Anomaly

Anomaly
Eva Rosenthal


__ADS_3

Puerto Rico, Amerika Serikat


Terlihat 4 orang bocah sedang berlari di atas atap dan melompat dari satu atap ke atap yang lainnya. Aksi mereka terlihat oleh orang banyak, namun hanya ada satu orang yang mengejar mereka. Orang itu adalah seorang pedagang di pasar yang barangnya baru saja kecurian oleh 4 bocah berandal tersebut.


“Balik sini, bocah nakal !!” teriak pria tua setengah botak yang mengejar mereka. Tentu saja keempat bocah itu tidak menggubrisnya sama sekali. Salah satu dari mereka justru berhenti sejenak kemudian menunjukkan lidahnya dengan ekspresi yang mengejek. Ia kemudian melemparkan sebuah bola kecil yang dibalut dengan kain putih acak acakan. Pria itu seketika teralihkan perhatiannya oleh bola mencurigakan yang ada di depannya, yang kemudian dengan cepat meledak dan mengeluarkan asap tebal, menghalangi penglihatan pria botak itu. Bola Itu ternyata adalah sebuah bom asap rakitan.


“Rasain tuh, pak botak !!”


“Bocah bajingan !” teriak pria itu dari balik tabir asap di sekitarnya.


Gadis itu kemudian melanjutkan pelariannya kembali setelah namanya dipanggil oleh teman temannya yang lain. Namanya adalah Eva Rosenthal, yang saat ini masih berumur 14 tahun. Dan 5 menit yang lalu ia dan ketiga temannya baru saja mencuri berbagai makanan mentah dari pasar pedagang botak itu. Eva tertawa terbahak bahak sambil berlari dengan riang menyusul teman temannya yang sudah berada di kejauhan setelah mengetahui bom asap rakitannya itu berhasil. Ia akhirnya berhasil menyusul teman temannya itu dan berhenti di sebuah gang kecil. Eva menghela nafasnya sejenak dan menjadi sedikit kebingungan saat menyadari teman temannya itu menatapnya dengan tajam seketika.


“Berhentilah membuat kekacauan, Eva ! Demi Tuhan, apa lu kira bom asap mu itu tidak akan menarik perhatian polisi di sekitar !?” tanya Ivan, yang merupakan bocah paling tua di antara mereka. Eva hanya tersenyum miring dan dengan santainya mengangkat kedua tangannya seakan tidak ingin bertanggung jawab akan perbuatannya itu.


“Bla bla bla. Terserah deh apa kata mu. Bukannya saat ini kita mending kabur aja daripada debat di sini ? Bener kan, Igor ?” tanya Eva kecil sambil mendekatkan wajahnya ke seorang dengan tubuh gempal dan wajah agak culun.


“Mu - mungkin iya.” jawab Igor sambil menjauhkan dirinya dari wajah Eva yang semakin lama semakin dekat dengan nya.


“Bukan 'mungkin' lagi Igor, tapi memang harus.” lanjut Eva sambil berjalan membelakangi dan menjauh dari Igor. Ia kemudian menoleh ke arah Ivan dengan senyum menghina. Ivan pun menggeram dan berusaha menahan amarahnya. Bagaimanapun, ia adalah yang paling tua di antara mereka, dan memukul teman yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri adalah hal yang tidak baik, apalagi Eva adalah seorang perempuan.


“Ketemu juga kalian, dasar bocah berandal !!” seru beberapa warga yang dipimpin oleh pedagang botak tadi.


“Oh **** !!” cercah keempatnya secara hampir bersamaan. Mereka semua langsung berlari, begitu juga dengan para warga yang menemukan mereka. Eva dengan cepat menyalip ketiga temannya itu, kemudian menoleh ke arah Ivan dengan senyum mengejeknya kembali.


“Aku duluan, kak Ivan. Dah !!” seru Eva sambil menjulurkan lidahnya kembali, sedang menghina pastinya. Ivan yang sangat tersinggung pun seketika menggeram dan langsung meningkatkan kecepatan larinya.


“EVA !!!”


...****************...


Beberapa saat kemudian.


Eva dengan santainya mendobrak sebuah pintu kayu dari sebuah rumah yang berada di komplek bawah tanah, seketika membangunkan seorang pria paruh baya yang sedang tertidur di kursi santainya di sebelah kiri pintu tersebut, disusul oleh Ivan dengan wajah kesalnya, kemudian Rodric yang bertubuh jangkung, dan yang terakhir adalah Igor yang seketika hampir terjatuh ke lantai akibat kelelahan yang luar biasa. Walaupun ia menyadari aksinya barusan sudah membangunkan pria yang berperan sebagai pengasuhnya itu, Eva tetap saja masuk ke dalam rumahnya sambil bersenandung santai, seolah tidak terjadi apa apa. Pria itu seketika mengambil posisi duduk tegak sambil menggeleng gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuk yang menyerangnya barusan.


