ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
keruh nya masalah ku


__ADS_3

"mas,,,gimana kelanjutan nya?" tanya ku ke mas ganjar yang menjadi kuasa hukum ku, teman dari kang tristan waktu kuliah hanya berbeda fakultas. Aku dan kang tristan satu fakultas hanya beda tingkatan, kami dari advertising.


"sulit yan" aku langsung terduduk lemas saat mas ganjar terlihat lesu. "karena semua bukti mengarah ke kamu semua"


"silahkan mas di minum" aku terduduk di sofa ruang tamu bersama kang tristan


"masa lo ga bisa usahain, njar" tukas kang tristan "gue yakin istri gue bersih?"


"istri?" tanya mas ganjar


"iya kita udah nikah yaa baru 2 mingguan ini lah" jawab kang tristan


"oh selamat ya,,,ko ga ngundang" tanya mas ganjar


"belum,,,malah udah ada masalah gini" jawab kang tristan


"oh iya" timpal mas ganjar "balik lagi ke masalah kamu yan? Kira-kira ada bukti kalo itu bukan tanda tangan kamu?" aku terdiam menggeleng.


"ga ada mas, tanda tangan nya persis banget" jawab ku


"akun bank yang di tuju pun sudah di blok sama pemilik nya jadi pihak bank ga bisa lagi ngasih informasi" tukas mas ganjar "pelaku ini kaya nya udah ahli di bidang perbank kan masalah nya dia main bersih"


aku lemes mendengar penuturan mas ganjar, rasa putus asa pun menyelimuti fikiran ku. kami bertiga terdiam dengan fikiran masing-masing.


"kalo cuma buat ngembaliin uang kantor mah kita bisa, tapi gue pengen nama istri gue bersih" tukas kang tristan


"tu mobil punya siapa?" tanya mas ganjar


"punya istri gue, bonus dari klient waktu itu" jawab kang tristan "kenapa?"


"mobil itu bisa di curigai tris,,,itu mobil bukan harga murah" tukas nya


"tapi mas, mobil itu tak sebanding harga yang dia ambil dari perusahaaan" timpal ku


"memang, tapi praduga orang itu pasti ada mengarah ke harta kamu" jawab nya


"terus bagaimana?" tanya ku


"kasih semua bukti faktur pembelian" tukas mas ganjar "agar harta kamu bisa di amankan. Semua nya di kamu kan?"


"iya mas ada, sebentar saya ambil" aku masuk ruang kerja ku dan mengambil semua barang bukti tentang pembelian mobil. "ini mas"


"disini ada nama pembeli, oh bukan nama kamu untung nya jadi aman" tukas nya lagi "oh jadi mobil itu bukan nama kamu?"


"bukan mas masih nama pembeli nya" jawab ku


"ok ini saya bawa kalo seandainya ada masalah" tukas nya. Aku mengangguk tanda setuju


"sampai kapan masalah ini selesai?" gumam ku


"sabar ya sayang" kang tristan mencoba menangkan ku "semua nya akan baik-baik aja"


"iya yan,,,berdoa aja semua nya akan baik-baik saja" timpal mas ganjar "rame banget di dalem"


"iya anak-anak lagi main" jawab kang tristan


"anak kamu yan?" tanya mas ganjar "berapa orang rame banget"


"semua nya 5 orang mas" jawab ku "maaf ya mas berisik"


"biasa lah nama nya anak-anak" tukas nya "aku yang 2 aja rame banget. Main sama siapa mereka?"


"ada pengasuh nya mas" jawab ku


"berapa anak yang di asuh?" tanya nya balik. Pertanyaan nya seperti polisi yang mengintrogasi penjahat kelas kakap.


"yang di asuh 3 orang" jawab ku


"boleh aku masuk?" tanya mas ganjar


"silahkan mas" aku melirik kang tristan dan kang tristan menganggukan kepala nya.


