
Aku sendiri dalan kamar saat suami ku pergi ke kantor, hari ini aku lega rasa nya karena kasus yang aku alami mulai menemukan jalan terang, selama ini sudah hampir 3 bulan lama nya aku bergulir di lubang yang sempit tak berdasar. Aku di kurung di dalam kamar yang tak bertuan memang bukan di balik jeruji besi tapi rasa nya sama terpenjara, sepi, tak bisa bebes bertemu siapapun.
Lelah rasa nya 3 bulan terkungkung dalam masalah yang tak aku perbuat sama sekali, entah berapa lama ini berakhir. Aku pasrah tapi tak menyerah setiap detik ku selalu berdoa agar semua nya selesai, aku hanya memikirkan masa depan anak, bagaimana mereka saat tau ibu nya tersangka kasus korupsi? Bagaimana mental mereka? Aku saja hampir frustasi apalagi mereka yang akan di bully oleh teman-teman nya.
Bagaimana seandainya keluarga besar ku tau, semua nya menjadi beban buat ku, kenapa ada masalah di awal pernikahan ku yang seharusnya aku mengecap rasa manis malah berbanding terbalik dengan angan yang ku impikan. Rumit nya masalah ku membuat aku terkurung disini, suami ku memberi kenyamanan memang agar aku tak terlalu memikirkan masalah yang tengah menjerat ku tapi bagaimana tidak semua masa depan ku dan anak-anak ada di akhir kasus ini.
"hallo" sapa ku saat suami ku menelfon ku "kenapa?"
"lagi ngapain?" tanya nya melalui telfon
"lagi diem aja" jawab ku "bosen disini, kaya di penjara"
"sabar kan kemaren sudah ada jalan terang nya" ucap suami ku "meski baru sepintas setidaknya sudah bisa membuktikan kalo kamu tidak bersalah"
Aku menghela nafas semuanya membuat ku tak bergairah lalah rasa nya, aku selalu menguatkan hati agar tak terlalu jatuh dengan pemikiran bodoh yang sering muncul ke permukaan otak ku. Hanya saja aku bersyukur selalu mendapat support dari orang-orang terdekat ku.
"sudah makan, bu?" panggil nya pada ku. Panggilan ibu untuk membahasakan anak-anak, tapi malah menjadi panggilan sehari-hari kami. Begitupun sebalik nya panggilan ku ke suami ku agar anak-anak tak salah sebut antara ayah kandung dan abba sambung nya.
"sudah tadi, ada kurir yang mengantarkan kesini" jawab ku
"ya sudah" tukas nya "abba lanjut kerja lagi ya,,,"
"iya" jawab ku singkat
"ga usah lemes gitu, pokok nya harus semangat bagaimana pun keadaan nya" tukas nya " ya udah sampe ketemu nanti sore ya, bye" terputus nya telfon yang ku pegang. Aku berjalan keluar kamar untuk sekedar menghirup udara segar. Tefikir saat kemaren aku mendapat telfon dari mantan suami ku, aku baru menyadari semua jaringan ponsel ku telah disadap. 'jangan-jangan kang tristan tau kalo aku menerima telfon dan pesan dari ayah nya anak-anak' bisik ku dalam hati
Aku mulai gelisah saat teringat pesan yang ku terima dari mantan suami ku, tak aneh sih hanya menanyakan kabar anak-anak hanya saja aku tak ingin ada salah paham yang membuat ada masalah kedua yang ku hadapi sekarang.
"maaf ba," celetuk ku mendahului sebelum kang tristan berbicara
"kenapa?" tanya nya pada ku
"engga" aku mendadak bingung apa yang harus ku sampaikan pada nya. Aku takut konsentrasi nya terpecah gara-gara mantan suami ku, aku tak ingin ada keributan.
"kenapa diem?" tanya nya
"eh anu" aku malah jadi bingung sendiri"engga, ga apa-apa, cuma bosen aja" aku beralasan kerena takut mengganggu waktu nya.