“Eva, kamu sudah pulang ?”


“Begitulah.” jawab Eva dengan santai tanpa menoleh ke arah sumber suara sedikit pun.

__ADS_1


“Dasar tidak punya sopan santun.” gerutu Ivan yang mengikuti Eva dari belakang.


“Ada apa dengan wajahmu itu, Ivan ? Gagal mencuri lagi kah ?” tanya pria tua itu sambil memijit kepalanya dengan tangan kanannya sendiri.


“Gagal sih nggak, tapi apa kamu bisa bayangkan apa yang dilakuin sama cewek gak berakal ini tadi, Javier ?”


“Hah !? Lu manggil gw apa !?” sergah Eva yang dengan cepat menoleh ke arah Ivan sambil menatapnya dengan wajah yang tersinggung dan kesal.


Ivan melanjutkan omelan nya tanpa menggubris Eva sedikit pun.


“Cewek ini baru saja ngelemparin bom asap bodoh miliknya ke tengah keramaian ! Dan juga terima kasih berkat bocah ga berakal ini, aku sempat hampir kehilangan Igor yang barusan tadi tertangkap oleh warga !!”


“Bom asap ku itu tidak bodoh, tahu !”


“Jaga omonganmu Ivan !!” seru pria paruh baya yang bernama Javier yang hampir bersamaan dengan cercaan Eva.


“Dan kamu Eva ! Coba lah untuk tidak membuat keributan semacam itu lagi di tengah tengah kerumunan warga atas !”


Eva dan Ivan terdiam seketika. Helaan nafas Javier kemudian memecah keheningan di rumah itu. Ia berjalan mendekati mereka berdua dan berdiri di samping mereka sebagai penengah, menaruh masing masing tangannya di atas pundak Eva dan Ivan.


“Berbaikan lah. Kalian semua di sini adalah saudara, mengerti ? Dan aku di sini sebagai ayah kalian, walaupun bukan secara biologis. Kita semua di sini saling melengkapi, bukan kah begitu ?”


“Cih, gw maafin lu. Tapi gak pake salaman !” decih Eva dengan kesal sambil memalingkan wajahnya dari Ivan.


“Seolah gw juga sudi salaman ama lo !” seru Ivan yang juga melakukan hal sama yang dilakukan oleh Eva. Hal itu membuat Javier mendengus pelan sambil meredam emosinya yang sesaat muncul ke permukaan.


“Dasar kalian berdua.”


Rodric, yang selama keributan itu berbaring di lantai kayu bersama dengan Igor kemudian memutuskan untuk meninggalkan ketiga orang yang sedang ribut itu dan pergi ke kamar mereka, sebelum akhirnya dikejutkan oleh sebuah pintu yang terbuka dengan keras di belakang Eva, menunjukkan seorang gadis kecil dengan senyuman yang ceria.


“Kak Eva !!”


“Oh, Leonora !”


Eva yang awalnya berwajah kecut dan kesal seketika berubah menjadi bersemangat kembali setelah melihat gadis kecil itu keluar dari kamarnya. Eva dengan cepat berlari menuju gadis itu dan duduk berlutut untuk menyamakan tinggi badannya yang terlampau jauh dibanding Leonora.


“Ada apa, Leo ?”

__ADS_1


“Lihat kak ! Aku baru aja ngerakit bom dan itu berhasil meledak tadi !”


“Kamu memang pintar, Leo !” jawab Eva sambil mengelus kepala kecil Leonora. Keduanya terlihat cukup senang, seakan hanya ada mereka berdua di rumah itu.


“Lihatlah. Bakal jadi ******* macam apa mereka berdua nantinya.” dengus Ivan kesal.


“Aku bilang jaga ucapan mu itu, Ivan !”


“Baiklah, baiklah.” jawab Ivan dengan ogah ogahan. Ia kemudian berjalan menyusul Rodric dan Igor dan menuju ke kamar mereka secara bersamaan. Sementara itu Eva menoleh ke arah Javier dan tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih, terlihat sedikit agak licik. Javier hanya mendengus pelan. Entah apa arti senyuman Eva itu.


Eva dan Leonora kemudian masuk ke dalam kamar mereka berdua. Eva dan Ivan memang telah disediakan kamar yang terpisah sejak dulu. Dan saat ini Eva sedang bersyukur karena sejak dulu hingga sekarang dia tidak akan pernah tidur bersama dengan si Ivan yang menyebalkan itu. Eva melemparkan tubuhnya begitu saja ke kasur yang sedikit agak empuk, diikuti oleh Leonora yang kini berbaring di samping kanannya. Keduanya saling menatap satu sama lain, kemudian tersenyum secara bersamaan, menandakan bahwa setelah ini mereka akan menghabiskan waktu dengan bermain bersama, lebih tepatnya bereksperimen bersama.


