ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
sudut pandang ummi 2 POV Ummi


__ADS_3

Seharus nya mereka cerita pada ku, tak seperti ini yang akhir nya membuat ku merasa di asingkan. Sejenak aku merasa marah dengan sikap anak dan menantu ku tapi aku juga menyadari alasana apa yang membuat mereka tak memberitahu ku. Sekarang aku hanya bisa berdoa agar masalah nya cepat selesai dan menunjukan siapa yang salah sebenar nya.


Kenapa ada orang yang tega berbuat fitnah kepada menantu ku? Tak habis fikir, dimana letak salah? Awalnya aku datang kesini hanya ingin sejenak menenangkan fikiran malah disini aku tak tenang setelah mendengar penjelasan dari anak ku tentang masalah istri nya. Baru berapa hari aku punya menantu meski siri tapi insya alloh semua halal, buat ku tak masalah karena nanti nya memang mau di gelar resepsi sesuai tata hukum negara.


Aku berdoa semoga masalah nya cepat berakhir agar cepat mengurus masalah pernikahan yang tercatat negara. Aku juga tak malu untuk mengakui mengakui keberadaan anak dan menantu juga anak-anak dari menantu ku, apa yang bisa ku bantu untuk menantu ku ini, meski aku baru mengenalnya tapi aku tau dia orang baik, tak hanya mencintai anak ku sebagai suami nya tapi dia juga menyayangi ku seperti ibu nya dan aku bisa merasakan nya.


tok tok tok suara pintu di ketuk. Aku beranjak dari tempat tidur ku segera membukakan pintu agar aku tau siapa yang mengetuk pintu kamar ku.


"ummi?" sapa mba yang ngurus rumah "makanan nya sudah siap"


"kalian saja dulu yang makan" jawab ku terasa sangat malas untuk menelan sesuatu. Masalah yang di hadapi membuat ku tak merasa lapar.


"kata abba, ummi suruh makan" tukas nya "saya bingung nanti kalo abba nanya mau jawab apa?"


"ya sudah,,,ayoo" ujar ku mengalah untuk memilih bersama mereka daripada runyam nanti nya, ujung nya nambah masalah yang ada.


Kami makan bersama di meja makan tadi nya mereka makan di dapur tapi aku ga ada teman jadi aku menyuruh menemaniku.


"menurut kalian bagaimana boss kalian?" tanya ku hanya sekedar mengorek kehidupan dian karena aku juga belum terlalu mengenal nya. Hanya baru satu kali bertemu saja waktu itu.


"ibu dian sangat baik ke kami ummi" jawab salah satu asisten dian


"ibu ga pernah menganggap kami suster anak-anak atau sebagai pembantu disini." jawab nya "kami di perlakukan sama disini, seperti keluarga"


"ibu juga sangat rajin, di balik sibuk nya ibu masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, masak, nyapu, ngepel tanpa mengandalkan kami" papar yang lain


"ibu dian sangat mandiri orang nya" timpal yang lain


"kami baru menikmati rasa keluarga disini, jarang sekali boss yang seperti ibu dian dan pak tristan" timpal nya lagi.


Aku juga merasakan menantu yang ini berbeda dengan yang disana dia terlihat tulus dalam menyayangi ku. Mungkin memang seperti itu, meski seorang janda beranak banyak tristan tetap bisa menerima nya mungkin mereka sudah di takdirkan berjodoh, terbukti anak laki-laki ku tak malu dengan status sosial yang melekat di istri nya, bagi anak ku tak penting bisa hamil lagi atau tidak, yang jelas seandainya tak di percaya untuk di beri keturunan itu yang di inginkan tetapi jika tidak sudah ada anak-anak dari istri nya yang insya alloh ga akan pernah membuang nya karena dia sudah mengasuh dan mendidik nya dari kecil.


Aku pun akan sama seperti anak laki-laki ku yang akan menganggap cucu tiri ku seperti cucu ku sendiri, aku tak akan membedakan mereka dengan cucu ku yang sudah besar yang sekarang ada di pulau seberang. Aku belum memberitahu kakak nya tristan kalo sekarang tristan sudah berkeluarga karena aku fikir mereka belum ada surat dari KUA setempat, nanti saja kalo sudah di resmikan pernikahan nya maka aku baru akan memberitahu nya.