"main-main aja disitu" saran nya pada ku "boleh nongkrong di bawah ko"
"ya udah" jawab ku singkat. Tak mau berlama-lama telfon takut keceplosan, aku memang bukan wanita yang bisa nyimpen rahasia sendiri, aku selalu membicarakan apa yang aku rasa pada suami ku sendiri.
Aku menutup telfon, terasa ambigu sih cuma nyari aman agar masalah tak berkelanjutan dan menjalar. Aku menyusuri jalan kecil di samping paviliun tempat ku menginap sekedar mengusir sepi yang hinggap, adu duduk di sebuah bangku sambil memencet ponsel yang ku pegang. Tak banyak yang bisa ku lakukan hanya sekedar melihat status orang dan menscroll dari akun tik tok, bahkan untuk membalas sebuah pesan masuk pun aku ragu lebih baik diam dan hanya menonton.
"mas,,," sebuah pesan ku kirim untuk mas ganjar hanya untuk memastikan seberapa jauh tim nya mengusut tuntas kasus ku "maaf bagaimana selanjutnya?"
"masih di awasi yan," jawab nya "mohon bersabar karena kami pun terus memantau perkembangan nya dari hari ke hari."
"sampai kapan aku harus sembunyi seperti ini mas" tanya ku
"sampai nanti tim ku akan memberitahu ke kamu" tak ku jawab lagi karena aku tau jawaban nya akan sama. Rasa jenuh ku membuat ku terasa ingin berteriak, apalagi saat teringat ke anak-anak yang sudah ku tinggalkan beberapa hari ini.
Aku terus berjalan menyusuri jalan-jalan kecil sekedar membunuh rasa kesal ku, aku hanya bisa mengingat kenapa.semua terjadi pada ku padahal aku melakukan apa yang seharus nya aku lakukan kenapa sampai seperti ini?
'ya sudahlah toh menyesali keadaan pun tak akan balik seperti semula' aku selalu memotivasi diri sendiri agar tak terlalu larut dalam keadaan. Aku berjalan balik ke tempat semula dan terus duduk di tempat yang sama seperti tadi di awal.
__ADS_1
Aku mulai menemukan ketenangan disini saat duduk di tepi danau yang tenang dengab pemandangan alam yang indah, meski sudah menjelang sore tapi udara pegunungan tetap terasa sejuk. Setidaknya membuat relax dan mengembalikan mood ku yang sejak tadi pagi rusak.
krrriiinnnnggg tiba-tiba ponsel ku berdering "hallo" jawab ku
"maaf dengan ibu dian?" tanya nya
"iya betul" jawab ku "dari siapa ya?"
"maaf bu saya mengganggu" entah dari mana telfon itu terhubung sementara ponsel genggam ku masih di sadap untuk penyelidikan kasus ku. "saya tim kuasa pak ganjar, kami harap ibu masih dengan keadaan yang stabil, karena proses persidangan akan segera di gelar"
Dada ku bergemuruh, tangan ku bergetar, tak kusangka aku akan benar-benar menjadi tersangka kasus yang tak ku lakukan. Rasa nya mood ku pun kembali buruk, mau cerita ke siapa saat seperti ini, aku tak bisa mengganggu suami ku yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya. Aku duduk terdiam bingung memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada ku nanti. Sekarang aku hanya bisa memasrahkan semua masalahkan ku pada Nya, apa yang baik dan yang buruk akan terjadi sesuai kehendan Nya.
Aku menghela nafas panjang untuk sekedar menghalau rasa penat ku yang masuk membuat rusak mood ku. aku bersandar pada bangku yang ada di pinggir kolam, melihat surut nya matahari yang mulai menguning warna nya. membuat indah warna air danau yang terkena sinar nya, membuat teduh yang memandang hanya saja emosi ku yang terkuras sejak menerima telfon tadi membuat warna indah nya pun tak dapat ku rasakan sepenuhnya.
