
Aku pergi pagi sekali sudah tak sabar aku menunggu dari semalam, aku ingin sekali bertemu dengan mereka, sudah lebih dari satu tahun aku tak bertemu mereka. Seperti apa mereka sekarang bagaimana mereka sekarang? Aku udah belikan mereka hadiah, sesuai keinginan mereka, tapi sayang yang bisa ke bawa hanya yang kecil-kecil sementara kakak-kakak nya belum bisa ke bawa karena masih sekolah.
"yan,,,kamu jadi bawa anak-anak hari ini?" tanya mas iman saat telfon
"iya mas,,,ini lagi di jalan mas" jawab ku
"oh ya udah hati-hati ya,,,mas nitip anak-anak nanti kalo udah ada rizki boleh mas ketemu kan?" tanya nya
"boleh lah mas,,,kan wajib kamu aku ga bisa ngelarang mas" kata ku. meski aku tak ingin bertemu tapi bagaimana pun mas iman adalah ayah kandung nya aku tak bisa egois menjauhkan ayah dari anak nya.
"mas minta alamat kamu nanti"
"iya mas" aku menutup telfon nya
Hampir setengah hari rombongan kami pun sampai di penginapan dekat rumah orang tua ku. aku tak berniat ingin bertemu mereka memang, novi dan suami nya yang menjemput mereka semua. Anak sulung ku pun sudah mengetahui nya kalo bukan aku yang menjemput mereka.
Krriiinnggg "hallo" jawab ku saat ku angkat telfon ku.
"ko rame dimana yan?" tanya mas rian saat menelfon ku
"aku mudik mas,,,cuma ga ke rumah aku nginep di penginapan soal nya bawa rombongan" jawab ku sedikit menyingkir agar suara nya terdengar lebih jelas.
"beneran kamu di kampung?" tanya nya seolah tak percaya pada ku
"iya mas aku memang sudah di kampung cumaga ke rumah aja" jawab ku meyakinkan mas rian
"boleh aku ketemu?"
"kesini aja mas, aku juga baru sampe ko"
"di penginapan mana biar mas kesitu" aku menyebutkan nama penginapan yang aku tinggali agar tak bingung saat mencari ku. Benar saja dia datang mencari ku setelah menanyakan nomor kamar ku.
"kamu rombongan?" tanya nya saat kami bertemu
"kan aku udah bilang kan, kalo aku bawa rombongan sekalian jemput anak-anak" kata ku menjelaskan
"anak-anak mau di bawa? Terus sekolah nya?"
"yang sekolah masih di sini paling nanti kalo lulus baru aku pindahin" papar ku ke mas rian
"yang jaga anak-anak siapa yan? Kamu kan sibuk kerja?" tanya nya
"tenang udah ada yang ngasuh ko. Aku udah persiapin semua mas jadi ga usah terlalu khawatir." ujar ku sambil tersenyum. "tunggu ya aku lagi pesen kopi buat mas, ke room service"
"eh mas kapan datang?" tanya novi ke rian yang tiba-tiba datang mengagetkan kami
"eh baru saja sampai" jawab nya
"cepet yaa tau kita disini, janjian ya?" tanya novi lagi
"ga cuma tadi pas telfon kedengeran rame maka nya nanya, terus kesini deh" papar mas rian pada novi
"kirain janjian" ucap novi lagi
"ga,,,tau juga enggak kalo dia pulang ngomong juga ga?" sergah nya "ga tau kenapa ga bilang kalo mau pulang padahal aku pengin ketemu banget"
Aku memang sengaja tak memberitahu siapa pun kalo aku pulang karena aku tak mau bertemu siapapun. Aku hanya ingin fokus ke anak-anak.
"gue berangkat sekarang ya? Takut mereka nungguin" pamit novi ke aku karena dia yang ingin jemput anak-anak di rumah orang tua ku.
"mau kemana?" tanya mas rian
"jemput anak-anak, di bapak ku" jawab ku
"oh bukan kamu? Kirain yang jemput kamu?" tanya mas rian "ga pengen ketemu orang tua gitu? mumpung bulan baik biar pahala nya gede"
"ga sekarang mas,,,untuk sekarang biar jadi intropeksi semua nya aja agar ke depan nya lebih saling menjaga" tukas ku
"ga ngerti sama kamu yan" tukas nya pada ku "sikap kamu membuat aku takut"
"takut kenapa?" aku tersenyum meninggalkan nya di ruang tamu penginapan sendiri. Semua pertanyaan membuat ku jengah. Aku tau apa yang harus aku lakukan aku tau apa yang terbaik buat ku mungkin dengan aku menjauh dari keluarga keadaan nya akan semakin baik. Mengalah belum tentu kalah, itu yang selalu ku pegang. Aku pergi bukan lari dari masalah tapi aku pergi ingin menciptakan keadaan yang lebih baik entah untuk ku atau untuk keluarga ku.
