ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
kesibukan pekerjaan


__ADS_3

"yan,,,sudah 1 minggu mas disini" kata mas rian di samping ku sewaktu aku membereskan berkas buat besok. "maaf ya aku ganggu waktu kamu, aku pulang besok"


"mas" aku menggenggam tangan mas rian "mas,,,aku minta maaf banget aku belum ada waktu buat kamu. Akhir-akhir ini bos ku menerima pekerjaan ga cuma dari 1 kantor, dan aku jadi sibuk karena nya. Mas maaf ya aku juga bingung pengen hati aku menahan kamu barang sehari dua hari aku lagi usahain off sehari makanya aku selalu lembur agar kerja ku beres. Dan nanti kita liburan satu hari, bisa kan?" tanya ku ke mas rian. Aku juga merasa tak enak hati yang membuat dia ngerasa salah karena ada nya dia disini. Mas rian sempet cerita ke istri mang ujo kalo dia merasa ga enak lama-lama tinggal disini karena aku sibuk tapi masih nyempati waktu buat dia, malah buat aku jadi ga fokus kata nya. Sebenarnya memang iya tapi aku ngerti perasaan nya karena aku juga merasakan hal yang sama, aku ingin menikmati waktu meski cuma sehari.


"tapi yan,,,mas juga kan kerja malah kerjaan mas yang terbengkalai" ujar nya pada ku dan aku juga ngerti itu. "mas kerja juga buat kita yan,,,buat masa depan kita jadi ga cuma kamu yang cape mas juga sama."


"tapi mas 2 hari lagi aja ya,,,aku usahain cari libur" aku memohon pada mas rian


"yan,,,mas udah ngerti kamu sekarang giliran kamu dong yang ngertiin mas" kata nya pada ku "mas tau kamu berusaha yang terbaik buat mas selama disini tapi malah buat mas ngerasa ga enak. Nanti kalo udah jadi istri mas udah yaa ga boleh cape-cape lagi harus jaga kesehatan dan cuma melayani mas aja ok" gurau nya. Kami pun tertawa bersama. Mas rian selalu bisa membuat ku nyaman di sela cape ku.


"yan,,," ucap mas rian "apa kamu ga malu seandainya nanti kita menikah?"


"maksud nya?"


"kamu anak sekolahan dengan gaji tinggi, sementara mas,,,ya kamu tau strata sosial kita jauh beda" terasa ada yang menggigit di hati saat mas rian berbicara seperti itu pada ku. Apa yang aku rasa dulu sekarang dia merasakan nya. Dulu waktu pertama kenal memang iya aku yang minder malu seandainya teman-teman ku tau tapi sekarang aku sudah nyaman ada di dekat nya lagian aku juga sadar aku janda beranak 5, tak banyak yang bisa nerima aku apa ada nya mungkin untuk laki-laki jaman sekarang meskipun mau menikah dengan ku karena melihat apa yang aku punya bukan utuh hati buat ku. Secara punya anak 5 pasti pengeluaran juga lebih besar biaya sehari-hari, jajan, terutama pendidikan nya. Tapi yang aku lihat dari mas rian beda ternyata dia tulus pada ku.


"mas,,,ko ngomong nya gitu? Aku ga lihat orang dari masalah pendidikan, apa yang dia punya ga mas karena saat ini aku hanya butuh laki-laki yang bisa mengerti keadaan aku, kondisi ku sekarang yang memang banyak tanggungan anak." jawab ku


"mas takut nya nanti uang yang mas kasih buat kamu dan anak-anak ga cukup terus kamu ga nerimain keadaan kita nanti nya."


"mikir nya kejauhan mas" canda ku untuk memecah situasi tegang antara kami


"ya pasti lah, aku laki-laki aku takut kamu membandingkan kehidupan mu yang sekarang dengan kita yang nanti, aku takut yan status sosial kita berbeda"


"mas kenapa kamu baru bilang seperti ini sekarang?" hardik ku ke mas rian "kenapa ga dari kemaren sebelumn kamu datang kesini? Kenapa setelah aku nyaman kamu yang buat aku ragu lagi?" tak terasa air mata ku mulai menetes. Aku tak tau lagi apa yang akan terjadi. Aku masuk ke dalam kamar ku sudah ada bibi yang tertidur lelap dengan si kecil. Aku duduk di kursi depan kaca rias ku, aku mulai menyalahkan kenapa aku harus jatuh cinta lagi. Kenapa perasaan ini aku pupuk kenapa ga aku biarkan mati saja? Tangisan ku membuat istri mang ujo bangun


"kenapa bu? Kenapa menangis malam-malam seperti ini?" tanya nya pada ku dengan lembut.


