
“Berikan palumu padaku, dan biarkan aku membunuh monster sialan ini.”
Rook terdiam cukup lama saat aku mengeluarkan ide ku itu.
“Apa kamu sudah gila, Eva ?” tanya Rook kepadaku. Sudah kuduga, itu pasti yang akan keluar dari mulutnya saat ini. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya langsung mengambil palu Rook dari tangan.
“Hey, cewek nakal ! Kembalikan palu ku bangsat !”
“Hmph, coba ambil saja dariku !” seruku sambil memasang senyum sarkas ku kepadanya.
“Sialan, darimana kamu belajar dosa kayak gini, Eva !”
Rook terus berusaha untuk mengambil palunya kembali namun tidak bisa. Tentu saja, apa kalian lupa kalau aku ini pencuri ? Hal seperti ini sangat mudah dilakukan bagiku. Aku pun menjawab pertanyaan Rook itu dengan nada menghina.
“Dari Afrika.” jawabku. Rook seketika berhenti mencoba untuk meraih palunya dan wajahnya langsung terlihat sedikit kesal. Aku pun langsung menyeringai.
“Ups, apa aku salah ngomong ?” sindir ku. Rook pun akhirnya mendecih kesal dan mengalah untuk memberikan palunya kepadaku. Hmph, memenangkan seorang pria memang sangat mudah buatku. Ini merupakan sebuah kesenangan lain untukku, selain saat melihat kedua tanganku sembuh dari pembusukan milik boneka SCR 008. Namun kesenanganku itu bubar seketika saat mendengar suara dari SCR 037 yang mulai bangkit kembali. Aku menoleh ke belakang, dan perasaan senang mendominasi milikku seketika digantikan dengan emosi yang membara.
“Hmph, kamu akhirnya bangun kembali bajingan.”
Aku membalikkan badanku menghadap ke arah SCR 037 dan mulai berjalan mendekatinya. SCR 037 meraung sebentar sebelum akhirnya berlari ke arahku. Aku menggenggam palu Rook dengan kedua tanganku kemudian mendorongnya tepat ke arah kepala SCR 034. Serangan pertamaku itu berhasil mengenai dagu SCR 037 dengan telak dan membuatnya terlempar ke belakang. Sepertinya pertarungan ini akan mudah, mengingat tubuh SCR 037 yang sangat lemah. Aku berjalan mendekat ke arah SCR 037 sambil menyeret palu Rook di lantai. SCR 037 tiba tiba bangkit kembali dan justru masuk kembali ke dalam lubang gundukan yang telah ia buat sebelumnya. Dasar monster penakut.
__ADS_1
“Gw ga bakal ngebiarin lu kabur, dedemit !”
Aku bergegas mendekat ke gundukan lantai SCR 037 itu dan sempat mengintip ke bawah sebentar melalui lubang dari gundukan itu. Sekilas aku dapat melihat SCR 037 yang baru saja mendarat di sebuah area yang berbeda sama sekali dengan tempatku berada saat ini. SCR 037 langsung melesat entah kemana. Walau begitu, aku tetap tidak akan membiarkan makhluk ini kabur dan membunuh orang lain lagi. Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat masuk ke dalam gundukan itu dan mendarat dengan superhero landing. Aku pun meringis kesakitan saat kedua kaki yang ku gunakan untuk mendarat menghantam sebuah jalan yang seperti jembatan besi berwarna hitam penuh dengan rongga kecil di sepanjang bagian bawahnya itu. Suara ku bahkan dapat terdengar hingga ke atas saat Rook tiba tiba berbicara kepadaku melalui lubang gundukan SCR 037.
“Jangan gegabah, bodoh !” seru Rook dari atas. Aku tak menghiraukan peringatannya, karena tepat di depanku saat ini, SCR 037 tengah menatap ke arahku di atas sebuah ruangan kecil berwarna hitam yang tampaknya berfungsi untuk menghubungkan jembatan yang satu dengan jembatan lainnya.
