Argantara Mega

Argantara Mega
Tiba di Medan


__ADS_3

5 jam 30 menit berlalu.


Kini Bibi Nita sudah tiba di kota Medan. Pertama kali ia menginjakkan kakinya di Bandara Kuala Namu membuatnya tersenyum hangat.


Ia turun dari pesawat dengan mendorong koper miliknya. Hanya dengan menggunakan gamis hitam dan hijab senada, kini wanita paruh baya itu disambut hangat oleh anggota Arga.


"Assalamu'alaikum Nyonya.. Saya orang suruhan Tuan Arga dan Nyonya Mega. Kami diminta untuk menjemput Anda." Ucapnya dengan hormat pada Bibi Nita.


Bibi Nita tersenyum, "Waalaikum salam.. ya, saya tahu." Jawabnya masih dengan mengukir senyum manisnya.


Orang suruhan Arga mengangguk patuh dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk mengikutinya.


Mereka berlima mengawal Bibi Nita hingga tiba di mobil sedan berwarna hitam.


Ia segera masuk setelah pintunya dibuka. Bibi Nita masuk dan mulai meninggalkan Bandara Kuala Namu menuju tempat tinggal Arga yang berjarak dua jam dari Bandara.


Sepanjang perjalanan Bibi Nita berbicara dengan asisten Arga. Beliau sempat terkejut saat asisten Arga mengatakan jika mobil mereka sedang diawasi dan di ikuti.


Asisten Arga yang bernama Burhan itu menenangkan bibi Nita di serang panik. "Pasti mereka mengincarku. Mereka itu suruhan Damar, nak! Bibi harus apa? Apa yang harus Bibi lakukan? Bibi tidak ingin kalian yang mendapat masalah. Karena Bibi, kalian yang mendapat masalah!" Ucapnya pura-pura semakin panik saat mobil itu menyalip mobil mereka.

__ADS_1


Cekiiitttt!!


Suara gesekan aspal dan ban mobil begitu nyaring terdengar. Bibi Nita semakin ketakutan. Wanita paruh baya itu tersenyum sinis melihat beberapa orang yang ia kenal turun dari mobil mereka.


Senyum seringai yang begitu menakutkan tetapi asisten Arga tidak mengetahui itu.


Lima orang berbadan tegap itu menyambangi mobil mereka dan mengetuk pintunya.


"Buka pintunya! Sebelum kami memecahkannya dengan ini!" tunjuk salah satu dari mereka dengan alat senapan laras pendek yang kini mengarah ke kaca mobil tepat di sebelah Bibi Nita.


Bibi Nita semkin menyeringai. "Buka pintu nya Han! Saya ingin tahu, apa yang di inginkan oleh suami saya sampai-sampai ia mengutus orang-orang nya yang bekerja di Medan untuk menghentikan laju mobil Kita!" imbuhnya dengan suara yang halus namun begitu dingin.


Burhan melihat padanya. Bibi Nita mengangguk dan tersenyum. Senyum yang menurut Burhan begitu menakutkan.


Burhan segera membuka pintunya. Orang itu mundur sedikit.


Setelah pintu terbuka, salah satu dari mereka menarik paksa Bibi Nita dan mendirikannya di luar mobil.


Wanita tua itu terkekeh, tetapi terlihat menyeramkan. "Kalian itu sebenarnya mau apa?? Kalian mau saya?? Tidak salah? Saya itu sudah tua! Tidak cocok untuk kalian berlima. Sekali saya melayani kalian semua langsung tepar dan mati saya!" ucapnya sengaja berkata demikian.

__ADS_1


Anggota Arga menahan tawanya saat Bibi Nita mengatakan hal itu.


Suruhan tuan Damar itu melototkan matanya. "Nyonya.." lirihnya merasa malu.


Bibi Nita terkekeh lagi. "Cepat katakan! Apa yang kalian inginkan! Jangan mengganggu perjalanan saya!"


Deg!


Deg!


Orang suruhan Damar itu menunduk takut. Aura Bibi Nita sangat dngin saat ini. Tatapan mata yang begitu tajam membuatnya semakin terlihat seperti sedang menghakimi lawannya.


Seseorang yang memegang lengannya mengangguk sambil menelan salivanya. "Ma-maaf Nyonya. Kami diperintah oleh tuan untuk menggeledah isi koper Nyonya dan mengambil sesuatu disana.." jawabnya dengan menunduk takut.


Bibi Nita memutar bola mata malas. Ia mendengus. "Dia pikir aku ini bawa apaan?! Sampai-sampai harus diperiksa seperti ini! Yang kayak saya ini maling saja!" ketusnya sambil menyeringai dan berjalan ke bagasi untuk mengambil koper muliknya dan ia bawa menuju kepada lima orang yang sedang menunggunya.


Mereka yang mendengar ucapan Bibi Nita menunduk takut. Mereka sangat mengenal siapa Bibi Nita.


Seorang paruh baya tangan kanan Tuan Damar sedari mereka masih belia hingga saat ini.

__ADS_1


"Nah!" katanya sambil melempar kopernya di kaki kelima orang yang saat ini bergetar tubuhnya karena aksi spontan dari sang Nyonya.


Bibi Nita mendengus melihat itu.


__ADS_2