ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
kepulangan yang di sambut


__ADS_3

kami pun sampai di tempat tujuan kami, yaitu rumah kedua orang tua ku, anak-anak terlihat sangat gembira saat kami tiba di depan rumah orang tua ku, tak susah menemukan rumah bapak karena terletak tak jauh dari jalan raya yang bisa di akses mobil. Anak-anak langsung berebut turun dari mobil saat sampai di rumah kakek nenek nya, aku melihat orang ramai para tetangga di depan rumah bapak ku, aku mereasa canggung untuk turun terasa berat kaki ini untuk melangkah ke rumah yang menyimpan kenangan manis untuk ku. Aku menghela nafas panjang, seolah membuang beban berat yang ku panggul dari semenjak perjalanan ku kemari.


"yu turun?" ajak suami ku memegang tangan ku, aku menatap nya lekat seolah ingin berbicara 'aku tak mau turun' " ayo,,,tuu mereka menunggu kita" ucap suami ku lagi. Aku masih tak menjawab atau bergeming aku masih menatap nya dengan mata berkaca-kaca. 'aku tak bisa disini' dalam hati ku menjerit. Ingin aku pergi dari sini aku tak ingin ada disini.


"yan, ayo" ajak suami ku berkali-kali "ga enak anak-anak udah turun semua tuu" suami ku menunjukan kebahagiaan anak-anak saat bertemu dengan keluarga besar ku. Orang-orang yang ada di teras rumah bapak bukan orang lain mereka adalah saudara-saudara mama yang tau kalau kami akan pulang karena dari foto-foto yang sulung upload kan. Sejenak aku menatap mereka satu persatu aku tak melihat mama dan bapak ku entah mereka ada di mana, atau mereka sengaja pergi menghindari ku?


"sayang" ucap suami ku berkali-kali membangunkan ku dari lamunan. Aku pun turun mengikuti suami ku yang lebih dulu turun dari mobil. langkah demi langkah ku pijak kaki di kampung halaman yang telah lama aku tinggalkan, tak banyak berubah masih seperti dulu saat aku meninggalkan rumah ini beberapa tahun silam. Tampak bahagia mereka melihat ku yang turun menghampiri mereka, aku menyalami satu persatu, seketika tangis ku pecah melihat bibi, paman, bu de, pak de yang ku salami. Mereka memeluk ku erat seolah tak percaya aku kembali setelah lama menghilang tak ada kabar.


"alhamdulillah yan" tukas bibi ku yang memeluk ku erat dengan mata yang berkaca-kaca. "bibi ga percaya ini kamu, sehat kamu disana?"


"alhamdulillah bi sehat" jawab ku gemetar menahan tangis. "mama bapak kemana?" aku menyalami dan memeluk adik-adik ku menanyakan mama dan bapak.


"mama di dapur masih masak karena kalian datang tak memberitahu kami yang disini" jawab adik ku no 2


"bapak kemana?" tanya ku lagi


"bapak masih di warung, tapi segera pulang sebentar lagi" jawab nya pada ku. Tak lama mama pun keluar dari dalam rumah, aku langsung menghambur menyalami dan memeluk nya, tangis ku pun tak terbendung lagi tertumpah saat aku memeluk mama yang dulu selalu ada di setiap tangis dan tawa ku.


"maaa, maafin dian maa" suara ku seolah tertahan karena tangis ku. Mama membalas pelukan ku yang sama-sama menangis. Beliau melepas kan pelukan ku


"kamu sehat disana?" tanya mama yang menyeka air mata ku. Aku hanya mengaggukan kepala "tak pernah ada kabar saat kamu pergi.."


"tapi dian sehat ma, bukti nya dian kembali kesini" aku memotong ucapan mama ku yang menanyakan masa lalu pahit ku.


"tuu bapak" pekik adik bungsu ku. Aku menoleh ketika bapak masuk ke rumah kaki ku terasa lemas saat melihat bapak. Aku melihat bapak datang yang langsung memeluk cucu-cucu dan menggendong salah satu nya. Bapak menyalami kang tristan yang melangkah masuk repot dengan anak-anak ku yang meminta di gendong. Tak kuasa aku pun menghampiri bapak ku yang di repotkan oleh anak-anak. Kang tristan membantu melepaskan pelukan mereka, terlihat netra bapak yang berkaca-kaca saat melihat ku, tak percaya aku kembali dengan membawa pasukan begitu banyak.


