
"aku cape ba," tukas ku ke suami ku
"sabar bu" ucap suami ku yang selalu menenangkan ku "aku tau ibu bisa, percaya deh"
Aku hanya melirik nya, merebahkan diri ku di kursi panjang ku terasa penat hari-hari yang ku lalui, tak nyaman rasa nya bahkan sampai tidur pun aku tak bisa. Sampai kapan masalah ini berakhir, masih sabarkah aku menerima ujian Mu Tuhan? Segera bebaskan masalah ku Tuhan untuk kesekian kali aku meminta dari Mu.
"sudah,,,jangan menangis harus sabar" ku tumpahkan tangis ku di pundak suami ku seketika aku takut rasa trauma datang kembali apa suami ku tulus? Atau sebentar lagi akan pergi meninggalkan ku seperti yang telah mas iman lakukan dulu?. Aku menatap lekat wajah nya
"kenapa memandang abba seperti itu?" tanya nya pada ku
"aku minta maaf, telah menyeret abba ke dalam masalah ku" jawab ku aku hanya bisa pasrah seandainya suami ku yang sekarang meninggalkan ku disaat aku ada masalah "kalo abba malu dan ga kuat, maaf aku bisa sendiri"
"maksud kamu?" tanya nya pada ku kaget
"ini masalah ku ga seharusnya aku melibatkan abba di dalam nya" aku bingung harus bagaimana aku mengucapkan rasa takut menyelimuti pikiran ku
"maksud kamu apa sih?" tanya nya sedikit membentak. "bu, kamu itu istri ku kita ini satu team masalah mu ya masalah ku, ga bisa dong aku santai sementara istri ku menghadapi masalah nya sendiri" aku meangis mendengar penuturan nya entah apa yang ada di otak ku tapi jujur aku memang ketakutan, rasa nyaman yang dia beri membuat ku menjadi ketergantungan pada nya. Aku takut merasakan apa yang sudah ku rasa dulu dengan pernikahan sebelum nya.
"dengar, kita hadapi bareng-bareng" tukas nya meyakinkan ku "ga usah punya pikiran macam-macam, fokus ke masalah ibu. Jangan menambah beban dengan pikiran buruk yang salah"
Aku memeluknya erat ku tumpahkan semua beban yang ada di hati dengan tangis yang tertumpah. Kenapa harus aku yang mengalami hal yang berat dalam hidup ku, kenapa ini terjadi bukan salah ku Tuhan karena aku tak tau apa-apa.
"sudahlah jangan menangis" ucap suami ku lembut "intinya sabar karena Tuhan ga akan menguji umat nya seandainya Dia tau kalo umat nya lemah, jadi harus kuat Tuhan aja percaya ke ibu masa abba mau maragukan keputusan Tuhan, abba tau ibu kuat"
"makasih selalu ada buat ku" ucap ku "aku takut abba ninggalin aku seperti..."
"sssttt" dia memotong kalimat ku "ga akan pernah, ga akan pernah abba buat ninggalin ibu. Sekali lagi dengar Tuhan selalu tepat untuk menitipkan cobaan untuk umat nya, karena Dia tau seberapa kekuatan keimanan seorang umat untuk Nya. Abba yakin ini ujian untuk mempertebal keimanan kita jadi stop for negatife thinking"
Terasa lebih ringan setelah mendengar kata-kata nya, mungkin benar yang di ucapkan suami ku, ini teguran untuk ku lebih berhati-hati agar tak mudah percaya ke orang-orang sekitar ku, kelemahan ku karena aku terkadang tak bisa melihat orang di sekeliling ku berduka karena nya aku bisa terjebak dalam masalah seperti ini.
"tadi di kantor polisi di tanya apa aja?" tanya suami ku. Karena dia hanya menunggu ku di luar saat aku di interogasi petugas kepolisian
"tak banyak, karena mas ganjar yang menjelaskan rincian asumsi nya kepada petugas?" jawab ku
"kenapa lama?" tanya nya
"rumit ba,,,soal nya terpantau dari rekaman CCTV yang tak jelas mungkin sengaja di edit pelaku" papar ku "nanti malam akan akan di pasang CCTV yang tak terlihat oleh pihak luar karena hanya tersambung di kantor big boss"
"oh bagus lah, terus boss kamu?" tanya nya
"mas ganjar yang menghandle semua nya, karena dia belum mengizinkan ku untuk di temui atau di telfon orang lain, ponsel ku pun di sadap untuk menghindari teror pelaku" papar ku lagi
"syukurlah," ungkap suami ku lega "inget orang baik pasti akan menemukan jalan yang terbaik. Than,,,keep smille"
"aku cuma malu kalo sampai berita ini menyebar, aku tak gau bagaimana menghadapi ejekan orang, kasihan anak-anak ba," aku lemah saat masalah ku menyangkut anak-anak. Apa yang akan aku lakukan kalo sampai aku mendekam di kamar sel tahanan seandai nya 1 minggu ini belum menemukan bukti? Bagaimana masa depan nya? Bakal jadi ejekan teman-teman nya pasti.