"ga bi, ga apa-apa maaf udah buat bibi kebangun" jawab ku merasa tak enak se ga nya bibi udah terlalu cape disini seharian dengan pekerjaan rumah. Sebenarnya aku tak membebankan pekerjaan rumah pada nya tapi selalu di jawab ga apa-apa dari pada ga ada kerja. Aku cuma minta buat melayani mas rian selama disini masak, membuatkan nya kopi agar ada teman di rumah selama aku bekerja.


"tidur lagi aja lagian bibi cape selama disini, maaf ya merepotkan bibi jadi nya" ungkap ku


"jangan gitu bu, saya senang ada disini bu anak saya jadi sering makan disini" aku tersenyum seneng denger nya "kemana pak rian bu, sudah tidur?" tanya nya pada ku


"masih di depan bi" jawab ku


"ko ga di temani? Kasian lo bu tiap hari dia nungguin ibu di rumah" ungkap istri mang ujo "dia banyak nanya tentang ibu, yaa saya jawab aja sejujur nya tapi saya malah jadi bingung waktu saya cerita dia kelihatan jadi murung bu. Apa saya salah ucap ya?"


"memang dia nanya apa aja ke bibi?" tanya ku penasaran. Bibi pun menjelaskan bahwa mas rian kata nya minder setelah tau kehidupan ku pendidikan ku dan sekarang pekerjaan ku yang dapat gaji bisa di bilang cukup besar lah bisa buat nganggur di kampung 4 5 bulan, karena nya hutang ku lunas hanya dalam beberapa bulan saja dan bibi pun bercerita bulan depan bakal beli rumah dan anak-anak nya akan di bawa semua kesini dan penyebab kenapa keluarga nya sangat respect pada ku karena kebaikan ku yang telah menyelamatkan anak nya di kasus Drop Out anak nya dulu, serta selalu membantu keuangan suami dan memberi nya pekerjaan memang pertama kali kesini merantau belum ada pekerjaan tetap.


"sejak itu bapak jadi murung, bu"


"sudahlah bi jangan di fikirin ga apa-apa, dia baik-baik aja" aku berharap seperti itu. aku merenung menatap wajah anak kecil yang tengah tertidur pulas. "aku harus bisa melupakan apa yang terjadi di antara aku dan mas rian aku harua bisa menghapus rasa yang telah ada. Aku ga mau kecewa ke 2 kali cukup dulu waktu mas iman dan ga lagi seterus nya. " sudah malam bi, tidur gih besok harus bangun pagi karena saya berangkat lebih awal."


"bu kerja jangan terlalu di forsir kasian bu badan nya" bibi mengingatkan ku "bibi ga mau nanti nya ibu sakit, kan jadi repot ga bisa kerja"


"jangan gitu lah bi, masa di doain sakit " gurau ku sengaja untuk mengalihkan hati ku yang kacau.


"ya ga doain masa orang baik di doain jelak sih" tukas si bibi "maksud nya nanti ibu sakit si bos marah-marah lagi. Bu kapan anak-anak di bawa kesini?"


"ga tau bi saya jadi bingung" jawab ku


"ko gitu? Kenapa lagi bu? Kakek nenek nya ga ngizinin?" tanya nya bertubi-tubi. Ya memang aku jadi bingung karena mas rian aku jadi berubah pikiran tapi ga tau sekarang gimana malah sekarang dia yang mulai ragu dengan perasaan nya pada ku.

__ADS_1


Aku terjaga sampai menjelang dini hari. Aku merapikan berkas ku untuk pagi hari karena besok aku sendiri yang bertemu klien di kantor nya, bos ku tak dapat masuk kerja karena mertua laki-laki nya masuk ICU tadi maghrib. Aku mempersiapkan semua nya setelah itu baru aku tertidur lumayan untuk mengistirahatkan badan sejenak.


"yan,,,kamu udah pergi?" tanya mas rian di telfon


"iya mas maaf, aku mau pamit mas masih pules ga tega bangunin. Tapi aku udah masak di dapur tadi pagi buat sarapan." tut tut tut terdengar bunyi telfon di matikan. Kenapa mas rian kenapa seperti ini di saat hati ku terbuka untuk nya. Aku meredam suasana hati yang mulai tak karuan. Pertemuan ku selesai menjelang waktu makan siang terasa lapar di buat nya. Aku tak langsung ke kantor pulang ke rumah sengaja mau bertemu mas rian.