"hallo" tiba-tiba ponsel ku pun berbunyi ternyata dari mertua ku "assalamualaikum ummi" sapa ku di telfon
"waalaikum salam nyai" jawab nya
"ummi sehat?" tanya ku
"sehat nyi, alhamdulillah" jawab nya "kamu gimana kabar nya? Kenapa atuh nyi ga bilang-bilang ke ummi"
"maaf mi,,," aku mengerti maksud ummi aku pun merasakan kekecewaan yang di rasakan ummi karena pernikahan kami yang sangat cepat dan dadakan. "maaf bukan maksud tidak menghargai ummi tapi maaf semua nya serba dadakan mi"
"seharusnya waktu pulang kan bisa ngomong kan" hardik ummi
"belum kefikiran mi," jawab ku agar ummi tak marah pada ku "karena awal nya kami memang tidak terburu-buru menikah"
"lalu kenapa?" tanya nya seolah curiga pada ku "apa kalian sudah kebablasan?"
"astaghfirulloh ummi" aku masih halus dalam menjawab setiap pertanyaan nya agar tak membuat kekecewaan lagi. "kami bukan seperti itu, lagian di rumah saya banyak asisten yang selalu terjaga jadi mana mungkin ummi"
"iya ummi, dian tau" aku merasa lega karena sudah tidak di curigai berbuat hal-hal yang di larang. "hanya saja maksud kang tristan hanya ingin melindungi nama baik kami saja, agar tak jadi bahan gunjingan para tetangga ummi, karena status saya yang sudah janda ummi"
"ummi senang mendengarnya, nyai" tukas nya "ummi pengen nengok anak-anak nyi, ummi kangen ke mereka"
Deg langsung aku bingung menjawab nya karena tak tau apa yang harus ku jawab.
"maaf ummi, tapi saya tak ada di rumah karena ada kerjaan di kantor yang harus di urus. Saya dinas luar kota ummi" kata ku memberi alasan
"tak apa nyi, yang penting ummi pengen ketemu sama anak-anak" tukas nya
"terserah ummi saja" jawab ku "nanti saya akan konfirmasi ke kang tristan ya ummi, maafkan dian sebelum nya"
"ga apa nyi, yang penting buat ummi kalian saling memahami saru dan lain nya" jawaban nya membuat ku tenang.
Apa lagi ini aduuhhh,,,ku lihat arloji di tangan ku masih jam 4 sore mungkin kang tristan masih sibuk. Atau ada lembur yang harus di kerjakan sekarang. Ada baik nya kalo ummi ada di tengah anak-anak, tapi bagaimana kalau beliau tau apa yang terjadi pada ku apa yang akan di pikirkan nya?. Sudahlah terserah nanti akan aku ceritakan pada suami dan kuasa hukum ku, nanti saat suami ku pulang dari pekerjaan nya.
Dalam hati aku memang merasa khawatir saat aku menitipkan anak-anak dengan suster nya saja karena akhir-akhir ini banyak sekali berita yang viral tentang pengasuh anak di TV dan media sosial. Mungkin ada nya ummi aku akan tenang meski lama meninggalkan anak-anak, meski bukan nenek kandung nya tapi kasih sayang ummi sama seperti ke cucu kandung nya.
"hayy" aku di kagetkan oleh suara yang sangat ku kenal "jauh banget jalan-jalan nya" suara suami ku yang baru pulang kerja
"iya, jenuh soal nya" jawab ku sambil tersenyum "yu ke kamar biar bisa bersih-bersih"
Kami melangkah meninggalkan danau dan pergi ke kamar, maksud ku hanya ingin bercerita masalah ummi dan persidangan awalku, yang akan berlangsung dalam minggu-minggu ini.
__ADS_1
"ko ngelamun lagi" ujar kang tristan sambil mendekat dan menciun kening ku. Memang dia lebih perhatian saat aku terkena masalah mungkin karena kami masih baru atau memang benar dia tulus pada ku entahlah yang jelas aku nyaman berada di dekat nya saat ini.