"santai aja,,,anggep lah kaya rumah gue disana" jawab kang tristan ke mas ganjar. Mas ganjar pun masuk ke rumah seperti di sidak rasa nya deg degan


"banyak orang di rumah siapa mereka" tanya mas ganjar seperti menyelidiki koruptor 'ya aku memang masih tersangka koruptor' terasa sesak dada rasa nya.


"maaf yan, berapa orang di rumah ini?" tanya mas ganjar

__ADS_1


"3 orang anak, 4 orang asisten, saya dan kang tristan" jawab ku


"berapa gaji masing-masing asisten?" aku kaget mendengar pertanyaan yang memang bersifat pribadi. "maaf yan saya harus tau, soal nya banyak kemungkinan yang semua menjurus satu titik yaitu kamu"


Aku cerita semua pengeluaran pendapatan ku masalah rumah, mobil, motor, gaji para asisten di rumah semua nya, agar tak terjadi ketimpangan. Begitu juga kang tristan dia menyerahkan bukti rekening nya ke mas ganjar. Agar tak di kira aliran dana nya masuk ke kami.


"fix ini hanya jebakan agar nama kamu rusak" ujar nya "dia hanya iri ke kamu, nama kamu, karir kamu pokok nya pencapaian yang kamu dapat. Dari pertama ada masalah berapa hari kamu ga kerja?"


"sudah 2 minggu mas" jawab ku


"ok makasih info nya ya" tukas nya. "aku permisi dulu, semoga ada jalan terbaik."


"amiiinnn" jawab ku


"assalamualaikum" pamit nya


"waalaikum salam" jawab ku dan kang tristan berbarengan. Aku menghempaskan tubuh ku ke sofa terasa penat beban yang ada.


"tenang ya,,,abba yakin kalo ganjar bisa selesaiin kasus nya" ujar kang tristan "berdoa, sabar, ikhlas dan tawakal semua nya pasti akan baik-baik saja, abba yakin itu" aku hanya tersenyum dan mendekap tubuh suami ku agar aku bisa lebih tenang.


"ibuuu" seru anak-anak ku saat menghampiri ku "ibu kenapa?"


"ibu ga apa-apa sayang" jawab kang tristan dan menggendong salah satu dari mereka. Meski bukan ayah biolagis anak ku tapi rasa sayang dan perhatian nya tak berbeda dengan ayah nya sendiri, membuat mereka nyaman saat berada di dekat ayah sambung nya.


"abba ko ibu nangis" tanya anak ku


"iya ya,,,ko ibu nangis ya? Kaya dede ya?" kang tristan mulai becanda


"abba nakal ke ibu?" tanya anak ku dengan suara khas cadel nya


"engga,,,abba ga berantem ko" jawab kang tristan "ibu lebay de,,, coba ade tawarin es krim yang tadi abba beli buat ade" dia pergi ke dalam rumah dan kembali pada kami dengan membawa box es krim nya


"ibu mau es krim?" jawab nya "udah ya jangan nangis kan udah di beliin es krim" aku malah jadi tersenyum dan memeluk nya


"tu kan ibu ga jadi nangis" tukas kang tristan menggoda ku. kami pun mulai becanda dengan anak-anak sampai kelelahan mereka


"bu jalan-jalan yu" ajak anak ku


"kapan?"


"besok" jawab nya


"kenapa abba?" tanya anak ku


"kamu pinter banget nanya terus" jawab kang tristan "ibu belum bisa keluar sayang,,,ibu belum boleh kena matahari dulu takut nya ibu capek. Sekarang ade istirahat dulu bobo dulu udah malem ya."


"mba,,,ajak anak-anak tidur ya" perintah kang tristan


"baik pak" mereka pun membawa anak-anak ke kamar masing-masing


aku diam memandang langit-langit rumah tak tentu arah jalan fikiran ku. 2 minggu aku tak bekerja rasa nya jenuh di rumah aku kangen suasana kantor ku. Kenapa Tuhan baru sebentar aku menikmati manis nya kopi sekarang pahit nya kopi itu malah yang tersisa di tenggorokan. Beri aku jalan dan kuat kan lah aku selalu.