Lama kami bertiga saling berpelukan, di bangunkan oleh anak-anak yang ingin di manja oleh kakek dan nenek nya. Mereka saling berebut tempat ke kakek nya. Aku pun mundur karena posisi ku terhalang oleh tingkah laku anak ku.


"tolong keluarin yang di belakang bawa sini" seru mama ke adik-adik ku. Semua nya ada disini atau mungkin sengaja menyambut kedatangan ku. Rasa takut yang hinggap selama perjalanan hilang dengan sekarang di ganti rasa bahagia diantara kami masing-masing. Terlihat raut wajah yang bersinar diantara kedua orang tua ku, adik-adik ku dan keluarga besar kami.


"ga usah repot mah, kami juga bawa buat mama" tukas ku kepada mereka tapi seolah tak di gubris oleh mereka hidangan satu oersatu keluar dari arah dapur, hasil mama dan adik-adik ku.


"kang, yu keluarin barang-barang yang di mobil" ajak ku ke kang tristan suami ku. Aku memanggil biasa agar kami tak terlalu mencolok di depan keluarga besar. Dengan cekatan kang tristan membuka bagasi mobil. "mba tolong bantu yaa angkatin barang-barang yang kuat aja yang ga kuat biar dulu" ajak ku kepada para pengasuh anak-anak ku.


Aku dan kang tristan mengeluarkan semua barang yang di mobil, di bantu pengasuh dan ada tenaga tambahan dari bapak, paman dan pak de karena berat nya koper yang kami bawa dan juga barang oleh-oleh untuk semua keluarga. Barang tertata di depan teras rumah karena aku yang menyuruh mereka untuk meletakan nya disana. Akan ku bagikan sebelum barang inti ku masuk ke kamar.


"aduh kalian bawa barang bawaan segini banyak seperti mau pindah" tukas paman ku mentertawakan ku.


"yaa paman, aku kan bawa anak-anak yaa pasti banyak barang yang kami bawa" ucap ku membalas gurauan nya. "teteh ambil tas teteh dulu sok bawa ke dalam, kita beresin satu-satu, mba juga mba bawa tas anak masing-masing"


Aku mengkondisikan semua agar tak terlalu menumpuk di depan "ma ini ada beras sayuran kopi teh segala macam simpan di mana ya?" tanya ku terlihat suami ku begitu sigap membawa barang-barang ke belakang sesuai instruksi dari bapak. Tertinggal beberapa tas yang merupakan oleh-oleh untuk semua orang yang ada, karena memang satu RT di sini adalah keluarga dari mama dan RT sebelah adalah keluarga dari bapak. Maklum di kampung memang antara saudara yang satu dan lain nya tinggal berdekatan.


"sudah kang?" tanya ku ke suami ku.


"sudah tinggal tas yang di depan" jawab nya

__ADS_1


"tas yang di depan nii mau aku buka" ku buka semua tas yang ku bawa yang merupakan buah tangan ada baju, makanan, minuman juga yang sengaja aku beli untuk aku bagikan. Aku membagikan 2 tas besar kepada paman, bibi, pak de, bu de juga anak-anak mereka. Semua nya terlihat bahagia menerima nya, tertinggal 1 tas yang ku bawa masuk itu adalah oleh-oleh untuk ke 3 adik-adik ku dan suami nya.


"heyy sudah jangan ngurus itu dulu, ayo makan dulu" tukas mama yang melihat ku sibuk dengan barang bawaan ku. "nii ke buru dingin ini makanan nya"


"iya ma, tanggung biar beres semua" jawab ku "biar ga berantakan di depan"


"sudah nanti dulu" sela bapak "kalian cape habis perjalanan jauh yuu makan ajak yang lain nya juga. Nak mari makan dulu sambil istirahat. Siapa nama mu nak?" tanya bapak ke kang tristan


"tristan pak" jawab kang tristan pada bapak ku.


