
Setelah kepulangan mas imam, aku merasa lega karena tak ada lagi yang mengungkit masa lalu, aku masih berdiri di depan saat mereka telah masuk ke dalam, masih memperhatikan langkah kaki mas imam sambil tersenyum penuh kemenangan. 'kamu bisa lihat aku sekarang mas, silahkan ceritakan pada dunia bahwa aku disini tak kekurangan dan tak menyusahkan mu lagi' bisik ku. Aku yakin dia akan bercerita kepada keluarga nya disana tentang aku secara detil karena aku tau sifat mas imam.
"masih kangen yaa?" tanya suami ku dari belakang menepuk ku
"apaan sih?" jawab ku masam "ga usah mulai deh, aku males ribut"
"lagian siapa yang ngajak ribut? Orang kamu ngeliatin mantan sampe segitu nya" tukas nya pada ku.
"ga usah macem-macem, karena aku akan tau reaksi nya nanti setelah dia sampai di rumah" jawab ku
"maksud nya?" tanya nya
"ya keadaan ku disini bakal booming disana nanti" jawab ku
"maksud nya apa sih, ga ngerti" ujar nya, aku menoleh pada suami ku sambil tersenyum
"kepo" ucap ku sambil tersenyum dan meninggalkan nya di teras dan masuk ke rumah.
"bu" panggil suami ku " bu, ibu! Awas ya" suami ku membuntuti ku duduk di sebelah ku di ruang tengah menonton tv. "kamu tu ya, mentang-mentang di samperin mantan dan ngajak balikan gini deh ke aku"
"maksud abba apa sih? Ko tiba-tiba ngomong gitu?" tanya ku
"ya kamu di tanya malah jawab nya ga jelas" aku merasa takut saat suami ku mulai meninggi suara nya.
"apaan sih, buat mantan ya mantan ga akan pernah jadi manten ga usah macem-macem yang bikin mood ku rusak" jawab ku tegas ke suami ku
"ada apa ini pagi-pagi" ibu mertua ku tiba-tiba muncul dari belakang
"ummi" sapa suami ku "engga ko ummi cuma becanda aja" dia menyembunyikan dari ibu nya
"nyi,,,itu ayah nya anak-anak?" tanya nya. Aku menganggukan kepala "kelihatan nya orang nya sabar, ganteng lagi" aku terkejut mendengar pendapat ummi tentang ayah biologis anak-anak ku, apa maksud nya?
"mi, maksud ummi apa?" tanya tristan suami ku
"ga ada tris" jawab mertua ku santai "ga ada maksud ummi cuma melihat dari yang ummi lihat, dia masih mencintai istri mu itu terlihat dari mata nya, ummi menyayangkan kenapa sampai berakhir seperti ini"
"ummi, udah deh maksud nya apa? Sekarang tristan lah suami dian, ummi nyuruh mereka balikan dan dian ninggalin tristan gitu?"
aku merasa tak enak melihat suami ku meninggikan suara nya di depan ibu nya aku genggam tangan nya mencoba menenangkannya, aku menggelengkan kepala perlahan agar dia tak berbicara apa-apa ke ibu nya, meski aku juga tak tau kenapa ibu nya bisa berbicara seperti itu.
"jangan salah paham, ummi berbicara seperti ini karena ummi tau apa yang dian fikirkan" ujar ummi kepada ku "kalo bisa ummi kasih saran jangan seperti itu sayang, riya itu tak baik yan. Dian ingin orang kampung tau kan seperti apa kehidupan dian disini? Ingat harta yang kita miliki jangan membuat kita lupa diri, kalau dulu kita di hina orang karena tak punya apa-apa dan sekarang kita punya segala nya membalas semua ucapan mereka, itu tak baik nak"
"maaf ummi, maafin dian" ujar ku pada ibu kang tristan suami ku. "bukan maksud dian menyombongkan diri, tapi setidak nya mereka bakal tau apa rasa nya di kucilkan"
"tetap saja yan, ga baik" ucap mertua ku "ikhlasin, ikhlasin semua yang terjadi karena semua yang terjadi atas kuasa sang pencipta jadi jangan di ungkit. Ingat dendam ga akan menyelesaikan masalah, kalo dengan yang kamu punya sekarang menjadi ajang dendam maka selama nya kamu ga akan pernah tenang dan bisa bersyukur dengan apa yang sudah Alloh SWT, berikan untuk mu dan keluarga mu. Jangan sampai menjadi orang pendendam sayang karena dendam itu perbuatan syetan yang paling Alloh benci jadilah seorang pemaaf agar pintu rizki mu selalu terbuka lebar."
