
"ba" panggil ku saat masuk kamar, untung nya suami ku duluan yang masuk kamar, kalo dia menemui anak-anak dulu bisa salah paham pasti. "ba"
"apa sih dari tadi manggil-manggil ga jelas, aku mau mandi tau" tukas nya sedikit menggerutu.
"di depan ada ayah nya anak-anak" ujar ku memberitahu ke suami ku.
"maksud nya?" tanya nya langsung balik badan menghadap ku.
"ihhh, abba" gerutu ku "ada mantan suami ku di luar"
"haah" tak sadar dia belum pakai baju "masa? Datang kapan?"
"aku ga tau" jawab ku
"ko ga tau?" tanya nya menyelidik
"ya emang ga tau" jawab ku mempertahankan argumen ku
"ga bilang dulu gitu?" tanya nya
"mungkin ke si teteh kali ba, aku ga ngeh" jawab ku "biar nanti aku tegur dia, sekarang temuin dulu orang nya"
"abba?" tanya nya "ya udah hayu"
"sendiri aja, aku belum mandi" jawab ku
"hmm mau tampil cantik ketemu mantan?" tanya nya
"apaan sih" aku langsung masuk ke kamar mandi. Keluar kamar mandi ternyata dia sudah keluar, aku bergegas menemui ayah dari anak-anak ku sebenar nya males tapi bagaimana lagi, aku harus bisa membuang masa lalu toh masa depan ku sekarang sedang aku jalani.
Aku melihat suami ku tengah mengobrol dengan ayah nya anak-anak, aku menghampiri mereka dengan membawa teh hangat, karena semenjak pulang suami ku belum aku suguhkan teh hangat kesukaan nya.
"silahkan teh nya" aku menyodorkan teh yang ku buat, aku duduk di sebelah suami ku.
"terima kasih" jawab nya.
"mas kapan datang?" tanya ku
"tadi sekitar jam 10.00 pagi" jawab nya "maaf bukan maksud mengganggu, aku hanya ingin bertemu anak-anak. maaf juga tak memberitahu kepada kamu yan, soal nya aku langsung datang kesini"
"ga apa2 mas" jawab ku. "buat aku hak kamu ketemu anak-anak, aku ga pernah memisahkan kamu dari anak-anak mas"
"eemm a maaf" suami ku menyela pembicaraan ku dan mantan suami ku, dia tau mungkin aku yang masih menyimpan rasa sakit pada nya "a kalo aa, mau ajak anak-anak jalan silahkan. Kita masih bisa menjadi partner dalam mengasuh anak-anak. Tetap anak-anak adalah prioritas jangan sampai mereka merasa kita tak perhatian pada nya. Maaf juga a, kalo kami disini selalu sibuk kerja karena kami memang ada kewajiban tersendiri."
"ga apa-apa" jawab mantan suami ku "saya berterima kasih sudah menjadi ayah dari anak-anak saya, saya tau kang juga sangat sayang kepada mereka, bukti nya mereka nyaman dengan ada nya akang di tengah mereka."
__ADS_1
"saya hanya membantu istri saya saja a" jawab suami ku "dalam hal mengasuh anak-anak"
"saya yakin mereka nyaman dengan ayah baru yang sekarang" jawab nya.
Saat mereka terlibat obrolan aku meninggalkan mereka segera ke dapur memeriksa apa ada makanan yang bisa ku suguhkan untuk mantan suami ku, bagaimana pun dia tamu di rumah ini, yang harus aku jamu dengan baik. Aku memang sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di masa lalu, hanya saja rasa sakit itu masih ada dan membekas selama nya.
Jauh di hati aku memang masih menyimpan rasa yang mendalam tapi aku juga harus menerima realita hidup yang ada, aku bukan apa-apa juga bukan siapa-siapa lagi untuk nya. Lagian aku harus terlihat baik-baik saja dan menjaga perasaan suami ku yang sekarang, toh aku juga bahagia dengan hidup yang ku jalani sekarang, ada anak-anak juga suami yang memang benar-benar mencintai ku.
"nyi" sapa mertua ku "mau masak?"
"iya ummi, ada tamu tak enak" jawab ku
"iya, ummi tau" tukas ummi "ummi sudah bertemu dengan nya. Anak-anak juga sudah, rahma malah banyak ngobrol dengan ayah nya. Alhamdulillah ayah nya masih peduli dengan mereka, biasa nya laki-laki yang sudah bercerai suka lupa dengan anak-anak nya, tapi ini masih peduli banget"
Aku hanya tersenyum getir mendengar ibu mertua ku berbicara seperti itu, tanpa ada kata untuk membalas nya aku terus bekerja untuk menyiapkan makanan untuk semua nya termasuk mantan suami ku. Memang mantan suami ku sangat menyayangi anak-anak nya justru anak-anak lebih nyaman ketika bareng bersama ayah nya, dari dulu ayah nya memang sangat sabar ke anak-anak dari pada aku.
"nyi" tanya mertua ku "orang sesabar itu kenapa sampe kalian bercerai dulu?"
