ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU

ANTARA ENGKAU DIA DAN AKU
marah nya rian POV Rian


__ADS_3

"maksud kamu apa tadi?" tanya ku ke dian "bisa ya kamu? Maksud kamu apa?" aku menyeret tangan nya ke sebuah lorong rumah nya. Dia meronta minta di lepaskan.


"lepasin mas, sakit!" bentak nya "kamu ga usah nanya ke aku, aku kenapa?" kata nya pada ku. Baru kali ini dia membentak ku.


"maksud kamu?" aku menanyakan kejelasan nya


"pernah kamu berfikir bagaimana aku disini? Pernah kamu tanya bagaimana kabar ku disini? Pernah kamu ngerasa seperti apa aku saat kamu ga ada?" jawab nya menegaskan pada ku "ga mas kamu ga pernah ada buat aku, dalam beberapa bulan ini kamu cuma telfon aku 2 kali, hanya 2 kali mas pertama waktu aku yang telfon setelah kamu pulang dari sini dan yang ke 2 kemaren waktu aku pulang, itu juga aku yang selalu telfon mas bukan kamu dan apa alasan kamu saat aku tanya maaf yan mas sibuk kerja. Itu cuma alasan buat menghindar, mas aku juga kerja kamu tau bagaimana aku bekerja disini, inget selama kamu disini aku selalu ada waktu buat kamu mas, tapi mana kamu untuk ku?"


kami hanya bisa diam, kami terdiam cukup lama sampai novi datang menghampiri kami.


"maaf aku menyela" kata novi "jangan menyalahkan dian mas,,,dian seperti ini karena kami teman nya peduli ke pada nya. Aku tau kalo dian memang tidak mencintai laki-laki tadi, karena yang dian butuhkan bukan cuma cinta tapi ketulusan kejujuran dan tanggung jawab."


Novi pun meninggalkan kami, dian sempat beranjak mau meninggalkan ku tapi keburu aku cegah, aku cekal tangan nya.


"ngapain lagi mas, semua nya sudah jelas" tukas nya pada ku yang membuat dada ku sakit


"belum yan,,,karena aku masih sayang sama kamu" ucap ku pada nya


"maaf mas, aku ga bisa" jawab nya singkat


"kamu ga mencintai nya kan?" tanya ku pada nya karena berdasarkan cerita novi dian memang tak mencintai nya


"cinta bisa datang kapan aja mas, sama kaya dulu waktu aku ke kamu, tapi cinta ku kamu sia-sia kan" tukas nya. Tak tau kah kalo aku sakit mendengar nya


"ga gitu yan, aku udah bilang kalo aku nunggu waktu yang tepat agar bisa sebanding dengan kamu" tukas ku pada nya. Aku memang ragu setelah aku tau dia yang sebenar nya tapi aku tak bisa membohongi hati nurani ku kalo aku sangat mencintai nya


"sebanding apa?" tanya nya pada ku "apa aku ngebandingin kamu mas, engga kan? Aku nuntut kamu juga engga kan? Yang aku minta kamu mas, tanggung jawab kamu yang udah buat aku jatuh cinta ke kamu."


"yan,,,aku mohon balik lagi ke aku yan" rintih ku karena aku menyesal sudah benar-benar mengecewakan nya


"ga bisa mas, maaf aku ga bisa nyakitin orang yang udah bener-bener tulus ke aku." jawab nya pada ku


"aku sengaja bawa ibu aku kesini buat lamar kamu" tukas ku, aku membujuk agar dia mau menerima ku kembali


"mau kamu bawa siapapun kesini sudah tidak bisa merubah keadaan mas" jawab nya singkat


"apa karena kamu merasa sebanding dengan nya? Aku tau yan aku kalah dalam segala hal, dia punya gaji gede, punya rumah bagus, berpendidikan yang buat kamu ga malu" aku mulai merendahkan diri ku sendiri karena memang seperti itu ada nya. Aku bukan laki-laki yang berpendidikan tinggi seperti calon suami nya sekarang yang se derajat dengan nya


"ga mas bukan semua yang kamu tuduhkan, kalo aku mandang kamu cuma dari uang kamu sudah dari awal kita ketemu aku mau kamu ajak nikah tapi bukan itu yang jadi tolak ukur ku, aku bukan ABG lagi mas yang harus hidup dengan cinta aku butuh laki-laki yang bisa memperjuangkan aku sebagai wanita" jawab dian penuh ketegasan


