Argantara Mega

Argantara Mega
Serangan


__ADS_3

Siang harinya.


Bayu yang baru saja turun dari mobil mencium bau sesuatu yang aneh. Sang supir memperhatikan saja anak majikannya ini.


"Ada bau? Bau.. Seperti mesiu?? Tapi dimana??" gumam anak itu sambil mendekat mencari bau itu.


Deg!


Jantung itu berdebar cepat. "Papa!"


Arga yang saat ini sedang mengetik sesuatu di laptopnya terdengar seperti Bayu memanggilnya. Ia menajamkan telinganya lagi.


"Papa! Turun! Cepat! Ada sengaja yang meletakkan bom dirumah kita!"


Ddduuuaaarrr!!!


Mata Arga melotot. Benar, itu suara lengkingan Bayu. Arga refleks saja berteriak kuat sambil berlari turun ke bawah.


"Tidaaaakkk!!! Bayuu!!!!!"


Duam!


"Astaghfirullah! Apa itu?!" pekik Mega yang juga terkejut mendengar suara ledakan itu. Ia berlari ke arah suara.

__ADS_1


Belum lagi mencapai pintu Arga sudah berlari seperti angin melewati tangga yang membuat Mega semakin ketakutan setengah mati.


Tiba didepan pintu, asap sudah mengepul di sebelah sisi mobil yang kini sudah terbakar.


Deg!


Deg!


"Tidak! Putraku! Bayu!!" pekik Arga dengan melewati asap dan api yang semakin membakar mobil itu.


Mega tercenung di tempat. Matanya melotot melihat mobil yang baru saja tiba itu terbakar sudah sebagiannya.


Lutut Mega lemah bagai tak bertulang saat Arga memanggil nama putranya. Perlahan pandangan mata itu mengabur dan..


"Ya Allah! Neng Mega! Den Arga!" pekik Bi Inah saat melihat halaman rumahnya dipenuhi dengan api yang semakin besar karena melahap mobil milik keluarga Arga.


Sedangkan Arga tidak menghiraukan panggilan Bi Inah. Yang ia pikirkan kan saat ini ialah Bayu. Putranya. Mata itu mengabur seketika saat mencari keberadaan Bayu tidak ada.


"Bayu! Kamu di mana nak? Papa Disini!" seru Arga sambil mengelilingi rumah mereka yang sedang terbakar saat ini.


Bayu yang berada di dalam pelukan seseorang terbangun saat mendengar suara Arga.


"Papa! Abang disini!" jawabnya dengan suara lirih karena menahan asap yang sudah mengepul memasuki paru-parunya.

__ADS_1


Arga tidak mendengar suara lirih Bayu. Ia tetap berkeliling di sekitar mobil itu. Taman bunga Ummi Ira sudah habit terbakar.


Menurut perkiraan Arga, jika mobil itu akan meledak sebentar lagi. Ia semakin was-was. Dengan cepat ia mengambil stok pemadam kebakaran berukuran besar yang sengaja ia sediakan disana dan hanya ia yang tahu di mana letaknya.


Tepat berada di ujung kaki Bayu terkapar bersama supir mereka saat ini, tauing pemadam itu berada.


Bayu yang merasa jika Arga ada disana, memanggilnya lagi. Tetapi tetap saja Arga yang sedang panik tidak mendengar suara lirih Bayu yang semakin tidak bersuara.


Arga dengan sigap menyemprotkan cairan pemadam kebakaran yang sudah melahap separuh mobil miliknya itu.


Air mata itu terus bercucuran di pipinya saat melihat Bayu tidak berada di mana pun.


"Hiks.. Bayu! Papa Disisni Nak! Kamu di mana? Hiks.. Kamu dimana?" ucap Arga lagi dengan berurai air mata.


Mega yang sudah sadar pun tidak kuasa untuk menahan tangisnya. Ia menangis tersedu di pelukan Bi Inah saat mendengar suara Arga memanggil bayu yang tidak tahu dimana.


Pikiran buruk Mega saat ini mengatakan jika Bayu terbakar di dalam mobil itu karena melihat Arga semakin gesit menyirami mobil miliknya itu.


Sementara Bayu, ia terus berjuang berusaha menyadarkan Pak Supir yang memeluknya begitu erat.


"Pak, bangun! Papa Arga sudah datang. Papa!" serunya lagi tetapi suara itu sedikit kecil.


Sang supir tidak juga bergerak karena dirinya pingsan saat ini. Saat terciam bau aneh, supir Arga yang merupakan suami Bi Inah itu segera menggendong bayu dan berlari ke sisi lain saat ia berteriak memanggil Arga.

__ADS_1


Nahas, ia terpental saat bom itu meledak. Dirinya memeluk Bayu dengan erat dan terhempas ke dinding demi melindungi bayu. Anak majikannya.


__ADS_2