
"pantas saja dalam waktu kurang dari 2 tahun dia bisa banyak uang" salah satu karyawan sempat terdengar nada sumbang nya terdengar jelas di telinga ku. Aku hanya menghela nafas saat ku dengar mereka menggunjingkan ku, langkah ku sempat tertahan saat ku melangkah ke ruang kerja bosku.
"sudahlah, ga usah di dengerin?" tukas suami ku aaat menemani ku. Sekarang dia memang sedang fokus kepada ku karena maaalah yang sedang ku hadapi. Rasa trauma ku berangsur hilang karena apa yang ku takutkan tak terjadi aku takut dengan masalah yang kuhadapi membuat dia meninggalkan ku apalagi kami menikah hanya di bawah tangan dalam arti sirri tapi ternyata dengan aku punya masalah dia selalu menujukan perhatian lebih pada ku.
"masuk" terdengar suara dari dalam kantor boss ku saat ku ketuk pintu dari luar.
" selamat pagi pak" sapa ku yang terlihat jelas kekecewaan nya pada ku. Aku tak kuasa melihat raut wajah nya. "pak saya..."
"sebener nya apa yang kamu inginkan dari perusahaan?" tanya beliau yang memotong kalimat ku " bertahun-tahun yan kita kerjasama baru kali ini lu benar-benar membuat gua kecewa termasuk istri gua"
"pak saya ga melakukan nya?" sergah ku
"tapi semua bukti itu dari elu, mau nyangkal apa lagi" suara nya melantang membuat ku merasa di cabik-cabik.
"gua ga tau harus ngomong apa ke elu" ujar nya dengan intonasi suara yang melemah dan penuh kekecewaan "maaf masa skorsing lu di tambah dan itu udah jadi keputusan dewan direksi"
Aku lemes mendengarnya, yak ada lagi yang bisa ku katakan aku hanya bisa pasrah atas kejahatan yang ga aku lakukan. Siapa dalang di balik semua ini? Segera temukan Tuhan karena akibat yang di timbulkan dari fitnah kepada diri ku membuat ku merasa putus asa. Apa salah yang ku perbuat sampai ada yang tega memfitnah ku seperti ini, kuatkan lah aku Tuhan iringi lah langkah ku agar tak terjebak kedua kali nya.
"saya permisi pak" pamit ku ke bos ku "selamat siang" aku dan suami ku pergi meninggalkan kantor, masih terdengar ejekan miring tentang ku terasa menyakitkan sekali rasa nya. Kang tristan suami ku terus menggenggam tangan ku tanda aku harus kuat dan tak menghiraukan omongan mereka tapi bagaimana mungkin tetap saja kepikiran.
"bu,,,kita jalan-jalan yu?" kata nya pada ku
"malas lah ba,,," kata ku tak bersemangat "aku pengen di rumah, lagian aku ga bisa kemana-mana kan?"
"tenang saja kan ada abba yang temenin ibu" kata nya berusaha menghibur ku "ke tempat yang dulu yuk?"
"kemana?" tanya ku
"ke tempat bulan madu kita" jawab nya
"ga lah di rumah aja,,, badan ku kaya meriang" ujar ku ke suami ku.
"bu,,,kamu butuh sedikit relaxing jadi biar abba bisa nyenengin kamu ya" kami pun meninggalkan kantor yang penuh sesak, apalagi setelah melihat kantor ku yang kosong kangen rasa nya menikmati kesibukan yang terkadang membuatku pengap. Dulu terkadang kesal melihat begitu banyak nya berkas yang menumpuk tapi sekarang aku merindukan suasana seperti itu.
Tepat satu bulan kasus ku belum terkuak siapa sebenarnya yang tega memfitnah ku sampai seperti ini. Semua nya menjadi kasus besar yang aku tak pernah menyangka sama sekali.
"hay,,," sapa suami ku "ga usah cemberut terus ga apa-apa kita serahin semua nya ke ganjar, abba yakin dia bisa menyelesaikan tugas nya dengan baik"
"ini udah satu bulan lho ba,,," jawab ku setengah putus asa "kalo memang harus di penjara aku pasrah ba"
__ADS_1
"ga usah pesimis gitu dong" tukas nya menghardik "kamu harus semangat kita pecahkan semua nya bareng-bareng, maka nya kamu butuh keluar rumah untuk sekedar menenangkan fikiran kamu"
Aku hanya terdiam, apa yang akan mereka katakan seandainya kasus ku tak kunjung selesai. Seketika aku teringat kedua orang tua ku, 'apa ini teguran karena keegoisan ku? Apa benar yang di ucapkan kang tristan? Tapi aku belum siap pulang dengan membawa masalah baru, jujur aku ga mau membuat mereka kecewa setelah dulu aku membuat satu kesalahan.
"dah sampai,,," tukas kang tristan keluar dari mobil aku pun mengikuti nya. "kita akan menginap beberapa hari disini sampai kamu bisa tenang."
"apa?" aku bingung dengan apa yang di ucapkan suami ku "kenapa? Kenapa disini?"
