ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
menghuni rumah baru POV Tristan


__ADS_3

"kang tolong jangan seperti ini ke aku jangan rusak pertemanan kita dengan seperti ini?" kata ku saat aku menelfon dian. Kami baru pulang menjemput anak-anak nya sekalian liburan, jarang kan kita pergi bersama saat weekand karena kesibukan kami masing-masing. Sebener nya aku ga suka wanita karir karena pasti tak pernah ada waktu untuk di rumah tapi aku juga ga bisa mengabaikan perasaan ku yang sudah dari dulu ku pendam untuk dian. Terlalu lama aku menunggu nya sampai sekarang telah bertemu dengan nya lagi tak mungkin ku abaikan rasa ini, untuk menunggu nya aku tak pernah berfikir untuk mencari wanita manapun untuk ku hanya cukup dian saja, aku tertarik dengan nya dari semenjak kita kuliah dia tipe cewek mandiri, supel, tak pernah mengeluh meski di hati nya menangis selalu bisa membahagiakan orang di sekeliling nya aku sangat kagum pada nya sampai akhir aku lulus kuliah aku belum mengungkapkan isi hati baru kali ini aku mengungkapkan nya, tapi sayang dia sudah ada yang baru.


Aku fikir setelah bercerai belum ada yang mendekati tapi ternyata aku salah, bahkan mantan suami nya pun ingin kembali lagi pada nya tak heran karena kepribadian yang di miliki dian memang sempurna untuk di jadikan pelabuhan terakhir dari cinta laki-laki karena dia begitu penyayang. Tak sangka sekarang karir nya sedang sangat meroket membuat ku lebih ingin memiliki nya tak peduli dia sudah milik orang lain yang terpenting sebelum janur kuning melengkung aku masih bisa mendekati nya. Aku harus lebih gencar lagi mendekati nya aku tak mau kehilangan lagi.


"yan,,,aku sayang kamu. Aku ga mau kehilangan kamu" kata ku saat ku ungkapkan rasa hati ku "aku cinta kamu semenjak kita kuliah bareng setelah aku lulus aku berniat mencari pekerjaan agar bisa mendekati kamu tapi pas di wisuda kamu ditemani laki-laki yang aku ga kenal, aku mundur tak jadi mendekati mu."


"itu suami ku kang,,," jawab nya pada ku. Iya aku tau dari teman nya kalo dian memang sudah bersuami. Aku tak menyangka dia secepat itu sudah menjadi milik orang lain sepenuh nya.


"iya, aku tau" ucap ku pada nya. "tapi sekarang aku akan perjuangkan kamu bagaimana pun cara nya."


Kami hanya saling terdiam di telfon, entah apa yang dia fikirkan yang aku tau untuk sekaranh aku sudah memantapkan hati ku pada nya untuk ke depan nya bagaimana nanti aku ga mau tersalib lagi seperti yang sudah-sudah. Aku ga tau prmikiran laki-laki yang tega menyakiti nya hati nya sungguh rapuh padahal tapi selalu dia tutupi dengan canda tawa di depan orang-orang, aku tau dia wanita manja sebenarnya hanya dia terlalu pintar berkamufkase dengan senyuman yang selalu terhias di bibir nya. Aku memang naif yang berharap milik orang bisa jadi milik ku sampai aku menunggu lama karena itu tapi sekarang kenaifan ku berbuah ternyata masih ada harapan untuk ku bersanding di pelaminan bersama nya dan menghabiskan masa tua ku bersama nya.


"pagiii" aku menyapa nya sengaja aku ingin mengantar dia ke kantor.


"hai,,,pagi juga kang" senyuman paling indah saat pagi hari "ko tumben pagi-pagi" aku menghampiri nya saat dia masih sibuk dengan anak-anak nya


"sengaja pengen jemput kamu"


"pengen jemput kemana? Tanya nya heran


"ya ke kantor kamu dong" kata ku pada nya "sekarang hari senin tau"


"iya aku tau ini senin tapi ko tumben, kantor kita kan berlawanan kalo akang nganter aku dulu ya bakal lambat datang ke kantor ih sok aneh" kata nya seolah ga percaya pada ku


"ga apa lah, lambat dikit kan sok macet iya kan?" tukas ku pada nya.