"terima kasih ummi" aku menghambur memeluk ibu mertua ku, beliau teramat baik untuk ku
__ADS_1
"sekarang ummi tanya ke kalian berdua" tukas ummi didepan ku dan suami ku "pertanyaan yang sama seperti awal kalian menikah, kapan kalian akan meresmikan hubungan pernikahan kalian? Ummi tau, memang kalian halal sebagai suami istri tapi di mata hukum kamu tak punya kekuatan apa-apa dian, di mata pemerintah kamu itu single parent, terus bagaimana jika kamu hamil?"
Aku terperanjat ketika mertua ku bilang seperti itu pada ku, yaa aku menyadari nya kembali bahwa masih ada PR penting yang tertunda sejak lama, tentang pernikahan ku, karena aku hanya baru menikah sirri belum terdaftar di identitas negara. Ya aku akui sekarang q terlalu nyaman dengan keadaan ku yang sekarang yang hanya menikah secara sirri, bahkan aku lupa melegalkan diri ku sendiri, terlalu banyak yang terjadi terlalu banyak hal-hal yang melelahkan yang membuat ku tak banyak berfikir untuk diri sendiri.
"yan" mertua ku kembali berbicara "ummi ingin kamu pulang ke orang tua mu, ummi tau kamu sibuk tapi tolong luangkan waktu untuk mereka, ummi dengar bahkan lebaran pun kamu tak pulang, segitu sibuk kah? Jangan putuskan tali silaturrahmi apalagi ke keluarga berdosa yan?"
Aku hanya terdiam tiba-tiba seperti acara di tv ingatan ku kembali mengingat kejadian 3 tahun silam, dulu aku di singkirkan sekarang aku pasti di banggakan. Aku canggung jika harus memulai nya, aku tau aku salah awal nya yang membuat ku enggan untuk meminta maaf kepada keluarga ku, meski pun aku tau awal nya memang aku yang salah tapi ternyata membuat ada rasa dendam yang menyelimuti. Sebenarnya aku memikirkan kedua orang tua ku tetapi egois yang membuat ku bertahan dengan keadaan jauh dengan mereka, bukan mau ku seperti ini tapi aku juga tak menyalahkan keadaan semua terjadi memang sudah di gariskan untuk ku, benar kata mertua ku semua nya harus di mulai sekarang jangan di tunda lagi.
"yan, ummi bener" ucap suami ku setuju dengan ibu nya "kira-kira kapan ya kita bisa libur kesana?"
Aku terdiam bingung mau jawab apa, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ku saat aku di sana, apa aku bisa di terima atau sama seperti waktu aku keluar dari kampung mereka cuek seolah tak mengenalku. Aku melirik suami ku dan ku lihat dia mengangguk aku pun membalas anggukan nya.
"ajak sekalian anak-anak, mungkin mereka kangen kakek nenek nya" tukas suami ku. Aku pun mengangguk mengiyakan.
"alhamdulillah" ucap ummi, "mulai sekarang tentukan kapan akan pulang untuk menyambung silaturrahmi ke kampung"
"mungkin liburan sekolah nanti ummi" jawab ku kepada ibu mertua ku
"bagus itu, sekalian anak-anak liburan juga kan?" ujar ibu mertua ku.
"berarti kita akan ngambil cuti berapa hari bu?" tanya suami ku
"aku di kasih cuti 2 minggu dari kantor" jawab ku
"ko udah di kasih jadwal cuti, abba belum tuh?" ujar suami ku
"kemaren setelah syukuran kantor, surat cuti ada di meja kantor ku" ujar ku ke pada suami ku
"enggak lah biarin ummi di rumah, kalian aja bareng anak-anak, jangan lupa bawa baby sitter nya juga biar ga repot dan ngerepotin disana?" ummi memberi nasehat pada ku dan suami ku "ga usah sungkan di rumah orang tua sendiri, ummi ga tau ada masalah apa antara kamu dan orang tua kamu tapi ga mungkin orang tua akan mengusir saat mereka melihat cucu-cucu nya."
Itu yang aku khawatirkan, aku takit tak di terima orang tua ku apa lagi aku pulang dengan membawa laki-laki yang menjadi suami ku, aku menikah tanpa sepengetahuan orang tua ku, apa yang harus ku katakan pada mereka? Aku takut mereka lebih marah ke aku karena aku menikah tanpa wali, pasti mereka akan punya fikiran yang buruk ke aku bahkan suami ku juga.
"apa yang di fikirkan?" tanya suami ku saat dia tau aku duduk di balkon kamar "mikirin mudik?"
aku masih terdiam bingung jawaban apa yang tepat untuk suami ku
"kenapa? Coba cerita apa yang bikin kamu berat untuk pulang, padahal mereka orang tua kamu."
