
Waktu persidangan pun sebentar lagi akan di gelar aku sudah menunggu di podium kejaksaan menunggu panggilan, begitu berdebar rasa jantung ku membuat nafas ku sesak seketika. Aku celingukan mencari kang tristan, suami ku. Ternyata sedang berbicara dengan mas ganjar kuasa hukum ku.
Tak tenang rasa nya ingin secepat nya sidang di buka, agar cepat selesai ingin rasa nya aku mengungkap siapa pelaku di balik kekisruhan ini, siapa yang sudah memfitnah ku sampai hidup ku seperti ini. Tak sabar ingin cepat selesai kasus ku, kasus yang tak pernah aku mengerti, kasus yang tak aku lakukan sama sekali tapi aku terlibat jauh di dalam nya.
Hakim segara memasuki ruang persidangan, tubuh ku seketika mati keringat panas dingin keluar dari sel pori-pori kulit ku, ketika semua hadir dalam persidangan ku termasuk mertua ku aku kaget kenapa beliau bisa tau kalo aku ada dalam masalah yang rumit dan kompleks. Mas ganjar duduk di sebelah ku dan memberi pencerahan sedikit tentang jalan nya persidangan, aku menganggukan kepala tanda telah mengerti apa yang di instruksikan pada ku.
Aku melirik kang tristan dan ummi yang duduk bersebalahan, aku melihat raut wajah sang ibu yang menyiratkan kesedihan sekaligus menguatkan ku, tak terucap tapi aku sangat paham dengan tatapan mata nya yang masih teduh untuk ku. Terdengar ketukan palu hakim ketua tanda persidangan akan segera di mulai, aku di persilahkan duduk di depan hakim dan di sumpah dengan Al-Qur'an di atas kepala ku, merinding rasa nya aku saat di sumpah dengan kitab suci ku yang di todong diatas kepala ku.
Aku duduk di kursi pesakitan yang tersedia membuat ku benar-benar sakit mental, aku mendapat persatu pertanyaan yang menyangkut tentang masalah penggelapan dana yang sama sekali tak aku lakukan bahkan tak tau menau tentang hal ini. Semua nya terjadi dalam sekejap mata yang langsung menghancurkan nama baik ku, aku benar-benar jatuh dalam masalah ini. Aku malu terhadap semua orang terdekat ku
Pertanyaan dari penuntut selalu aku sangkal karena memang aku tak melakukan nya, mas ganjar yang menjadi kuasa hukum ku pun akhir nya angkat bicara membela ku dan menyodorkan semua barang bukti termasuk video rekaman yang menunjukan ada nya seseorang yang terlibat dalam tindak penggelapan dana tersebut. Samar-samar tak terlalu jelas saat aku melihat video nya tapi mas ganjar bekerja sama dengan semua pihak yang terkait dalam kantor ku yang akhir nya dapat mengungkap rahasia permasalahan ku.
__ADS_1
Entah siapa yang ada dalam video tersebut, mas ganjar dan kang tristan suami ku menyembunyikan identitas orang itu, entah apa maksud nya hanya saja suami ku bilang itu surprise untuk ku saat nanti persidangan. Yang bikin aku penasaran suami ku bilang orang itu yang sangat mengenal ku dengan baik, karena nya mudah saja aku di jebak karena dia sangat paham betul karakter ku? Kalo tersangka itu bisa mengenal ku tapi kenapa aku tak paham dengan nya bahkan video nya pun tak jelas.
"siapa orang itu ba?" tanya ku ke suami ku satu hari sebelum persidangan "jangan bikin aku penasaran, abba ga tau gimana rasa nya jadi aku"
"justru karena abba tau watak kamu" jawab nya yang masih menyembunyikan identitas pelaku.
"maksud nya?" tanya ku
"iya kalo kamu tau orang nya sekarang bakal habis dia sama kamu?" jawab nya mengejek ku "karena kamu kalo udah marah kaya kuda lumping makan beling"
"mau kemana?" tanya suami ku
__ADS_1
"makan beling" jawab ku ketus. Aku marah saat aku tanya serius malah di ejek seperti itu. Aku keluar kamar dan duduk di balkon melihat cahaya bulan yang terang membuat sedikit rasa nyaman di hati ini.
"jangan marah dong" tukas suami ku yang langsung memeluk ku dari belakang. Aku tak membalasnya aku menampik tangan nya dan pergi ke bawah menyusuri jalan kecil menuju mang yang berjualan aneka cemilan. Sepintas aku melirik suami ku yang memperhatikan ku dari atas, aku cuek berjalan kembali ke balkon kamar ku sambil menengteng cemilan yang aku beli.
"udah marah nya?" tanya nya semakin meledek. Aku duduk di anak tangga yang menuju kamar tempat ku menginap. Tak ku gubris ledekan nya "tambah endut atuh ngemil mulu"
masih tak ku jawab nyinyiran nya aku masih memandang langit yang dihiasi dengan indah nya cahaya rembulan yang terpancar sangat menenangkan jiwa.
"pake ya biar ga dingin" tukas suami ku memasangkan jaket ke punggung ku, aku masih terdiam rasa kesal masih menyelimuti hati ku. "udah dong jangan marah mulu, ya udah abba minta maaf ya, maaf banget tadi nya pengen ngehibur aja biar ga badmood eehhh malah badmood beneran"
Aku masih dengan diam sambil ngemil cemilan yang tadi aku beli, suami ku sebenarnya tau saat aku kesal aku bisa berjam-jam berbicara sedikit pun pada nya, masih mending sih diam ku hanya hitungan jam, ada loh yang marahan bisa sampai berhari-hari, kalo aku ga bisa kasihan juga harus di diemin terlalu lama.
__ADS_1
"sayang" suami ku berusaha merayu dengan memeluk ku dari belakang tapi tak ku respon. Aku masih asik dengan cahaya bulan yang indah. "udah dong, ga kasihan gitu, udah capek keeja di eumah malah di diemin istri bayangkan coba"
Capek rasa nya saat sudah ingin mengethui siapa sebenarnya otak dari masalah ini, kenapa sampai dia tega melalukan ini pada ku apa salah ku. Aku sangat menjaga citra ku di kantor maupun di rumah maka nya semenjak kejadian itu aku lebih baik tidak berbicara dengan rekan yang lain dan membutuhakan.