"ada nya aku malah bikin jelek citra akang di perusahaan. jangan gitu lah jangan bikin aku ngerasa salah" kata nya pada ku


"ya ga yan,,,ga usah mikir aneh-aneh, anak-anak belum bangun?" tanya ku pada nya "aku bakal bantu kamu buat urus anak-anak"


"yang bangun baru yang paling kecil,,,lagi di mandiin sama mba nya" jawab nya "kang sarapan ya? Aku bikin nasi goreng sekalian masak buat si anak-anak"


"hebat kamu, udah ada mba-mba yang ngurusin tapi kamu ga ngandelin mereka" kata ku ke dian. dia hanya tersenyum melirik ku


"anak-anak itu tanggung jawab ku mas, aku ga bisa sepenuh nya ngandelin mereka" jawab nya. Jawaban ibu yang mempunyai beban untuk anak-anak nya, selalu tanggung jawab penuh ke mereka. Yang aku heran apa masalah yang buat suami nya menceraikan nya begitu saja padahal dia sangat mengemban tugas di rumah tangga.


"yan,,,anak-anak biasa bangun jam berapa?"


"biasa siang mas, kebiasaan bareng sama aku dulu. Aku ga pernah ngelarang mereka aku membiarkan mereka mengeksplor diri nya sendiri. Aku juga pesan seperti itu ke mba-mba yang disini" kami berbincang saat sarapan. "udah siang akang, yu berangkat"


"ini masih pagi yan baru 6.30" kata ku pada nya


"aku ga mau akang terlambat, pemimpin yang baik harus memberi contoh yang baik untuk bawahan nya, buat bawahan segan ke kita bukan takut ke kita. Yu ah berangkat sebelum macet parah" dian memang luar biasa, aku baru tau kenapa bawahan nya selalu tunduk pada nya yang membuat karir nya meroket seperti keroket di pasar.


"aku tambah salut ke kamu yan, itu sifat kamu yang buat aku ga bisa move on dari kamu sampai hari." kata ku ke dian. Terlihat mimik yang terpancar malu


"ada-ada aja, udah ah yu berangkat udah siang" dian berusaha mengalihkan pembicaraan. "sebentar kang aku pamit dulu ke si kecil dulu"


"mba aku berangkat dulu ya. Nitip anak-anak" ucap dian ke para mba yang di rumah


"iya bu" jawab orang rumah nya. Dian pamit sambil mengulurkan tangan ke si kecil dan mencium nya begitu pun aku juga sama melakukan nya.


"nanti kalo ibu bisa pulang cepet kita jalan-jalan ya sayang sama mba juga ya" pamit nya ke si kecil


Jarak antara rumah dan kantor dian memang tidak terlalu jauh mungkin dian sengaja membeli rumah yang dengan kantor nya agar lebih mudah akses dia pulang untuk nengok anak. Kalau aku, tempat kerja ku sedikit memutar arah membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke kantor.

__ADS_1


"dah sampai kang, aku turun ya" kata nya sambil mengulurkan tangan pada ku


"nanti di jemput jam berapa?" tanya ku


"ga usah di jemput deket ini"


"ga apa-apa sekalian nanti aku numpang mandi kalo mau jalan ngajak anak-anak" sergah ku ke dian


"gimana nanti aja kang nanti aku telfon akang" aku mengulurkan tangan ku dian mencium tangan ku kebiasaan kami dari dulu waktu jadi mahasiswa dan sampai sekarang kita ketemu lagi. "assalamualaikum"


"waalaikum salam" jawab ku


Dian masuk ke kantor aku pun pergi agak buru-buru aku menyetir karena memang sudah siang takut keburu macet. Aku memotong kompas agar tak terkena macet dan lebih cepat sampai kantor. Di kantor sedikit jenuh karena dari pagi pekerjaan tak kunjung selesai hampir seharian belum tuntas juga berkas yang ku garap,


"yan,,,udah selesai belum?" aku menyempatkan waktu untuk menelfon nya karena waktu makan siang pun aku tak sempat karena harus bertemu klient.


