ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
kegelisahan dian


__ADS_3

Aku bolak balik mengecek pesan tapi tak ada satu pun pesan yang ku yang di balas mas rian. Ada apa sebenar nya "kenapa kamu mas" tanya ku dalam hati.


"hey...ngelamun aja ada apa?" tanya novi pada ku "kenapa? mas nya belum kasih kabar juga? Aku mengangguk "ya udah se cari yang lain aja banyak"


"ga segampang itu juga kali" kata ku membantah omongan nya.


"lagi ngomongin apaan se serius banget" tiba-tiba ahmad masuk keruangan ku "makan siang yuu laper gue"


"tadi nya juga gue mau ngajak ibu presdir ke kantin aja yang deket tapi malah lagi sedih" tukas novi ke ahmad


"sedih mulu lo, udah ga usah baper lah." timpal ahmad


"sebenernya sih gue lagi mikir, kalo minggu besok gue jemput anak-anak." tukas ku ke mereka ke novi dan ahmad


"ngomong nya sambil makan aja yuu,,,gue udah laper banget" ahmad ngajak lagi. Kami pun keluar kantor menuju kantin di pojok kantor ini. Kami memesan makanan sambil bercerita


"yan,,,lo serius sama mas lo?" tanya novi


"ga tau gue,,,gue masih ragu noy" jawab ku ke novi dan ahmad "gue takut untuk memulai lagi noy, gue takut gagal lagi"


"wajar kali yan gagal mah, berarti untuk kedepan bisa lebih baik lagi" kata nya


"ga segampang itu kali ah,,,"jawab ku "yang nama nya nyatuin perbedaan, kebiasaan itu sangat sulit lah. Jangan kan untuk hidup bersama yang pacaran aja ngepas nya susah. Inti nya jalani aja apa yang ada untuk ke depan nya semua terserah yang ngatur aja"


"lo belum bisa move on sama mas iman?" tanya novi


"waktu 16 tahun itu ga sebentar noy,,,pahit manis nya kita, tertawa menangis bareng, yang tadi nya ga punya jadi ada itu bukan proses yang mudah butuh waktu buat bisa beradaptasi dengan hal yang baru." papar ku ke sahabat ku "sekarang buat gue ga mikirin lagi masalah itu yang jelas buat anak-anak, gue pengen beli perum ah, yang deket sini aja biar ga jauh dari kantor bisa balik kalo lagi istirahat"


"depan komplek aja yan,,,"jawab ahmad "jadi deket lo kerja bisa jalan kaki"


"aduh ah,,,kemahalan eum, jangan yang itu juga kali" jawab ku depan komplek ada perum baru peresmian memang bagus besar juga sebenernya sesuai buat ku yang anak banyak tapi DP dan angsuran nya terlalu besar.


"ya jangka waktu nya yang rada longgar yan,,,kan bisa di sesuaikan lagian bulan depan gaji lo naik lagi kaya nya bisa lah tabungan lo kuras buat DP nya" tukas ahmad "kalo perum novi atau gue kecil yan kamar aja 2, ruang tamu pas-pasan"


"atau ga di apartemen aja" usul novi


"halah apartemen segala, lebih mahal" kata ahmad "lo sih enak cuma sendiri, ini anak 5 di apartemen bukan sulap"


"masalah nya sekarang kan gue punya storan motor, terus nanti baby sitter, mau gimana?"


"sekarang mending ga usah dulu kalo menurut gue mah" kata novi "gini ya daripada ribet mending jangan dulu sekarang biarin aja sama nenek nya aja dulu toh tiap minggu lo kasih duit tu anak. Lagian kalo sama nenek nya satu saar bapak nya dateng jenguk kan gampang, sekaligus kalo anak-anak masih sama nenek nya bapak nya datang kan pasti nanyain lo kan?" biarin biar dia tau dunia belum berakhir meski lo udah di cerai sepihak. point penting nya keluarga lo ga bakal nyepelei lagi ke lo bakal balik baik kaya dulu, nah udah gitu jaga jarak buat sakit hati lo jangan karena lo sekarang bisa lo baik lagi segampang itu ke mereka. Skak matt buat yang musuhi lo kemaren buat dia mati telak didepan lo"


Saran novi bagus juga kaya nya mending gitu deh kaya nya. Temen-temen yang sangat paham ke aku yang selalu mendukung ku, yang selalu menasehati ku saat aku salah. Apalagi kalo inget saat kemaren di kampung sampai datang kesini ngirit nya buat makan sampe kasbon akhir nya sekarang pendapatan harian, bonus dan gaji dapat aku dan anak ku nikmati meski aku punya hutang tapi hutang resmi ke badan yang resmi ga seperti di kampung kemaren. Dengan hidup ku yang sekarang aku bisa menujukan ke orang-orang kalo aku bisa tanpa mereka. Anak ku meski jauh dari orang tua nya bisa hidup layak seperti teman sebaya nya.