“Jadi ini tempat favoritmu, heh ?”
SCR 037 seketika melompat ke belakang dan langsung menghilang dari jarak pandanganku. Tempat terlihat sangat cocok untuknya. Mata ku yang terus beredar mengawasi area di sekitar akhirnya mendapati SCR 037 yang sedang mengawasi ku dari sisi samping kanan ruangan kecil di depanku. Kakinya menempel di dinding sama seperti seekor cicak. Setelah mengamati gerak gerik selama beberapa saat, SCR 037 kembali memanjat ke bagian atas ruang itu dan meraung dengan sangat keras setelahnya. Aku mengambil sikap waspada sambil memegang palu Rook sekuat kuatnya karena terasa agak berat bagiku. SCR 037 kemudian melompat ke jembatan tempatku berdiri saat ini sambil membanting ke dua rantainya ke bawah. Aku mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak aman walaupun sebenarnya tidak bergerak menjauh pun tidak akan membuatku terkena serangan itu.
SCR 037 kemudian merangkak ke arahku dengan sangat cepat, kemudian mengayunkan salah satu dari lantainya ke arahku. Aku menghindari serangan itu dengan menunduk sambil mengikuti pergerakan SCR 037 yang langsung melompat ke belakangku dan sepertinya sedikit mengamuk. SCR 037 kembali mengayunkan salah satu rantainya ke arah perutku dari samping. Aku menggunakan sisi panjang bagian bagian bawah dari palu Rook untuk menangkis sekaligus melempar rantai itu ke belakangku. SCR 037 menarik rantainya kembali dan langsung melompat ke kanan ke bawah jembatan.
“Jadi begitu. Main sembunyi sembunyian kah ? Hmph, dasar penakut.” dengusku. SCR 037 kembali muncul beberapa meter di belakangku dan langsung melemparkan rantai kanannya ke arah kepalaku. Aku menghindar ke kanan, dan setelah rantai tersebut jatuh ke bawah, aku langsung berlari mendekati SCR 037 sambil mengayunkan palu Rook dengan sangat kuat saat SCR 037 masih menarik rantainya kembali. Lagi lagi SCR 037 melompat kebelakang dan mendarat kembali di atas ruang penghubung jembatan di depanku itu.
Aku semakin dibuat frustrasi oleh makhluk yang satu ini. SCR 037 kembali melompat ke bawah jembatan dan berhasil membuatku kehilangan kewarasanku dan entah kenapa membuatku terus memukulkan lalu Rook ke lantai jembatan ini. Jadi seperti ini kah rasanya ditelan oleh emosi diri sendiri ? Benar benar terasa sangat menyebalkan. SCR 037 kemudian merangkak tepat di bawah jembatan tempatku berdiri dan kembali memancing emosi liar ku. Tanpa alasan yang jelas, aku mengangkat palu Rook tanpa basa basi dan berniat untuk memukul SCR 037 yang sudah jelas terlindungi oleh lantai berrongga jembatan ini. SCR 037 langsung mengeluarkan tentakel hitam dari dalam mulutnya yang langsung memanjang dan menembus salah satu rongga lantai jembatan tempat ku berdiri sekaligus menembus tulang belikat kiriku.
“Dedemit.... Bajingan !” ucapku sambil menahan rasa sakit di area belikat kiriku. Aku kemudian memukul tentakel hitam SCR 037 hingga terputus menggunakan palu milik Rook. Aku menarik bagian tentakel yang terputus dari bahu kiriku. Dengan penuh emosi, aku kembali mengangkat palu ku secara tidak sadar dan berniat untuk melakukan hal yang sama kembali. Namun SCR 037 justru memanjangkan tentakel hitamnya yang langsung menempel pada tembok di kanan, kemudian bergelantungan ke arah tembok itu dan merayap ke atas untuk beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti bergerak. Aku yang menyadari pergerakan SCR 037 itu pun langsung menghentikan pukulan palu ku di tengah tengah udara kemudian menoleh ke arahnya.