"mari makan dulu nak" ajak bapak ku "maaf nii kalo sudah seperti ini suka susah ngobrol soal nya biasa anak-anak kalo sama bapak ga bisa diem"


"iya pak ga apa-apa" jawab nya sopan. Bisa dia lihat gimana anak-anak ke kakek nya ga bisa jauh.


"mba,,,suapin anak-anak, sekalian mba makan yaa" ujar kang tristan kepada pengasuh anak-anak.


"tak usah kalian makan yang nyaman, biar anak-anak kami yang suapin." tukas bapak ku "kangen juga bapak sama mereka"


"oh, tapi bapak juga kan harus makan" ujar kang tristan


"gak apa, biar bareng sama anak-anak" jawab bapak ku. Akhir nya kami mengalah membiarkan anak-anak makan dengan kakek dan nenek nya.


"mba,,,jangan sungkan makan yang kenyang" ujar ku "ini rumah orang tua saya, dan itu mereka semua adik-adik saya mba" aku memperkenalkan. Baru sempet memperkenalkan kerena tadi masih meriweuh banyak orang. Mereka saling menganggukan kepala tanda perkenalan mereka.


"mereka pengasuh anak-anak ma" jawab ku tampak mereka semua heran dengan jawaban ku "maklum ma, dian sama kang tristan sibuk kerja, anak-anak ga ada yang jagain. Kalo ini yang satu ini asisten masak di rumah"


"ampun,,,segini banyak nya orang di rumah?" tanya mama


"iya ma, udah makan jangan tanya-tanya dulu" jawab ku mengikis pertanyaan mama, aku tau apa yang difikirkan oleh bapak dan mama ku, karena nya aku mengalihkan pembicaraan mereka. "itu ada makanan yang sengaja dian beli di jalan tadi, sekedar oleh-oleh khas kota"


"iya, mama ga masak banyak karena ga tau kalo kalian akan pulang" tukas adik ipar perempuan ku "lagian pulang ga kasih kabar, ada kabar itu tadi temen teteh nya nanya kesini, apa bener teteh pulang? Kami jawab ga tau tapi kami lihat dari upload foto-foto sama komen nya iya kalian pulang"


"yaa sudah ga apa-apa, toh banyak kan makanan" ujar ku tersenyum. Kami lahap menyantap makanan tak terasa habis banyak karena enak makan bersama seperti ini, tak seperti di rumah meski banyak anak tapi kami makan masing-masing karena biasa nya saat kami pulang anak-anak sudar terlelap tidur. Mereka membereskan sisa makanan yang kami makan.


"mba,,,kalo sudah kalian boleh isrirahat" ujar ku "bisa di rumah depan ko"


rumah depan adalah rumah adik ku aku meminta izin untuk mba yang beristirahat disana karena ada satu kamar kosong untuk tempat mereka selama disini. Selama disini mereka bisa beristirahat tanpa anak-anak karena anak-anak bisa main dengan para anak tetangga yang merupakan saudara mama.


"yan" mama memanggil ku "mama mau ngomong"


aku memanggil kang tristan untuk berbicara dengan mama dan bapak karena aku tau apa yang akan mereka bicara kan pada ku.


"maaf ma" ujar ku "aku membawa laki-laki ke rumah, aku tau apa yang bakal kalian bicarakan"


"maaf pa, bu" ujar suami ku memulai pembicaraan "kami tau kami salah, bertindak tanpa sepengetahuan ibu sama bapak, saya minta maaf pak, saya yang memaksa dian karena ingin melindungi status nya saja"

__ADS_1


"apa yang kalian perbuat disana?" tanya bapak


"kami sudah menikah pak" jawab suami ku secara to the point "maafkan kami pak, bukan maksud kurang ajar tapi saya hanya ingin melindungi putri bapak"


"sudah berapa lama kalian menikah?" tanya suami ku


"sudah kurang lebih hampir 2 tahun pak" jawab suami ku "maafkan kami pak, pekerjaan dian yang memaksa ku mengambil posisi bapak untuk menjaga dian, dian yang setiap hari bertemu dengan lawan jenis, yang membuat saya tak tenang pak"


"pekerjaan seperti apa yang kamu ambil yan?" tanya bapak detil "kenapa setiap hari bertemu dengan laki-laki?"