Aku tersentak ketika mertua ku tiba-tiba menanyakan masa lalu ku, masa lalu yang ingin ku kubur dalam-dalam tak ingin aku ingat lagi, tenyata sekarang mertua menanyakan hal yang sangat prinsipil kepada ku, entah apa maksud nya, seketika aku terdiam tapi agar beliau tak tahu air mata ku aku kembali mengerjakan pekerjaan ku.
"maaf nyai, mungkin ummi yang telah lancang menanyakan hal pribadi kepada mu" tukas ummi seolah merasa tak enak pada ku.
"tak apa ummi" aku tetap tersenyum meski aku merasa pertanyaan yang tak pantas beliau lontarkan pada ku. Mau bagaimana pun aku sekarang adalah istri sah anak nya, meski secara sirri tapi aku adalah kewajiban anak laki-laki nya sekarang.
Aku hanya tersenyum sambil terus memasak, hati terasa sesak saat ibu mertua menanyakan hal yang lebih prinsip pada ku, apa dia tak merasa sebagai sesama perempuan? Apa yang terjadi jika posisi ku dia rasakan dan aku menanyakan masa lalu kepada nya. Ingin rasa nya aku keluar dari dapur tapi kaki ku seolah tertahan dengan rasa sabar yang masih tersimpan dan aku masih bisa menunjukan sikap yang baik-baik saja meski tangis ku tumpah perlahan.
"ummi, makanan nya sudah siap" aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan menyekat kata-kata nya agar beliau tak selalu menunggu jawaban ku tentang pertanyaan yang tak bisa ku jawab. "maaf ummi saya mau memanggil teteh nya dan mba untuk membereskan meja makan"
Aku secepat nya keluar dari dapur aku pun tau kalo mertua ku masih melihat ku, melihat ke diaman ku. Ku buat aku seolah baik-baik saja saat melangkah melewati beliau menuju ke kamar anak sulung ku. Semenjak aku menikah dia memang terlihat lebih pendiam dari pada setelah aku bercerai dengan ayah nya. Aku tau dia ga nyaman tapi aku juga tak bisa melawan takdir ku sendiri secara tak langsung pun aku memang butuh sosok pendamping yang mengerti dengan keadaan ku dalam masa apapun.
Aku menyesali perceraian ku, tapi aku tak dapat merubah takdir ku, bisa tak bisa aku harus melewati nya harus menjalani nya, aku hanya menginginkan kehidupan yang lebuh baik untuk mereka, aku tak ingin perceraian ku dengan ayah nya menghambat cita-cita mereka jadi mau seberat apapun aku harus bisa memikul nya.
"bu, kenapa ibu masih sibuk kerja sementara ada ayah baru buat kami?" tanya si sulung pada ku. Hati ku bergetar saat mendengar ucapan nya.
Aku tak menyalahkan nya hanya saja aku tak mau menggantungkan semua kebutuhan nya pada ayah baru nya, aku akan berhenti bekerja saat tabungan ku untuk mereka ku rasa cukup. Sebagai seorang ibu yang mempunyai banyak anak aku tak ingin suami ku yang sekarang merasa kewalahan karena banyak nya pengeluaran untuk anak-anak, aku tak bisa berpangku tangan membiarkan nya bekerja sendirian.
"ibu akan berhenti bekerja teh, satu saat nanti." aku memberi nya wawasan sedikit demi sedikit tentang hubungan orang dewasa karena aku harus menuntun nya mulai sejak dini. "ibu punya kalian ber 5 bukan menjadi beban orang lain, tapi menjadi tanggung jawab ibu teh, mengantarkan kalian menuju jalan yang kalian inginkan. saat kalian bisa menapak maka disaat itulah kewajiban ibu selesai"
Tak tega rasa nya aku melihat ke 5 anak ku yang selalu susah untuk ku temui, terkadang saat aku berangkat anak yang kecil masih tidur dan pulang juga dalam keadaan tertidur, tapi aku selalu mencari cara agar bisa quality time bersama mereka, aku tak mau mereka kehilangan sosok ku sebagai seorang ibu setelah mereka kehilangan sosok ayah di masa depan mereka.
"teh,,,bantu ibu biar kuat yaa, karena teteh harapan ibu yang bisa ngertiin ibu. Maaf bukan membebankan ke teteh tapi ibu hanya minta pengertian ke teteh saat ini memang ibu belum bisa keluar dari pekerjaan ibu. Ibu minta kamu tetep rajin belajar pertahankan prestasi di sekolah, kalo sudah SMA nanti ibu yang akan anterin teteh buat mencapai apa yang teteh mau buat hidup teteh"
Bukan aku tak mengerti apa yang dia rasa, tapi aku memang keras dalam mendidik anak, aku membelajarkan sikap mandiri meski masih kecil-kecil agar dia terbiasa mengerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain setidak nya tidak menyusahkan orang yang ada di sekeliling nya, mulai dari mandi, makan, sampai menyiapkan baju seragam untuk mereka aku meminta para asisten rumah tangga ku untuk tak terlalu membantu mereka.