"aku minta maaf yan,,,aku janji memperbaiki diri" ucap ku pada nya


"aku udah memberi mu kesempatan berkali-kali tapi kamu ga menghargai nya mas" ucap nya


"apa ga ada celah buat kita kambali?" tanya ku berulang kali


"sudah aku bilang, maaf mas aku ga bisa kang tristan terlalu baik untuk ku sakiti aku ga bakal tega mas" ucap nya pada ku


"tapi pernikahan tanpa cinta itu bohong" tiba-tiba terdengar suara anak nya menangis.


"maaf mas anak ku menangis, aku permisi dan sebaik nya kita ga bahas lagi masalah ini." dia mempertegas bicara nya. Dia pun pergi meninggalkan ku dan menenangkan anak nya.


"eh,,,kenapa menangis?" tanya ibu ku. Aku baru sadar kalo aku kesini bersama ibu.


"biasa bu,,,mereka bertiga memang suka seperti ini." jawab nya pada ibu ku.


"de,,,rumah nya gede banget" kata ibu ku. Dia hanya tersenyum tanpa ingin menjawab. "de,,,berarti gaji nya besar ya sampe bisa mempekerjakan 4 orang sekaligus"


"alhamdulillah bu,,,cukup kalo masalah uang mah" jawab nya


"ibu makanan nya sudah siap" ucap asisten rumah tangga nya. "pak,,,maaf makanan nya sudah siap silahkan masuk ke dalam"

__ADS_1


"oh iya terima kasih" jawab ku aku pun mengikuti nya dari belakang. Aku merasa malas saat makan, suasana hati ku tak menentu, aku kacau, aku kalut.


"maaf saya masih kenyang" ucap ku pada semua "bu,,, aku permisi" aku meninggalkan mereka yang ada di meja makan pergi ke teras belakang. Tak lama ibu menghampiri ku


"ada apa ian?" tanya ibu ku "dari tadi murung kenapa?"


"ga bu ga ada apa-apa" jawab ku. Aku tak kuasa jujur pada ibu ku karena aku tak mau menyakiti nya. "aku hanya cape bu perjalanan jauh. Apa ibu ga cape?"


"ibu tadi siang ke tiduran di sofa" jawab ibu ku


"pantes ibu ga kelihatan setelah dari dapur"


"ian,,,rumah calon istri mu sangat mewah" kata ibu ku "hebat banget, motor ada, mobil punya ga nyangka ibu."


"aku juga ga nyangka bu" jawab ku "awal kenal dia hanya wanita biasa yang tak punya apa-apa, jangankan uang buat makan aja susah bu, aku tak menyangka kalo pendidikan nya jauh lebih tinggi dari aku. Aku mulai minder bu"


"wajar aja, ibu juga ngerasa gimana ya bingung" jawab ibu ku "besok pulang aja ya ibu ngerasa ga betah disini"


"emang besok kita pulang bu, ngapain lama-lama disini" kata ku ke ibu ku "kalo sekarang ga malem dan ga cape sekarang juga aku balik bu"


"kamu kenapa? Ada masalah?" tanya ibu ku


"ga bu ga ada apa-apa, cuma yang punya rumah mau pergi jalan-jalan" kata ku aku terus membohongi ibu ku bukan maksud tapi aku ga mau ibu ku sedih dan kecewe. Niat awal aku kesini hanya ingin mengukuhkan hubungan kami tapi ternyata hubungan ku hanya berjalan sebatas mimpi ku. "ibu mau disini nunggu rumah?"


"ya engga lah. Besok pagi kita pulang ya tapi ibu pengen ngobrol dulu ke perempuan kamu" kata ibu ku


"mau ngapain?" tanya ku. Aku khawatir ibu bicara macam-macam pada nya aku ga mau sampai ada apa-apa ke ibu ku.


"cuma ngobrol aja ko" jawab ibu ku.


"ko pada disini? Di dalam aja bu" dian tiba-tiba menghampiri kami


"iya de,,,ngadem" jawab ibu ku aku merasa marah saat melihat nya aku baru sadar ternyata sakit di tinggalkan orang yang kita cintai


"ibu ga bisa kalo di AC de,,,ibu udah tua" jawab nya sambil tertawa.


