ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
rencana dian


__ADS_3

hari ini tepat ulang tahun ku, sengaja aku ngajak ngobrol mas rian di teras agar nyaman, ku sempatkan waktu untuk nya di sela jadwal ku yang padet.


"yan,,,ga kerasa ya mas disini udah 1 minggu" kata mas rian mengawali pembicaraan kami "maaf ya jadi ganggu waktu kamu"


"mas" sergahku ke mas rian "aku ga suka kamu ngomong gitu mas" aku mulai badmood saat mas rian bilang seperti itu aku fikir dia tau ulang tahun ku tapi mana mungkin dia tau soal nya aku selalu menutup rapat identitas ku karena aku ga mau dia banyak tau tentang ku, aku hanya ingin orang yang mencintai ku tak mengenal siapa aku karena takut cinta nya ada apa nya bukan apa ada nya. Keadaan dan kondisi ku saat ini harus lebih selektif bagaimana jodoh ku nanti nya. Untuk saat ini aku memang nyaman dengan ada nya mas rian tapi aku juga masih ada keraguan apa bener dia memang sayang tulus pada ku atau karena sekarang aku punya penghasilan yang mapan?


"aku ngerasa minder banget sama kamu yan,,,dan semua nya membuat ku takut" ungkap mas rian pada ku. Aku hanya terdiam tak mampu berbicara apapun. "aku takut sosial kita yang berbeda nanti nya buat kamu ga bisa hidup dengan ku"


Aku tak tau apa yang harus ku jawab satu sisi aku mulai nyaman ada laki-laki yang perhatian pada ku, memberiku semangat tapi di sisi lain aku juga masih teringat tentang waktu perceraian ku. Baru 6 bulan aku berpisah dengan mas iman masih terasa sulit untuk ku menerima laki-laki lain untuk masa depan ku. Aku tak bisa menepis rasa nyaman ku, ada gejolak sakit ketika aku dengar mas rian berbicara seperti ini.


"di saat aku sudah mulai nyaman bersama mas, kenapa sekarang mas bilang kalo mas ragu kenapa ga dari awal mas?" tanya ku "aku udah berusaha jujur semua nya dari mulai siapa aku, pekerjaan yang menyita waktu ku, aku sudah jujur tapi kamu mas yang selalu menampik nya, dan sekarang aku ga tau aku harus gimana?"


"aku cuma ga mau nanti nya kamu bandingin aku dengan gaji yang kamu dapat sekarang, sementara aku belum tentu dalam jangka waktu satu bulan dapat gaji sebesar itu" kata nya pada ku terdengar putus asa.


"mas,,,selama kita kenal dari awal sampai hari ini pernah aku memperhitungkan masalah keuangan?" tanya ku pada nya hanya untuk sekedar perbandingan kalo aku bukan tipe wanita yang hanya memeperhitungkan masalah ekonomi. "ga mas,,,masalah uang bisa di cari, kalo kamu niat serius kita cari bareng-bareng rizki kita ga usah mikir oh gaji kamu gede ga mungkin mau nerima dari aku kejauhan mas mikir nya"


"aku takut yan,,," ungkap nya pada ku "mungkin dulu kenapa awet dengan suami mu karena kalian satu kerjaan satu sosial yang sama"


"kamu salah mas, justru dari dulu aku yang lebih besar" papar ku pada nya agar tak salah paham "kenapa rumah tangga ku bisa sampai waktu lama karena kami punya komitmen awal nya, karena kami saling mencintai dan memiliki rasa membutuhkan antara satu dan yang lain. Aku membutuhkan laki-laki yang bisa mengayomi, ngertiin aku sifat ku sikap ku dan menerima apa yang ada di aku bukan ada apa nya aku, kenapa aku dicerai? Karena kesalahan ku yang mungkin membuat nya ga bisa lagi bersama dengan ku. Aku memaklumi aku ngerti perasaan nya itu kenapa aku ikhlas di tinggalkan meski kamu tau aku sempat terpuruk waktu itu" aku mendekap kaki ku di depan dada dengan sedikit menundukan kepala agar mas rian tak tau ada air mata yang jatuh tak sengaja di tangan ku. "kamu sudah membuat ku nyaman mas,,,tapi kenapa sekarang seperti ini?"


