
"kamu dimana?" aku bertanya pada Dian istri ku, tepat nya mantan baru saja tersebut kata mantan terasa sakit saat menyebut nya mantan karena telah 16 tahun berlalu aku selalu bersama nya, aku ga tau keputusan ku salah atau benar tapi semua nya sudah terjadi aku tak bisa menarik nya lagi. Dalam hati ku masih banyak rasa sayang tapi aku cemburu saat dia di dekati laki-laki lain bukan itu saja sstu hal yang membuat ku sangat kecewa pada nya selama ini dia ga pernah jujur pada ku apa yang jadi masalah nya, aku suami nya tapi aku tak di hargai lalu untuk apa aku?
"Tut tut tut nomor yang anda tuju sedang sibuk," selalu jawaban dari operator yang terdengar "ayo angkat, kamu di mana?" aku gelisah saat aampai rumah istri ku ternyata belum sampai. Ya mana mungkin duluan dia toh dia jalan kaki tapi lewat jalan mana dia kenapa saat aku cari tak ketemu. Sampai sore dia belum juga sampai rumah sudah ku susul berapa kali sampai gang terkecil pun aku sisir untuk menemukan nya tapi hasil nya ga ada? Atau jangan-jangan dia bareng laki-laki itu? Pertanyaan yang tak ada jawaban membuat ku emosi. Dari pagi sampai sekarang berapa pesan yang aku kirim tapi tak ada satu pun yang dia bales.
Emosi ku memuncak saat telfon dan pesan ku tak di respon, aku pergi pulang ke rumah orang tua ku dan ku tinggalkan beberapa lembar uang untuk bekal nya. Masih terbayang ingatan betapa sedih nya dia saat tau kalau aku cerai dia tanpa dia tau. Kejam kah aku? Tapi hati ini ga bisa bohong kalau aku kecewa sangat sangat kecewa atas sikap nya. Aku sangat mengerti kalau istri ku adalah wanita mandiri yang tak pernah merepotkan ku tapi aku tak bisa kalau dia ga jujur tentang keadaan nya sekarang. Siapa aku apa guna nya aku kalau ga bisa hargai aku sebagai kepala keluarga. Kenapa aku harus tau dari orang lain kalau usaha nya pailit dan meninggalkan banyak hutang di mana-mana kenapa aku harus tau dari orang lain.
"kenapa kamu ga jujur kalau kamu sedang ada masalah yan?" tanya ku pada nya sebelum aku pergi meninggalkan nya.
"aku ga mau membebani mu mas" kata nya sambil menangis
"apa karena aku pengangguran sekarang?"
"bukan, bukan itu karena aku tau kamu ga sehat kamu belum sembuh bener." kata nya yang sangat menusuk di hati ku "aku ga mau kamu banyak fikiran mas, aku sayang kamu aku ga mau ada apa-apa sama kamu bukan buat aku tapi anak ku mereka masih kecil-kecil masih butuh kamu mas, butuh kita. Tolong ngerti"
"iya tapi kamu ga ngerti posisi ku, bagaimana tanggapan saudara kamu orang tua kamu keluarga besar kamu kepada ku?" tanya ku agar dia sadar wanita boleh mandiri bahkan harus bisa mandiri tapi tak lepas dari kodrat nya sebagai tulang rusuk bukan tulang punggung, tetaplah laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga nya." kamu nyoreng muka aku banget aku seolah tak ada harga nya sama sekali"
"maafin aku mas," kata nya kepada ku " aku bingung aku kacau mas, maaf, terlebih aku ga mau kamu marah yang bisa merusak hubungan kita"
Aku tak bisa terima alasan apa pun aku ga mau harga diri ku di injak-injak mau bagaimana pun aku imam di keluarga yang harus di hargai.
"sekarang cari saja laki-laki yang bisa buat kamu bahagia, ternyata aku memang bukan apa-apa buat kamu" kata ku pada istri ku
"mas jangan kaya gini" rintih nya pada ku "aku minta maaf aku ga jujur ke kamu buat semua nya, aku ga mikirin aku sendiri aku lebih mikirin kamu"
Alasan apapun ga bisa aku terima aku lelah di saat aku ga punya penghasilan istri ku malah seperti ini aku kecewa banget. Dulu aku bekerja di sebuah pabrik di kota aku keluar karena pengurangan karyawan waktu itu aku sangat jatuh beban mental buat ku tapi aku akui istri ku sangat sabar meladeni ku tak pernah dia mengeluh soal aku tak bekerja aku mencari pekerjaan di setiap peluang tak hanya melalui media sosial saja aku pun tanya-tanya ke orang-orang.
"jangan seperti ini mas aku ga bisa kaya gini tolong" rintih nya berkali-kali tapi rasa hati ku sudah tertutup dengan rasa kecewa yang teramat sangat "aku sayang kamu kita sudah berjalan sampai 16 tahun ga mungkin cuma sampai sini kan?"
