ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
kembali pulang


__ADS_3

saat nya pun datang, hari ini aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah orang tua ku, beribu pertanyaan di dalam hati ku ada rasa rakut yang menyelimuti tapi aku harus bisa aku harus mampu menunjukan kalo aku adalah anak yang bisa di andalkan, kejafian lalu membuat ku mengerti tentang kemandirian. Dari kecil aku memang tak di didik untuk bekerja, sampai menikah pun mas imam tak membiarkan aku bekerja dan setelah kejadian yang menimpa ku, aku berusaha mati-matian untuk mencapai kesuksesan ku, aku tak menyangka bahwa aku bisa seperti sekarang ini.


"sudah siap?" tanya suami ku, aku menganggukan kepala.


suami ku memasukan barang-barang yang akan kami bawa karena memang semua nya sudah di packing dari semalam, aku membantu nya membereskan barang di dalam mobil sengaja pakai mobil ku karena kapasitas nya lebih banyak agar cepat selesai.


"ummi, kita berangkat bareng yaa" ajak ku ke mertua ku


"ga usah antar ummi sampe rumah" jawab nya pada ku "sampai terminal saja, biar ummi pulang sendiri. Kan kita punya tugas masing-masing, jadi biar cepet beres"


"ya udah" ujar suami ku


"kalian hati-hati di jalan, kalo cape jangan paksa mending istirahat" ujar mertua ku mengingatkan "inget tris, kamu bawa anak-anak"


"iya ummi" jawab tristan


"ummi juga hati-hati di jalan kabarin kami kalo udah sampai" ujar ku pada mertua ku. "atau ummi naik travel aja, biar aman"


"tidak usah, tak apa pakai bis umum saja yang lebih murah" jawab nya menegaskan.


"yakin ummi" tanya ku


"yakin" jawab ummi "udah ga usah terlalu khawatir ummi ga apa-apa kok, doain ummi aja"


"pasti ummi" jawab ku


"udah semua?" tanya ummi


"sudah ummi" jawab suami ku saat menutup bagasi mobil


"ya sudah kita berangkat sekarang mungpung pagi" tukas ummi


Tak lama setelah kami mengecek keadaan rumah kami pun pergi meninggalkan rumah, kami mengantarkan ibu mertua dulu ke terminal, setelah itu kita berpisah dengan tujuan perjalanan kami masing-masing. aku bersama suami ku melanjutkan perjalanan bersama anak-anak ku, sengaja aku tak memberitahu siapapun tentang kepulangan ku, lagian apa yang harus aku katakan toh aku pulang atau tidak tak pernah jadi masalah buat mereka, bukti nya tak pernah ada yang menanyakan ku atau anak-anak ku selama aku disini.


"abba, kalo pas nanti sampe kesana ada hal yang mengenakan aku minta maaf ya" ujar ku mencoba mengeluarkan apa yang menjadi beban ku. "ke kalian juga kalo ga ada yang nanya biarin jangan di anggap yaa, yang penting saya ke kalian"


"memang nya kenapa bu?" tanya suami ku


"maaf ba, satu nanti aku akan cerita semua nya cuma ga sekarang" jawab ku "aku ga mau hari kalian terganggu kalo aku cerita sekarang"


Aku beralasan agar tak ada lagi pertanyaan dari mereka, dan menyembunyikan rasa hati ku yang gelisah memikirkan semua yang bakal terjadi nanti setelah sampai disana. Semoga semua nya baik-baik saja Tuhan, aku ga mau mereka mengalami hal yang ga menyenangkan saat ada di kampung halaman ku.


Kami beristirahat di rest area, sekedar melepas lelah diperjalanan, aku yang sudah mempersiapkan semua, tinggal ambil apa yang mereka mau. Suami ku mendekati ku dengan tatapan curiga dia bertanya pada ku apa yang sebenar nya terjadi antara aku dan ke 2 orang tua ku.


"bu,,,maaf abba mau nanya" ujar nya saat mendekati ku "ga pantes sih nanya disini tapi abba ga bisa diem terus. Bisa cerita sekarang?"


"aku takut kalo aku nangis" jawab ku


"ga apa-apa, toh anak-anak masih anteng jadi ga bakal tau kalo ibu nya nangis. abba cuma pengen tau jadi kalo disana keadaan nya kurang baik abba bisa ambil sikap" ujar suami ku


"bingung mulai dari mana?" jawab ku "semua nya terjadi spontan ba, aku aja ga percaya kalo aku harus ngalami hal terburuk"


"mulai dari yang penting saja, kenapa bapak sama mama bisa seperti itu?" tanya nya


"karena semua nya salah ku ba, jujur aku ga ingin mengalami hal seperti ini, siapa lah orang nya yang ingin hidup nya hancur ga ada kan? semua udah di gariskan dan aku ikhlas menerima nya" papar ku pada suami ku.


