ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
menjadi kisruh POV Tristan


__ADS_3

"Sabar ya, Sayang. Abba tahu kamu kuat," kata-kata itu selalu aku ucapkan kepada istriku sebagai bentuk simpati. Aku merasa bersalah tidak bisa membantu banyak ketika istriku mengalami masalah besar. Dia dituduh menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja. Aku tahu dan paham betul sifat istriku yang tak pernah berniat merugikan orang lain, bahkan seringkali menjadi korban karena menolong orang lain. Jiwa sosialnya yang tinggi membuat dia terjerat dalam masalah ini.


Aku hanya bisa membantu sebisa mungkin dengan selalu mendukungnya agar tidak merasa sendirian, meski sekarang teman terdekatnya tidak bisa ada di sisinya. Semua itu kulakukan atas permintaan kuasa hukumnya. Masalahnya menjadi semakin rumit saat dia akan dibawa ke kantor pemberantasan korupsi (KPK). Namun, aku dan tim Ganjar yang menjadi kuasa hukumnya masih bisa menahannya agar tidak dibawa ke KPK. Segala transaksi keuangannya kublokir, dan telepon yang masuk padanya kusadap agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Aku sangat mencintai istriku. Dia adalah wanita tangguh yang tidak mudah menyerah dalam keadaan yang sulit sekalipun, dan selalu bisa tersenyum meskipun keadaannya tidak baik. Orang lain tidak akan menyangka kalau dia tengah dalam masalah karena dia tidak pernah menunjukkan kegalauannya di depan orang lain. Itu yang membuatku jatuh cinta sejak kami kuliah dulu. Aku mengagumi sikap dan sifatnya sejak dulu, tapi sayang dia telah menikah dengan orang lain setelah aku lulus kuliah lebih dulu. Namun, sekarang aku mendapatkannya kembali meski situasi dan kondisinya berbeda. Rasa cintaku masih sama seperti dulu.


"Bangun Sayang, sarapan dulu yuk," kataku membangunkan istriku dengan lembut. Aku selalu menunjukkan kelembutan padanya agar dia merasa nyaman di sisiku. "Abba sudah memesan makanan untuk sarapan kita. Sebentar lagi Abba harus ke kantor ya. Kamu baik-baik saja di sini. Kalau bosan, jalan-jalan saja."


"Aku mau pulang, Ba," jawab istriku.


"Jangan dulu, sayang. Sabar dulu ya. Ada saatnya kita harus lebih sabar lagi sekarang," kataku mencoba menenangkan hatinya.


Istriku hanya tersenyum mendengarkan ucapanku. Aku tahu ada apa yang dia sembunyikan di balik senyumnya. Namun, aku berusaha cuek agar tidak terjadi perdebatan yang bisa melampiaskan kekesalan hati kami. Aku selalu berusaha menenangkan hatinya agar dia bisa lebih fokus menyelesaikan kasus yang menimpanya.


"Aba kerja dulu ya," ucapku pamit pada istriku. Istriku hanya tersenyum dan menjawab, "Abba janji bakal pulang cepat ya."


Aku pergi ke kantor Ganjar untuk memastikan seberapa jauh perkembangan kasus istriku. Namun, fokusku tetap terarah pada istriku. Tak lama setelah itu, aku meneleponnya untuk mengajaknya makan siang.


"Hallo," jawabnya saat aku meneleponnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Ih, nanya aneh," jawabnya tidak menyelesaikan kata-katanya. "Udahlah, lupain aja."


"Abba sudah memesan makanan untuk ibu di sana. Jangan lupa makan ya," kataku pada istriku.


"Repot-repot, Ba. Ga pa aku mah," jawabnya.


"Ibu harus makan meski tanpa Abba. Ibu harus sehat," kataku pada istriku. "Udah jalan-jalan belum?"


"Ga, Ba. Malas keluar kamar," jawabnya.


"Terus lagi ngapain?" tanyaku. "Pasti lagi mikirin Abba ya."


"Idih, GR," jawabnya.


"Tenang, bentar lagi pulang jadi ibu ada teman di kamar," kataku padanya.


"Ya udah, aku tunggu ya," jawabnya. Aku menutup teleponnya dan segera menuju kantor Ganjar. Ada perkembangan apa yang membuat dia memanggilku ke kantornya. Kujuga ingin menyelidiki sendiri dengan menanyakan kasus ke teman terdekat istriku untuk menguak siapa dalang yang ada di balik masalah ini.