SCR 037 secara tiba tiba mengeluarkan sepasang sayap dari dalam punggungnya kemudian menatapku balik. Aku dengan wajah kesal menodongkan palu Rook ke arah makhluk itu.
“Sini lu, dedemit bajingan !!” teriakku dengan kesal ke arahnya. SCR 037 pun ikut mengaum dengan sangat keras, seolah mengamuk akibat terus menerus dihina olehku. Namun ada yang terasa sedikit berbeda. Auman nya terdengar lebih 'betina' dari pada yang aku dengar sebelumnya. Sepertinya makhluk ini dapat mengerti bahasa manusia dengan jelas. SCR 037 terbang dari tembok tempatnya ia bertengger sebelumnya kemudian melayang di udara sambil menatapku dengan tajam. Kali ini aku benar benar merasa ada yang aneh dengan SCR 037. Aku dapat melihat seorang manusia di dalam wujud monsternya itu. Bukan karena perubahan fisik atau semacamnya, namun aku dapat merasakan sebuah 'emosi' dari SCR 037 saat ini.
__ADS_1
SCR 037 mengaum dengan keras sekali lagi sebelum akhirnya terbang ke arahku. Aku kembali bersiap untuk mengayunkan palu Rook ke wajahnya sekali lagi sambil terus melihat ke arah kedua matanya. Dia benar benar terlihat seperti seorang gadis muda yang mengamuk karena namanya dihina oleh orang lain. Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan semua dugaan tak masuk akal itu dan kembali fokus untuk memukul kepala dedemit yang terlihat mirip dengan kuyang saat ini. Aku mengayunkan palu Rook secepatnya, namun SCR 037 dapat menghindar dengan mudah dengan terbang ke kiri menggunakan kedua sayapnya. Aku kembali mengayunkan palu Rook sekali lagi tanpa menunggu waktu lama. Serangan beruntun pasti akan membuatnya kewalahan, pikirku. Namun, aku dibuat terkejut setengah mati saat serangan keduaku ini ditahan oleh SCR 037 dengan tangan kanannya.
“Hei, sejak kapan monster kayak lu belajar buat nahan serangan kayak gini ?” tanyaku keheranan. Lagi lagi aku dapat melihat bahwa muka SCR 037 memasang sebuah ekspresi layaknya seorang manusia, kali ini terlihat seperti sedang tersinggung berat. SCR 037 membuka mulutnya lebar lebar dan mengeluarkan tentakel hitamnya. Untuk mencegah hal yang pernah terjadi pada Danny, aku langsung mendorong tangan kanan SCR 037 menggunakan palu ku dengan sekuat tenaga dan membuat SCR 037 terlempar ke belakang dan juga, serangan tentakel hitam dari dalam mulutnya jauh dari kata tepat sasaran mengenai kepalaku. SCR 037 pun mendarat dengan ekspresi wajahnya terlihat seperti ingin mendecih kesal sama seperti orang orang pada umumnya dalam situasi seperti ini, aku pun juga akan melakukan hal yang serupa. SCR 037 kemudian menoleh ke arah tangan kanannya yang terus gemetaran. Ternyata serangan terakhirku itu berhasil membuat lengan kanannya mengalami dislokasi tulang. SCR 037 menggunakan tangan kirinya untuk memperbaiki posisi tulang lengan kanannya yang berbelok keluar. Setahuku, tidak pernah ada monster yang akan melakukan hal seperti itu. SCR 037 seketika berteriak kesakitan saat tulang lengan kanannya telah kembali ke posisi semula. Secara samar samar, aku dapat mendengar bahwa SCR 037 meneriakkan kata 'itai' yang kalau dalam bahasa jepang artinya aduh. Bukan hanya mengembangkan emosi dan berekspresi, sekarang dia juga bisa berbahasa jepang ?