"sampe sekarang ada ga orang tua lo, atau keluarga lo nanyain kabar lo ga?" tanya ahmad. Aku menggelengkan kepala. Sudah hampir 1 tahun aku ga pernah dapat kabar dari keluarga ku di kampung paling ke anak ku yang sering kominikasi dengan ku. Aku sengaja mengirimkan motor bekas ku ke anak ku bukan motor yang baru ku beli karena aku tau pasti tak hanya anak ku yang pakai tapi semua keluarga yang disitu akan pakai seolah punya mereka masing-masing.


"bisa ya anak cewek pergi sendiri tanpa di tanya kemana dimana sama siapa?" tanya ahmad "yang jelas uang yang lo transfer tiap minggu pasti mereka juga ikut pake. Ke anak lo mah di irit pastinya itu."


"ga apa-apa buat jadi prihatin juga kan anak gue" kata ku ke mereka "di fikir bener juga usul lo noy, ya udah atuh ga apa-apa anak gue di sana semua lagian gue disini sibuk banget kadang ga sempet pulang kasian juga anak malah di tinggal sama baby sittter nya aja"


krrriing telfon ku bunyi "maaf bu, ada yang mau bertemu ibu orang nya menunggu di receptionist sekarang" lilis memberitahu ku


"oh ya sebentar lagi saya kesana ya" jawab ku sambil membereskan meja dan membayar makanan kami bertiga "gue yang bayar udah, ga apa kemaren abis dapet rizki ga terduga"


"selamat siang pa" sapa ku kepada tamu ku "mari pa ke ruangan saya saja" aku menuntun mereka menuju ruangan ku "silahkan masuk pa dan silahkan duduk."


Tuutt suara intercom "lis,,,tolong bawakan kopi 2 ke ruangan saya ya, terima kasih"

__ADS_1


"sambil menunggu minuman buat bapak -bapak, ada yang bisa saya bantu?" kata ku kepada mereka


"maaf bu sebelum nya saya sudah telfon ke pimpinan disini tapi waktu saya telfon sedang ada di rumah sakir, dan saya disarankan datang ke bu dian" bapak pertama memaparkan maksud nya


"oh iya pa saya dian pa sekretaris dari pimpinan kantor ini" papar ku dengan sopan "silahkan apa yang bisa saya bantu, nanti akan saya laporkan ke bapak pimpinan kami disini."


Mereka menjelaskan maksud nya aku mencatat dan merekam semua pemaparan masalah nya agar tak terjadi kesalahan saat pelaporan kepada bos ku.setelah selesai mereka pun pergi aku segera merivisi dan langsung melaporkan pada bos ku lewat email pribadi nya dan ku sertakan note siapa yang datang tadi pada bos ku. Hari ini kerja ku beres dan aku bisa santai di luar.


"bu,,,ko ibu yang bawa cangkir kopi nya kesini?" tanya mang ujo


"ga apa mang saya sudah santai ko ga ada kerja lagi." kata ku ke mang ujo


"o ya bu ini ada pesanan dari istri saya" mang ujo menyodorkan amplop kepada ku dan ku buka isi nya ternyata uang


"apa ini mang?" tanya ku ke mang ujo


"kata istri saya kebanyakan ngasih ongkos buat dia bu,,,"


"mang,,," aku kembalikan lagi uang yang di amplop "mang saya ikhlas jangan kaya gini mang. Bibi cape ngurus semua ngurus saya, ngurus rumah belum mamang juga, saya yang sudah merepotkan mamang dan bibi."


"kata istri saya kalo ga di terima sama ibu dia bakal marah dan ga mau di minta tolong lagi bu" terpaksa aku menerima uang dari amplop nya tapi aku berfikir nanti setelah pulang dari sini aku mampir ke rumah. "ya sudah makasih ya mang."


"sama-sama bu, istri saya juga seneng kata nya ada kegiatan" ucap mang ujo pada ku. Aku pun keluar pantry bertemu ahmad


"are you free?" aku mengangguk


"mau apa?" tanya ku


"rencana mau kemana sore ini" tanya nya


"tidur lah,,,cape sibuk mulu. Kenapa mau ngajak kemana?"


"hayu lah,,," jawab ku "aku beresin di ruangan dulu"


Kami menuju ruangan ku dan membereskan berkas-berkas ke file masing-masing, file khusus aku simpan di loker dan hanya aku yang tau kode penyimpanan nya.


"lis,,,selesai belum?" tanya ku ke lilis


"bentar lagi bu,,," jawab nya


"oke,,,saya tunggu di ruangan saya ya" aku cek file buat besok untuk pertemuan dengan bapak yang tadi karena bos membalas email ku.


"selamat sore pak" sapa ku sopan "maaf pak saya mengganggu waktu bapak, saya ibu dian tentang permintaan bapak tadi siang, pimpinan kami ingin bertemu besok di kafe dekat rumah sakit, besok sekitar pukul 10 pagi, apakah bapak bersedia?" tanya ku dengan sopan.


