
Aku bukan pergi tanpa alasan, aku hanya ingin berfikir dan menyendiri untuk menenangkan hati ku yang mulai resah dengan sukses nya dian sekarang. Bukan tak mendukung tapi aku minder aku takut kesenjangan sosial ku sudah jelas aku hanya buruh serabutan sementara dian, dia wanita karir yang sekarang jenjang karir nya tengah naik melejit aku merasa tak bisa untuk mendampingi nya aku takut dia malu dengan status sosial ku yang jauh di bawah nya.
Setiap kali dia mengirim pesan atau telpon, sengaja aku tak merespon nya karena aku ragu apa yang aku harus omongin ke dia ga lucu kan kalo aku jujur aku sedang bingung karena sekarang usaha ku sedang anjlok karena penjualan barang yang aku geluti tak menentu harga nya, belum lagi setiap pengiriman barang selalu oper nota terus anak buah ku ada salah satu nya yang licik dengan cara menjual barang nya ke produsen lain dengan harga yang lebih tinggi dari pada aku.
Aku mulai menjauh sedikit demi sedikit dari dian, sakit sih aku juga merasakan hal yang sama 2 minggu aku di buat nya nyaman waktu aku menjenguk nya di kost nya, pertama kesana aku kesana aku kagum dia sudah ada pembantu dan tukang kebun dia bisa gaji 2 orang sekaligus, baru 2 bulan kerja dan sekarang aku denger dia naik jabatan baru 1 tahun kerja sangat mengagumkan. Berbeda dengan ku yang baru merintis lagi butuh modal besar untuk menunjang bisnis ku agar bisa stabil.
Di sisi lain aku juga merasa dian memang tak serius pada ku, tulus tapi tak serius itulah ungkapan bahasa yang real. Mungkin dia masih belum move on dengan mantan suami nya, seenggak nya memang seperti itu waktu 16 tahun bukan waktu yang sebentar untuk di lupakan aku tau itu tapi aku masih bisa memperjuangkan yang tak bisa aku perjuangkan adalah status sosial kami yang memang sangat jauh berbeda. Aku merasakan keraguan di setiap bahasa tubuh nya saat di dekat ku. padahal niat ku sama dia ga pengen main-main aku serius menikah dengan nya.
Krrriiinnggg,,,dian lagi lagi dan lagi tapi berkali kali juga aku ga merespon aku bingung. 'maaf yan tapi mas belum tau apa yang harus mas katakan saat mas tak bisa memberi kabar ke kamu' bisik ku dalam hati.
"mas kalo ga mau jawab ga apa mas" dia mengirim pesan untuk ku, rasa tak tega telah memperlakukan nya seperti ini "makasih ya udah membuat ku kecewa" rasa teriris saat ku membaca pesan dari nya. Harus apa harus bagaimana sekarang?"
"jujur aja mas kalo udah ga mau" pesan dian untuk ku
"maaf yan, aku sibuk akhir-akhir ini yan" jawab ku
Tak ada jawaban lagi dari nya lagi, mungkin dia sibuk kerja lagi memang keseharian nya selalu di sibuk kan dengan pekerjaan, masalah kerja aku sebagai laki-laki kalah set dengan nya entah sebagai pelarian atau memang kerja yang benar2 butuh masalah keuangan Karena waktu awal pertama aku mengenal nya dia sedang mengalami krisis keuangan akut sampai di tinggalkan suami dan keluarga nya saat itu aku merasa iba juga aku merasa jatuh cinta pada nya.
Seandainya waktu itu dian tidak pergi ke kota mungkin aku sudah menikah dengan nya tanpa tau latar belakang nya mungkin itu lebih baik dari pada sekarang aku harus tau siapa sebenar nya calon istri ku itu, sekarang setelah aku mengetahui apa yang sebenar nya malah membuat ku ragu untuk melangkah melanjutkan hubungan ku dengan nya. Aku bukan tak mencintai dian, aku masih sangat mencintai nya tapi aku bingung sekarang seperti nya aku memilih diam di tempat untuk sementara sebelum aku memutuskan semua nya.
"hallo yan" sapa ku ketika aku menelfon nya "lagi ngapain?"
"biasa aja mas, lagi lembur. Kenapa?" tanya nya dingin
"ga cuma mau minta maaf mas baru bisa ngabari kamu sekarang" kata ku memohon maaf
"oh ga apa mas" kata nya ketus dan dingin "aku malah udah lupa kapan terakhir kita komunikasi"
"jangan gitu yan mas minta maaf banget baru bisa hubungi kamu" aku berusaha memberi pengertian pada nya tapi seperti nya dia tak menggubris nya wajar mungkin sikap ku yang selama ini ga pernah ngirim kabar bahkan pesan nya tak pernah aku balas. "yan mas beneran sibuk mas disini ada kendala yang memang harus fokus buat selesaikan semua nya" tetap tak ada respon dari nya membuat ku merasa gelisah, bagaimana cara menjelaskan situsi disini pada nya agar tak terjadi salah paham.
