
Setelah keluar dari dalam ruangan gelap sialan punya Asteri itu. Saat ini aku dan Ava sedang berjalan di sebuah lorong, seperti biasa. Pemandangan yang biasa, dan kejadian yang biasa juga. Tidak ada yang spektakuler atau apa di sini, jadi aku lewati saja bagian ini.
Beberapa saat kemudian, di sinilah semua hal menjadi lebih menantang dan juga mengerikan. Adrenalin seperti mengalir di dalam tubuhku hanya dengan melihat pemandangan di lorong yang lain ini. Lubang-lubang raksasa yang ada di tembok. Sepertinya aku tahu siapa yang bisa melakukan hal seperti ini, karena hanya ada satu orang.
“Ava, bersiaplah untuk yang paling buruk.”
Ava gemetaran seketika begitu aku mengatakannya. Si buta gobl*k itu, sudah berapa kali dia berlalu-lalang di lorong ini ? Aku mengeluarkan pistol anti anomali ku, bersiap untuk kemungkinan terburuk seperti yang ku katakan barusan.
“Ikuti aku di belakang, Ava.”
“Okeh.” jawab Ava sambil mengangguk paham.
Dan begitulah, aku berjalan melewati tembok yang berlubang-lubang itu diikuti oleh Ava dari belakang. Sesekali aku melihat ke dalam lubang tersebut. Apakah aku harus mengakuinya ? Kalau makhluk buta gobl*k ini sebenarnya tidak terlalu bodoh sebenarnya.
“Ava, bukannya kita harus setidaknya punya satu atau dua rencana kalau mereka berdua menyerang lagi ?”
“Rencana apa ? Aku tidak kepikiran satu pun.”
“Dan itulah masalahnya.”
Seketika, otak kami bekerja dengan sangat keras, sampai-sampai aku dan Ava berhenti berjalan lagi. Ayolah, ini harusnya berjalan dengan mudah. Tapi, kenapa tidak ada ide sama sekali sekarang !!?
“Tunggu ! Aku sepertinya punya orang yang tepat untuk ini !!”
“Oh ? Agen-agen yang ngesimp sama kamu itu maksudnya ?”
“Yup !!”
Itu..... Agak menyebalkan kedengarannya.
“Tunggu, biarkan aku menghubungi bodyguard ku yang ngesimp itu sebentar aja.....”
Aku mengambil HT itu kembali akhirnya. Setelah sekian lama, aku berbicara kembali dengan Robin juga. Semoga saja perasaannya sudah membaik sekarang.
..... Static.....
Eva...... (Static) Demi Tuhan, akhirnya kamu menghubungi ku juga....... Kamu tidak apa-apa, kan ??
Syukurlah, Robin sudah kembali seperti sebelumnya. Apa aku harus minta maaf dulu, atau langsung meminta bantuan padanya ?
“Robin..... Aku minta maaf soal apa yang terjadi dengan Libya...... Tapi sekarang, aku dan temanku baru ku sedang dikejar-kejar oleh dua monster aneh. Yang satunya patung, dan yang satunya lagi tidak punya muka. Apa yang harus aku dan temanku lakukan ?”
....... (Static)....... Kalian berdua aman ? Aku yakin itu adalah si duo SCR 058 dan SCR 324. Mereka berdua bisa bekerja sama seperti itu karena keduanya saling terhubung satu sama lain di masa lalu....... Eva, aku hanya menjelaskan ini sekali saja....... Koneksi di sini benar-benar sialan.
“Baiklah, kita mendengarkan.”
SCR 058, si patung hitam sialan itu. Yang kamu lihat kemungkinan hanya ada satu, tapi sebenarnya, mereka ada tiga.
“Apa !?”
Begitulah. Ketiga patung sialan itu tersebar ke seluruh fasilitas ini, tapi hanya di timur, barat, dan utara saja....... Kalian hanya perlu pergi ke arah selatan saja untuk menghindari kontak dengannya, tapi itu bukanlah arah yang benar untuk pergi ke tempat berkumpulnya kelas D....... Ketiganya bisa dinonaktifkan dengan cara yang sangat menyebalkan...... Cari password yang ada di dalam kurungannya, dan ketiga password itu akan bekerja pada tiap patung yang berbeda...... Dan juga, jangan bergerak secara tiba-tiba di depan mata mereka, karena patung hitam sialan itu juga bisa menembakkan laser......
“Robin ? Robin !!? Sialan !!!”
Tiba-tiba saja, HT ku sudah tidak berbunyi lagi. Menyebalkan !! Kenapa yang seperti ini harus terjadi sekarang !?
“Setidaknya kita tahu harus apa dulu sekarang, Eva. Kita hajar tiga patung jahanam itu sekarang juga.”
“Tapi..... Mereka ada dimana-mana. Gimana caranya kita cari mereka ??”
Ava berjalan beberapa langkah sebentar, sebelum akhirnya berhenti di kiriku sambil memegangi tabletnya itu. Dia terlihat seperti sudah siap dengan sesuatu.
__ADS_1
“Karena itu, kita tinggal buat salah satu dari mereka mati aja. Sementara yang lainnya, kita bisa biarkan sebentar.”