"Halo, Njar," sapaku saat memasuki ruang kantornya.


"Oh, gimana keadaan Dian sekarang?" tanya Ganjar.


"Gue khawatir kalau terus-begini," jawabku. "Dia menjadi lebih tertutup sekarang. Ada apa, manggil gue?"


"Gue bingung, Tris. Timku susah menemukan jejak pelaku. Kemungkinan dalam dua hingga tiga hari ini istri lo bakal dibawa ke tahanan KPK," jelas Ganjar.


"Duh, Njar," berita ini membuatku terkejut seakan langit jatuh menimpa tubuhku. "Gue mohon, Njar, gue bayar berapa saja yang lo mau, gue ga tega lihat istri gue mendekam di tahanan. Dia bukan narapidana."

__ADS_1


"Bukan masalah bayar, Tris. Cuma rumit banget ini," papar Ganjar. "Seperti pelaku tahu bahwa kita mengawasinya."


"Apa langkahmu sekarang?" tanyaku. "Kasihan istriku, Njar. Gue tidak tega lagi, apalagi kemarin ketika gue pindahkan dia, dia semakin murung. Gue tidak ngerti maksudnya apa, apa dia tidak tahu kalau istriku baru keluar dari masa sulitnya?"


"Masalah apa maksudmu?" tanya Ganjar.


"Dian, sebelum gue menikahinya, dia sudah menikah dengan supir bosnya yang kemudian diceraikan karena kesalahan yang gue sendiri tidak mengerti ceritanya. Bahkan sampai sekarang dia belum bertemu kedua orang tua dan belum bisa berbaikan dengan mereka," paparku.


"Rumit juga masalahnya," tukas Ganjar. "Gue salut dengan istri lo. Dia bisa lewati proses kehidupan yang pelik."


"Dan sekarang dia harus mengalami fitnah kejam yang tidak pantas," ujarku pada Ganjar. "Gue yakin istriku tidak bersalah karena aku paham betul sifatnya, Njar."


"Tapi bukti itu mengarah ke istri lo, Tris," jelas Ganjar.


"Makanya gue kesini minta tolong ke elo. Pasti lo punya pembenaran," paparku.


"In sya Allah, Tris. Doakan gue terus," ucap Ganjar.


"Pasti nih," kami pun terdiam sambil melihat ke langit-langit. Apa lagi yang harus aku lakukan untuk istriku? Hampir frustasi aku dibuatnya.


"Ada yang telepon ke istri lo, Tris," tukas Ganjar. "Lo tau ini nomor siapa? Bahkan ngirim pesan juga."


Aku mengecek dari komputer Ganjar semua pesan yang dibaca istriku dan nomor telepon yang masuk. Ternyata baru aku tahu, mantan suaminya masih menghubungi istriku. Saat aku tahu, aku merasa marah, apakah istriku masih suka berhubungan dengan mantannya di belakangku? Dada ku bergemuruh menahan marah.


"Eh, lihat Tris," Ganjar menunjukkan gambar dari kamera CCTV yang terpasang di kantor istriku, "Lo kenal siapa dia?"


"Lo telepon Dian, minta dia suruh kesini, kali ada titik terang yang bisa menunjukkan bukti yang sebenarnya."


"Hallo, sayang," tanpa basa-basi aku menelfon istriku yang langsung dijawabnya. "Kamu tolong ke kantor Ganjar, Abba ada di sini. Pakai yang lebih tertutup agar media tak mengenali kamu, Bu."


Telepon langsung dimatikan, dan mungkin Dian segera bergegas kesini untuk mengklarifikasi seseorang yang ada di CCTV kantor. Hampir setengah jam lamanya aku menunggu istriku, barulah dia datang dan mencium tangan ku serta bersalaman dengan Ganjar.


"Gimana mas, ada perkembangan?" tanya istriku pada kuasa hukumnya.


"Kamu lihat ini?" ucap Ganjar sembari menyodorkan komputer kerjanya. "Tolong perhatikan baik-baik, jangan sampai salah karena ini akan kami tindaklanjuti bersama petugas KPK."


Dian memperhatikan video dari CCTV dengan seksama, diulang sampai tiga kali. Aku menepuk punggungnya, dan dia pun mengangguk pada ku dengan tanda dia bisa mengenali wajah lelaki yang ada di video CCTV tersebut.