"sudah ga apa-apa, demi kebaikan kamu juga" kata suami ku
"apa maksud nya? Kenapa aku di sini?" tanya ku bertubi-tubi
"semua agar kamu tak jenuh saat di rumah, kamu butuh ketenangan" tukas nya sambil menengteng tas
"tas ku?" tanya ku, aku baru mulai paham semua nya sudah di rencana kan, 'tapi kenapa aku disini?' bisik ku. "Kenapa aku di ungsikan apa masalah nya?"
"tenang" jawab suami ku "ga ada apa-apa, hanya saja untuk sementara kamu harus di sembunyikan dari pers itu yang ganjar perintahkan pada ku"
"memang nya kenapa? Ada apa semua nya?" tukas ku nada marah ke suami ku "akan aku jawab semua pertanyaan media karena aku ga bersalah"
"bu,,,denger" jawab nya meyakinkan "masalah kamu itu bukan masalah sepele, yang bakal menyeret banyak pihak termasuk orang tua kamu, kamu mau sampai mereka datang ke kampung dan apa nanti kata orang kampung?"
"sudah ga usah banyak fikiran" suami ku menggandeng tangan ku keluar melihat air danau yang sangat tenang dan alam yang menyejukan. "kenapa abba bawa ibu kesini karena sementara anak-anak akan mengungsi di rumah abba, karena rumah kita, mobil semua yang ada di dalam nya akan di evakusi tim KPK, tadi pagi anak-anak dan asisten nya sudah abba suruh tinggal di rumah abba untuk sementara waktu"
"kenapa aku ga di kasih tau?" tanya ku
"abba dan ganjar sudah sepakat untuk itu, semua surat kendaraan abba sudah kasih ke ganjar untuk proses penyelidikan?" jawab nya " atm, bahkan ponsel mu pun di sadap bu"
Aku sudah lemas mendengar nya tak karuan yang apa yang ada di fikiran ku, sampai sekeruh ini masalah yang ku hadapi sampai aku bersembunyi seperti tikus buronan karena telah mencuri barang berharga. Tak terasa kornea mata ku terasa panas yang membuat air di dalam nya menyembul keluar dan tak bisa ku tahan.
"jangan menangis,,," ujar nya pada ku "abba tau ibu kuat, ibu udah teruji"
"terima kasih selalu ada buat aku" ucap ku sambil tersenyum
"pasti,,,abba ga akan pernah ninggalin ibu" kata-kata nya membuat ku merasakan kenyamanan. "sudah ga usah mikir macam-macam, ibu nyaman aja disini, masalah anak-anak semua nya sudah abba handle"
"apa mereka ga nanyain aku nanti?" tanya ku pada suami ku
"tenang abba bilang nya ibu kerja jauh da harus jauh dulu" jawab suami ku "sabar ya, abba yakin kita bisa"
__ADS_1
"amiiinnn" jawab ku
"makan ya,,,abba pesan dulu" tukas suami ku "malam ini abba nginep disini tapi besok abba harus masuk kantor"
"heeh" jawab ku singkat
"kenapa? Ga mood banget?" tanya suami ku
"ga tau lah,,," jawab ku lesu "selalu aja ada masalah kenapa?"
"yang nama nya manusia hidup itu pasti punya masalah sendiri-sendiri sayang" jawab nya pada ku "manusia itu masalah itu adalah takdir yang harus di jalani ga bisa mundur atau maju, jadi ibu sabar aja"
"sampe kapan?" tanya ku
"yang pasti sekarang kita di suruh harus lebih dekat dengan Nya" jawab suami ku. Aku mendesah panjang menandakan begitu buntu nya otak ku untuk berfikir.
"sebenar nya siapa yang tega pada ku ba?" tanya ku "apa salah ku?"
"semua nya masih abu-abu" jawab nya "ada yang di curigai tapi belum pasti karena bukti nya masih mengarah ke banyak pintu"
"kenapa lama?" tanya ku "biasa nya mas ganjar kalo menghadapi kasus cepet"
"soal nya katanya kasus kamu di susun dengan serapi mungkin" jawab suami ku "terlalu banyak fakta yang harus di ungkap bahkan mengarah ke seseorang yang kamu sangat mengenal nya?"
"siapa?" tanya ku penasaran
"ya ga tau" jawab suami ku yang seolah menutup sesuatu dari ku
"aku yakin abba tau" desak ku
"ga tau bu,,," jawab suami ku "kan ganjar bilang banyak kemungkinan yang bakal terjadi"
"maksud nya?" tanya ku yang makin membuat ku tak mengerti "kata nya sudah di pasang CCTV kenapa belum ada titik terang juga"
"sabar,,," jawab suami ku yang sudah terlihat kewalahan membahas tentang masalah ku, aku merasa seperti ada yang di sembunyikan dari ku tapi apa dan kenap menyembunyikan nya
"insya alloh" jawab ku setelah merasa nyaman dan lega keluar dari makar mandi.
Waktu berlalu begitu cepat sampai tak terasa waktu sudah mulai menjelang malam. Aku berhasil memjamkan mata meski sampai tengah malam sedikit aku merasa tak nyaman.
__ADS_1