ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
pertarungan pertama


__ADS_3

"sudah sana" hardik ku pada suami ku "jangan ganggu aku"


"maaf" ucap nya "udah jangan marah lagi doongg"


Dia mencoba memeluk ku tapi aku menampik nya, aku kesal pada nya kenapa harus di sembunyikan, kenapa mesti di rahasiakan toh awal akhir aku akan tau siapa pelaku yang sebenarnya. Seneng sekali dia berbahagia lah diatas penderitaan ku, empet rasa nya melihat suami ku yang masih senyam senyum apa sih maksud nya? Dia ga ngerasa gitu berbulan-bulan aku di hantui rasa takut, bingung, cemas untuk hal yang sama sekali aku tak tau sekarang pelaku nya sudah ketemu masih saja di rahasiakan pada ku.


"abba tu ga tau jadi aku gimana rasa nya?" hardik ku "aku seperti buronan yang harus selalu sembunyi sementara aku tak tau apa-apa"


"iya abba tau" ujar nya menenangkan ku "toh ibu seperti ini juga abba ikut terlibat kan? Kita satu team ga mungkin sendiri-sendiri"


"terus kenapa pelaku nya aku ga boleh tau?" sentak ku ke suami ku


"karena abba tau ibu bakal syok kalo tau pelaku nya dari sekarang" aku tak tau apa itu alasan reel atau memang karangan yang di buat-buat


"sudahlah aku cape" tukas ku beranjak masuk ke kamar ku. Apa yang akan terjadi besok maka terjadi lah, umur ku di tentukan esok hari saat aku tau pelaku sebenarnya, apa motiv sampai dia tega berbuat seperti ini pada ku.


Aku berbaring di tempat tidur berusaha memejamkan mata, aku akan menghadapi hari yang melelahkan, bahkan mungkin sangat melelahkan karena di persidangan hari akan terasa jauh lebih panjang dari biasa nya. Aku hanya bisa berharap esok aku akan baik-baik saja, dan akan ada titik temu untuk masa depan ku.


malam berlalu begitu cepat, ku persiapkan hari ini dengan semua keikhlasan yang aku miliki apapun yang akan terjadi pada ku, aku sudah siap menerima semua nya aku tak bisa berfikir lagi sudah tak terfikir anak-anak ku, masa depan ku apa yang sudah ku raih sampai hari ini adalah hal yang harus berakhir sekarang juga. Titik air keluar dari mata ku yang langsung ku seka agar tak terlihat orang di luar sana.


Senyum yang terkembang dari bibir ku hanya menutupi kesedihan yang selalu hinggap di hari-hari ku, hari ini senyum ini akan menjadi sebuah tangisan atau akan tetap menjadi senyuman terindah, entahlah aku sendiri juga tak tau.


Waktu sangat lambat membuat ku jengah dengan hal-hal yang ada dalam persidangan, pertanyaan yang tak ku mengerti, untung tim kuasa hukum ku sangat sigap yang langsung membawa dalang dari penggelapan uang perusahaan yang mengatas namakan aku. Aku kaget saat mas ganjar membawa pelaku nya, aku syok bukan kepalang seketika aku tak bisa berfikir atau berbicara sepatah kata pun.


'ahmad' gumam ku. Aku melihat nya tak berkedip, seperti tersambar petir di siang bolong aku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Bibir ku kelu, lutut dan badan ku terasa lemas rasa tak percaya aku melihat nya. "ini mimpi, pasti ini mimpi" bisik ku yang entah apa yang aku fikirkan. Aku menengok ke arah suami ku yang ada di podium penonton bersama dengan ibu nya, seolah menanyakan benarkah yang ku lihat sekarang, atau aku hanya mimpi tetapi suami ku hanya mengangguk pelan yang seperti nya mengetahui apa pertanyaan ku. aku merasakan perih nya mata ku yang membuat ada bulir air yang menetes di sela pipi ku.