"udah jangan terlarut, makan ya" suami ku membawakan ku makanan entah kapan dia membuat nya
"kapan abba masak? Cepet banget" tanya ku
__ADS_1
"ini kamu yang masak tadi kan?" jawab nya "abba cuma angetin aja. Yu makan dulu"
"abba aja dulu, aku belum lapar" kata ku
"kamu dari pagi belum masuk apapun sayang,,,jangan sampe kamu sakit" ujar nya pada ku
"bagaimana kalo aku sampai masuk sel tahanan? Bagaimana anak-anak? Pasti mereka akan malu ba" tanya ku "aku mereasa seperti keluarga ferdy sambo ba"
"tu kan,,,sudahlah ga usah mikir macem-macem kamu beda dengan mereka kasus nya aja beda" tukas suami ku "udah ada ganjar kan? Aku tau ganjar bisa nolong kita keluar dari masalah ini, aku tau sepak terjang ganjar dia sudah teruji"
"mudah-mudahan ba" ujar ku "karena kalo dalam 1 minggu ini belum ada titik terang maka aku fix jadi tersangka ba"
"sudahlah jangan tambah-tambah lagi fikiran kamu yang bikin kamu ga nyaman" hardik nya "kita percayakan saja ke tim penyidik mereka pasti lebih tau dari kita. Berdoa saja"
"amiinnn,,,mudah-mudahan mereka menemukan bukti baru" ujar ku penuh harap
"ya sudah makan dulu, pokok nya harus makan abba ga mau ibu sakit, kasihan anak-anak" tukas nya "sok buka mulut abba suapin" suami ku menyuapi ku dengan lembut aku bersyukur dia lebih sabar dari yang sebelum nya semoga kami sampai jannah Mu ya Robb.
"ba,,,atau setelah ini aku resign aja?" ucap ku "mungkin ini jalan nya agar aku bisa mengurus rumah dengan baik, seperti yang abba inginkan"
"kamu yakin?" aku terdiam saat suami ku menanyakan keputusan ku yang terkesan dadakan.
"entahlah, tapi aku seperti tak sanggup seandainya akan terjadi seperti ini lagi" tukas ku
"ga akan karena kita akan lebih teliti lagi" jawab suami ku "tapi kalo ibu mau resign abba lebih senang, karena sejati nya wanita itu hanya bekerja untuk suami di rumah."
Aku terdiam, rasa nya berat untuk aku meninggalkan apa yang telah ku rauh dengan susah payah, aku bisa ada di titik ini bukan mudah membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih ekstra karena harus kuat di timpa berbagai omongan buruk sampai akhir nya aku ada di puncak karir ku, seandainya aku lepaskan oh tidak terasa berat rasa nya.
"terima kasih ya ba" ucap ku
"selama ini meski dengan ibu bekerja tapi tak melalaikan tanggung jawab ibu untuk mengurus rumah dengan baik dan abba ga merasa kekurangan kasih sayang, begitu juga anak-anak" suami ku selalu menenangkan ku saat gundah ku.
"aku takut terulang lagi" setengah putus asa ku ungkapkan semua kegundahan ku
"selama kita bekerja dengan teliti insya alloh semua akan baik-baik saja, semua terjadi karena kelalaian kita bu, terkadang kita yang terlalu percaya dengan orang yang kita tak tau maksud nya" ujar nya. aku menghela nafas panjang beban menumpuk di pundak ku membuat ku lelah dengan keadaan.
"yang terpenting kita sebagai manusia tak boleh putus asa harus yakin, karena keyakinan yang kuat mampu merobohkan karang yang berdiri kokoh, asal keyakinan nya di barengi dengan hal yang benar" ujar nya lagi pada ku
"jangan tinggalin aku ba," ucap ku
"ga akan sayang,,,"dia tersenyum saat menjawab ucapan ku. "you know what honey, what made me fall in love with you until now?" aku hanya bisa menatap nya saat dia mengajukan pertanyaan nya pada ku.
"because you are the toughest woman i've ever met" suami ku tersenyum dan mencium kening ku "aku tau perjalanan hidup mu selama ini, kamu telah melewati hal yang mungkin aku tak bisa melewati nya, aku juga tau apa yang menjadi masalah terberat dalam hidup mu sekarang, antara kamu dan bapak ya kan?" aku terhenyak teringat ke keluarga ku disana memang sampe detik ini sudah hampir 2 tahun aku tak pulang kampung sekedar silaturrahmi ke ibu dan bapak, semenjak kejadian yang menimpa ku sampai aku bercerai dengan mas iman aku memang tak pernah pulang atau menelfon untuk sekedar menanyakan kabar, aku terlalu sibuk dengan dunia ku yang baru, bahkan saat lebaran pun aku tak pulang untuk sekedar menengok mereka.
