perlahan, aku mulai menutup mata, dan di saat itu jugalah, aku melihat cahaya berwarna merah terang dari atas sana, semakin mendekati aku.
Tidak usah dipikirkan lagi. Itu pasti adalah meteor yang sama kayak yang lalu-lalu, dan aku pastinya bakalan mati dengan cara yang sama juga.
Kayaknya, aku gak bakalan balik lagi ke istana sialan itu, bukan ?? Baguslah, setidaknya aku tidak melihat Archon-archon itu lagi seumur hidupku.........
...****************...
Bangunlah, anakku........
Gelap, seperti biasa setiap kali aku dijadikan penyet oleh meteor-meteor sialan itu. Awalnya aku tidak terlalu memperdulikan suara aneh yang menganggap dirinya sebagai bapakku itu, tapi semakin lama, sekitaran ku jadi semakin panas, kayak kebakar di neraka.
Bangunlah, anakku........
Suara itu benar-benar menyebalkan. Aku pun membuka mata, dan betapa mengejutkannya kalau di sekelilingku ternyata nggak gelap sama sekali. Semuanya berwarna merah, termasuk asap berbentuk seperti makhluk sesuatu apalah itu yang ada di depanku.
“Siapa lu, anjink ?? Siluman asap ??”
Sudah banyak bintang merah yang telah ku sebarkan, tapi hanya kamu lah yang paling berhasil di antara mereka. Menyedihkan, bukan ??
“Maaf, tapi aku gak bisa bersimpati atau peduli sama orang lain kalau aku gak tau apaan yang terjadi sebenernya........ Asap macam apaan kamu ini ??”
Asap itu kemudian menatapku dengan tajam. Mata kuning kemerahannya itu lebih keliatan kayak kelereng menurutku. Kecil banget, sumpah.
Aku adalah sebuah kesadaran, makhluk rendahan !! Namaku adalah-
“Bla bla bla, namamu setan, kan ??”
Scarlet King.
Tunggu, sepertinya aku pernah denger nama itu. Bukannya itu adalah dewa yang katanya Robin dkk waktu itu disembah sama kultus sesat ? Jadi aku sedang bertemu secara langsung dengan dewa sesat itu saat ini ? Satu kata f*ck untuk alam semesta yang mempertemukan aku dengannya.
“Aku punya satu pertanyaan, raja merah ! Aku sudah tahu asal-usul ku di dunia ini sebenarnya, jadi, kamu itu si bintang merah ?? Lebih kayak asap merah menurutku.......”
Bergabunglah denganku, sebelum engkau mati sebagai makhluk fana dalam kesia-siaan.
__ADS_1
Loading. Otak ku bener-bener loading di saat itu juga. Andai saja aku punya IQ seperti si penemu relativitas itu, atau si raja yang paling bijak di dunia katanya, sudah pasti aku bakalan ngerti apa maksudnya.
Bumi mu akan hancur, dan aku sudah mempersiapkan itu sejak sebelum engkau bahkan diciptakan ke dunia tersebut.
“Diciptakan, huh ?........ Nyebelin banget lu, sumpah.”
Kebangkitan ku tidak akan pernah dapat dihindari, dicegah, ataupun dibatalkan oleh kalian. Dan sekarang, pada saat ini juga, kebangkitan ku itu, hitungan mundurnya telah dimulai.
“Apa maksud mu, anjing ??”
Kedua bintang yang kau lihat itu, dan juga bintang-bintang yang tidak kamu lihat sebelumnya, mereka semua akan mulai 'menetas' mulai hari-hari ini. Dunia mu, dan manusia sepertimu yang lainnya, akan melihat apa yang tidak pernah kalian lihat sebelumnya. Dan engkau adalah pemicu dari semua akhir dari manusia itu.
“Apa kamu bilang, kalau aku adalah yang ngancurin bumi ini sekarang ??”
Selamanya. Selamanya akan selalu seperti itu. Engkau akan selalu diingat sebagai sang pengkhianat dan juga sebagai sang pembawa kehancuran, kecuali jika engkau bersatu denganku sebagai wadah kebangkitan ku kembali. Hancurkan, sehingga tidak akan ada yang bisa melawanmu lagi. hancurkan mereka semua bersama denganku, anakku, sampai tidak akan ada lagi yang mengingatmu sebagai sang pembawa kehancuran !!