"mas,,," tak ada jawaban dari dalam rumah aku buka ternyata di kunci, aku buka pake kunci ganda. Aku langsung menuju ke dapur ku buka tutup nasi lauk yang aku masak masih utuh. "apa mas rian pergi?" bisik ku. Hati ku tak karuan aku pergi ke rumah mang ujo bibi langsung menghampiri ku.


"ada apa ya bu?" tanya istri mang ujo


"ga bi mau nanya mas rian kemana ya?" tanya ku


"tadi mah ada bu masih tidur ko, memang nya ga ada?"


"kunci nya?"


"sama bapak bu" aku pun langsung pulang ke rumah. Aku telfon ke nomor nya ga aktif. "aduh mas kamu kemana?" bisik ku. Aku terdiam di kursi tak lama mas rian keluar dari kamar ku.


"mas,,,kamu tidur dari tadi?" tanya ku yang tadi nya panik berubah sedikit lega. "aku fikir kamu pergi ga ngomong ke aku. Terus nomor kamu di telfon kenapa ga aktif?" seengga nya ada kelegaan saat tau dia di rumah aku begitu takut dia marah karena semalam.


"aku ngantuk banget semalem ga tidur-tidur tapi denger motor kamu maka nya bangun" jawab nya "kenapa gitu? Ko panik gitu kedengaran nya? Kenapa? Di kira kabur ya?" sambil duduk di samping ku. Tak bisa aku berkata-kata aku langsung memeluk nya dan menangis.


"kenapa? Takut?" tanya nya pada ku sambil tersenyum dan memberi ku buket bunga. "ga sadar ya kalo ini hari ulang tahun kamu? Niat nya semalam mau ngajak kamu keluar buat sekedar makan tapi udah ngambek duluan. Maaf ya" menyodorkan buket bunga pada ku, ternyata orang yang cuek bisa romantia juga inget ulang tahun aku.


"aku fikir kamu pergi mas, aku udah panik banget" jawab ku "lagian nomor kamu ga aktif terus tadi pagi pas telfon langsung mati. Aku ga telfon balik karena takut nya jadi panjang ganggu konsentrasi ku. Maafin aku ya,,,"


"ga usah minta maaf aku yang salah, aku terlalu takut untuk kehilangan kamu yan,,,maka nya jadi punya fikiran macem-macem?"


"belum sengaja nunggu waktu istirahat karena aku tau kamu pasti pulang"


"yu makan, aku siapin dulu ya" kami pergi ke dapur, makan siang bersama. "tau ulang tahun aku dari mana?"


"aku tau semua nya tentang kamu, sebelum kita deket seperti ini" kata nya pada ku


"dari mba rini? Tapi ga mungkin dia tau ulang tahun ku. Terus dari siapa? Ga mungkin dari keluarga ku kan?" tanya ku penuh selidik.


"gampang itu mah,,,apa sih yang ga buat kamu" jawab nya sambil senyam senyum "kamu udah nerima aku apa adanya masa aku ga lakuin apa-apa di hari kamu ini" aku terus menatap nya seolah tak percaya dengan ucapan nya, memang ga percaya sih masalah nya imposible dia nanya-nanya ke temen aku juga kan?


"ih,,,natap nya gitu banget" gurau nya mencoba mengalihkan pembicaraan "hati-hati nanti naksir loh, eh udah ya udah bukan naksir yaa jatuh cinta nya pake banget kan?" aku mencubit pinggul nya "aww sakit tau, galak banget sih. Jadi ada yang bangun kalo suasana nya seperti ini" aku yang menangkap pembicaraan nya langsung menyeletuk


"yeee,,,belum halal" ucap ku "di tanya tau dari mana ulang tahun aku? tinggal jawab ga usah aneh-aneh"


"ga aneh ko wajar lah cowok deket cewek nya apalagi cuma kita berdua" aku melototi nya yang sedang tertawa keras.


"aku harus ke kantor soal nya dari pagi belum ketemu anak-anak"


"terus kamu dari mana ko belum ke kantor?"


"tadi pagi aku ketemu orang dulu di kantor nya di jalan pramuka, soal nya bos ku cuti hari ini mertua nya di rumah sakit" jelas ku ke mas rian "tadi pagi waktu kamu telfon aku lagi di klien aku. Aku pamit ya,,," aku mencium tangan nya dan mas rian mencium kening ku hal yang biasa kami lakukan ketika dia atau aku yang pergi.