Kriiinnggg aku di kejutkan oleh bunyi ponsel ku yang berderibg tanda ada panggilan masuk "assalamualaikum ummi" sapa ku. Aku menganggukan kepala kepada suami ku dan berjalan keluar untuk menerima telfon. Yang dari mertua ku yang memberitahukan kemana surat-surat untuk pernikahan kami di kirim. Aku pun memberi alamat rumah bapak agar bisa segera kami terima, karena waktu libur pun tak lama.


"kenapa ummi?" tanya suami ku saat aku kembali ke acara bapak


"ga cuma nanya alamat saja" jawab ku "aku sudah kasih alamat disini kata nya 2 3 hari selesai dan bisa cepet keterima disini"


"pak ma, barusan mertua ku yang telfon meminta alamat rumah ini, beliau memaketkan surat keterangan nikah untuk disini" ujar ku pada mama dan bapak


"kalian sudah menikah kenapa menikah lagi?" tanya mama


"kami ingin disahkan, bu" ujar suami ku kepada ke 2 orang tua ku "kami ingin seperti yang lain ga hanya nikah secara sirri kami ingin meresmikan nya"


"bapak menyetujui nya nak tristan" tukas bapak ku "kalo sama-sama saling memahami bapak sebagai orang tua menyetujui nya"


"alhamdulillah pak" jawab suami ku lega "terima kasih pak"


"yan,,,kamu asisten segitu banyak nya bisa kamu gaji?" tanya mama ku


"insya alloh ma, kan di bantu kang tristan" jawab ku


"tidak bu, pak, saya tidak banyak membantu" jawab kang tristan "toh dian gaji perbulan memang lumayan besar, saya hanya menambahkan sedikit saja. Saya ada rumah cuma tidak saya tempati, saya kontrakan, saya tinggal di rumah istri pak"


"apaan sih?" tukas ku yang tak enak hati merendah "toh cicilan rumah yang bayar kan abba"


"cuma sedikit" jawab kang tristan merendah. Aku memang selalu membelanjakan uang ku untuk keperluan rumah, sementara uang nafkah suami aku tabung, karena aku tak ingin banyak pertanyaan yang nanti nya bakal menyudutkan ku. Tak kebanyakan mereka yang selalu membelanjakan uang suami untuk keperluan pribadi dan uang pribadi masuk rekening sendiri, aku terbalik karena aku menjaga badan ku sendiri, aku ingin memandirikan diri ku sendiri karena trauma yang masih melekat di ingatan ku. Aku hanya membagi uang suami ke dalam 4 bagian, rekening pribadi nya, rekening ku sebagai nafkah, cicilan rumah dan tunjangan untuk ibu nya.


"sudah sama saja, uang istri ya di pakai bareng, uang suami ya habis bersama" jawab mama ku


"kamu kerja apa disana?" tanya mama ku "kenapa sampai harus nikah sirri untuk menjaga kamu?"


"saya kerja di kantor yang dulu ma" jawab ku "di bos yang dulu, alhamdulillah sampai sekarang masih di percaya"


"iya pak, dian harus selalu menangani para klient yang kebanyakan laki-laki pak, bu" tukas kang tristan menimpali. "mobil yang kami pakai adalah mobil hadiah dari klient nya pak, sewaktu membantu memenangkan pekerjaan yang di nilai dalam kontrak, yang harga nya mahal"


Suami ku bercerita banyak tentang kehidupan ku dan diri nya selama di kota, kami berdua seperti ini bukan karena dari kita ongkang kaki, justru kaki kami selalu berpacu dengan waktu, bukan tanpa gerak karena kalau tak bergrak rezeki tak menghampiri, kami bekerja keras yang tak ada ujung nya, suara bising kota menjadi biola yang secara bersama di mainkan dan dian adalah bagian dari panggilan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2