"siap bu, saya akan menemui beliau besok. Terima kasih bu"


"sama-sama pak"


Lilis masuk menyerahkan berkas yang aku kasih buat dia kerjakan.


"sudah selesai bu, ini file nya" lilis menyodorkan berkas yang tadi, kemudian meninggalkan ruangan ku.


Tuuuttt suara intercom masuk, "bu ada telfon untuk anda" lilis memberi tahu ku


"hallo" jawab ku


"ya hallo" terdengar suara laki-laki terdengar di seberang sana.mas iman? Ya suara mas iman. Mas iman telfon? Ada apa? Antara seneng dan bingung aku menjawab telfon nya

__ADS_1


"mas iman?" tanya ku


"iya yan,,,ini aku" jawab nya di telfon "aku minta no baru kamu"


"nomor ponsel ku masih sama mas, masih yang dulu" jawab ku tut...tuutt...tuutt terdengar telfon yang di tutup secara sepihak.


Kriiinngg ponsel ku angkat "hallo yan,,," suara mas iman menyapa ku "apa kabar?"


"kabar baik mas" jawab ku terbata bata, aku shock mendengar mas iman menelfon ku "mas apa kabar?"


"baik yan,,,aku juga baik" jawab nya. Aku terdiam karena bingung tak tau apa yang harus aku omongin lagi. "ko diem yan" tanya mas iman pada ku


"em,,,anu mas" jawab ku lebih gugup tak tau apa yang harus aku tanya karena sekian lama baru terdengar kabar nya.


"lama ya yan,,,ga ketemu?" tanya nya


"iya mas"


"kamu sukses sekarang ya, selamat ya?"


"makasih mas" jawab ku "ga ko mas sama seperti dulu"


"yang aku denger ga gitu sekarang kamu jadi sekretaris tetap dan gaji yang besar." papar nya. Entah dari mana dia mendapatkan semua informasi tentang ku tak ada yang tau aku kerja di sini. Yang orang-orang tau aku kerja jadi asisten rumah tangga bukan asisten pribadi seorang bos besar.


"mas tau dari mana?" tanya ku ke mas iman


"yan,,, ayo cepet!!!" ahmad nyelonong masuk ruangan ku saat mas iman telfon.


Aku diam tak bergeming menutup mulut ku dengan telunjuk mengisyaratkan agar diam tak berbicara.


"siapa?" tanya nya berbisik


"mas iman" jawab ku dengan bahasa bibir ku. Ahmad mengangguk dan diam tapi karena terlalu lama dia menunjuk jam tangan nya pada ku, aku mengangguk.


"ayo yang,,,udah sore takut kemalaman nanti sayang" ahmad sengaja melakukan nya karena untuk mengakhiri telfon nya. Aku melotot kepada nya "aku udah jauh jemput nya masa kamu sibuk terus yang,,,udah jangan telfon mulu. Telfon dari siapa sih yang?" ahmad tertawa tanpa bersuara menahan geli perbuatan nya


"siapa yan?" tanya mas iman "pacar kamu? Udah ada janji ya?"


"bukan mas,,,bukan." jawab ku terbata-bata "temen aku mas" suara ku terpotong oleh mas iman yang langsung menyela pembicaraan ku


"ya udah ya,,,kalo sudah ada janji silahkan pergi, maaf ya aku ga tau maaf ganggu ya"


"e enggak mas" jawab ku gugup "nanti yaa aku telfon balik ya maaf"


"iya ga apa-apa yan, justru aku yang minta maaf udah ganggu"


"yaaannggg ayo,,,udah sore nii" mata ku lebih melotot lagi ahmad memanggil ku dengan sebutan 'yang'


"udah ya yan,,,"


"iya mas" telfon di tutup oleh mas iman


"apaan sih lo" hardik ku ke ahmad "aduuhhh lo tu ya takut nya mas iman beneran ngira gue punya cowok tau ga?"


"terus kalo tau kenapa?" tanya nya ahmad cengar cengir


"lo tu yaaa" tak bisa aku berbicara lagi. Aku ga tau kenapa memang kalo aku punya cowok lagi? Apa rugi nya dia? Toh kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi satu sama lain, lagian selama aku merantau baru kali ini mas iman telfon kabar ku. Lagian dia tau aku balik lagi kerja kesini dari siapa? Soal nya ga ada yang tau aku kerja seperti ini.

__ADS_1


sepanjang jalan aku banyak diam memikirkan mas iman, seketika teringat saat aku di ceraikan tanpa aku tau apa-apa rasa sakit itu pun hinggap kembali membuat dada ku terasa sesak. Kenapa dia harus kembali disaat aku mulai melupakan nya. Tak tau kah mas iman bagaimana aku berjuang untuk melupakan nya? Kenapa dia kembali di saat kehidupan ku mulai berangsur membaik. Tak tau kah dia aku sempat hampir depresi saat dia pergi secara tiba-tiba kenapa dia datang sekarang disaat aku mulai melupakan diri nya.


__ADS_2