ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
kedatangan mantan suami POV mas imam


__ADS_3

Aku memberanikan diri untuk menemui mantan istri ku yang telah lama pergi dengan membawa anak-anak kami, rindu rasa nya setelah jauh dengan anak-anak, ingin segera ku bertemu dengan mereka saat ini, terutama aku ingin bertemu dengan mantan istri yang telah ku tinggalkan, aku ingin memperbaiki semua yang telah kita lewati semoga dia masih bisa menerima ku seperti dulu, karena secara tak sadar aku masih mencintai nya, aku menyesal telah meninggalkan nya dulu, saat kita dalam masalah besar.


Aku datang kembali setelah lama tak mendengar kabar tentang nya lagi, ada rasa segan yang tiba-tiba menghampiri ku karena dia pernah menolak bertemu dengan ku dulu dengan dalih sakit hati, aku tak marah apa lagi dendam, memang salah ku yang terlalu menuruti ego ku yang membuat ku menyesal sampai saat ini.


Entah aku di terima atau engga aku tak akan menyerah, toh aku bisa beralasan bertemu dengan anak-anak, aku mencari alamat yang di beri oleh anak sulung ku, sebelum aku datang kemari. Aku memang selalu berhubungan dengan anak sulung ku, meski tak sering karena memang aku tak mau anak-anak ku tau tentang kehidupan ku setelah berpisah dari ibu nya, kehidupan ku jauh berbeda dengan mantan ku, aku hidup dengan pas-pasan sementara istri ku hidup dengan fasilitas yang terbilang cukup mewah.


Mantan istri ku mempunyai rumah besar dengan fasilitas yang fantastis, pekerjaan yang menjanjikan rupiah besar, minder aku di buat nya hanya saja keinginan ku untuk bertemu dengan anak-anak yang membuat ku nekad untuk menemui nya, semoga ada kabar baik untuk ku nanti nya. Ku sisir gang demi gang aku menanyakan alamat rumah nya ke satpam komplek tempat tinggal nya, aku pun berjalan sesuai petunjuk yang di berikan satpam, tak jauh dari lokasi keamanan aku bisa menemukan alamat rumah yang ku tuju.


Benar saja sesaat aku terpana dengan rumah yang di tinggali mantan istri ku, rumah impian yang sederhana tapi terlihat elegan karena arsitektur rumah yang di pakai nya. Aku memberanikan diri memencet tombol bel yang terpasang di luar gerbang. Tak lama keluar seorang yang mungkin saja asisten rumah tangga nya, bersamaan dengan keluar nya anak sulung ku.


"mba, tolong buka gerbang nya" pinta anak sulung ku, kepada seseorang yang di dekat nya "itu ayah mba, tolong buka kasihan"


orang yang di sebut mba pun langsung membuka gerbang dan mempersilhkan ku masuk. Aku terbengong melihat rumah yang nampak sederhana tapi terkesan mewah, mempunyai taman kecil di depan rumah dan sebuah mobil mewah keluaran terkini terpajang di garasi rumah, aku berdecak kagum melihat keberhasilan ibu dari anak-anak ku, tak menyangka 2 tahun tak bertemu dan tak saling kabar ternyata dia lebih bisa membuktikan diri nya kepada dunia.


"ayah" pekik anak sulung ku mencium tangan ku "masuk yah, teteh bikinin minum ya"


"ga usah ayah di teras aja" jawab ku sungkan


"ga apa ayah, kan ayah jauh sambil istirahat aja ya" anak sulung ku memaksa ku masuk ke rumah ibu nya. Di dalam ruangan aku memperhatikan sekeliling rumah nya 'ruang tamu nya aja terkesan eksotik banget' bisik ku dalam hati.


"di minum ayah" anak ku menyodorkan segelas air kepada ku


"terima kasih de" ucap ku pada anak sulung ku.