"lis,,,ada telfon buat bos ga?" tanya ku ke asisten ku lilis "bos ga masuk hari ini ada urusan keluarga. Gimana kantor hari ini"


"ada bu sudah saya catat semua dan laporan nya juga ada di meja ibu" jawabnya tegas "kantor aman bu dan semua jadwal meeting hari ini saya cancel buat hari senin besok sesuai pesan ibu tadi pagi. Ada lagi bu? Tanya lilis pada ku.

__ADS_1


"ga makasih yaa" jawab nya "eemmm nanti malem datang ke kafe A ya kita dinner ajak semua crew"


"baik bu" jawab nya "oh ya bu hampir lupa. Happy birthday ya bu semoga apa yang ibu impikan cepet ke kabul. Doa terbaik untuk ibu"


"makasih yaa" aku tersenyum "jangan lupa nanti malem ajak cowok kamu sekalian ya"


"vi,,,ke ruangan gue bentar ajak ahmad sekalian" panggil ku di intercom


"ada apa bu bos?" tanya novi cengengesan "duh ibu presdir sibuk banget kaya nya ga di rumah ga di kantor susah banget pengen ketemu"


"iya maaf,,,maaf,,,besok-besok ga deh gue sempetin buat kalian" jawab ku


"gimana-gimana ngapain kita suruh kemari?" tanya novi si bawel se indonesia raya. "tu cowok dah pergi? Aďuuhhh ibu presdir kita suka sama brondong sekarang ternyata"


"sial lu" jawab ku sambil lempar pensil kena ke hidung nya."ada. Masih ada. Kenapa?"


"jadi waktu buat kita kumpul ga ada tau ga lo,,,lo jadi ngilang mulu, goib lu" kelakar novi.


"ada dia atau ga emang gue kaya gitu kan?" jawab ku yaa mereka mulai protes dengan kegiatan padet ku yang membuat waktu ku habis. "tar malem kita ngafe bareng anak-anak yaa ajak misua lo sekalian biar dia tau brengsek nya lo gimana?"


"ok kita berangkat bareng apa ketemu disana?" tanya novi


"ketemu di sana aja ya,,,gue bareng mas rian soal nya" jawab ku "ah bawa istri lo ma anak-anak sekalian, biar ga kuper kaya lo yaa ga noy..." kata ku ke novi yang sering ku panggil nonoy


"ga ah ribet males gue" jawab ahmadĺ "yan,,,lo serius ma tu cowok?" tanya ahmad


"ga tau ah,,,gue belum kepikiran masalah kemaren ma mas iman aja gue masih kerasa banget. Gimana garis nasib gue aja gue pasrah ah,,,takut memulai lagi gue"


"tapi lo cinta kan ke dia?" tanya ahmad lagi


"ga tau ah,,,sementara gue nyaman ada dia disini jadi ada temen ngobrol"


"ngapain aja lo sama dia?


Aku melempar gulungan kertas ke wajah nya "gila lo, lo fikir gue apa? Gini-gini gue masih kenceng tau."


"yaa kan lo cuma berdua" celoteh novi


"ga,,,ada istri mang ujo ko yang nemenin gue sehari-hari juga buat ngurus dia di rumah kan gue jarang di rumah."


"kirain, maksud nya kalian kan udah dewasa yaa wajar dong gue nanya"


"otak mesum mulu si lo" kata ku ke novi "terus apa kabar suami baru?" tanya ku


"ga tau jadi jarang pulang setelah nikah kemaren waktu belum nikah tiap malem nyamperin gue eh sekarang? Ga tau lah kalo di tanya jawab nya sibuk meeting lah, sibuk di kantor lah rapar itu ini bosen gue"


"dasar lo ga pernah berubah" kata ku "yaa wajar lah lo nomor 2 yang tua punya anak jelas bela ke anak meski udah ga ada rasa ke istri. Nyari yang single aja biar tenang naahh kalo sampe istri nya tau mau gimana lo"


Sampe akhir pulang aku dan mas rian ke kafe yang aku tunjuk belum ada yang datang sih sengaja biar terkesan nya sengaja ga janjian takut nya ada rasa tak enak di hati mas rian. Tak berselang lama novi dan ahmad datang


"hayyy bu presdir" sapa novi ceriwis dan memperkenalkan diri ke mas rian "hallo mas, aku temen nya dian, novi" novi membentangkan tangan untuk berjabat tangan dan mas rian juga memperkenalkan diri


"ini ahmad,,,"sela novi "kita temen dekat dari waktu sekolah dulu." tak berselang lama mereka semua pada datang dan mulai pesan makanan yang sudah aku pesan. Sampai akhir kita ngobrol dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2