Aku mempunyai 2 anak laki-laki saja, anak pertama ku ada di pulau seberang yang sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak laki-laki juga, dan yang ke 2 adalah tristan dan juga baru menikah beberapa bulan lalu, dengan teman kuliah nya dulu.


"syukurlah boss kalian baik disini" tukas ku pada mereka "semoga kalian bisa betah bekerja disini."


"insya allo kami akan betah ummi" tukas salah satu dari mereka "bagaimana tidak, ibu dian dan bapak tristan sangat baik pada kami"


"alhamdulillah, saya bersyukur karena nya" ucap ku ke mereka "sudah malam anak-anak kemana? Atau sudah tidur?"


"sudah ummi, mereka sudah tidur sejak tadi sore" jawab salah satu pengasuh


"semenjak ibu dian tidak di rumah mereka terlihat sedikit murung ummi" tukas yang lain menimpali

__ADS_1


"kenapa bisa begitu?" tanya ku


"saya juga kurang paham ummi" papar nya "setiap hari mereka menanyakan ibu nya, saya rasa ibu ada masalah soal nya terlihat dari sikap mereka"


huufff aku menghela nafas panjang terasa berat rasa nya, ingin sekali aku membantu mereka di saat kesusahan seperti ini tapi bagaimana cara nya yang aku bisa hanya mendoakan mereka agar tetap kuat dan mampu menghadapi ujian hidup mereka saat ini.


"besok kalo mereka bangun, suruh ke kamar ummi saja ya" tukas ku ke mereka "sudah malam, apa kalian tidak ingin istirahat mumpung anak-anak sudah tidur"


"maaf ummi, kami akan beresin pekerjaan dulu baru istirahat" jawab mereka


"ya sudah, kerjakan saja kalau begitu" ujar ku.merek pun membereskan meja makan dan beberes sedikit sisa main anak-anak tadi. Aku duduk di ruang tengah dan menyalakan TV untuk sekedar menghilangkan rasa penat yang ada di kepala ku. Sekilas aku melirik mereka yang tengah sibuk membereskan rumah, dan kemudian menghampiri ku dan duduk di bawah kursi ku.


"eee jangan duduk di bawah" cegah ku ke mereka ber 4 "masuk angin nanti"


"ga apa ummi kami ga biasa duduk dengan boss kami apalagi yang sudah sepuh" jawab salah satu dari mereka


"apa ibu dan bapak melarang kalian duduk bareng mereka?" tanya ku penuh selidik


"tidak ummi" jawab nya "ibu dan bapak tidak pernah melarang kami duduk di sofa, hanya saja kami yang sungkan"


"ibu dan bapak orang nya care kepada kami" timpal yang lain "kalo kami nonton TV ibu dan bapak ngamparin kasur lantai dan duduk kumpul disini"


"bahkan terkadang ibu ketiduran di sini bersama kami" timpal yang satu nya lagi


"ohh seperti itu" ujar ku "ya sudah kalian amparin kasur biar saya ikut di bawah"


"memang betul" jawab ku "tapi ummi bukan ratu yang harus duduk di atas kalian"


"tidak apa ummi" ujar mereka "ya sudah anggap aja ummi sebagai ibu suri"


aku tertawa mendengar celotehan mereka yang konyol, aku lupa dengan masalah yang ada jadinya. Aku baru tau kenapa tristan sangat menginginkan dian untuk menjadi istri nya memang tak salah pilih tristan, mudah-mudahan jodoh mereka sampai jannah Mu ya Alloh amiinn. Doa ku dalam hati, aku juga sedikit demi sedikit mulai respect dengan menantu ku yang baru ini pasal nya tak hanya tristan tapi para asisten rumah nya pun sangat menghormati nya karena sikap dan sifat nya sayang benar-benar santun.


Aku jadi tenang mendengar penuturan mereka terhadap menantu ku itu, tenang untuk bisa melepaskan anak ku yang nota bene nya memang sangat dekat dengan ku sebut saja anak mami kata anak zaman sekarang.


"ummi, maaf waktu ibu sama bapak menikah ummi tidak bisa hadir?" tanya salah satu ART nya


"iya,,,ummi hanya di telfon" jawab ku. Aku merasa sedih saat teringat waktu itu


"maaf ummi, memang waktu itu bapak lamar nya dadakan banget" jawab nya "kami juga tau nya waktu hari H nya" papar nya "cuma sore nya kata bapak suruh masak yang rada banyak karena mau ada tamu"


"begitu?" tanya ku "apa kalian berfikir sama seperti ummi?"