Aku pergi meninggalkan nya dan anak-anak ku aku beri bekal untuk nya tanpa pamit aku langsung menuju ke rumah orang tua ku. Ku ceritakan semua apa yang telah menjadi masalah ku sekarang.
"ceraikan saja lah bang istri kamu" adik ipar ku mengomentari saat dia mendengar cerita ku
__ADS_1
"kamu tu dari dulu cuma di manfaatin istri kamu sekarang udah seperti ini terserah kamu" ibu ku mengomentari "dari awal juga aku udah ga suka sama dia terlebih sekarang seperti ini."
"yang nama nya watak itu udah susah ilang nya" ibu ku melanjutka kata-kata nya "aku akui istri kamu baik tapi baik pun ga cukup untuk rumah tangga. Jadi sekarang terserah kamu mau melanjutkan dengan keadaan seperti ini atau bercerai dan memulai hidup kamu"
Aku menimbang kata-kata ibu ku memang benar kata-kata ibu dan ipar ku, keluarga nya saja sudah tak menganggap nya karena kejadian ini.
"mba ku memang seperti itu mas, selalu pengen bener sendiri jadi biarin aja." kata adik dari istri ku "aku salut sama mas ko bisa sampe puluhan tahun kalo aku mah belum tentu, watak mba ku keras"
Komentar semua orang menjadi keyakinan buat ku untuk berpisah dengan istri ku, meski aku berat karena bukan cuma rasa ku yang masih sayang ke dia tapi anak-anak juga bagaimana dengan mereka, anak ku masih kecil yang masih butuh kasih sayang ga cuma ibu nya aku juga.
"banyak ko anak korban perceraian yang sukses" argumen ibu ku "yang nama nya anak itu udah punya jalan hidup nya masing-masing. Sekarang fikir kamu bertahan buat anak sementara belum tentu istri mu bisa berubah" kata ibu ku aku ga menyalahkan nya mungkin beliau juga ikut tersakiti dengan tingkah istri ku sekarang.
Apa benar ini jalan untuk ku berpisah? Apa ini jalan yang harus aku ambil? Semua pertanyaan yang tak tau jawaban nya. Aku ga tau keputusan ku benar atau salah
Kriiinnggg terdengar suara ponsel ku berbunyi saat ku lihat layar ternyata istri ku tak mau aku mengangkat telfon nya. Raaa kecewa yang dalam membuat ku enggan berhubungan lagi dengan nya terlebih semua keluarga ku juga sudah tau kejadian yang menimpa ku rasa sudah tak ada beban buat ku lagi.
"mas kalau dengan ini kamu bisa lebih tenang aku ga akan ganggu kamu mas" pesan dari istri ku "aku ikhlas kalau dengan cara ini kamu mau ninggalin aku, aku sadar mas aku sudah sangat menyakiti mu. Salam buat keluarga mu sampaikan maaf ku pada mereka"
Aku hanya membaca pesan nya tak ingin aku membalasnya. Sebenee nya bukan hanya tak jujur masalah keuangan saja yang membuat ku pergi dari nya terlebih karena aku tau di sela kami sedang ada masalah ada laki-laki yang berusaha mendekati nya aku ga tau siapa yang jelas aku membaca pesan yang terkirim untuk nya. Aku tau istri ku ga merespon tapi ko bisa kenal dengan laki-laki di belakang ku. Kapan terjadi kapan perkenalan mereka? Apa dia tak berfikir aku yang gimana ke dia? Semoga memang istri ku tak merespon nya. Semenjak aku membaca pesan masuk di ponsel nya hati ku menjadi was-was ada rass cemburu yang menyentil hati dan bagaimana kalau sampai itu terjadi? Hari berganti hari tak tenang rasa nya aku disini setiap hari ibu ku selalu membahas masalah ku dengan istri ku yang membuat kepala ku sakit. Apa memang benar aku harus berpisah?
"pasti dia akan bawa anak sebagai alasan biar kamu ga ninggalin dia" ibu ku mempertegas kalimat nya pada ku. Apa aku harus mendengarkan ibu ku dan keluarga nya agar aku bercerai dengan istri ku.
"mau sampai kapan kamu?" tanya ibu ku sebener nya aku pun tak mau jadi beban fikiran orang tua ku tapi bagaimana lagi aku harus kemana kalau bukan ke orang tua. "dah sana pergi biar cepet kelar urusan terus masuk kerja." ibu ku juga yang mencari kan ku pekerjaan agar aku tak selalu murung di rumah. Semenjak itu aku memang selalu melamun memikirkan bagaimana selanjut nya kerja ga ada uang pas-pasan aku sangat bingung.