"hallo yan" sapa ku. Aku langsung menelfon nya "yan mas minta maaf banget aku tau kamu marah, mas terima itu karena mas salah"
"ga salah mas" dia menyela saat ku berbicara dengan nada yang sangat datar. "aku ga salah kamu juga ga salah. Cuma aku merasa aku udah ganggu waktu mas aja."
"ga yan,,,ga gitu" aku harus memikirkan jawaban yang tepat agar tak ada salah paham. "yan mas sayang kamu cita-cita mas untuk menikah sama kamu masih ada cuma mas minta waktu lebih banyak untuk mempersiapkan modal buat kita hidup bersama" tak terdengar jawaban apapun dari nya saat aku berbicara.
"yan,,,kamu masih dengar kan?" tanya ku
" iya mas" jawab nya singkat
__ADS_1
"tolong kasih tau cara nya agar kamu ga marah lagi sama mas," tukas ku pada nya karena jujur aku ga mau keadaan ini semakin rumit di sela kondisi keuangan ku yang sedang tak baik. "yan maaf kalo udah buat kamu marah, mas bilang sama kamu beberapa bulan ini mas ga pernah hubungi kamu karena mas ada masalah di sini, usaha mas disini mulai colabs yan,,,satu bulan kemaren mas ketipu sama bos yang nampung barang mas, terus ada di antara anak buah mas yang curang jadi mas bener-bener fokus buat selesain semua nya."
"ko bisa kenapa gitu?" tanya nya mulai merespon aku ga bisa merahasiakan nya lagi karena aku tak mau selalu membohongi nya. Aku tau dia sangat pengertian jiwa sosial nya tinggi dia tak bisa mendengar orang-orang di dekat nya merasa kesusahan. "bagaimana cerita nya?"
Aku jelaskan semua nya berawal dari waktu aku pertama kesana menjenguk nya di kostan 2 hari setelah nya sampai 2 minggu aku bersama nya dan baru ku ketahui setelah satu minggu aku di rumah uang jutaan ku ludes hanya dalam 3 minggu aku harus menstabilkan modal lagi karena aku merugi hampir ratusan juta ada kasus pencurian pengiriman barang hanya oper nota ada juga pengiriman yang tempo pembayaran tapi pas jatuh tempo orang nya ga ada lagi di tempat belum lagi dari dalam intern misalnya pencurian barang oleh anak buah, anak buah ku yang kabur lah banyak yang aku alami semua aku ceritakan kepada nya agar tak terjadi salah paham.
"kenapa mas ga cerita sebelum nya?" tanya nya "kalo aku tau ga mungkin aku ga marah mas"
"aku ga mau ganggu konsentrasi kamu, aku tau kamu sibuk banget sekarang setelah ada konfirmasi kamu naik jabatan." jawab ku ke dian
"seenggak nya aku ga mikir macem-macem mas" ucap nya pada ku "aku fikir kamu sama kaya yang lain yang cuma bisa nyakiti aku."
Aku tau pasti dian menganggap ku seperti mantan suami nya, buat ku tak masalah aku hanya bingung menjelaskan apa yang mengganjal di fikiran ku karena masalah status sosial dian. Dian terlalu tinggi untuk ku apa mungkin aku bisa setara dengan nya?.
"kenapa diem mas?" tanya nya "udah jangan terlalu di fikirkan mas, kalo butuh modal kaya nya aku masih ada simpanan tadi nya mau buat pelunasan motor tapi kalo mas butuh tinggal pake aja." dia menawarkan pada ku tapi aku merasa tak enak lagian aku juga ga mau berhutang budi aku takut nya aku pergi pelan-pelan karena banyak faktor yang memberatkan ku. Aku takut terjadi ketimpangan nanti nya.
"ga yan,,,ga usah bukan masalah itu juga cuma biarin mas sendiri yang nyelesaiin. Kamu juga ada butuh yang lebih besar kan? belum lagi anak-anak ya kan? Mas ga mau bebani kamu karena mas belum tau kapan mas bisa bayar"
"mas,,,aku mau bantu karena dulu mas sering bantu aku waktu aku sendiri hadapi masalah. Sok aja sebutin mau ke rekening siapa?" tanya nya pada ku.