Aku hanya memerintahkan teman ku untuk menjemput anak-anak ku di rumah kakek dan nenek nya, aku tau aku salah tapi aku yang masih menyimpan rasa sakit yang terlalu dalam, sampai saat ini pun aku belum bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah menimpa ku yang akhir nya semua berantakan karena nya.
"inget sayang, di balik semua kesuksesan yang kamu raih ada ibu yang masih selalu mendoakan mu, abba yakin mama di sana selalu berdoa untuk mu setiap waktu nya karena ga akan ada seorang ibu yang akan membiarkan anak nya jatuh dan sakit terlalu lama. Kamu juga seorang ibu kamu bisa merasakan apa yang mama rasakan untuk kamu"
Aku terdiam mendengarkan semua kata-kata nya tak terasa mata ku berubah menjadi panas dan mengeluatkan air yang menetes di pipi ku. Apa yang harus ku lakukan, apa iya ini terjadi karena sifat egois yang ada dalam diriku. Mulai terjadi perang batin, yang membuat dada ku penuh sesak.
__ADS_1
"kita pulang ke kampung yu,,,sekalian nengok anak-anak juga kan?" ajak suami ku. Aku terdiam aku bingung harus bagaimana.
"turunkan ego kamu, mau bagaimana juga mereka orang tua yang harus selalu kita hormati, ingat pengorbanan mereka sampai kamu bisa seperti ini, tanpa mereka kamu ga akan pernah ada"
Aku masih tak bergeming, berkecamuk semua beban fikiran yang ada, aku teringat semua tentang orang tua, aku adalah anak tertua dari mereka harus nya aku yang dapat mereka andalkan untuk hari tua tapi malah aku yang selalu membuat beban fikiran untuk mereka.
"atau seenggaknya kamu telfon, tanyain kabar mereka" ucap nya pada ku
"jangan sekarang ba,,,aku mau pulang di saat aku baik-baik saja" tukas ku "aku tak ingin mereka tau apa yang terjadi pada ku disini"
"baiklah, sekarang istirahat ya" perintah nya
"anak-anak dimana ba?"
"kata mba mereka masih tidur dari waktu kita pulang tadi" jawab nya "udah jangan terlalu di fikirkan anak-anak sementara biar abba yang mengontrol mereka"
"abba ga kerja? Seharian ngantar aku?"
"sengaja ngambil libur buat nemenin ibu" jawab nya sambil tersenyum
"makasih ya"
"sama-sama, dah tidurin biar kamu cukup istirahat" kata nya sambil menyelimuti ku
"mau kemana?"
"ke ruang kerja. Tidur ya abba keluar dulu" aku merebahkan tubuhku berusaha memejamkan mata dan tertidur. Suami ku keluar dari kamar menuju tempat kerja nya. Di dalam kamar pun aku tak bisa memejamkan mata sedikit pun meski aku merasakan lelah yang tak tertahan tapi mata ku tak juga bisa ku pejamkan. Sampai akhir aku keluar kamar berpapasan dengan anak ku yang akan ke kamar ku
"eh sayang ibu sampai kaget" jawab ku
"ibu temenin aku main yu" dia mengajak ku bermain dengan bahasa bayi nya, sangat menggemaskan. Aku mengikuti nya sampai ke kamar nya
"maaf bu, anak-anak kangen sama ibu nya mereka susah di bilangin" kata baby sitter anak-anak ku
"ga apa-apa mba" jawab ku tersenyum
"soal nya kata bapak, ibu jangan di ganggu dulu"
"ga apa-apa, saya baik-baik saja mba" jawab ku "mba tolong bikinin saya wedang uwuh ya mba, bahan-bahan nya sudah di dapur"
"baik bu" aku menemani anak ku yang sedang bermain dengan riang nya sejenak membuat ku lupa dengan apa yang terjadi. Aku terlalu asik sampai tak sadar kalo kang tristan berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan mendekat pada ku dan anak-anak mereka pun berhamburan kepada suami ku mengajak kami bermain dan mengikuti perkataan mereka, kami menghabiskan waktu menemani bermain dengan anak-anak.
"sayang nanti kita jalan-jalan ke rumah bapak sama mamah ya sekalian kita nengok mamas sama teteh disana." tukas suami ku ke anak-anak.
"maksud nya?" tanya ku
"iya kita akan pergi ke nenek kakek mereka" jawab nya
"aku mau ke bapak abba" ucap anak ku
__ADS_1
"iya nanti ya kita bareng kesana ya" jawab nya ke anak-anak yang merengek minta ke kakek nya. Kebiasaan mereka panggil kakek dan nenek nya adalah mama sama bapak. Sedangkan ke aku dan ayah nya ibu dan ke bapak kandung nya ayah.
"tapi ba?" dia hanya tersenyum dan mengangguk aku tak melanjutkan pembicaraan ku karena tak mau di dengar anak-anak. Aku tak mau mereka mengetahui kalo ibu nya ada di dalam masalah yang sangat berat dan rumit.