"mbaa" panggil dian mba yang di panggil pun menghampiri kami "mba tolong bawain teh hangat sama kopi sekalian cemilan nya juga ya. Saya bikin kue tadi bawa sini aja"


"repot-repot de" kata ibu ku


"ga apa ibu, ibu kan ga pernah kesini baru kali ini kan? Ya ga apa-apa saya jamu ibu" kata nya pada ibu ku


"kamu orang nya rajin ya,,,meski banyak pembantu urusan rumah kamu ga ngandelin ke mereka, tetep kamu yang ngerjain nya" kata ibu ku memuji. Dian memang tipe wanita tangguh buat ku selama aku mengenal nya tak pernah sekalipun dia mengeluh tak salah aku mengenal nya cuma aku menyadari sikap ku yang memang keterlaluan membiarkan layang-layang ku genggam putus sendiri dan orang lain yang mengejar nya.


Jujur aku menyesalkan sikap ku yang telah lalai dalam menjaga hati nya, hati yang selama ini telah ku perjuangkan tapi setelah aku mendapatkan aku terlalu nyaman dengan posisi ku karena merasa telah mendapatkan nya, sampai akhir nya dia pergi dengan sendiri nya.


"de,,,ibu mau nanya seandai nya jadi sama anak ibu apa kamu ga malu?" tanya ibu ku ke rian "anak ibu ga punya apa-apa de"


"buat saya sebenernya seandai nya saya menikah dengan siapapun itu yang jadi jodoh saya, saya akan mengikuti nya bagaimana pun keadaan nya. Kalo ibu tau sebelum saya kesini kehidupan saya lebih buruk dari mas rian. Mungkin mas rian nanti yang bercerita" jawab nya ke ibu ku


"memang seharus nya seperti itu seorang perempuan" kata ibu ku ke dian


"bu,,,saya tau keadaan mas rian sekarang sedang tidak baik-baik saja, usaha mas rian sedang mengalami pailit, saya tau karena nya saya ingin membantu mas rian." kata dian ke ibu dan pada ku "mas tolong terima ya, aku bukan bermaksud apa-apa aku hanya ingin membantu itu saja"


"aku ga mau, aku kesini bukan ingin meminta bantuan" kata ku


"aku tau mas, tapi tolong aku hanya ingin usaha mu kembali pulih" kata nya "mas, kamu tau sebelum ini keadaan ku seperti apa aku pernah mengalami apa yang kamu alami sekarang malah lebih dari kamu sekarang. Kamu masih ingatkan? Jadi tolong mas terima bantuan ku.


"ga,,,berapa kali ku bilang bukan itu yang aku minta." nada ku mulai meninggi


"mas,,," aku potong kata-kata ny

__ADS_1


"kalo aku bilang ga ya engga, aku masih bisa usahain sendiri"


"rian, udah lah terima saja, toh kamu butuhkan?" kata ibu ku seolah memojokan ku.


"ma,,,aku bisa ngatasi semua masalah ku tanpa bantuan siapa-siapa" jawab ku "karena dari dulu saat aku ada masalah toh aku sendiri kan yang mengusahakan nya sendiri"


"mas,,,denger dulu aku hanya niat nolong, sama seperti kamu yang selalu menolong ku dulu. Masih ingetkan sebelum aku seperti ini kamu yang selalu menolong ku, apa pernah aku menolak nya? Ga kan?"


"rian,,,seperti nya dian tulus membantu mu, terima saja ian" timpal ibu ku. Aku tetap tak bergeming karena bukan itu yang aku mau aku tidak membutuhkan uang yang aku butuh sebuah hati yang bisa membuat hari ku lebih bersemangat. Aku menyesal telah melalaikan nya, aku sangat menyesal. "sudahlah terserah, mama sudah tak tau harus bilang apa lagi, kamu yang lebih tau. Mama masuk dulu mau istirahat cape rasa nya badan. Di tinggal ya de"


"oh iya bu,,," jawab nya "semua sudah saya persiapkan di kamar depan bu, selamat istirahat"