Serasa hancur melihat sahabat dekat ku datang menghampiri ku dengan wajah tertunduk dan duduk di samping ku aku melihat nya dengan mimik yang sulit di artikan kenapa, kenapa dia setega itu sama aku? Apa salah ku? Selama ini aku selalu membantu apa yang dia butuhkan begitu juga aku, dia selalu membantu ku setiap aku butuh. Aku tak mengerti kenapa ini? Ada apa dengan nya? Air mata ku belum berhenti menetes.


jalan nya persidangan sangat lambat menurut ku, aku sudah tak bisa lagi konsen dengan apa yang di tanyakan jaksa penuntut atau pembelaan dari kuasa hukum ku. Aku tak tau apalah yang mereka bicarakan mata ku tak kuasa melihat orang yang ada di samping ku adalah teman dekat ku yang selama ini kita selalu bersama, kedekatan kita bukan hanya sekarang tapi sudah terjadi dalam 20 tahun ini, dari semenjak kita kuliah bareng di fakultas yang sama sampe lulus terus berlanjut sampe masing-masing dari kami pun sudah berkeluarga punya momongan dan sampai satu perusahaan kita masih bareng.


Pantas saja suami ku merahasiakan identitas nya pada ku, karena pasti dia mengira aku akan melabrak nya. Tak terfikir sedikitpun dia akan tega melukan ini pada ku, entah setan apa yang merasuki nya sehingga bisa tega memfitnah ku, pantas saja dia tak pernah ada kabar saat aku tertimpa musibah, seolah dia menghilang dari pandangan ku.


Sidang selesai dengan pembacaan vonis untuk ahmad, aku masih terduduk di kursi ku saat petugas membawa ahmad keluar dari ruangan aku tertunduk menangis, bahagia kah aku? Atau sedihkah? Semua bercampur jadi satu aku di tepuk suami ku dan ibu mertua ku juga sahabat ku novi. Aku langsung berhambur ke sahabat ku menangis sejadi-jadi nya novi membalas pelukan ku kami saling merengkuh dan menangis tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir kami berdua sampai suami kami menenangkan kami.


"buu,,,sudah" ucap suami ku pelan mengusap punggung ku "abba tau apa rasa nya jadi ibu, maka nya abba dan ganjar merahasiakan dari ibu, maaf banget"

__ADS_1


"dian" ucap ibu mertua ku


"ummi" aku sesegukan memeluk mertua ku "maafin dian ummi"


"sudah sudah" tukas nya semua sudah selesai "sudaah jangan menangis"


"yuu temuin ganjar" ujar kang tristan suami ku. Aku melangkah menemui mas ganjar yang masih berbicara dengan team kerja nya ku lihat mimik ceria yang terpancar dari rona wajah mereka.


"mas" sapa ku "terima kasih banyak mas sudah membantu ku, maaf mungkin selama ini saya yang banyak ngerepotin mas ganjar dan team"


"sudah tidak usah di fikirkan semua nya baik-baik saja" tukas nya "sudah jadi kewajiban saya untuk membantu semua klient saya"


"mas boleh minta satu hal lagi?" ujar ku


"sebutkan lah" jawab nya


"saya minta mas ganjar bebas kan ahmad dari hukuman penjara nya, bisa?" tanya ku


"maksud kamu?" tanya mas ganjar berbalik tanya. Semua yang mendengar nya pun menatap kebingungan ke arah ku


"yan,,,"hardik suami ku


"tapi yan..." ucap mas ganjar


"mas" sela ku memotong kata-kata mas ganjar yang berusaha mengingatkan ku "anak-anak nya masih kecil, dan ada orang tua yang harus di urus dia adalah tulang punggung keluarga nya, tolong di mengerti"


"tapi yan, hukum itu bukan di lihat dari latar belakang keluarga" papar mas ganjar "dia pelaku penggelapan dana perusahaan sudah menyalahi peraturan, melanggar hukum. Hukum adalah hukum yan, orang yang terbukti bersalah harus menerima konsekwensi nya, tak peduli dia siapa atau bagaimana keluarga nya."