"belum kang sedikit lagi selesai lah" kata nya pada ku.


"oh ya sudah ga apa-apa, akang juga belum selesai." kata ku menjelaskan "tadi ke potong ada klient ke kantor jadi srdikit molor deh"


"ya sudah ga apa kang, aku aja masih numpuk ko"


"tapi jadi kan ngajak anak-anak keluar?" tanya ku memastikan


"jadi kang kasian udah janji juga. Aku aja udah telfon tadi biar siap-siap jadi nanti kalo kita datang udah rapi"


"oh ya udah atuh akang berusaha selesain cepet biar cepet pulang" ponsel aku matikan dan segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda aku melihat jam tangan ku masih jam 3.30 sore


"masih setengah empat, masih siang kelar pasti nanti jam 5 mah" gumam ku. pukul 5.30 aku buru-buru pulang takut nya dian menunggu ku atau aku di tinggal pulang duluan, tapi kaya nya ga mungkin aku di tinggal kan udah janjian tadi pagi.


"belum kang masih disini, aku belum selesai sedikit lagi kang" jawab nya aku lega setelah mendengar dia masih di kantor nya "akang kalo mau pulang sok duluan tunggu aku di rumah"


"ga akang masuk aja biar kita pulang bareng" aku memasuki kantor dan menuju ruangan nya setelah mengisi buku tamu di lobi


"oh ya udah kesini aku di ruangan kang" aku memasuki ruangan kantor nya suasana ruangan yang sangat adem sangat pintar dalam mendesign ruangan agar tak bosan saat di dalam


Tok tok tok "masuk" terdengar jawaban dari dalam. Aku membuka pintu nya "masuk kang, tunggu ya sebentar lagi ko. Mau ngopi?"


"heem" dia pun menekan intercom nya


"lis,,,tolong bikinin kopi ya antar ke ruangan saya" perintah nya ke asisten pribadi nya.


Tak berselang lama ada perempuan membawa secangkir kopi untuk ku. aku menunggu nya sambil duduk di sofa kantor yang nyaman


"kang cape ya?" tanya nya "maaf ya bukan aku yang buat kopi nya, aku pengen cepet selesai"


"ga apa-apa yan,,," jawab ku. Selang waktu setengah jam dia pun selesai mengerjakan pekerjaan nya. Segera pulang agar bisa menepati janji yang di buat nya tadi pagi. Setelah sampai di rumah dian langsung pergi ke kamar dan aku ke belakang untuk sekedar membersihkan badan yang lengket dengan keringat.


"mba anak-anak udah siap?" tanya nya ke asisten rumah nya


"sudah bu" jawab asisten nya. aku menghampiri nya yang berada di ruang tengah rumah nya


"akang sudah selesai?" tanya nya aku pun mengangguk "mau ngemil dulu?"


"ga usah langsung pergi aja kasian mereka udah nunggu dari tadi" jawab ku. "tapi maaf ya mba mobil nya kecil rada sempit ga apa kan" tanya ku ke asisten rumah tangga dian

__ADS_1


"ga apa pak, biar anak-anak di pangku saja" jawab nya


"aku gendong satu" jawab dian sambil mengambil anak satu dari mba nya dan keluar rumah "mba hayu, jangan lupa di kunci semua pintu dan jendela ya" sambil keluar rumah


Kami berangakat menuju mall yang dekat rumah saja agar tak habis waktu di jalan. Pertama kita ke timezone khusus anak-anak balita kami membiarkan anak-anak bermain sepuasnya di temani mba-mba nya, kami hanya mengawasi nya saja terlihat para mba pengasuh nya sangat care dengan anak-anak yang memang super aktif, Terlihat mereka sangat lincah saat memainkan mainan tujuan mereka. Setelah nya kami pun makan di resto yang ada di mall tersebut, aku merasakan suasana keluarga yang bahagia ada anak-anak yang aktif, ada istri yang cantik terlihat bahagia sekali dian saat bermain dengan anak-anak nya. Sungguh moment yang indah buat ku mungkin seperti ini kali ya kalo berumah tangga.