Percakapan ku semalam terngiang segar di ingatan ku yang hampir membuat ku tak fokus kerja. Hari ini aku mengundang semua tim ku untuk sekedar makan malam di sebuah kafe, aku mengajak mas rian agar dia tau ruang lingkup sosial ku bukan maksud pamer tapi hanya sekedar memperkenalkan mas rian pada dunia ku agar nanti nya dia terbiasa dengan karakter ku. Seolah balas dendam ku kepada laki-laki yang tak bisa menjaga komitmen nya sendiri. Sikap dan kata-kata nya semalam membuat ku mengingat tentang perceraian beberapa bulan yang lalu. "apa aku akan sakit untuk ke dua kali nya?" bisik ku dalam hati.


"hey yan,,," sapa ahmad dan novi saat menghampiri ku


"hallo" kami cipika cipiki "kenalin...ini mas rian" aku memperkenalkan mereka. "mas ini 2 sahabat ku ga cuma di rumah di kantor dimana-mana juga kita bareng" merek saling berjabat tangan


"selamat yaa bu presdir semoga dengan bertambah tua bertambah pula rizki nya" ucap novi kami dan menyebut amiiinnn berbarengan.


"gue ga bawa apa-apa, cuma bawa perut kosong yaa" ahmad becanda sambil menyodorkan kotak ungu pada ku.


"apa niii?" tanya ku pada mereka "boleh buka?"


"buka aja mumpung ga ada orang" kata nya pada ku "tapi jangan di hina ya soal nya ini kita dapet patungan, maklum tanggal sudah mulai tua jadi lagi ngirit" kata ahmad. Aku buka isi nya tas dan sepatu yang gue pengen yang 2 minggu lalu aku liat di sebuah mall.


"iiihhh makasih yaa" aku memeluk mereka berdua berbarengan "ini barang inceran gue tauu, makasih banget"


"iya itu tas yang beli nonoy, kalo sepatu nya kita patungan, duit geu mulai krisis, gajian masih lama" jelas ahmad "kalo nonoy mana tau tanggal muda ma tanggal tua wajarlah anggota dewan ga mungkin ga punya duit kali." novi manyun


"mas,,,"tanya novi ke mas rian yang dari tadi diem memperhatikan kami bertiga "lama kenal ma dian?"


"lumayan ada 6 bulan ini lah,,," jawab mas rian


"maaf cuma mau ngingetin aja, hati-hati mas sama cewek di sebelah saya," mas rian memperhatikan dengan serius " dia tuu cewek super galak tau ga?" novi cekikikan dan mas rian hanya tersenyum.

__ADS_1


"masa sih?" tanya mas rian melirik pada ku seolah dia kepo dengan cerita novi "kalian udah kenal lama gitu?"


"hmm bukan lama lagi mas" kata ahmad ke mas rian "udah lumutan kita mas, dari tahun 2007 mas sampe sekarang makanya udah kaya sodara sendiri."


"lama juga yaaa" tukas mas rian. Tak lama mereka pun datang bersamaan mungkin janjian. Mereka menyalami ku mengucapkan doa satu persatu. tak lupa aku memperkenalkan lilis pada mas rian.


"mas ni lilis, asisten ku di kantor" aku memperkenalkan. Mereka duduk di kursi meja masing masing dan hidangan pun segera datang. Mereka menikmati makan malem dengan kehangatan serta canda gurau dari yang satu ke yang lain.


Tak berselang lama mereka pun pamit tak terkecuali novi sama ahmad mereka masih menunggu ku. Aku membayar semua bill setelah itu kita pulang.


"di kantor ternyata kamu penting yaa?" ucap mas rian pas kami sampe rumah.


"bi,,,ini buat bibi sama mang ujo ya" kata ku saat ke kamar bibi terbangun dari tidur nya.


Aku menghampiri mas rian yang sedang melamun depan tv, sejenak aku memperhatikan sikap nya akhir-akhir ini memang kelihatan ga nyaman, aku pun bingung harus bagaimana sementara rasa nyaman yang dia bangun untuk ku mulai tumbuh rasa cinta untuk nya. "ayo yan ga usah baper nanti rasa itu akan hilang dengan waktu" bisik ku dalam hati.


"mas,,,kenapa melamun?" tanya ku ke mas rian "sini deh liat aku" aku duduk di depan nya dan memegang tangan nya. "kamu ga nyaman disini?"