Eva dan Leonora memang sudah sangat dekat sejak kecil, entah mungkin karena mereka adalah sesama perempuan, atau hanya karena punya hal favorit yang sama, yaitu ledakan. Yang jelas, Eva dan Leonora selalu menghabiskan waktu bersama mereka untuk membuat sebuah bom rakitan, yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang tidak berguna dan tidak bisa apa apa selain melakukan pekerjaan rumah. Mereka berdua tidak terima saat mereka dianggap sama seperti wanita rumahan yang lainnya. Suatu saat nanti, mereka berdua pasti akan menepati janji yang pernah mereka buat itu, yaitu menjadi seorang wanita sukses bersama sama.


Malamnya, Eva mendapati Leonora yang sedang duduk di atas atap rumah tempat mereka tinggal. Ia mengawasi punggung gadis itu dari kejauhan sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk menemani Leonora yang sudah ia anggap sebagai saudari nya sendiri dengan duduk di samping kirinya.


“Nggak tidur ?” tanya Eva secara tiba tiba. Ia secara tidak sengaja berhasil mengejutkan Leonora yang tadinya duduk termenung seakan sedang memikirkan nasibnya saat ini. Eva tertawa kecil saat melihat ekspresi terkejut dari adiknya itu.


“Kakak nakal !” gerutu Leonora. Hal itu justru membuat Eva tertawa semakin keras. Beberapa saat kemudian Eva akhirnya kembali ke ekspresi datarnya seperti semula, memandangi pemandangan kota bawah tanah yang misterius itu bersama dengan adiknya. Keheningan seketika menyeruak masuk, dan dinginnya angin malam menyambar tubuh mereka berdua secara bersamaan.


“Hei, kak Eva.” ucap Leonora yang seketika memecah keheningan di sekitar mereka.


“Huh, ada apa ?” tanya Eva.


“Apa kakak pernah berpikir, bagaimana bisa ada kota bawah tanah sebesar ini, dan sudah bertahun tahun tidak ada orang luar yang tahu keberadaannya ? Kenapa kota ini di buat dan siapa yang membuatnya ?”


Eva menoleh ke arah Leonora dengan wajah yang sedikit agak kebingungan. Jarang jarang adiknya itu menanyakan hal se serius itu, apalagi tentang kota bawah tanah tempat mereka saat ini tinggal. Ide jahilnya secara tiba tiba muncul dari dalam otak nya, menjawab pertanyaan adiknya itu dengan jawaban sekonyol mungkin.


“Mungkin di jaman dulu ada monster raksasa yang bersembunyi di dalam kabut. Monster itu kemudian menyerang semua orang yang ada di dalam kabut itu, jadi orang orang yang berhasil bertahan hidup membangun kota bawah tanah ini.”


“Jangan kira aku bodoh, kak. Itu referensi film The Mist, kan ?”


“Eh, ternyata kamu tahu ?” sindir Eva dengan nada ucapannya yang sangat menyebalkan seperti biasanya.


“Tentu saja, kakak bodoh !”jawab Leonora dengan kesal sambil menyerang Eva dengan menggoyang goyangkan bahunya Eva ke kanan dan ke kiri. Mereka berdua tertawa dengan keras pada malam itu, menikmati suasana kebersamaan mereka, selalu sama sejak mereka masih kecil.


Namun, kebahagiaan mereka berhenti seketika saat mendengar sesuatu. Itu adalah suara dentuman keras yang mereka yakini berasal dari pusat kota bawah tanah. Awalnya mereka berdua hanya menghentikan permainan mereka saja sambil menoleh ke sumber suara. Namun suara dentuman keras yang kedua hingga ketiga berhasil membuat insting bahaya Eva menyala. Wajahnya langsung menjadi serius saat itu juga. Sudah pasti ada hal yang aneh sedang terjadi di pusat kota itu. Sedangkan di sisi lain, Leonora ketakutan setengah mati hingga keseluruhan bulu kuduknya berdiri tegak. Kecurigaan Eva semakin diperkuat, ketakutan Leonora juga meningkat dan suasana menjadi semakin mencekam saat suara yang awalnya hanyalah sebuah dentuman kini telah berubah menjadi semacam raungan yang luar biasa kerasnya, bahkan dapat terdengar dengan sangat nyaring di telinga mereka berdua.

__ADS_1


“Kak, suara apa itu ?” tanya Leonora sambil gemetar ketakutan. Tentu saja Eva tidak dapat menjawab pertanyaannya itu. Ia sendiri bahkan juga tidak tahu apa itu sebenarnya. Yang jelas, kota bawah tanah tempat mereka tinggal saat ini, dan seluruh teman teman sekaligus ayah asuh mereka sedang dalam bahaya.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu apa itu.”


__ADS_2