__ADS_1
"yan,,,masih sibuk beres-beres?" tanya kang tristan.
"ga sih cuma tadi sedikit di bongkar tadi pas ngasih gift buat anak-anak" kata ku. Aku masuk kamar lagi dan kembali membereskan barang-barang ku, kang tristan mengikuti ku dari belakang dan tak sengaja bertemu dengan mas Rian
"yan,,,ada yang bisa ku bantu?" nada bicara nya terhenti saat melihat mas Rian tengah duduk di ruang tamu "maaf anda siapa ya? Rasa nya baru melihat anda ada di rombongan?"
"oh maaf saya bukan dari rombongan" jawab mas rian kepada kang tristan "saya teman laki-laki nya dian. Rian" mereka pun berjabat tangan
"oh udah kenalan?" kata ku keluar dari kamar menyimpan barang-barang.
"iya yan,,,"jawab kang tristan "ya sudah saya keluar dulu" pamit nya ke aku dan mas Rian.
"siapa yan?" tanya mas Rian ke aku
"siapa?" tanya ku balik
"yang barusan ko perhatian banget ke kamu?" tanya nya dengan nada yang tidak enak di dengar telinga
"biasa aja" jawab ku sedikit ngelak karena aku ga ingin privasi ku di usik "kenapa gitu mas?"
"ga,,,ga apa-apa cuma beda aja"
"itu cuma perasaan mas aja" jawab ku cuek
"yan,,,kamu ga hianati mas kan?" tanya nya
"apaan sih mas, dia cuma temen aja" kata ku "ga lebih mas"
Tiba-tiba mas rian berubah roman muka nya, aku pura-pura cuek dengan sibuk mengotak atik ponsel ku dan menelfon novi.
"noy,,,gimana?" tanya ku ke novi "lagi ngapain mereka?"
"aduh yan maaf belum nyampe kita nya" jawab novi
"hah belum nyampe, kemana aja lo? Dari pagi ko belum nyampe?"
"maaf maaf yan,,,kita keliling pasar dulu. Abang pengen jalan-jalan keliling sambil beli sesuatu buat anak-anak"
"ga apa-apa kata abang itu dari lo ini dari om nya" jawab novi "ga apa yan sabar nanti juga sampe ko"
"ga gitu takut nya lo lupa rumah bokap gue" tukas ku ke novi "ya udah ga apa-apa"
"ga nyasar cuma pengen puter-puter kan jarang kitaa" kata nya menenangkan ku "udah si nyantai aja, lagian oleh-oleh buat bokap nyokap lu juga"
"thank you noy" aku mematikan ponsel ku
"kenapa?" tanya mas rian
"ga apa-apa mas cuma tadi sedikit rada panik novi lama ko ga sampe-sampe rumah, takut nya dia lupa rumah bapak" jawab ku
"yan,,,aku mulai ga tenang" kata nyaa
"kenapa lagi mas" tukas ku ke mas rian "ga usah mikir macem-macem lah mas, aku males bahas nya"
"aku cuma ga mau kamu pergi yan"
"aku ga akan pergi kalo sikap mu ke aku mas" jawab ku memberi statemen "sikap ku tergantung kamu memperlakukan ku"
"aku tau yan, aku jarang telfon atau ngirim pesan ke kamu tapi aku ga bisa lupain kamu setiap apapun aku selalu mikirin kamu" tukas mas rian ke aku.
"aku butuh realita mas, bukan cuma omongan manis yang selalu kamu ucapkan. Aku butuh bukti bukan janji" kata ku tajam ke mas rian
"aku minta kamu sabar ke aku yan sampe aku bisa membawa mu ke rumah ku"
Aku tersenyum, buat ku merasa jenuh dengan keadaan yang seperti ini. Kami saling terdiam. Berkecamuk dengan fikiran kami masing-masing.
"sabar ya yan,,,mas cuma pengen nyetarain kamu di depan teman-teman kamu, mas ga pengen kamu malu saat berdampingan sama mas yan." tukas nya mengungkapkan perasaan nya.
"mas aku cuma butuh real nya bukan janji. Aku ga memandang orang dari latar belakang mas kalo orang itu bisa buat aku nyaman kenapa ga aku jalani." papar ku ke mas rian agar tak terjadi salah paham yang berlarut. "aku butuh laki-laki yang bisa selalu mensuport ku dalam keadaan apapun aku, aku butuh laki-laki yang selalu pengertian ke aku. Cuma itu mas untuk latar belakang bla bla bla buat aku ga penting, karena buat ku yang terpenting adalah hati, tulus apa enggak ke aku."