Meski aku sibuk aku selalu memantau perkembangan anak-anak ku di sekolah, di rumah, saat dia bermain, aku selalu pantau bahkan ponsel yang aku fasilitasi sudah aku kasih alat untuk bisa melacak kegiatan mereka sehari-hari. Sesibuk nya aku masih selalu ada saat ada rapat di sekolah atau saat mereka membutuhkan ku.
__ADS_1
"teh" aku ketuk pintu anak sulung ku agar membantu ku menyiapkan makanan untuk ayah nya "teh, teteh, tolong buka pintu nya dong, ibu mau nyuruh" lama tak di buka pintu ada apa aku penasaran ku ketuk lagi pintu nya dan ku coba membuka handle pintu ternyata tak di kunci aku membuka nya lebar, tak ada orang di dalam nya. Aku pun kembali menutup pintu kamar si sulung berusaha mencari nya karena rasa penasaran ku 'kemana dia?' gumam ku
"ummi, ko kenapa teteh nya ga ada di kamar ya?" tanya ku pada ibu mertua ku saat ku kembali ke dapur.
"hmm,,,maka nya kalo kerja jangan sambil melamun" tukas ummi sedikit ketus "ummi mau bilang kan rahma ikut si mba ke pasar"
"oh iya maaf ummi saya lupa" jawab ku tersenyum getir
"lagian kenapa juga jadi fikiran pertanyaan ummi" masih saja terdengar ketus nya nada bicara mertua ku "kalo ga bisa di jawab ya ga usah di jawab dong, ummi cuma nanya aja ko, ga ada maksud apa-apa"
"maaf ummi" jawab ku melemah karena mertua ku sudah mengeras suara nya "maaf biar dian sendiri yang membereskan meja makan, ummi cape udah bantu saya di dapur, makasih ya ummi"
Mertua ku meninggalkan dapur dengan raut wajah yang sudah di jelaskan antara marah dan sabar, begitu lah ibu mertua saat menghadapi ke diaman ku. Tapi aku juga memuji beliau sangat sabar dan menyayangi ku layak nya anak kandung sendiri tak segan-segan menegurku saat aku tak sepaham dengan nya. Yaa seperti itulah, aku sekarang tinggal 1 atap dengan mertua jadi baru merasakan dekat dengan mertua dulu selama 16 tahun aku belum pernah 1 atap dengan mertua maklum jarak antara rumah ku dengan mertua berjarak lumayan jauh jadi jarang untuk bertemu dengan mereka lebih sedikit. Agak lama saat idul fitri itu juga mentok 3 hari setelah itu pulang.
Aku membereskan meja makan dan segera menyiapkan hidangan nya, tak membutuhkan waktu lama aku pun segera memanggil suami ku untuk mengajak mas imam makan malam bersama. Agar dia bisa merasakan makan bersama anak-anak nya. Aku tak menutup akses untuk bertemu anak-anak karena aku tak mau anak ku merasa kehilangan sosok ayah kandung sepenuh nya meskipun mereka tak kekurangan kasih sayang ayah sambung nya.
"abba, maaf ajak mas imam untuk makan bareng ba" pinta ku saat menghampiri mereka di ruang depan.
Entah apa percakapan mereka, aku melihat mereka berjalan menuju ruang makan kami, aku pun menyipakan untuk anak-anak. Ruah riuh saat anak-anak berjalan menuju ruang makan. Kami makan bersama terdengar ocehan anak-anak saat ada ayah nya datang. Penuh tawa mereka seolah bahagia bertemu dengan ayah nya.
"a, kalo mau ajak anak-anak besok keluar silahkan a" tukas suami ku
"benar boleh?" tanya nya
"iya a, aku rasa dian juga ga keberatan, toh besok kami di kantor pun sangat sibuk jadi ada nya aa bisa bantu kami mengasuh anak-anak" ujar nya lagi "kalo kerepotan kan ada mba-mba yang bantu aa buat jagain mereka"
"makasih ya" jawab nya
"iya a sama-sama, ga usah sungkan toh kita kan orang tua mereka harus menjaga mereka secara sama-sama" ujar suami ku. Begitu wibawa dan sahaja nya suami ku masih mampu memerankan seorang ayah sambung dengan sangat baik.
Terima kasih Tuhan engkau telah memberikan penawar yang sangat mengerti tentang aku, begitu juga ibu mertua yang benar-benar menyayangi ku.
Kami telah selesai makan, aku membereskan kembali meja makan yang di bantu anak gadis ku dan asisten rumah tangga ku agar cepat selesai.
"maaf mas, kalo mau istirahat silahkan toh anak-anak sudah tidur dengan mba nya" ujar ku pada mas imam
"oh iya terima kasih" jawab nya
"maaf saya ke kamar dulu, besok pagi harus berangkat lebih awal soal nya di kantor lagi sibuk" ucap ku
"oh iya ga apa-apa, silahkan. Saya minta izin besok ajak jalan anak-anak" ujar mas imam meminta izin ku
"iya mas, silahkan" jawab ku.
Aku memasuki kamar bersama suami ku terlihat dan terdengar sepi saat semua memasuki kamar masing-masing dan terlelap dalam mimpi panjang sampai besok pagi.
__ADS_1