"Mas, saya kenal dengan orang tersebut," tukasnya pada Ganjar. "Saluran ini nyambung ke ruangan siapa saja, mas?"


"Ke semua ruangan kantor kamu," jawabnya, "karena pelaku sangat cerdik, jadi tak menutup kemungkinan dia bisa memprediksi semua jalan penyelidikan kami."


"Tolong kirimkan ini ke bos saya," instruksinya langsung dilaksanakan oleh Ganjar. "Mas, bisa langsung dikonfirmasi ke pihak KPK?"


"Bisa, Yan," jawab Ganjar. Terlihat mimik wajah yang bersinar setelah melihat rekaman CCTV yang diperlihatkan Ganjar pada dia. "Abba," pekiknya sambil menggenggam tanganku dan menciumnya.


"Alhamdulillah," jawabku juga turut bergembira.


"Akhirnya Tuhan memberi jalan yang terbaik," ucapnya sambil memelukku erat. "Aku senang, Abba."

__ADS_1


"Jangan senang dulu, kita harus bisa mencari bukti-bukti lain yang lebih mengacu ke pelaku," ujar Ganjar.


"Tapi segini pun sudah membuat kami optimis," ucapku. "Karena dari sini kita akan tahu semua yang terlibat dalam kasus ini."


"Oke, gue akan urus semua," ucap Ganjar menepuk lengan ku. "Kami akan melakukan pemeriksaan besok. Untuk sementara, kamu kami sembunyikan dulu, Yan. Maaf, untuk sementara waktu saja."


"Iya, Mas," jawab istriku sambil tersenyum.


"Oke, gue pamit," tukasku ke teman seperjuangan ku dulu. "Terima kasih banyak."


Kami pun pergi meninggalkan kantor kuasa hukum istriku dengan pakaian ala *******. Istriku keluar dari pintu utama menuju mobil kami.


"Dah buka, kita aman sekarang," tukasku ke istriku.


"Seenggaknya aku lega sekarang, Ba," ucapnya pada ku dengan senyum yang sedikit mengembang.


"Hallo," panggilan telepon di ponselku. Ibu ku yang telepon. "Jangan dulu, Ummi, soalnya Tristan dan Dian sibuk. Kami pun ga di rumah, Mi."


Ibu ku ingin mengunjungi kami, tapi aku tak mau sampai ibu ku tahu apa yang sedang kami alami. Aku tak mau membebani pikiran ibu ku yang sudah semakin tua.


"Kenapa, Ummi?" tanyaku.


"Ummi pengen ke kita, Bu," jawabku.


"Terus?" tukas istriku. "Aku ga mau sampai Ummi tau, Ba."


"Sama Abba juga, Bu," tukasku.


"Terus tadi gimana?" tanya istriku memastikan.


"Ga jadi, Abba bilangnya kita lagi sibuk sama-sama ga di rumah," jawabku.


"Ummi percaya?" tanya istriku.


"Sementara sih percaya, tapi ga tau nanti," jawabku. "Ummi suka nekad kalo udah pengen kesini."


"Aku deg-degan jadi nya, Ba," ujarnya pada ku.


"Seandainya kalo memang Ummi nekad kesini, biar urusan Abba nanti," jawabku pada dia. "Fokus aja selesaikan masalahmu, Sabar dulu ya."


Aku menjadi bingung, apa yang harus aku katakan kalau memang ibu ku datang kesini. Dengan keadaan ku seperti sekarang ini, ada aja masalah yang datang. Sementara itu, yang ini pun belum selesai. Hadeeuuhhh, semua ini membuatku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bisa menyembunyikan kagalauanku di depan istriku, aku tak mau menambah masalahnya yang sudah jelas dia sedang menanggung masalah besar.


"Kita sampai, Bu," aku keluar dari mobil dan juga istriku. "Abba udah siapin makan buat kita."


"Kapan? Kapan pesannya?" tanya ku.


"Nanti lihat saja," jawabku. "Yu, masuk."


Saya mengajaknya masuk ke kamar sementara kami menginap di sini beberapa hari, sampai misteri terkuak hingga akarnya. Kami duduk di paviliun, menikmati keindahan air danau yang jernih tersinari cahaya rembulan, sangat indah dan menyejukkan saat melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2