"oke aku buktiin semua nya tapi aku butub waktu untuk membuktikan tekad ku ke kamu."
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam saat mendengar janji mas rian karena bukan kali ini dia berjanji pada ku tak ada satu pun yang di tepati nya. Simple nya untuk kasih kabar sehari sekali pun engga, selalu aku yang mendahului untuk memberi kabar pada nya. Kami saling terdiam kembali sampai kang tristan datang menghampiri kami.
"yan,,,kenapa anak-anak belum sampe ya?" tanya nya
"biarin kang, tadi aku sempet telfon yang jemput nya lagi jalan-jalan dulu kata nya kang"
"hmm kebiasaan novi kalo di suruh pasti ngaret"
"ya udah santai aja nanti juga dateng, paling lagi di ajak jalan-jalan dulu kali kang."
"ya udah deh,,," kang tristan balik badan tapi langsung ku cegah agar tak terlalu serius percakapan ku dan mas rian.
"mau kemana?" tanya ku ke kang tristan
"ngumpul lagi bareng supir di belakang, adem" kata nya
"udah disini aja gabung aja" seketika mas Rian melirik pada ku
"ga ah nanti ganggu lagi" tolak nya
"ga lagi cuma lagi ngobrol aja ko" tukas ku.
akhir nya dia pun mau bergabung dengan ku dan mas Rian.
"kenal di mana mas sama dian?" tanya mas rian seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
"kenal dulu waktu di kampus, dia adik kelas ku dulu" papar kang tristan
"kalo mas?" pertanyaan balik kang tristan
"saya tetangga baru nya dian. Saya orang pribumi kang." mas rian menyombongkan diri nya
"oh pantas tau kalo dian disini"
"engga tadi aku telfon eh pas di kampung langsung aku samperin aja. Lagian kangen lama ga ketemu." aku langsung melihat nya saat mas rian bilang kangen di depan kang tristan
"udah jadian ya?" tanya kang tristan
"ga harus jadian kita bukan ABG lagi,,,yang penting sama-sama tau aja dan saling memiliki" papar nya di depan kang tristan membuat ku tak nyaman. dengan bangga nya mas rian bercerita tentang kami di depan kang tristan
"udah berapa lama saling kenal?" tanya kang tristan
" ya hampir 18 bulanan ini lah, maka nya udah pengen ngehalalin biar ga ada yang gangguin" aku tiba-tiba batuk agar mas rian tak menceritakan semua depan kang tristan.
Kenapa baru kali ini aku di akui, biasa nya dia selalu cuek meski ada bersama teman-teman nya. Apa maksud nya? Aku pura-pura batuk agar mas rian ga meneruskan cerita nya. Karena memang dia ga seperti yang di omongin hanya pembual yang membanggakan diri sendiri tanpa filter. Tak lama pun suara mobil memasuki area parkir penginapan dan aku kenal suara mobil itu. Benar saja novi dan suami nya berhasil menjemput anak-anak ku. Suasana pun berbah jadi ceria.
"ibuuu" seru anak ku yang no 3. Aku tersenyum menghampiri mereka dan memeluk mereka satu-satu.
"thank you noy" ucap ku dan tanpa rerasa air mata ku meleleh saat ku peluk mereka. "masuk yu?"
"ini rumah siapa ibu?" tanya anak ku no 2
"oh ini penginapan sayang bukan rumah ibu, tapi kita bakal balik ke rumah ibu nanti" Tukas ku ke anak yang no 2
"bu ko kita nginep disini kenapa ga di mama aja?" tanya anak sulung ku
"kan kita mau jalan-jalan sayang sama om-om nya" jawab ku "yu masuk dulu biar kita bisa ngobrol di dalam ibu kangen tau"
"aku juga kangen ibu" tukas anak ku yang no 3
"kamu cerewet banget sekarang de, udah gede ya?" canda ku ke dia "salam dulu ke om-om nya sayang biar saling kenal"
"rame ya yan" tanya kang tristan "riweuh pasti mana pengasuh nya ga kamu bawa lagi."
"ga apa kang kan banyak orang yang jagain" tukas ku. Dan begitu lah suasana penginapan berubah menjadi ramai karena ke datangan anak-anak ku. Kami saling bercanda, tertawa, bercerita dengan bahasa anak-anak sampai malam larut.
"udah malem tidur ya, besok kan mau di ajak om nya pergi" kata ku ke mereka agar segera tertidur
"mau kemana? Kata anak sulung ku
"nanti juga tau ko" jawab suami novi. Yang cerewet anak ku yang no 3 karena baru bisa bicara jelas yang no 4 dan 5 belum terlalu banyak bicara dan meraka masih belum jelas nada bicara nya. Bahagia rasa nya di temani anak-anak semoga mereka betah nanti nya di rumah baru nya. Amiiin
__ADS_1