Dewa sialan ini, atau lebih tepatnya asap sialan ini, benar-benar gila. Mungkin memang udah dari sananya diprogram kayak begitu. Aku akhirnya menatap balik mata macem kelerengnya itu, dengan tajam seperti pedang. Liat nih, sebentar lagi, atau mungkin sudah dimulai sejak sekarang, pertarungan antar bapak sama anak bakalan mulai kayak di film-film Hollywood biasanya. Asap sialan ini, gak peduli dia bisa dibunuh atau nggak, aku tetep bakalan ngehajar pantatnya itu. Itupun kalo ada.
“Dasar asap sialan...... Jadi lu nyuruh gue buat ngebunuh Robin dkk yang udah baik sama aku selama ini !!? Gak akan !! Liat nih muka gue, bajingan !! Muka yang sama ini, bakalan lu liat juga waktu tanganku sendiri ngejitak kepala fiksi mu itu, tau !! Aku bukan orang macem pengkhianat yang bakalan bantai semua orang cuma biar bisa selamat dari kiamat abal-abal mu itu, brengsek !! Namaku Eva Rosenthal !! Aku yang bakal nikah sama si pemanah itu, yang bakal ngetroll di Afrika itu selama sisa hidupku, yang bakal inget sama semua orang yang pernah mati buat ngelindungin aku dari monster-monster sialan itu, dan cewek pertama di sejarah taun 2030 an nanti, yang bakal pergi sama mendarat di bulan !! Inget itu, dasar asap sialan yang gak punya pantat !!”
Dasar makhluk rendahan........ Hanya karena kau sudah pernah melukai sang bintang biru dengan satu kali pukulan saja, bukan berarti kamu juga bisa melakukan hal yang sama kepadaku, sang bintang merah !! Nasib kalian para manusia, sudah ada di tanganku sejak dulu, selama inipun selalu begitu. Semua kebusukan-kebusukan kalian para manusia, aku sudah melihatnya bahkan saat kalian masih sekedar seekor monyet tak berakal, yang hanya bergantung pada alam, untuk hidup kurang dari satu hari saja !! Sejak awal kalian diciptakan, bahkan hingga sekarang pun, kalian masihlah sama. Tidak pernah berubah, tidak pernah menjadi lebih hebat dari secuil debu saja. Manusia seperti kalian, yang menyebut dirinya sendiri sebagai penghuni bumi itu, hanyalah seonggok kotoran menjijikkan bagi kami para dewa !! Sebuah tumpukan sampah yang harus dibersihkan setelah terbuang, dan yang harus dihancurkan. Sebuah sampah yang tidak bisa di daur ulang, bahkan jika sekalipun ribuan tahun telah berlalu di alam semesta ini !! Kejijikan, dan kutukan paling keji yang pernah kami para dewa buat sebelumnya !!
Pertanda dari ku, adalah sebuah kemutlakan, sampah para dewa.......... Jadi coba saja untuk melakukannya........
Melakukan, apa yang akan membuatmu menyesal hingga keabadian sekalipun datang menjemputmu !!
Di saat itulah, semuanya menjadi gelap sekali lagi. Sepertinya, perang antara aku dengan si asap merah itu sudah dimulai di detik ini juga. Aku gak peduli sama sekali dengan itu.
Apapun, bakalan aku lakuin. Buat ngelindungin mereka semua, dan juga ngehajar si asap gak berpantat itu !!
Bahkan, sekalipun lawanku adalah seorang dewa sialan.
...****************...
“Eva !!”
Robin menendang pintu ruang pengorbanan tersebut bersama dengan Hanz di belakangnya. Di dalam sana, Eva terlihat sedang melayang di atas papan pengorbanan, sambil diselimuti oleh cahaya merah terang di sekujur tubuhnya. Ia berteriak dengan sangat keras secara terus-menerus. Mungkin karena kesakitan, atau mungkin, karena sesuatu yang lainnya. Melihat keadaan Eva saat ini, Robin pun langsung mengambil busur panahnya untuk berjaga-jaga, begitu juga dengan Hanz yang mengeluarkan sebuah belati berulik dari dalam saku celananya.
“Eva, kamu bisa denger aku !!?” seru Robin.
Eva dengan cepat langsung menoleh ke arah Robin, menatapnya dengan tatapan tajam, namun juga dengan kerinduan mendalam.