"ade-ade ada di rumah semua, mau aku panggil yah?" tanya nya pada ku


"iya,,,ayah kangen banget" jawab ku


"ya udah masuk aja, ada di teras belakan mereka" ujar anak ku


"ga apa-apa, panggil aja kesini" jawab ku merasa tak enak hati. Anak ku pun masuk ke dalam dan tak lama terdengar riuhan suara anak-anak berlari berhamburan memeluk ku. ke 5 anak ku memang sangat manja kepada ku, meski selalu ada ibu nya tapi entah kenapa mereka lebih dekat dengan ku, mungkin karena aku memeng tak banyak bicara kalo ibu nya memang karakter nya keras kapada anak-anak.


"ayaaahhh" seru mereka menghambur bersamaan ke arah ku, ku peluk mereka satu-satu.


"teh,,,mereka tinggal sendiri di rumah cuma sama kamu?" tanya ku mulai khawatir dengan keadaan mereka, karena aku tau ibu nya sibuk kerja.


"engga yah,,,ada mba-mba yang bantuin ko" jawab anak ku "mana bisa teteh sendiri ngasuh mereka, lagian kan teteh sekolah, sekarang aja teteh libur kemaren abis ujian semester jadi sekarang libur 3 minggu"


"oh,,,begitu" jawab ku "ga pengen ke enin gitu teh, ke uu ke sana" enin adalah panggian untuk nenek nya anak-anak dan uu panggilan untuk buyut atau ibu dari nenek.


"ga tau yah, ibu sibuk kerja" jawab anak ku


"iya, dede juga bosen di rumah" tukas anak ku yang no 2.


"ya udah ke enin atuh selama libur gimana?" tanya ku


"mau mau mau" jawab anak ku yang no 2, yang sekarang berumur 8 tahun


"aku ikut" timpal anak ku yang no 3 yang sekarang berumur 4 tahun. Di timpali dengan anak-anak yang lain. Jarak anak-anak dari yang no 3 sampai 5 memang tak terpaut jauh, hanya selisih 2 tahun saja. Aku tak tau kenapa atau memang istri ku tak berKB saat itu, tapi dia bilang KB tapi kenapa selalu hamil dan hamil. Tapi mungkin sekarang jawab nya dengan banyak nya anak kami tak menyurutkan tekad mantan istri ku untuk menafkahi mereka toh bukti nya sekarang sudah ada di depan mata ku sendiri. Mobil mewah, motor tak hanya 1 ada 2 ku lihat malah yang 1 keluaran tahun ini, belum lagi fasilitas rumah yang terpampang jelas di mata ku sekarang.


"ibu kerja teh?" tanya ku

__ADS_1


"iya yah, abba juga" jawab anak ku yang no 2


"abba? Abba siapa?" tanya ku mulai tak enak rasa setelah mendengar penjelasan anak kubyang ke 2


"kan ibu udah nikah yah" jawab anak sulung ku. Seperti petir yang menyambar di siang bolong aku tak tau apa yang ku rasa sekarang terasa sesak dada ku setelah mendengar berita dari anak ku.


"menikah?" tanya ku seolah tak percaya mendengar nya


"iya ayah, ibu tinggal sama abba" tukas anak ke 2 ku.


Lutut ku terasa lemas mendengar nya, untung aku duduk kalo aku berdiri entah apa yang terjadi mungkin bungsu yang ku gendong bisa terlepas dari gendongan tangan ku. Tak percaya rasa nya kalo istri ku sudah menikah lagi, pupus harapan ku bersanding dengan nya lagi, tapi memang aku pantas menerima konsekwensi dari perceraian yang ku ambil denganpenuh emosi waktu itu. Ada perasaan menyesal karena telah meninggalkan istri dan anak-anak ku waktu itu, tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur sekarang dia telah bersanding dengan pria lain yang mungkin standar hidup nya sesuai dengan nya sekarang.


"yah,,,ko melamun?" tanya anak sulung ku "yu makan, ayah kan kan jauh perjalanan pasti lapar kan?"