"kalo udah beres kan enak, kerja juga ga bakal terganggu lagi jadi kamu lebih fokus buat masa depan kamu" papar ibu ku "lagian anak kamu di sana kan? Kalo kamu kerja kamu bisa kirim tiap bulan buat keperluan anak mau bagaimana pun kamu ayah nya tanggung jawab ayah ga akan selesai sampai kapan juga"
Aku pergi ke kantor KUA untuk mengurus perceraian kami tak ku beritahu semua keluarga nya biarkan jadi rahasia sementara untuk sekarang karena aku juga masih bimbang apa iya aku harus menceraikan nya? Terasa berat aku melangkah memasuki kantor KUA
"ada yang bisa kami bantu pak" tanya seseorang mengagetkan lamunan ku. Ternyata pegawai dari kantor KUA ini.
"e anu" aku menjawab nya dengan gugup bingung karena jujur aku juga belum siap tapi kalau engga jadi ibu ku keluarga besar ku apa yang harus ku katakan pada mereka, pasti akan ada omelan yang buat aku sesak.
__ADS_1
"silahkan bapak duduk dulu, kalau sudah tenang bapak bisa bercerita sama saya apa tujuan bapak kesini? Tutur bapak pegawai KUA ini.
"apa bapak mau menikah?" tanya nya lagi
"tidak pak" sanggah ku dengan cepat "mm anu pak" aku masih gugup saking bingung nya "anu pak, saya mau mengajukan perceraian" kata ku saat belum mereka bertanya aku sudah mempersiapkan jawaban nya.
"perceraian?" tanya petugas itu, " kenapa cerai pak, kenapa cerai pak memang nya ga ada cara lain?"
"ada hal intern yang tidak bisa saya ceritakan pak" ungkap ku agar tak mempengaruhi niat ku untuk berpisah
"sebentar saya siapkan dulu berkas nya, mana iatri bapak?"
"tidak ikut pa" timpal ku "pokok nya dia tahu beres pa, yang penting cepet tanpa ada mediasi"
"ini pa tanda tangan dan segera urus administrasi nya ke bagian kasir di belakang ya pak" aku segera bergegas untuk menyelesaikan administrasi dan semua dokumen perceraian serta pengahapusan surat perjanjian pra nikah yang di buat 16 tahun yang lalu sebelum kami menikah, sekarang aku menunaikan kewajiban yang ada di dalam isi surat perjanjian kami dulu termasuk hak biaya anak perbulan yang harus aku tanggung, sekaligus biaya istri ku selama 3 bulan sebelum dia mendapatkan pekerjaan, untuk menghidupi diri nya sendiri.
"aturan nya pak bareng sama istri pa soal nya ada tanda tangan yang harus di setujui oleh pihak istri" kata petugas KUA
"istri saya ga di rumah pa, maka nya saya sendiri" jawab ku
"jangan-jangan pa, istri bapak ga tau kalau di cerai" celoteh nya
"sekarang baik nya bapak cepet urus dan saya akan datang sesuai jadwal yang tertera di akta cerai saya." jawaban ku ketus
Akupun meninggalkan kantor KUA tak tenang rasa nya hati entah bagaimana istri ku nanti saat tau kalau aku telah menceraikan nya secara sepihak. Tapi aku tak bisa mencabut gugatan ku karena aku mau dihargai sebagai seorang laki-laki.
"udah beres?" mama ku bertanya saat ku baru pulang. Aku tak menjawab pertanyaan nya.
"aku cape mau istirahat dulu" ujar ku pada mama ku
"makan dulu mam, kamu belum sarapan tadi waktu berangkat sekarang udah mau asar makan dulu gih" aku tak membalas ajakan mama ku sudah tak berselera aku untuk melakukan kegiatan apapun apalagi untuk makan dengan hati yang tak karuan udah membuat ku kenyang. Karena sampai saat ini aku masih memikirkan istri ku, bagaimana dengan anak-anak ku bagaimana aku akan menjelaskan pada mereka nanti saat mereka telah dewasa. Tuhan apa ini keputusan yang benar kalau benar kenapa hati ku masih ragu kenapa ada penyesalan yang menghinggapi hati ku setelah aku menandatangani surat cerai. Tuhan seandai nya ini kesalahan maka tunjukan jalan agar aku bisa kembali.
__ADS_1
"kembali? Bisa kah aku kembali setelah aku menyakiti nya?" bisik ku dalam hati. akan berubahkah sifat istri ku yang tak bisa menghargai laki-laki, seandainya aku kembali?
pertanyaan yang tak ada jawaban yang jelas sekarang kami bukan suami istri lagi aku berharap dia bisa menjalani hidup nya meski kami tak bersama lagi. Aku berdoa semoga dia ikhlas menjalani nya karena aku pun merasa berat untuk menjalani hidup tanpa nya. Semoga ada jalan yang terbaik untuk kami di masa depan.