"engga ko" jawab ku sekena nya
"ada apa?" tanya nya "aku tau kamu, kita kenal ga hanya sekarang sudah 10 tahun yang lalu jadi aku sangat paham watak kamu"
"banyak yang aku fikirkan, ba" tukas ku "kira-kira abba marah ga kalo aku cerita?"
kriiinnggg tiba-tiba telfon kang tristan berbunyi dan langsung di jawab nya "hallo assalamualaikum" aku hanya mendengarkan dan berusaha cuek karena aku bingung dengan keadaan ku sendiri.
Terlihat raut muka yang kebingungan saat dia menjawab telfon dari seseorang, dari siapa sampai dia begitu bingung, aku pun mulai resah karena nya. Aku mendekatinya saat dia menelfon aku juga ingin tau dari siapa dia menerima telfon.
"siapa?" tanya ku setengah berbisik
"ummi" jawab nya. Dan langsung mematikan ponsel nya "ummi sudah ada di rumah, kata nya"
"hah?" jawab ku terkejut "tadi sore baru telfon aku"
"eee,,,abba pulang dulu" tukas nya "jangan kemana-mana abba ga lama"
"emang mau kemana?" jawab ku menyeletuk. Aku mengantar suami ku sampai ke tempat parkir dan menyalami nya. Aku balik lagi ke kamar, lebih memikirkan apa yang akan di katakan suami ku ke ibu nya.
Satu jam, dua jam, sampai tiga jam belum juga balik lagi ke tempat ku entah ada apa, atau memang ga di izinkan balik kesini duh pusing malah jadi nya, terserahlah mau gimana yang jelas persidangan ku sudah dekat yang dapat membuktikan aku tak bersalah.
Tok tok tok terdengar pintu di ketuk ku bukakan pintu ternyata kang tristan.
"ko lama?" tanya ku "gimana ummi? Pasti kecewa ya?"
"abba ga bilang bu" jawab nya terlihat lesu wajah nya seperti menahan beban berat yang tak tertanggung
"terus?" aku penasaran dengan keadaan ibu nya
"ya sudahlah mau gimana lagi" jawab nya singkat
"ya sudah kalo kata ummi abba harus ninggalin aku, aku ga apa-apa"
"ko gitu?" tanya nya. Tak ku jawab pertanyaan suami ku karena aku tak tau apa yang di bicarakan antara dia dan ibu nya yang jelas pasti aku lah yang jadi topik pembicaraan mereka. Aku duduk di teras yang menghadap ke danau untuk sekedar menghilangkan rasa penat di kepala ku.
"kenapa lagi?" tanya suami ku sambil tersenyum "kata nya tadi ada yang mau di omongin apa?"
"engga" jawab ku datar
"hmm,,,mulai mood nya keluar" tukas suami ku dengan nada becanda nya "moodyan banget sih? Apa karena abba terlalu lama ninggalin ibu disini?"
"apa kata ummi?" tanya ku langsung ke pokok masalah
"ga apa-apa" jawab nya seperti ada yang di sembunyikan "beliau ga tau tentang kasus mu bu, abba ga cerita, abba bilang kamu pergi ke luar kota untuk pekerjaan"
"terus ko bisa abba kesini?"
"ih nanya nya aneh" jawab nya "kalo ga kesini kemana? Kan istri abba ada disini, sekarang kalo ga boleh kesini mau kemana?"
"aku serius" ujar ku tegas. Aku tak tau apa yang di sembunyikan suami ku tapi aku tak bisa memaksa nya untyk cerita karena aku juga tak ingin larut dan menambah beban masalahku.
"mau kemana?" tanya suami ku saat ku beranjak dari kursi ku
__ADS_1
"tidur" jawab ku singkat.
"oh,,,ya udah" jawab nya singkat. Benar dugaan ku pasti ada hal serius yang terjadi antara ibu dan anak. Entahlah aku tak mau ambil pusing ku rebahkan tubuhku agar aku bisa terlelap sampai besok pagi.