“Oh, itu ide jenius. Bagaimana kalau si buta gobl*k itu mencari bantuan dengan dua yang lainnya ?”
Ava terlihat seperti sedang berpikir sejenak, sebelum akhirnya, sebuah ide muncul seketika di dalam kepalanya.
“Atau kita bisa berpencar, dan matikan dua patung yang lainnya duluan..... Cuma itu ideku sekarang ini.”
Berpencar ? Bukannya itu jauh lebih berbahaya ? Apalagi si buta bajingan itu bisa nembus tembok apa saja. Dan kalau si patung itu menghalangi, orang apapun dan siapapun itu pastinya bakalan langsung menghindar. Dan akhirnya, matilah mereka......
Yup, itu kelihatannya buruk sekali.
“Ava, daripada kita menghajar tiga patung itu, bagaimana kalau kita singkirkan dulu yang sendirian ?”
Ava seketika menoleh ke arahku seperti baru saja mendengar sebuah kebodohan. Dia, menyebalkan juga.
“Maksudku, tidak mungkin semua tembok yang malang ini saling menempel, bukan ? Pastinya ada yang terpisah dengan tembok yang lainnya, yang mengarah ke luar. Dan karena si buta goblok itu sukanya menghancurkan tembok kayak yang kita lihat di sini, bisa saja kita menipunya dan membuat dia jatuh ke luar.”
“Sialan, otakmu tajam juga.”
Sialan ini....
Dilihat-lihat dari ekspresi wajahnya yang sedang berpikir keras saat ini, Ava kelihatannya sudah 70% setuju dengan rencana ku. Itu sudah pasti akan terjadi.
“Kalau kita bergerak tiba-tiba, sama saja dengan mati, huh ??” gumam Ava.
Setelah beberapa saat menunggu, Ava akhirnya menoleh ke arahku dengan tatapan penuh keyakinan.
“Ah, akhirnya aku paham !!”
Dan begitulah. Kami melanjutkan perjalanan ini dengan satu perencanaan yang matang, yaitu memancing si buta untuk menembus ke sebuah tembok yang akan mengarahkannya ke luar.
...****************...
“Patung itu..... Dia sudah mengawasi kita dari depan.”
Ah, sepertinya aku tahu apa ide dibalik posisi mereka berdua itu. Si buta akan mengejutkan kami dengan menggunakan serangan dari atas, dan setelah itu, si patung yang tersembunyi akan langsung menembakkan laser nya dari tempat yang tidak pernah terduga.
Lorong di depan kami agak gelap, sangat kekurangan cahaya. Dan itu adalah tempat persembunyian yang benar-benar cocok buat si patung itu. Bagaimanapun juga, aku dan Ava harus segera membuat rencana serangan balasan kalau yang aku pikirkan itu memang benar.
“Ava, kamu jalan duluan di depan. Aku bakalan jaga kamu dari belakang sini.”
“Okeh......” jawabnya.
Ava kemudian berjalan di depan, sementara aku masih diam di tempat sambil mengarahkan pistol ku ke berbagai arah langit-langit. Tiba-tiba, aku dan Ava mendengar suara yang sama, yaitu langkah kaki cepat yang sepertinya berlari ke belakang menjauhi kami.
“Ava, menjauh dari sini sekarang !!”
“Apa kamu bodoh !? Sudah jelas kalau targetnya adalah kamu, tahu !!”
Langkah kakinya terdengar kembali. Dari apa yang ku dengar dari suara langkah kakinya itu, dia sepertinya sedang berlari kembali mendekati kami. Dasar si buta bodoh. Berkatnya, aku bisa tahu dimana dia sekarang.
“Rasain ini, bajingan !!” seruku sambil memegang erat pistol ku dengan kedua tangan.
Beberapa tembakan sudah aku lepaskan, dan hasilnya yang ada hanyalah salah satu tangan si buta goblok itu kini menembus dari atas langit-langit, dan masih terus menghancurkan langit-langit yang ada di depannya dengan menyeret tangannya itu. Sialan !! Kalau begini, apa yang bisa aku tembak !?
“Eva, dia ngincer pistol mu, bukan kamu !!”
“Shit- !!”
Aku..... Benar-benar tidak menduga ini akan terjadi sedemikian rupa. Cakar si buta itu menampar kedua tanganku yang masih memegang pistol anti anomali, membuat pistol itu terhempas di atas udara saat ini. Jadi rencana pertamanya adalah, membuatku tidak bersenjata !?
__ADS_1
“Ava, tangkap pistol ku !!”
“Bodoh !! Jangan lanjutin buat jatuh, bangsat !!” seru Ava, yang tidak lama setelah itu mengawasi langit-langit sejenak, kemudian langsung berlari ke arahku.
Oh, tanpa sadar, aku sudah bergerak 'secara tiba-tiba'.
“Awas !!”