"engga teh, makasih" boro-boro pengen makan yang ada udah kenyang duluan berita bahagia buat mereka tapi duka buat ku. "kamu di rumah sama siapa aja?" tanya ku mengalihkan pembicaraan yang mengarah ke rasa kecewa ku


"ada mba dan ummi" jawab nya


"ummi?" tanya ku heran "ummi siapa maksud nya"


"ummi nya abba yah" jawab anak ku "makan yah, ayah di suruh makan sama ummi"


"ga teh,,,ayah sudah makan tadi pas sampe kesini" aku berbohong pada nya karena sekarang suasana hati ku yang tak menentu.


"eee jangan seperti itu mas" ujar seseorang yang keluar dari dalam rumah. seorang wanita yang sudah berumur datang menghampiri ku. "janga tolak rezeki ga baik, perkenalkan saya ummi hapsah, ummi dari dian"


aku menyalami nya, terlihat bersahaja wanita yang menyapa ku, ramah dan terlihat agamis dari pakaian yang beliau kenakan.


"hayu mas, kita ke ruang tengah" ajak nya


"tidak repot ko" jawab nya "kan sudah ada, tinggal angetin aja. Ayo mas tuuu sama-anak sekalian, kan jarang anak-anak makan di temani ayah nya, karena ayah nya yang sekarang memang sama-sama sibuk kerja"


Aku pun terpaksa menuruti ajakan beliau, waktu ku masuk lagi-lagi aku berdecak kagum terlihat dari lantai yang ku injak aja udah mewah, interior yang sangat lux sekali, malu rasa nya aku sekarang melihat semua yang terpampang jelas di deoan mataku keberhasilan yang sungguh luar biasa, tanpa kerja keras tak mampu membeli rumah sebesar dan semewah ini memang tak berlantai hanya saja semua nya terlihat mewah dengan cat dinding yang sepadan. Betah rasa nya tinggal di rumah semewah dan segede ini.


Tak kalah kagum nya aku ternyata asisten yang berada di rumah nya tak hanya 1 orang tapi 4 orang, tak terfikir bagaimana cara memberi gaji para asisten nya, padahal dulu waktu sama aku jangankan buat gaji asisten buat jajan sama sekolah anak-anak aja masih sering di tukar tuker, sana sini. Aku tak heran kalo dian bisa seberhasil ini, karena memang dia tipe wanita pekerja keras, apa yang dia mau akan selalu di kerjakan sampai dia mampu dan berhasil, dan sekarang lah bukti nya. Rasa sakit yang aku beri ternyata membawa nya dalam kesuksesan yang membuat decak kagum semua orang.


"silahkan di nikmati, tidak usah sungkan" tukas wanita paruh itu "sudah jarang kan makan bareng anak-anak"


"iya bu" aku mulai menikmati makanan yang ada di meja


"teh, habis ini ajak ayah istirahat ya, kasihan cape perjalanan jauh" tukas wanita itu ke anak sulung ku "kamar nya sudah di bereskan sama mba tadi"


"iya ummi" jawab si sulung.


"nanti, silahkan istirahat ya mas, sambil nunggu anak saya dan istri nya datang" tukas nya.


aku baru tau sekarang kalo wanita ini adalah ibu dari suami dian, mantan istri ku, berarti mertua dian. Tapi terlihat sangat sayang bukti nya perlakuan nya kapada anak-anak ku, yang memang terlihat akrab dengan wanita itu. Selesai aku pun diantar ke kamar oleh si sulung, 'kamar yang sangat nyaman' bisik ku tak berhenti memuji rumah yang dian punya. ku rebahkan tubuh ku diatas kasur yang empuk tapi tak bisa ku memejamkan mata ku, terbayang semua penyesalan ku karena telah meninggalkan nya dulu setelah lama kami hidup sama semaa16 tahun.


Niat hati ingin mengembalikan yang sudah hilang tapi ternyata sudah di kembalikan oleh orang lain, aku akan ikhlas menerima nya mau bagaimana lagi sekarang, aku juga melihat anak-anak ku yang sudah mulai nyaman dengan keluarga baru nya. Tak terasa air mata ku menetes, mengingat semua yang sudah terlewat antara aku dan dian.