“Baguslah........ Eva, ini aku, Robin. Tenang aja, oke ?? Hanz dan belati di tangannya itu, mereka berdua bisa nyembuhin kamu, jadi tetap di sana aja, Eva. Semuanya bakal balik lagi ke normal, aku janji......”
“Ini gak bakal bekerja kalau gak ada yang nusukin belati ini ke dadanya, bodoh.” ucap Hanz.
“Bisa diem sebentar gak, anaknya dewa !!? Kamu yang buat dia ngalamin ini semua, tahu !!”
“Apa katamu !!? Aku yang nyelametin kalian berdua, nyerang tiruan brengsek kalian itu sementara aku ngeliat sifat penakut alami kalian para manusia keluar, kabur dari sana ga pake kata-kata apapun, dan sekarang, kamu yang nyalahin aku tentang semua yang dialami sama cewek ozma sialan ini !!? Kamu anggap semua yang aku lakuin buat ngelawan Archon ****** itu apaan, bangsat !!?”
“Manusia kayak kalian, cuma bisanya lari, lari, dan cuma lari aja !! Ketakutan, dan menolak fakta yang sebenarnya terjadi !! Cuma itu aja satu-satunya yang bisa kalian lakuin !! Bahkan cuma terima kasih pun, kalian harus diajarin kayak bayi !! Bener-bener sebuah hasil evolusi, dari monyet sialan !!” lanjut Hanz sambil berjalan semakin mendekati Robin, membuat Robin harus berjalan mundur karena itu.
“Cuma ngeliat muka brengsek mu itu sekarang, sudah buat aku mulai menduga-duga apa yang bakal kamu lakuin kalau aku, menusukkan dagger penghilang kutukan ini ke produk Ozma sialan yang bahkan kamu sendiri tidak tahu siapa dia itu sebenernya !! Apa kamu, bakalan nolak fakta lagi, kalau manusia betina yang ada di sana itu, bukan manusia asli !!? Aku tahu semuanya tentang dia bahkan saat pertama kali aku ngeliat dia masih pingsan di lorong waktu itu, manusia sialan, sementara kamu, cuma bisa lari-lari bareng dia tanpa ada curiga sama sekali !! Bahkan sampai selama ini !!”
Bentakan Hanz sangatlah keras dan juga begitu menyakitkan, membuat Robin hanya berdiri diam di sana tanpa bisa membalas amarahnya dengan sepatah katapun. Suasana di ruang altar tersebut menjadi hening, dan teriakan Eva yang kesakitan pun mulai terdengar kembali oleh telinga mereka berdua.
“Jadi kamu memang sudah tahu tentang siapa Eva sebenarnya, huh ? Aku pun juga tau siapa dia sebenarnya, sialan....... Bahkan satu foundation pun juga tau siapa dia itu, anaknya dewa !! Kamu benar, kalau sifat pengecut manusia kami berdua memang keluar waktu itu, tapi apa kamu berani buat mengatakan semua kata-kata buat pengecut itu kepadanya !!? Pada seorang manusia buatan, yang bahkan gak tau sama sekali apa tujuan dia sebenarnya untuk dibuat ke dunia ini !!? Dia cuma mau jadi seperti manusia kayak kamu, bocah dewa !! Sudah pasti kamu belum pernah ngasih makanan keras, ke bayi yang bahkan belum punya gigi, bukan !!? Yah, aku, dan semua orang yang kamu dan bangsa 'seperti dewa' mu itu sebut sebagai manusia, pernah melakukannya kayak keseharian biasa, dan itu selalu menyakitkan buat ngeliat waktu mulut tanpa gigi bayi itu berdarah karena dipaksa menelan sesuatu yang gak bisa dia telan !! Eva, masih belum bisa nerima fakta kalau dia bukan seorang manusia, bocah dewa !! Aku, bukan lari bersama Eva buat menghindari kenyataan, tapi aku berusaha, buat ngasih dia sedikit waktu, sampai dia bisa terima semua kenyataan mengerikan yang seharusnya gak pernah ada di dunia ini, anak dewa sialan !! Kamu mau bunuh dia pakai belati itu, bukan ?? Itu artinya, kamu masih belum layak, buat jadi manusia sama seperti kita....... Bahkan manusia buatan yang kamu sebut sebagai tiruan dari monyet itu, masih lebih manusiawi daripada kamu si paling dewa, bajingan !!”