"kata siapa?" jawab nya mencoba membodohi ku sambil tersenyum "aku cuma kepikiran pekerjaan ku disana yan"


"gimana kalo usaha kamu dialihkan kesini?" tanya ku "bisa kan nanti kita cari tempat yang kira-kira aman buat nyimpen barang-barang nya. Lagian rencana ku, aku bakal bawa anak-anak kesini mereka pindah kesini"


"mas juga kepikiran kesitu yan, tapi mas pengin kita nikah dulu jadi tenang kalo mas pulang"


"ko diem?" tanya nya pada ku "ga mau mas ajak nikah?"


"bukan ga mau mas,,,tapi kecepetan ih jangan sekarang-sekarang bisa? Soal nya aku belum siap mas"


"kenapa belum siap? Masih belum malu yaa sama aku?" tanya mas rian yang membuat ku gelagapan jawab nya


"ga gitu mas tapi aku sedang menata hidup ku, merencanakan masa depan anak-anak ku nanti seenggak nya tabungan buat anak ku saat aku tak bisa kerja lagi." jawab ku


"lagian juga bukan sekarang-sekarang sayang mas juga butuh waktu buat kumpulin uang agar bisa ngasih mas kawin yang bisa sepadan sama kamu, mas ga mau malu-maluin diri mas sendiri di depan keluarga kamu atau temen-temen kamu" jawaban nya membuat ku lega karena untuk sekarang aku belum ke fikir buat jalani rumah tangga yang ada di otak ku hanya bagaimana masa depan anak ku.


"besok mas pulang yaa,,,biar bisa lebih cepet mas kerja lagi" kata mas rian sekalian pamit ke aku "mas malu ma kamu kemaren waktu kamu di rumah mas kerja nyantai banget karena ngerasa nyari uang itu gampang banget bahkan terkadang mas nyepelein banget orang yang susah nyari uang dan kerjaan tapi lihat kamu disini nyari uang sampe ga inget kapan kamu istirahat, kapan kamu makan mas lihat perjuangan kamu disini"


Aku terdiam menghela nafas bukan tak ingin seperti mereka yang makan cukup istirahat cukup ada waktu buat keluarga aku mau semua nya tapi sekarang bukan waktu nya untuk ku bersantai ria karena aku harus memikirkan masa depan anak-anak ku agar kelak mereka ga mengalami apa yang aku alami sekarang. Aku harus mempersiapkan masa depan untuk mereka karena sekarang aku ibu sekaligus ayah bagi mereka. Memang ada ayah nya tapi aku ga mau mengandalkan orang lain untuk kebahagiaan anak ku selagi aku mampu aku akan lakukan semua untuk anak ku dan selalu berdoa semoga lelah ku menjadi lillah yang hakiki untuk hari tua ku.


"ko diem kenapa?" tanya nya aku hanya menggeleng dan tersenyum


"mas ini kan hari minggu jalan-jalan yu mumpung kamu disini" ajak ku "mumpung sempet jarang-jarang kan aku di rumah"


"nanti kalo sudah jadi istri ku ya kamu selalu di rumah, nunggu aku pulang dan ngurus anak-anak."

__ADS_1


Aku tersenyum, kami pun pergi menghabiskan waktu berdua, seharian kami pergi membuat ku semakin nyaman, tapi semakin takut pula untuk ku berkomitmen lebih jauh. "nikmati saja hari ini dian ga usah lagi mikirin besok bagaimana nanti saja" bisik ku dalam hati.


"cape mas" kata ku saat pulang aku langsung rebahan di kasur ruang depan. Mas rian menjejerkan tubuh nya di dekat ku.


"kamu seneng hari ini?" tanya nya pada ku


"heeh, makasih ya mas" jawab ku


"aku udah bikin kamu seneng, sekarang giliran kamu yang bikin aku seneng" kata nya pada ku. Aku langsung duduk karena ga mau mas rian berbuat sesuatu pada ku. Aku dipaksa direbahkan, tak bisa aku bergerak tangan mas rian terlalu kuat saat memegang ku. Dada ku deg degan tubuhku mulai gemetar aku takut


"mas" ronta ku saat tubuh ku setengah di tindih nya." jangan mas, tolong" aku berusaha menahan tubuh mas rian agar tak terlalu menindih ku. "mas jangan mas" tenaga ku sudah tak kuat menahan tubuh nya. "aku teriak kalo kamu maksa" hardik ku. Tapi tak membuat nya takut malah tambah kuat dia menindihku. "mas..."