Ava mendorongku hingga jatuh bersama ke lantai. Setidaknya berkat dia, aku tidak terkena laser sialan si patung itu. Bajingan, patung itu benar-benar tersembunyi di depan sana !! Dan aku juga tidak dapat melihatnya dengan jelas sama sekali. Lupakan itu, karena sekarang, serangan si buta terus berlanjut. Bajingan ini seolah-olah sudah tahu dimana aku dan Ava sedang berada. Tidak peduli bagaimana aku dan Ava menghindar ke arah manapun, tangannya itu pasti selalu menjemput kami dari atas selanjutnya. Dan juga cahaya merah dari mata si patung itu. Kedua bola matanya itu seolah seperti sedang mengikuti gerakan kami terus-menerus dari balik bayang-bayang. Tidak mungkin dua bajingan ini akan melepaskan kami dari tempat ini.
“Ava, punya ide buat ngehancurin langit-langit ini !?”
“Hah !? Kamu malah bakal nambah masalah aja kalo gitu, bodoh !!”
“Nembak tangannya doang ga bakal guna, tahu !!”
Kami berusaha sebisa mungkin untuk tidak bergerak 'secara tiba-tiba' seraya menghindari semua serangan si buta itu dari atas. Berpencar adalah ide dari Ava, yang dimana, itulah yang membuatku jadi terus-terusan diserang sama tangannya si buta bajingan ini. Tiba-tiba, di saat Ava berjalan mundur hingga menabrak tembok, sesuatu jatuh ke atas lantai dan mengeluarkan suara keras karenanya. Itu adalah sebuah pemukul besi !! Entah sejak kapan itu ada di sana dan apa fungsinya untuk menganggur di sana, yang penting pemukul itu harusnya sudah cukup untuk membuat si buta bajingan ini jatuh dari atas sana.
“Ava ! Lemparin tuh pemukul ke atas !!”
“Baiklah...... Rasain nih, bajingan !!!”
Ava melemparkan pemukul besi tersebut ke arah terakhir kalinya suara langkah kaki di buta terdengar. Lemparannya begitu kuat, sampai-sampai lubang yang diciptakannya sangat besar, dan itu pun akhirnya membuat si buta bajingan ini jatuh dari atas sana, terbaring tepat di depanku.
“Mati lu, bajingan !!!”
Beberapa tembakan aku arahkan langsung ke kepalanya selagi kesempatan masih ada. Tiap peluru yang ku tembakkan, dapat dengan mudah menghancurkan kepalanya hingga berkeping-keping. Beberapa kali setelah aku menembaki kepalanya si buta itu, dan akhirnya berhenti bernafas jugalah makhluk sialan ini. Harusnya kalau sudah begini, si patung sialan itu juga akan menghilang dengan sendirinya.
Aku dan Ava menoleh ke depan, dan benar saja, cahaya merah dari mata patung itu sudah menghilang bagaikan di telan bumi. Akhirnya, aku bisa bernafas lega juga.
“Omong-omong, siapa yang naruh pemukul besi itu di sana ?” tanyaku sambil menoleh kepada Ava.
Ava sepertinya juga sama bingungnya dengan aku. Entah berapa kali aku harus berpikir keras ataupun mengingat-ingat lagi, tapi tetap saja keberadaan pemukul besi yang secara tiba-tiba itu tetap terasa tidak masuk akal buat aku. Seperti bantuan dari tuhan saja.
“Kalian berdua harusnya berterima-kasih padaku. Aku yang menaruh pemukul besi itu.”
“Eh ?” tanya kami berdua secara spontan.
Aku dan Ava menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan semuanya mulai menjadi lebih masuk akal. Yang mengatakan itu adalah Asteri, dan keberadaan pemukul besi yang muncul secara tiba-tiba tersebut pastinya ada suatu hubungan dengan masa lalu tempat ini.
“Yo, lama tidak bertemu.”
“Lama tidak bertemu apanya, bocah !? Kita barusan pisah, tahu !!”
“Yah, cuma bercanda.”
Anak perempuannya Rigel itu, ternyata bisa bercanda juga. Baru tau aku.
“Tapi, aku mau bicara sesuatu yang serius saat ini.”
“Huh ? Apaan tuh ?” tanya aku dan Ava secara bersamaan.
Asteri menghela nafasnya sejenak, kemudian menatap ke arah kami dengan sangat serius. Tatapannya itu benar-benar dingin !!
“Biarkan aku membantu kalian setelah ini. Dua sampah kroco itu memang gampang untuk dikerjai karena hanya ada satu saja yang menyerang secara aktif. Tapi, bagaimana kalau aku mengatakan, bahwa setelah ini, akan ada tiga anomali sekaligus yang saling bekerja sama, dan semuanya itu menyerang secara aktif ?”
Aku dan Ava menelan ludah seketika. Apakah ketiga anomali yang dimaksud Asteri itu adalah tiga pembunuh lainnya yang disebut sama Robin ?
“Uh, kalau begitu...... Ya sudahlah, aku menerima niat baikmu itu sepenuh hati, Asteri !!”
Ava menghela nafasnya setelah melihat tingkah laku ku yang seperti anak-anak itu, kemudian menaruh tangan kirinya di pinggang.
__ADS_1
“Yah, aku ikut-ikut aja kalau gitu.”
Dan begitulah, bagaimana perjalanan kami bertiga yang sangat epik akan dimulai !!