"kenapa lagi?" tanya kang tristan menghampiri ku. "yu udah malem kita ke kamar. Besok minggu mau santai bareng kamu di rumah"


"aku seperti tahanan yang tak bisa ngapa-ngapain" tukas ku kesal "bahkan untuk sekedar ke warung aja ga bisa, selalu di awasi"


"sabar aja dulu,,,nikmati jangan di bawa marah, nikmati jalani dan ikhlas itu kunci nya" kang tristan selalu menenangkan ku


"mana ada orang ikhlas ba" jawab ku "yang ada terpaksa ikhlas karena tak tau lagi harus bagaimana"


"istri ku ini kalo di bilangin selalu ada jawab nya"


"ngapain ba,,," aku kaget saat suami ku membopong tubuh ku


"mau gendong kamu ke kamar, kalo di kamar kamu bisa diem" jawab nya sambil membopong ku


"turunin ba" hardik ku. Tapi masih membopong ku sampai ke kamar


"berat juga" tukas nya dengan merebahkan tubuh ke ke ranjang. Dia menyalakan tv dan memutar film "dah diem ga usah ngomong lagi" kami berdua menonton film korea.


"tumben ikut nonton" tanya ku


"iseng aja nemenin kamu" jawab nya "sebagus apa sih cowok korea sampe istri ku ini kalo nonton sambil nangis-nangis"


"hmmm,,,cemburu ya?" ledek ku


"deeehhh ngapain cemburu, orang halu juga" jawab nya

__ADS_1


"biarin halu juga" jawab ku mencibir


"kalah tu lee min ho sama abba mah"


"pede banget" jawab ku


"yeee kenyataan nya, yang sekarang jadi suami ibu itu abba bukan lee min ho kan?" tukas nya "yang ada di ranjang nemenin ibu tidur abba juga kan?"


"emang boleh tidur bareng lee min ho?" ledek ku


"ya engga lah" jawab nya " lagian ga mungkin"


"ya mungkin kalo satu saat nanti abba ngajak aku ke korea"


"ngarep!"


"ya iya lah, sapa sih yang ga pengen di ajak liburan"


"ga usah ke korea, ke bali aja ya" jawab nya "di bali juga ada tempat romantis, ga usah jauh ke luar negeri. Sayang uang nya"


"iiihhh mulai itung-itungan sekarang"


"ga gitu sayang, cuma dari pada buat kesana tanpa ajak anak-anak ya mending disini bisa ngajak anak-anak sekalian"


"ya ga usah ajak anak-anak dong"


"iihhh jahat banget ma anak sendiri, kasian tau" jawab nya aku hanya tersenyum mendengar penuturan nya 'alhamdulillah Tuhan aku bersyukur ayah sambung anak ku bisa sayang tulus ke mereka, semoga selama nya' doa ku dalam hati. Aku duduk bersandar di dada nya biasa baper nonton drakor.


"kita kaya gitu ga ya?" tanya nya


"kaya gitu gimana?" tanya ku balik


"kaya mereka di film?" aku menengok


"ihhh mau nya"


"mau dong tiap hari romantis" jawab nya mencium pipi ku


"abba aja udah romantis ngalahin mereka tau" jawab ku "aku bahahia banget ba, meski aku sedang dalam masalah abba ga ninggalin aku" tukas ku


"ya ga akan lah,,,abba sayang ke ibu jadi ga akan ninggalin ibu" jawab nya dengan memeluk ku lebih erat "kalo abba ninggalin ibu sia-sia atuh perjuangan abba buat ibu" aku hanya tersenyum mendengar kata-kata nya. Jujur aku trauma karena pernikahan ku pernah gagal dan aku di tinggalkan dalam keadaan yang menyedihkan.