"kenapa?"tanya dengan senyum senyum. "memang kenapa? Ga boleh?" aku tak tau arti dari senyum yang tergurat di bibir nya. Aku bertambah ketakuatan melihat senyum nya. Tuhan selamatkan aku jagalah aku." bisik ku berdoa. Mas rian malah tertawa keras dan menghempaskan tubuh nya di atas kasur dengan terlentang dia masih tertawa aku tak tau apa maksud nya tak ku sia-sia kan aku langsung duduk menjauh dari nya dengan nafas terengah-engah menahan rasa sakit.


"kamu kenapa?" tanya mas rian sambil tertawa. Aku tak menjawab nya aku marah dan takut bercampur jadi satu. "udah sini" ajak nya " kesini sayang ga usah takut" aku tak bergeming "ayo sini" dia memegang tangan ku dan menyeret ku untuk kembali ke kasur "yo sini mas udah cape banget."


"mas jangan tolong mas jangan!" pinta ku dengan nada ku memelas "tolong jangan lakukan apapun ke aku"


"kamu tuu ya mikir nya kejauhan tauuu" jawab nya sambil terus tertawa "dah sini mas cape, kamu juga cape kan? Sini tidur istirahat" kata nya menarik tangan ku aku pun menurut dengan tubuh yang gemetar. Mas rian memeluk ku dan mencium kening ku.


"dengar sayang mas sayang ke kamu, mas cinta ke kamu mas ga mau merusak kamu mas hanya ingin ngejaga kamu" kata nya dengan mengusap air mata ku yang tak sengaja keluar. "mas ga akan ngapa-ngapain kamu sebelum kita halal" aku merasa aman saat dengar kata-kata mas rian "dah sini tidur di pelukan mas. Mas ingin peluk kamu waktu tidur. Bolehkan?" aku mendekat saat dia merebahkan tubuh nya di kasur, aku tidur di pelukan nya terasa nyaman hal yang sudah lama aku tak merasakan kehangatan pelukan lawan jenis


"kaya gini dong kan enak biar mas lebih pules tidur nya, mas cape banget. Kamu juga cape kan? Dah istirahat tidur sini di dada mas"


Tak lama aku tertidur di pelukan nya, pelukan yang membuat ku nyaman. Kami terlelap tidur. Entah berapa lama aku tertidur sampai tak terasa waktu matahari telah tenggelam sedari tadi jam menujukan pukul 6.30 menit aku tersadar mas rian sudah tak ada di samping ku.


"mas,,,"panggil ku " mas" tak ada jawaban aku melihat ke kamar ku pun kosong. Aku mendengar suara di dapur mas rian dengan siapa?


"biarin aku yang masak ga apa-apa bi" mas rian mencegah bibi membantu nya di dapur. "udah bangun sayang? Gimana tidur nya enak?"


aku mengangguk dan duduk di kursi meja dapur nyawa masih belum kumpul semua.


"seneng liat kamu bisa tidur pules sayang" mas rian mendekat dan mencium kening ku lagi, aku merasa malu karena ada istri mang ujo yang memperhatikan kami. dan dia hanya tersenyum. "rasa nya mas belum pernah liat kamu tidur sepules tadi. Inget nanti kalo mas pulang jangan lupa jaga kesehatan ya," mas rian menoleh ke bibi "bi tolong jaga ibu ya, ingetin untuk makan dan istirahat jangan sampe sakit ga ada yang ngurus nanti." kata nya pada istri mang ujo. "makan yu sayang aku udah masakin buat kamu" mas rian menyodorkan masakan yang dia buat.


"masakan kamu enak mas" aku menyuapkan makanan ke mulut ku "aku bakal kangen nanti saat kamu pulang"


"masa?" goda mas rian


"udah deh ga usah bikin malu"


"justru mas yang bakal kangen sayang, manja kamu, omelan kamu, bikin mas kangen sama kamu. Doain mas usaha nya sukses dan maju yaa biar kita cepet bareng tinggal serumah."


Kami selesai makan aku masuk kamar dan mempersiapkan berkas buat besok mas rian beres beres baju nya karena akan pulang besok.

__ADS_1


__ADS_2