Sekarang hanya ada aku dan dian, saling terdiam entah apa yang ingin aku katakan lagi, seberapa aku memohon pun dia tidak mungkin kembali pada ku. Bukan uang nya yang aku butuh tapi diri nya yang aku harapkan hanya dia, penyemangat ku motivator ku kenapa aku begitu bodoh membiarkan nya pergi begitu saja, kenapa aku terlalu nyaman dan berfikir dia tak akan pergi dari ku. tak terasa air mata ku menetes begitu perih yang ku rasa sekarang, hati ini terasa seperti di sayat pisau tajam. Dian duduk di samping ku tanpa berkata apa-apa, cukup lama sampai akhir nya,,,


"mas,,," ucap nya pada ku


"kamu tau yang aku mau yan,,,"nada suara ku bergetar karena menahan rasa yang aku sendiri merasakan sakit yang teramat dalam


"mas,,," aku memotong kata-kata nya


"jangan bicara apa-apa lagi, mau sampe berbusa pun kamu ga akan pernah kembali pada ku yan"


"mas tolong jangan seperti ini" kata nya "aku ga maksud nyakitin kamu tapi kamu yang memaksa ku menentukan pilihan ku."


"kamu tau aku sakit yan denger kamu akan jadi milik orang" kata ku mata ku meneteskan air yang tak bisa ku bendung.


"mas, kalo kamu sakit aku lebih dari kamu "tukas nya "setiap hari aku nunggu kabar kamu, entah itu telfon, pesan atau apa hanya 1 menit saja kamu ga pernah ada mas. Aku yang selalu menghubungi kamu, aku yang selalu menanyakan kabar kamu. Itu juga ga setiap hari kamu balas."


"aku mau kamu kembali" ucap ku memelas


"ga bisa mas,,,maaf." jawab nya penuh ketegasan "aku ga bisa menyakiti orang yang sudah tulus menyayangi ku"


"kamu fikir aku main-main?" kata ku "aku serius mau hidup bareng kamu, aku berusaha kumpulin uang agar bisa sama kamu, biar kamu ga malu di depan teman-teman kamu"


"aku tau tapi kamu lalai dalam menjaga hubungan kita mas, kamu asik dengan niat kamu, dengan kesibukan kamu sampai akhir nya kamu lupa dengan ku disini."


"aku minta maaf yan" tukas ku


"sudah mas, sekarang tolong lupain aku dan perbaiki usaha kamu aku akan bantu. Tolong jangan di tolak" tukas nya pada ku


"aku ga mau yan,,,yang aku mau kamu bukan yang lain" jawab ku


"terserah kamu mas yang jelas aku sudah berusaha yang terbaik buat kamu."


Dian pergi meninggalkan ku sendiri di teras terlihat kekesalan nya pada ku. Aku menggapai tangan nya sebelum pergi


"temenin mas disini untuk yang terakhir yan" dia pun duduk kembali disamping ku. "terima kasih sudah menutupi ke ibu ku yan"


"ga mas,,,aku ga bohong ke ibu kamu" jawab nya "aku menjawab apa yang beliau tanyakan pada ku. Apa aku pernah menyepelakan mu mas? Ga pernah kan, aku memandang laki-laki yang aku cintai bukan dari status sosial nya mas, aku pernah mengalami fase terendah dalam hidup ku di mana ijasah yang ku hasilkan tak berguna, aku bukan perempuan marealistis mas, karena menurut ku uang bisa di cari dan di perhitungkan."


"aku berfikir salah ke kamu yan, aku merasa minder di depan kamu" tukas ku pada nya. Dia hanya tersenyum getir


"karena kamu hanya memikirkan dari sudut pandang kamu aja, kamu hanya nyaman dengan pemikiran mu yang tak jelas"


"kejam banget ngomong nya"


"sekejam kamu yang telah melalaikan ku" jawaban nya sangat menusuk


"maafin mas yan,,,"


"sudahlah mas kita saling melupakan aja, meski sakit aku harus bisa" jawab nya membuat ku menahan rasa perih.

__ADS_1


"sudah malam mas, aku mau istirahat dulu. Sebaik nya kamu juga istirahat. Kamar mas depan kamar ku" jawab nya pada ku


Kami masuk ke kamar masing-masing. Kamar nyaman tapi membuat ku merasa gelisah tak bisa membuat ku terpejam dan sejenak melupakan kejadian hari ini.


__ADS_2