Aku menceritakan awal kejadian yang membuat keluarga besar ku membenci ku, sampai kejadian yang menimpa rumah tangga ku, tak ada yang menginginkan mengalami hal yang menyakitkan tapi memang ini benar-benar terjadi pada ku. Berawal dari usaha ku yang hancur karena menolong teman ku, sampai aku berhutang ke beberapa orang untuk melunasi nya. Itu awal kehancuran hidup ku, ku jual semua aset yang ku punya untuk menutupi hutang, waktu itu mas imam terus mencari kerja karena tak dapat pekerjaan dia pulang ke rumah orang tua nya entah apa yang terjadi setelah pulang dari rumah orang tua nya, bukan maksud memperbaiki hubungan malah dia menceraikan aku tanpa berkata apa-apa aku hanya di bawa nya untuk penanda tanganan akta cerai. Sampai akhir nya aku bertemu dengan mas rian dia yang menjaga mental ku saat aku terpuruk, dia yang mendampingi ku di saat masa sulit ku, mas rian lah yang membantu ku kuat dalam menghadapi semua ujian terberat ku.


Di saat aku di jauhi semua orang, mas rian lah yang selalu ada disisi ku sampai aku seperti ini, itu semua nya karena mas rian. Aku bisa melunasi semua hutang-hutang ku, sampai lunas. Aku kembali menata hidup ku sampai akhir nya aku bisa meraih apa yang ingin ku capai, anak-anak tak kekurangan seperti dulu saat aku tak punya apa-apa.

__ADS_1


"apa mas imam tak memberi nafkah nya buat anak-anak?" tanya suami ku


"masih, tiap bulan mas imam memberi ku uang untuk keperluan anak-anak, tapi saat itu karena aku bekerja serabutan sering kekurangan untuk biaya sekolah" jawab ku "yang sering memberi uang untuk si sulung berangkat sekolah mas rian, dulu hidup ku di topang oleh nya"


"kenapa kamu sampai pergi dari nya dan memilih ku sementara rian lah yang selalu ada di sisi mu?" tanya suami ku yang terkesan cemburu


"entahlah, beberapa waktu lalu dia sempat menghilang tanpa kabar, aku mencari keberadaan nya lewat tetangga nya, teman-teman nya tapi tak ada yang tau sampai akhir nya kita di pertemukan kembali ba" aku menjawab dengan hati-hati agar tak terjadi salah paham


"terus kenapa bapak masih marah setelah hutang itu kamu tutup" tanya nya lagi


"entahlah, aku tak tau apa bapak masih marah pada ku atau engga aku tak tau" papar ku "sebener nya kalo mengedepankan rasa sakit aku juga sama sakit, dulu yang aku punya warung, niat hati warung itu aku jual untuk melunasi sangkutan ku kepada orang-orang, sampai sekarang warung itu adalah kenangan untuk ku"


"ya sudahlah ga masalah nanti kalo kita ga di sambut dengan baik, maka kita akan menginap di penginapan saja" tukas suami ku


"iya, tapi sebelum nya aku minta maaf kalo pas sampai di sana kita tak disambut baik" ujar ku


"ga masalah yang jelas kita kesana hanya ingin menghalalkan pernikahan kita" jawab nya seraya menggenggam tangan ku aku membalas nya dengan tersenyum "tapi aku rasa semua nya akan baik-baik saja setelah mereka tau pencapaian yang kamu peroleh"


Mungkin akan seperti itu, karena aku pun tak ingin masalah ku berlarut terlalu panjang lagi, mungkin sekarang yang tepat. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan bersama keluarga seperti dulu, aku punya segala nya tapi seolah hidup ku ngambang karena bahagia ku sendiri tak bersama orang-orang yang aku sayang, sebagai anak aku ingin mengabdi di saat usia senja ke 2 orang tua ku. Tak hanya mertua tapi orang tua sendiri pun aku ingin membahagiakan nya.


Sama seperti dulu waktu aku mempunyai usaha sendiri, aku mampu membahagiakan orang-orang di sekeliling ku. Aku ingin semua nya terulang seperti dulu, aku ingin aku ingin berbagi bersama mereka.


"tapi abba yakin mereka akan menyambut kedatangan kita, apa lagi anak-anak kita bawa untuk bertemu dengan mereka" tukas suami ku "nanti abba yang akan berbicara langsung dengan bapak"


aku tersenyum mendengar kesungguhan suami ku, semoga akan baik-baik saja.


"jangan minta mahar yang aneh2 yaa" ujar nya sambil becanda


"engga paling mentok pengen pesawat pribadi" jawab ku sambil menikmati makan yang ku sediakan.


"elaaahhh minta nya sultan banget" jawab nya sambil mencubit hidung ku


"ga lah biarin, mereka punya mata ko mereka berhak melihat apapun" jawab nya sekena nya.


seperti itulah gurauan suami ku mengusir kegelisahan ku, dia paling tau saat aku memikirkan masalah.


"ba, telfon ummi udah dimana sekarang" ujar ku pada suami ku


"nii udah tersambung" tukas suami ku memberikan ponsel nya pada ku


"ummi" sapa ku "assalamualaikum mi, udah sampe mana?"


Aku pun mengobrol lewat telfon dengan mertua ku, aku merasa tak hati membiarkan mertua ku naik bis sendirian, mengingat usia nya yang sudah senja.