"yah" anak sulung ku mengetuk pintu. Ku buka pintu ternyata anak ku menyodorkan selimut "suruh ummi, yah"

__ADS_1


"teh,,,bisa ayah nanya ga?" tanya ku ke si sulung


"apa yah?" sulung ku menanyakan balik


"teteh, seneng ga disini?" tanya ku


"seneng yah, ade-ade juga betah disini yah" jawab nya "kenapa?"


"engga, ayah hanya nanya" kata ku ke si sulung "mungkin kalo ayah ga bisa ngasih seperti yang ibu kasih buat teteh dan ade-ade"


"ko ayah bilang gitu?" tanya anak ku "teteh ga ngerti yah, yang jelas teteh ga bisa seperti dulu"


Aku bisa mengerti apa yang di ungkapkan anak sulung ku, aku menyesal bener-bener menyesal semua terjadi, aku yang tak sanggup mengerti akan istri ku yang selama 16 tahun ini membersamai ku, aku juga tak bisa menyalahkan diri ku sendiri karena telah meninggalkan nya, dalam rumah tangga aku hanya ingin kejujuran, istri ku terbukti bersalah karena membohongi ku tentang masalah yang dia hadapi yang ujung nya aku juga terserat di dalam nya, tak hanya aku bahkan ibu ku juga terbawa dalam masalah nya, aku lebih suka istri yang terbuka bukan selingkuh masalah keuangan meski aku tau uang itu lari nya kemana. Tapi aku tak suka di bohongi.


"assalamualaikum" salam seseorang yang membukan pintu


"ayah, kaya nya ibu pulang" tukas sulung ku "biasa nya sekalian bareng sama abba yah"


"oh,,,ko ga kedengaeran mobil, terus mobil yang di depan punya siapa?" tanya ku


"itu punya ibu yah," jawab anak ku "ibu kan ga bisa naik mobil, biasa nya ibu berangkat kerja sendiri pake motor atau antar jemput sama abba"


"abba baik ga ke teteh sama ade-ade" tanya ku


"baik yah, abba sayang ke semua nya" jawab sulung ku "kita keluar yu yah?"


"teteh dulu aja, nanti baru ayah nyusul" anak ku pun keluar dari kamar yang ku tempati, menyambut ibu dan ayah baru nya.


"teh, dari kamar depan ngapain?" tanya dian pada si sulung yang terdengar jelas di telinga ku "ada tamu gitu?"


Aku pun keluar memperlihatkan diri pada nya, kaget dia saat melihat ku berada di rumah nya.


"mas iman?" pekik nya


"maaf yan, mas datang tanpa kabar dulu" ujar ku agar tak terjadi salah paham dengan suami nya.


"mas,,,kapan datang?" tanya nya pada ku


"tadi siangan" jawab ku


"oh" ucap nya "maaf saya permisi dulu mas"


dian meninggalkan ku aku pun duduk di ruang tamu, berharap bertemu suami nya, tak ada niat aku menginap disini meski ada anak sekalipun.


"eehhh a, sehat?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam menyalami ku


"alhamdulillah" aku memberi senyum pada nya. Lelaki yang kelihatan agamis dan bersahaja "maaf a, saya datang bukan maksud apa-apa hanya saja ingin ketemu anak-anak saja a"


"ga apa a" jawab nya pada ku "saya tau ko, karena mau bagaimana pun aa tetep ayah nya anak-anak, saya ga bisa ngelarang, begitu juga istri saya a"


"karena sudah sore saya mau pulang ya a" tukas ku "toh sudah bertemu anak-anak juga"

__ADS_1


"jauh a, cape nginep saja" ujar nya basa basi aku tai itu.


"ga apa-apa, masih ada biss yang kesana jadi ga khawatir" aku pun pergi meninggalkan rumah itu, setelah beroamitan dengan anak-anak ku. Rasa letih membuat ku berjalan sedokit sempoyongan, aku hancur baru tau aku kalo seperti inilah rasa nya seperti di buang.


__ADS_2