"kenapa kamu takut?" tanya nya. Aku diam tak menjawab karena dia tau apa yang ku rasa saat ini "laki-laki yang udah pernah ninggalin kamu, dia laki-laki yang tak tau arti perjuangan nya, kalo abba 10 tahun abba nunggu kamu, tau ga abba sampe ikhlas ga nikah kalo ga sama kamu"


"apaan si" jawab ku


"iya tanya aja ummi, maka nya ummi sekarang lebih terserah abba" tukas nya "yan,,,abba sayang banget ke kamu, ga akan ninggalin kamu dalam hal apapun"


"makasih ya" tukas ku. Dia mencium ku


"sama-sama" jawab nya


"ba,,,beneran aku mau di ajak ke bali?" tanya ku


"iya nanti kalo masalah kamu sudah selesai, terus kita udah fix punya surat nikah" jawab nya


"emang kenapa kalo ga pake surat nikah"


"kamu tu ya kebanyakan tanya tau ga?"


"ih gitu aja sewot" tukas ku


"iya abba janji nanti kita ke bali, kalo pengeluaran kita stabil sayang, sekarang karena kita banyak pengeluaran sabar ya"


"heeh, aku juga tau 2 minggu ini kita nguras banget fisik, mental apa lagi keuangan. Maaf ya"


"bukan salah ibu, ini ujian pertama kita" tukas nya yang tak henti-henti nya mengingatkan agar tak lupa ibadah agar masalah ku cepat selesai. "abba percaya kalo ibu bisa ngatasi semua nya. "


"insya alloh amiiinnn"


"maka nya selalu inget, teliti, ini jadi peringatan ga hanya untuk ibu tapi juga abba, untuk lebih hati-hati dan tak oercaya ke orang meski kita dekat dengan nya" kang tristan selalu menasehati ku. Dia selalu menuntun ku agar aku lebih dekat dengan sang pencipta karena semua yang terjadi pada ku itu kehendak Nya. pembawaan suami ku kalem tapi pasti karena mungkin berasal dari keluarga yang agamis kali ya, jadi selalu di kaitkan dengan ibadah ku yang mungkin kurang untuk sang pencipta.


"sekarang positif aja selama kamu cuti kamu lebih bisa dan lebih banyak waktu untuk keluarga, ngurus anak penuh, ngurus akang sepenuh nya juga, jadi nikmati lah peran baru yang alloh kasih untuk kamu" papar nya "setiap manusia itu ga selama nya sakit ga selama nya sehat jadi saat kita sehat harus inget waktu kita sakit"


"makasih untuk semua nya ba" ucap ku tulus "support aku terus dan ingatkan aku kalo aku salah jalan"


"insya alloh, pasti!" jawab nya penuh keyakinan "kita suami istri sayang sakit kamu ya pasti abba bisa rasain,, suami istri itu 2 raga tapi satu jiwa jadi kalo yang satu sedih yang satu akan menangis. Karena nya kita harus saling menguatkan satu dan lainnya"

__ADS_1


Aku tenang mendengar kata-kata nya, aku berdoa ini yang terakhir bagi ku aku tak ingin lagi kehilangan lagi, atau merasakan di buang seperti sampah. Semua trauma ku sedikit demi sedikit menghilang setelah ada nya kang tristan dalam hidup ku yang mewarnai dunia ku dengan cinta, dia memperlakukan ku seperti putri raja yang agung tak boleh merasa sedih, tak boleh menangis karena menurut nya tangisan ku akan menyusahkan jalan nya dalam mencari rizki buat aku dan anak-anak ku.


Kami saling terdiam lebih asyik menonton drakor yang kami putar seperti di bioskop. Sama-sama jadi baper karena cerita di drakor lebih menyentuh dan tertawa bersama saat adegan lucu dan kocak sampai akhir kami terdiam dan tertidur tanpa sadar lagi.


__ADS_2