Tepat jam 10 malam kita pun pulang karena melihat anak-anak yang sudah kelelahan bermain dan makan kesukaan mereka. Para pengasuh pun sama terlihat kelelahan, sampai saat sampai rumah mereka tak nongol lagi keluar dari kamar.


"kang aku bikin coklat panas ya?" tanya nya saat kami duduk di teras rumah aku pun mengangguk. "silahkan kang" dian menyodorkan secangkir coklat kesukaan nya.


"seneng yan?" tanya ku. Dia hanya tersenyum


"makasih ya kang" ucap nya pada ku


"sama-sama aku..." kata-kata ku terpenggal saat telfon nya berdering


"hallo" jawab nya saat mengangkat telfon nya.


aku merasakan kecemburuan saat dia menerima telfon dari laki-laki lain yang menjadi saingan ku. Tuhan jauhkan aku dari para saingan-saingan ku, aku tak mau kehilangan nya lagi wanita yang aku dambakan dari dulu sampai hari ini.


"siapa yan?" padahal aku tau laki-laki yang menelfon nya


"mas rian kang" jawab nya "itu yang waktu aku pulang ada akang juga sempet ketemu dan ngobrol ko"


"iya aku tau" jawab ku datar "ada apa telfon?"


"ga ada cuma nanya kabar aja"


"oh..." jawab ku "masih sering telfon gitu?"


"ga baru kali ini dia telfon semenjak kita ketemu kemaren" ungkap nya pada ku


"akang cemburu yan" ungkap ku kepada nya


"kang jangan kaya gitu kang?" ucap nya pada ku "jujur aku belum mikirin ke arah itu"


"tapi kenapa kamu bisa dekat dengan yang lain kalo kamu bilang belum ke pikiran nikah lagi" tukas ku ke dia


"kang tolong jangan kaya gini ke aku." ucap nya ke aku "jujur memang aku sempet menangguhkan hidup dan jodoh ku ke dia dulu tapi ga tau sekarang setelah dia seolah menjauhi ku setelah dia tau pekerjaan ku."


"memang kenapa kerjaan kamu?"


"entahlah kang aku juga ga tau. Udahlah ga usah di bahas kang, biar aku bisa lupa" kata nya pada ku seraya meninggalkan ku sendiri.


"mau kemana?" tanya ku. Tanpa menjawab dia masuk ke dalam rumah aku ga tau kenapa dia meninggalkan ku sendiri.


"ni kang..." dia menyodorkan kue yang dia beli tadi waktu jalan bareng anak-anak "maaf telat nyuguhin karena enak di masukin ke lemari es dulu sebelum di makan langsung"


"akang kira kamu marah yan" dia tersenyum


"mana ada kang biasa aja lah cuma ga pengen bahas yang udah lalu"


"tapi kenapa kamu masih terima telfon nya?"


"aku ga mau nyari masalah dulu kang,,,biarin kalo dia telfon aku angkat kalo ga juga aku ga pernah telfon ke dia"

__ADS_1


Kami pun saling bercerita ga kerasa sampe tengah malem, aku pun pamit tak enak ke tetangga bertamu ke perempuan sampe tengah malam. toh aku besok bisa jemput dian buat pergi ke kantor lagi. Aku tak boleh menyerah untuk mendapatkan hati nya yang telah rapuh dan hancur. Aku harus bisa menyatukan hati yang telah hancur, aku harus bisa bersabar dan lebih bersabar lagi.


__ADS_2