Belati berulik yang awalnya bercahaya merah itu, secara perlahan mulai berubah menjadi berwarna biru. Robin dan Hanz saling menatap satu sama lain, sementara Eva yang masih melayang di atas papan pengorbanan sambil kesakitan itu, masih berteriak kepada mereka. Mungkin itu adalah sebuah permintaan tolong, atau itu hanyalah sebuah permintaan, untuk keduanya berhenti mengeluarkan kata-kata kejam mereka kepada satu sama lain.
“Kamu bisa layak dipanggil manusia, kalau kamu mau menyelamatkan seseorang yang bukan manusia itu, yang mau jadi sama seperti manusia, bocah dewa.......”
“Intinya, selamatkan Eva, bukan ? Aku tau itu.”
Robin mengangguk, dan setelah itu, Hanz pun berjalan ke depan Eva, menatapnya selama beberapa saat sambil mengambil ancang-ancang untuk segera menyergapnya di momen yang selanjutnya.
Seorang anak dewa, yang dijatuhkan ke bumi karena membela manusia. Sebuah perbedaan yang terlampau sangat jauh, namun masih saja ia perjuangkan. Bukankah itu, sangat menyedihkan ?
“Kayaknya kita memang punya lore yang sama, Eva.......” gumam Hanz seraya memegang belati berulik yang ada di tangan kanannya itu dengan lebih erat lagi.
Teriakan dari Eva semakin menggelegar, seperti sebuah raungan dari seekor monster yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Namun Hanz tidak bergeming sedikitpun. Ia menunggu beberapa saat lagi, dan setelah teriakan keras itu berubah menjadi ringisan kesakitan seperti pada awalnya, Hanz pun langsung berlari, kemudian melompati papan pengorbanan tersebut sambil mendorong Eva yang melayang di atas udara hingga menghantam lantai keramik dari altar tersebut. Keduanya berguling-guling beberapa kali, sebelum akhirnya Hanz berhasil mengakhiri siksaan yang dialami oleh Eva itu dengan menusukkan belati berulik tersebut tepat ke dadanya.
“Dia gak mati, aku gak bunuh dia, kok.” ucap Hanz pada Robin yang baru saja mendatanginya untuk melihat keadaan Eva saat ini.
Begitu Hanz mencabut belati itu dari dada Eva, bekas luka yang tidak mengeluarkan darah dari dalam tubuh Eva sedikitpun itu langsung menutup kembali seperti semula, seperti tidak pernah ada sebelumnya. Tidak terlalu lama kemudian, Eva mulai mengedip-ngedipkan matanya, sangat cukup untuk membuat Robin menghela nafasnya karena lega.
“Kalian tadi....... Berantem, kan ?? Soal aku ?? Jangan gitu lagi, sumpah. Aku....... Ngeri denger orang yang teriak-teriak gak jelas kayak gitu....... Omong-omong, kalian tahu aku apa sebenernya, huh ??” ucap Eva dengan suara lirih, cukup panjang untuk seseorang yang baru saja kesakitan dengan begitu luar biasa.
“Begitu lah, semua orang SCR selama ini cuma pura-pura gak tau aja sebenernya.” jawab Robin.
“Apa itu, bisa masuk yang namanya trolling ??”
“(Sigh) Nyebelin, udah kayak biasanya aja.......” gumam Hanz sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Itu artinya aku udah normal lagi, bodoh !! Btw, aku capek banget, tau....... Bisa gak kita skip arc isekai ini aja ? Aku juga mau ketemu sama dua temenku yang lainnya lagi........”
Ava, dan Asteri.........
Robin menghela nafasnya sekali lagi. Kali ini, dia terlihat sedikit kecapekan juga.
“Ada satu berita bagusnya, sih....... Kita sebenernya gak usah ngapa-ngapain di istana ini, jadi itu artinya........”
“Bajingan pembawa gergaji mesin itu ada di tempat lain.” jelas Hanz tanpa basa-basi dan tidak menunggu waktu sedikitpun.
Ketiganya merenung sejenak, mengutuki petualang dunia lain melelahkan yang harus mereka lewati saat ini. Bahkan saat berita baik pun telah mereka dapatkan, akhir dari petualangan ini masih jauh dari kata 'berakhir' sepertinya.
Ah, jadi arc isekai ini masih panjang banget, huh ? Sialan..........
__ADS_1