"maksud nya?" tanya mereka berbalik "saya tak paham maksud ummi?"


"maksud saya apa boss kalian sudah melakukan hal yang tak pantas sampai mereka menikah secara mendadak?" tanya ku seperti polisi yang mengadili tersangka pencurian.

__ADS_1


"saya tidak tau ummi" jawab nya "tapi saya rasa tidak ummi, karena setahu saya kalo bapak menginap disini ibu tidur sama kami di kamar anak-anak"


"iya ummi" timpal yang lain "bukan maksud membela ibu tapi ibu sangat kencang dalam menjaga barang yang dia punya, sebelum bapak dekat dengan ibu, sebelum nya ibu sudah pernah dekat dengan laki-laki lain tapi ibu juga tak pernah menyerahkan diri nya sembarangan. Itu yang saya salut dari ibu ummi"


"ibu dian wanita yang tangguh menurut saya" yang lain memberi pendapat "saya juga seorang ibu mungkin tak akan bisa seperti ibu dian, cerita hidup nya sebelum seperti sekarang membuat saya lebih berkaca ke beliau ummi"


"memang bagaimana?" tanya ku yang juga kepo dengan masa lalu menantu ku


"saya juga tau dari bu novi, temen nya ibu dian" dia mengawali cerita nya, aku mendengarkan dengan jeli setiap cerita ART yang menceritakan boss nya, panjang lebar dan di kali tinggi yang berujung membuat ku merasa lebih respect ke menantu ku.


Ternyata kehidupan sebelum bertemu dengan anak laki-laki ku sangat lah menantang adrenalin keibuan ku, sebegitu nelangsa nya kehidupan sebelum nya, yang tak tau akan terjadi perceraian tanpa tau sama sekali. Kasihan dian ternyata menyedihkan sampai perpisahan setelah menikah begitu lama nya, tapi takdir Tuhan memang tak pernah salah untuk umat nya, setelah berpisah dengan suami nya dia mendapatkan tristan yang begitu menyayangi nya dan juga anak-anak nya.


Seolah mendapatkan penawar rasa sakit nya dian mendapatkan anak ku tristan, yang mudah-mudahan sampai tua nanti seperti janji tristan pada ku karena hanya dian yang membuat nya menunggu sebegitu lama nya. Rencana Mu begitu indah Ya Robb perpanjanglah jodoh nya agar sampai bertemu dengan Mu satu saat nanti.


"siapa novi?" tanya ku


"teman dekat nya ibu di kantor" jawab nya


"hebat juga ya ibu dian sampai bisa mencapai karir yang bagus" ujar ku


"iya ummi, doa saya semoga ibu dian dan pak tristan selalu murah rizki karena mereka sangat dermawan ummi" tukas nya


"benarkah?" tanya ku


"iya ummi, ga hanya ke kami tapi kalau setiap punya rizki anak-anak yatim pun selalu ke bagi rizki nya" jawab nya


"seperti nya kalo ngomongin tentang boss kalian ga cukup sehari semalam kali ya?" tanya ku mereka pun tertawa


"bisa aja ummi" ucap mereka


"iya soal nya ini sudah malam besok kan kalian kerja kapan kalian akan tidur?" tanya ku


"oh iya" timpal mereka "maaf ummi, jadi ganggu istirahat ummi"


"tidak apa" jawab ku "ngomong-ngomong kalo saya disini ngerepotin kalian ga?"


"ummi ngomong apa sih" cetus mereka "ya tidak lah ummi kami seneng malah kalo ummi disini, setidak nya kami ada pengasuh nya"


"oh mau bayar berapa kalian ke ummi sebagai pengasuh kalian" tanya ku sambil becanda


"ummi bisa saja" jawab nya "setidak nya kalo ada ummi kan kami ga seperti ayam kehilangan induk ummi"


"iya ummi ga ada yang bisa di ajak nanya-nanya" timpal yang satu nya lagi


"ya sudah kalian tidur gih, ummi juga mau tidur" tukas ku

__ADS_1


"selamat malam ummi" kompak nya mereka. Aku hanya mengangguk dan masuk kamar segera merebahkan tubuh ku ke kasur. Aku pun terlelap sampai pagi hari


__ADS_2