"ga usah lah yan,,,mas masih bisa usahain disini." jawab ku karena tak mau dian banyak nanya yang akhir nya aku keceplosan kalo masalah terbesar ku menghadapi nya.
"yan,,,udah dulu ya mas ada kerjaan dulu" pamit ku pada nya saat ibu ku memanggil ku. "lagian ibu manggil"
Aku menutup telfon nya dan menghampiri ibu ku yang sedang duduk di ruang tengah sambil nonton tivi bersama kakak dan cucu nya.
"kenapa bu?" tanya ku ke ibu ku
"akhir-akhir ini kamu kaya banyak beban kenapa?" ibu menanyakan kondisi ku penuh selidik
"ga ada apa-apa bu" aku menyembunyikan apa yang sedang aku alami. Tapi apa lebih baik aku jujur kepada ibu ku tentang dian?
"jujur kenapa? Ada apa?" cerca nya seolah tak percaya dengan ku. Memang benar kata orang hati seorang ibu lebih tajam ke anak nya saat anak nya ada masalah.
"siapa wanita yang selalu kamu telfon?" tanya nya
"ga ko bu,,," jawab ku masih tak percaya.
Akhir nya aku bingung dan bercerita tetang masalah ku bersama dian. Aku ceritakan semua dari awal aku ketemu serta kondisi dan situasi dian yang waktu itu memang sangat terpuruk tapi sekarang berbanding terbalik keadaan nya jauh lebih baik dari dulu waktu dia ada disini.
__ADS_1
"orang nya dimana sekarang?" tanya ibu ku
"di kota bu,,,kerja di perusahaan besar disana dan menduduki sebuah jabatan yang penting tiap hari sibuk bahkan sampai di rumah pun masih bekerja buat besok nya" aku menjawab pertanyaan tentang dian semua dari awal sampai akhir.
"masa kamu bisa kenal sama cewek kantoran?" ledek kakak ku kepada ku
"aku juga ga tau kalo dia sebenar nya hidup di lingkungan elit" jawab ku di depan mereka "soal nya waktu aku kenal dia waktu itu dia sedang mengalami masalah ekonomi yang memang benar-benar rumit. Aku kasihan melihat nya. Aku baru tau waktu aku menjenguk nya di kostan nya"
"kapan kamu kesana?" tanya ibu ku "kamu tinggal berdua di kostan nya?"
"ibu mikir nya kejauhan bu" jawab ku "ga bu di kost nya ada pembantu dan ada tukang kebun juga"
"di kostan apa kontrakan rumah?" tanya kakak ku yang tak percaya
"persis nya mess karyawan kata nya mess itu tempat nya dulu bareng suami nya waktu kerja bareng disana" aku menuturkan apa yang aku tau dari dian sendiri.
"mes kan kecil ko punya pembantu" kata kakak ku
"iya memang rumah mirip kontrakan tapi depan nya ada tanaman da rumput sintetis yang sengaja di tanam. Awal nya aku ga percaya tapi memang semua butuh ku di sediakan pembantu nya."
"hebat juga kerja bisa punya pembantu dan tukang kebun juga. Gaji nya besar pasti nya dong"
"pasti nya, soal nya hutang-hutang nya ke orang-orang waktu berapa bulan aja udah lunas semua"
"hebat juga"
"tapi aku malah bingung sekarang dia tinggal di sebuah rumah besar yang baru di beli dengan harga yang wow,,,belum tentu aku bisa membeli nya" tukas ku ke mereka "bahkan ada pembantu, pengasuh anak dan tukang kebun juga. Sekarang malah di rekomendasi sama kantor jadi staf direksi atau apalah aku ga terlalu paham"
"ampuunnn ibu jadi pengen kenal dia, ajak kesini kapan-kapan" tukas ibu ku penasaran.
"justru itu aku minder bu,,,aku ga pede dengan status sosial kita" kata ku pada ibu dan kakak ku.
"yaa kalo memang dia suka sama kamu dia pasti bisa menerima apa ada nya." kata kakak ku
"aku takut terjadi ketimpangan sosial nanti nya,,apalagi sekarang dian bukan yang dulu tapi sekarang gaul sosial nya juga lebih tinggi." jawab ku di depan ibu dan kakak ku
"aku rasa ga soal nya kalo wanita sudah mempunyai rasa ke cowok apa aja langsung di beri tanpa kecuali."
tapi sekarang sudah berbeda situasi, kalo dulu sebelum dia seperti ini aku dekati dan langsung aku ajak menikah an tetap jadiya dari pada sekarang malah seolah-olah aku yang harus menyediakak.
__ADS_1