"njar njar, maaf biar gue yang jelasin" sela suami ku "istri gue masih syok" aku di ajak nya pergi keluar dari gedung di ikuti ibu mertua ku, novi dan suami nya.


"kita mau kemana?" tanya ku ke suami ku


"ko nanya? Ya pulang lah, emang mau kemana?" tanya nya berbalik


"yan,,,tenang, sabar oke" tukas novi menenangkan ku. Aku pun diam menurut meski aku tak tenang fikiran ku tak ada disini. 1 jam perjalanan akhir nya sampai di rumah ku.

__ADS_1


"anak-anak kemana?" tanya ku


"masih di rumah lama" jawab suami ku "ummi, ini rumah kami yang baru, ummi baru kesini kan?"


"terus anak-anak kapan di jemput?" tanya nya


"nanti ada grab yang ngantar mereka kesini" jawab suami ku "tristan ingin dian tenang dulu."


"biar saya yang nemenin dian kang" tukas novi


"bang,,,ngopi-ngopi dulu ya, maaf nih ga ada persiapan" tukas suami ku ke suami novi.


"ga usah kang,,,ga apa saya pamit aja dulu ada kerjaan" izin nya ke suami ku "yan saya pulang ya"


"makasih ya bang" ucap ku ke suami novi


"sama-sama" jawab nya


Aku dan novi masuk ke kamar ku, kamar yang sudah 2 minggu aku tinggalkan. Kangen rasa nya suasana kamar adem,,,kamar ku aku sendiri yang design karena aku orang nya suka diem di kamar, karena nya kamar aku buat agar aku lebih betah di kamar. Tapi hari ini aku merasa bingung, hari yang aku nanti kan kebebasan ku malah sahabat ku sendiri yang menggantikan nya.


"noy,,," tukas ku "gue mau ahmad bebas"


"yan,,," hardik novi pada ku "lo sadar ga sih? Hukum itu bukan lo yang bikin ga bisa lo seenaknya main ganti-ganti"


"gue ga nyangka ahmad seperti itu ke gue" ujar ku


"sama yan,,,tapi gue juga ga tau cara buat bebasin dia" tukas nya "lo tau gue sampe ga bisa tidur mikirin kalian berdua. Kesini temen kesana sahabat sama aja"


"kita temuin mas ganjar noy,,," ajak ku ke sahabat ku


"ga bisa yan,,," tukas nya lagi "lo dulu pernah kerja di kantor hukum kan? Lo tau aturan nya.menurut lo gue tenang gitu liat kalian berdua, gue bingung posisi gue serba salah tau ga lo kalian berdua tu sama, sama-sama berarti buat gue, sandaran gue, kalo udah begini gimana coba? Kalian berdua bikin gue sedih"


"kalo gue tau dari awal, mungkin gue bisa bantu dia noy..." ujar ku ke novi "gue ga tau karena kang tristan ga cerita siapa pelaku nya, karena alasan nya takut gue syok"


"lagian kalo lo tau dari awalpun ga bisa ngapa-ngapain kan?" tanya novi "udahlah ga usah lagi bahas, yang penting inti nya lo bisa bebas, kasian anak-anak lo mereka masih kecil-kecil mereka butuh lo"

__ADS_1


Aku dan novi saling menangis, merasakan pedih dan sakit nya karena sahabat terbaik kami malah nusuk sahabat nya sendiri. kalo orang lain aku bisa tega tapi ini sahabat yang udah seperti sodara sendiri, bahkan lebih dari sodara. tindakan apa yang harus aku ambil untuk membebaskan teman ku di kurungan sel? Aku bingung sendiri. Hari ini aku belum bisa berfikir baik.


Beri aku jalan yang terbaik Tuhan, masalah ku selalu aja ada, apa arti nya semua ini, saat aku harus nya bahagia dengan kebebasan ku kenapa teman ku yang mendekam di dalam menggantikan ku, harus bahagia kah aku? Tidak aku tidak bisa bahagia aku tak bisa senang meski aku bersyukur nama baik ku bisa pulih kembali.


__ADS_2