"udah ummi ga apa-apa" jawab beliau menenangkan ku


"kaki ummi pasti sakit gantung terus di bis" ujar ku


"engga kan ada tas yang bisa buat ganjal kaki ummi" jawab nya yang selalu membuat ku merasa tak enak.


"ya sudah besok kalo urusan di kampung sudah selesai, dian jemput ummi ya" ujar ku menegaskan "ummi jangan pulang sendirian lagi"


"iya, kalian sudah hampir sampai atau masih lama?" tanya beliau


"masih lama ummi, cuma kasian kang tristan di paksa nyupir terus, ni lagi di rest area" jawab ku


"anak-anak ga rewel kan?" tanya beliau


"engga ummi, lagian kan ada teteh nya jadi ringan lah" jawab ku

__ADS_1


"ya sudah dulu yaa kalian hati-hati di jalan" ujar ummi


"kalo sudah sampai jangan lupa telfon ya ummi" ujar ku "assalamualaikum"


"iya waalaikum salam" jawab ummi mengakhiri telfon ku.


"ba, udah istirahat nya yuu" ujar ku ke suami ku


"gimana ummi?" tanya nya


"kata nya sih udah mau sampai" jawab ku "ga enak sama ummi ba"


"yu anak-anak naik mobil lagi" tukas suami ku ke anak-anak juga pengasuh nya "yuu sayang biar cepet sampe bapak yaa"


suami ku memang paling sayang sama si bungsu dia menggendong nya. Terdengar riuhan anak-anak yang riang akan bertemu dengan kakek dan nenek nya sepanjang perjalanan mereka tak henti nya becanda saling berebut makanan segala macam lah tingkah anak-anak. Kalo si bungsu di depan karena suami ku ingin didekat nya.


Entah apa yang di namakan ikatan batin mungkin ini si bungsu sangat dekat denga abba nya meski bukan ayah kandung nya. Aku baru tau ikatan batin tercipta karena intens nya bertemu dengan seseorang. Itu yang di rasakan bungsu pada suami ku. Dia selalu bercerita sepanjang jalan dengan abba nya, bahkan sampai ganggu abba nya menyetir. adem nya mobil saat mereka tertidur baru pengasuh mereka bisa istirahat.


"mba,,,kalo cape istirahat aja ya,,,biasa gantian yaa jaga anak-anak" aku selalu mengingatkan mereka "toh mereka sudah bisa main sendiri"


"bu, apa ga kaget ya nanti orang-orang disana kita bawa pasukan segini banyak nya?" tanya suami ku becanda


"kaya nya mereka pingsan kali ba" jawab ku "bertambah banyak pekerjaan mereka, tapi kita ga semua membebankan ke mereka ko kan kita nanti belanja buat keperluan kita disana"


"bu,, pasti orang-orang bakal salut ke ibu" tukas nya


"udahlah ga usah fikirin, biar mèreka cukup tau aku yang sekarang dan aku yang kemaren" jawab ku santai "setidak nya aku ga di anggap sebelah mata oleh mereka"


"selama ini kamu masih kontak sama temen-temen di kampung?" tanya nya


"ga sama sekali, tapi aku masih menyimpan kontak mereka" jawab ku


"teh,,,bilang ke mama kalo teteh mau pulang" ucap suami ku ke si sulung "biar ga terlalu mendadak"


"tapi nomer rumah ga ada yang aktif ba" jawab sulung ku


"ke temen-temen teteh aja upload jadi biar ada salah satu dari mereka yang bilang nanti" ujar suami ku


"oh,,,iya atuh" jawab si sulung.


Benar saja seketika sulung upload, saat kami dalam perjalanan langsung ada yang menanyakan tentang keberadaan kami, berita kepulangan kami tersebar begitu cepat. Bagus lah biar ada persiapan buat mereka karena aku membawa orang begitu banyak.


"benar kan?" tukas suami ku "setidak nya kita ga ngerepotin mereka banget, soal nya kita bawa anak-anak sama pengasuh nya."


"nanti kalo sudah sampai pasar kita belanja buat keperluan kita selama disana ya ba" tukas ku


"sekalian buat acara kita?" tanya nya


"jangan dulu ba, itu biarkan mereka yang mengurus kita kasih mentah nya saja, sekalian kita musyawarahin apa saja yang abba perlukan disana" jawab ku


"ya udah" tukas nya "kita mau langsung terus atau gimana?"


"terus aja ba, kalo sering berhenti yaa ujung nya ga sampe-sampe toh udah deket ini" ujar ku


"berepa jam lagi kira-kira?" tanya nya


"sekitar 2 jam lagi ba" jawab ku.


seharian kami di jalan akhir nya sampai, hati ku trasa deg degan terasa enggan untuk turun. Anak-anak langsung berhambur setelah sampai ke tempat nenek dan kakek nya mereka turun dengan gembira. Di sambut bapak dan mamah ku dan aku pun turun bersama kang tristan yang mendampingi ku.

__ADS_1


__ADS_2