"abba ga ngerti" jawab ku nada kesal
"yaa mana abba tau, ibu aja ga pernah cerita ko" tukas suami ku "setiap abba nanya kan ibu ga pernah jawab"
"bingung ba, mulai dari mana aku fikir dengan aku hidup disini jauh dari mereka aku bisa tenang, ternyata selalu ada saja kejadian yang mengingatkan ku kepada mereka" papar ku "aku bukan ingin memutuskan silaturrahmi, tapi aku pernah pulang dan tak ada orang yang menanyai ku sewaktu aku disana, aku mencoba meminta maaf tapi tak ada 1 orang pun yang ramah pada ku, seolah aku memang lebih baik pergi"
"mungkin itu dulu, waktu kamu belum punya apa-apa. Tapi sekarang keadaan nya berbeda, kamu punya segala nya disini, kamu wanita carieer yang sukses tak hanya sukses di dalam pekerjaan tapi sekarang kamu punya abba, bu" suami ku menenangkan ku "kalo sekarang abba yakin kamu bisa di terima, secara kamu sudah bertahun-tahun ga pulang dan nanti saat kamu pulang ga di tanya juga, kita ga usah nginep disitu, kita sewa hotel biar anak-anak yang disana sama kakek dan nenek nya. Gimana?"
"ya udah, ga apa-apa seperti itu juga" jawab ku "tapi sebelum nya kalo ada perlakuan dan kata-kata yang tak menyenangkan dari mereka aku minta maaf ya"
__ADS_1
"ya udah ga apa-apa" jawab suami ku "aku juga ga bakal ngaku suami mu, sekalian aku minta restu dan izin kepada mereka agar pernikahan kita sah di mata negara"
"terus kira-kira abba bisa dapat cuti ga?" tanya ku
"mudah-mudahan, selama ini abba kan ga pernah ambil cuti kan?" aku mengangguk memang kami jarang mengambil waktu cuti, karena kami fikir belum waktu nya kami ambil. Tapi sekarang kami cuti bersama karena ingin pergi ke kampung halaman meski bukan lebaran. Mudah-mudahan di terima dengan baik disana.
"besok abba akan mengajukan cuti sekalian cuti buat pernikahan"
"ya udah, kalo aku udah dapat 15 hari" ujar ku
"oke, besok abba coba yaa" tukas nya "mudah-mudahan dapet sama, meski engga juga yang penting bisa cuti antar jemput kamu pun ga apa-apa. KUA jauh ga bu?"
"engga, kalo mau urus-urus seperti nya deket ba, soal nya memang semua kantor kota deket jarak nya tak memakan waktu lama kalo tak ada antrian" jawab ku "nanti minta tolong pak RT disana aja, biar cepet jadi ga bakal cape nunggu"
"iya sekalian kita ke WO disana, booking langsung pakai" ujar nya
"yang bener aja ba, kenapa ga yang biasa aja ga usah pakai WO segala" tanya ku
"ga apalah, biar berkesan atuh" jawab nya
"malu tau, anak udah banyak juga" tukas ku
"yaa, ga apa-apa, lagian ga besar sih kan butuh tenda nya takut nya hujan kan?" jawab suami ku "abba mau kita nikah kamu pakai baju pengantin, layak nya pengantin"
Aku tersenyum memeluk nya, hubungan yang berjalan selama 3 tahun ini, mudah-mudahan ini yang terakhir, sirri aja sampe lama, aku berharap tak ada lagi gangguan yang membuat kita renggang seperti hubungan yang terdahulu.
"cukup ga yaa kira-kira?" tanya nya lagi pada ku
"yaa cukup ga cukup" jawab ku
"mau nyebar undangan?" tanya nya
"engga lah ba, lagian aku udah lama ga di kampung, mana lah aku ada temen lagi" jawab ku mengingat siapa saja teman ku "lagian kalo aku undang mereka, aku kan langsung balik lagi kesini ba"
"yaa engga kamu undang aja beberapa, buat syarat aja biar kita ada temen yaa itung-itung kita reunian" jawab nya
"ya udah" ujar ku "ini kita cuti sekalian buat acara di ummi atau gimana?"
"kira-kira cukup ga yaa waktu nya?" tanya nya
"ga tau, soal nya kan kalo kita urus surat-surat ummi juga kan harus aja surat pengantar abba buat ke KUA nya" ujar ku pada suami ku
"ya sudah besok pagi kita bicarakan lagi dengan ummi" jawab suami ku "jadi ummi juga harus urus surat dan semua kelengkapan nya, agar kita bisa cepet"
"iya, paling nanti abba yang sebar-sebar undangan saja" ujar ku
"iya nanti kita langsung pilih undangan langsung cetak dan pakai langsung" jawab nya mantap
__ADS_1
"ya udah sekarang kita istirahat agar bisa secepat nya niat baik kita terwujud" ujar ku "aku persiapan besok di kantor dan paling ada beberapa yang aku undang agar menyaksikan acara kita disana dan nanti selebih nya disini, gimana?"
"oke lah, biar ga ribet" jawab suami ku sambil merebahkan tubuh nya dikasur di susul dengan tubuh ku yang ku hampaskan disisi nya dan terpejam bersama.