SCR 037 terbang melesat ke arahku dan menyerang menggunakan rantainya kembali. Aku berhasil menghindari serangan pertamanya, dan langsung memusatkan serangan ku ke kaki kirinya. SCR 037 pun terjatuh ke lantai dan memberikanku kesempatan untuk melakukan serangan kedua. Aku memukul punggung SCR 037 menggunakan palu Rook dengan sekuat tenaga dan membuatnya jatuh tersungkur sebelum akhirnya bangkit kembali. Aku kembali mendaratkan sebuah pukulan keras ke kepalanya itu, membuatnya menyemburkan darah segar dari dalam mulutnya. SCR 037 terbang ke belakang menjauhiku dengan wajah penuh amarah. Kali ini, dialah yang termakan emosi. Aku menghindari serangan rantai milik SCR 037 yang kemudian langsung membalikkan badannya ke arah ku kembali. Ia memanjangkan tentakel hitamnya dan aku berhasil menghindar dari serangan tersebut, mengangkat palu ku, kemudian menghantam tentakel hitamnya yang juga berfungsi sebagai lidah dengan sekuat tenaga. Hantaman itu benar benar menghancurkan sebagian besar dari ukuran maksimal tentakel miliknya. SCR 037 mengerang kesakitan sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Aku berjalan mendekati SCR 037 yang mulai kehilangan tenaganya itu, dan mengangkat palu Rook ke belakang. Dengan nada kesal, aku mengayunkan palu Rook ke dadanya sambil berteriak.
“Kamu kira kamu itu manusia, hah !!?”
Wajah SCR 037 terlihat sangat shock dan berusaha untuk melawan fakta yang baru saja ku ucapkan tadi. SCR 037 terlempar ke belakang dan ia tidak dapat berdiri kembali. Ia menyeret tubuhnya berusaha untuk menjauh dariku yang mengikutinya dari belakang. Hingga pada akhirnya, aku dan SCR 037 sampai di ujung jembatan yang dibatasi oleh ruang hitam sebagai penghubung jalan. SCR 037 berusaha untuk berdiri kembali dengan berpegang pada tembok bangunan yang ada di depannya kemudian menoleh ke arahku dengan wajah ketakutan dan memelas, seolah meminta pengampunan dariku. Ini benar benar membuat emosiku naik. Aku melihat ke dadanya yang retak dan bahkan hampir berlubang kemudian mengangkat tangan kananku.
“Gak peduli seberapa 'manusia'nya ekspresimu itu, tetap aja kamu yang sudah membunuh Danny !”
Aku memukulkan tangan kananku dengan seluruh kekuatan ku, hingga tangan kananku menembus dada Monster itu dan membuatnya kesakitan. Setelah beberapa saat, aku dapat merasakan jantungnya yang berdetak pelan. Aku kemudian menarik tangan kananku keluar bersamaan dengan jantung SCR 037 dari dalam dadanya. Monster itu terjatuh ke lantai seketika, kemudian mati untuk selamanya.
Akhirnya, aku dapat membalaskan kematian Danny untuk yang pertama kalinya. Namun ini masih belum selesai. Masih ada si Ozma yang bajingan itu. Aku menjatuhkan jantung SCR 037 ke lantai dan kemudian mendongak ke atas sambil menghirup udara segar sebanyak banyaknya. Tiba tiba seseorang berbicara di belakangku.
“SCR 037 : neutralized.”
Aku langsung menoleh ke belakang dan mendapati Rook yang sudah berada di belakangku sambil melaporkan status SCR 037 yang saat ini telah berubah menjadi mayat. Rook kemudian berjalan mendekat ke arahku sambil terus menatapi mayat SCR 037 dengan serius.
“Hei, Rook. Ini palu mu.” ucapku sambil menyodorkan palunya kembali. Rook hanya menggenggam palunya dengan tangan kanan tanpa mengambilnya. Matanya masih tertuju pada mayat SCR 037 dengan iba.
__ADS_1
“Hei, Eva. Apa kamu tahu kalau SCR 037 awalnya adalah manusia.”