Argantara Mega

Argantara Mega
Lepaskan!


__ADS_3

Tina menangis pilu seorang diri karena Nita tidak mendengarkan penjelasannya sedikit pun. "Hiks.. Kamu salah paham Mbak. Suami kita tidak pernah mencintaiku. Dia lebih mencintai mu. Ia sangat mencintaimu.. Tidak dengan ku Mbak. Dia hanya menjadikan ku budak nafsu nya saja. Berbeda dengan mu. Kamu ratu dihatinya. Aku terpaksa menikah dengannya karena permintaan almarhum Surya dulunya. Surya itu sahabatku.. Hiks.. Surya.." lirih Tina dengan terisak.


Tuan Damar tergugu seorang diri di belakang pintu ruangan pribadinya yang terbuka sedikit. Ia terduduk lemas disana sambil merenungi nasibnya yang akan berubah karena ditinggal pergi oleh istri yang sangat ia cintai.


"Kamu salah paham mbak.. Aku tidak pernah menginginkan posisimu. Kamu yang lebih berhak dariku. Aku pergi kemana pun karena semua itu tugasku sebagai asisten Pribadi di kantor dan diranjangnya yang tidak kamu ketahui sama sekali.. Hiks.. Hiks.. Aku menyesal tidak mengatakannya padamu, Mbak.. Kembali.. Jangan tinggalkan aku seorang diri.. Kamu sangat baik padaku sebagai maduku.. Maafkan aku Mbak Nita.. Haaaaa.. Aaaaa.." isak Tina sesegukan dilantai ruangan yang sudah bersih dari pecahan kaca.


Tuan Damar bangkit dan melangkah dengan gontai menuju dimana Tina berada. Ia duduk bersimpuh dihadapan Tina.


"Maafkan aku Tina.. Maafka aku.." lirihnya dengan segera merengkuh tubuh ringkih Tina yang dibalas dengan sentakan kuat dari Tina.


Tuan Damar semakin erat memeluknya. Benar seperti kata istri pertamanya tadi. Ia memang mencintai Tina tetapi tidak sedalam cintanya pada Nita. Cinta yang tumbuh seiring waktu karena terbiasa.


Bohong, jika ia tidak mencintai Tina. Lihatlah perilakunya saat di ranjang. Siapa yang lebih dulu di dahulu kan oleh Tuan Damar jika bukan dirinya?


Ia sengaja membawa Tina kemanapun pergi karena hanya Tina yang tahu segalanya tentangnya. Bukan Nita tidak tahu, hanya saja kesehatan Nita sangatlah tidak memungkinkan.


Tuan Damar mencintai kedua istrinya. Bahkan sangat mencintainya. Ia marah pada Tina karena satu fakta tentang kedua putranya yang ternyata sengaja dipalsukan oleh orang tidak bertanggung jawab.


Kedua anak Tina merupakan darah dagingnya. Ia selalu berlaku adil kepada kedua istrinya. Hanya saja yang ia tidak tahu, jika kedua istrinya sama terlukanya karena perlakuan dirinya.

__ADS_1


"Maaf Na.. Maafkan papa.. Papa salah.. Papa salah.. Maaf Na.." lirihnya lagi semakin erat memeluk tubuh ringkih Tina yang selama satu jam lebih ia gempur karena rasa kecewa.


"Hiks.. Hiks.. Kamu jahat pa! Sekarang Mbak Nita pergi! Kamu jahat! Aku benci sama kamu! Aku benci!! Lepas!!" serunya dengan suara melengking tinggi dan tubuh yang meronta-ronta.


Tuan Damar semakin erat memeluk dirinya.


Sementara di luar ruangan, Nita masih berdiri disana dengan senyum mengembang. "Aku tidak salah melkaukan hal ini. Kalian berdua memang pantas untuk bahagia.. Tetapi tidak dengan kehadiranku. Aku tahu, aku hanya orang lain di kehidupan Damar saat ini. Sudah ada ratu baru yang bertahta dihatimu. Maka dari itu aku memilih mundur. Semoga kalian bahagia.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak.


Ia menyusut buliran bening yang mengalir di kedua pipinya.


Rasanya sakit sekali. Orang yang selama ini kita cintai dan kita rubah perilaku nya menjadi baik sudah melupakannya sebagai orang pertama.


Nita erasa dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Damar. Karena di kehidupannya saat ini sudah ada Tina.


"Aku tidak salah meninggalkan mu. Aku tidak salah.. Ya Allah.. Kenap sesakit ini melepasnya?? Hiks.. Kuatkan aku.. Ikhlasjkan hati ini seperti selama ini yang ia lakukan padaku.. Allahu akbar.." dadanya terasa begitu sesak hingga ia jatuh mendadak di depan pintu Lift.


"Sayang!" terdengar suara seruan dan tapak kaki berlari cepat ke arahnya.


Ia tahu itu suara siapa.

__ADS_1


Tapi ia tdak ingin goyah dan membuak matanya. Nita berusaha bangkit dan menekan tombol lift.


"Tunggu Mbak!"


"Tungga sayang!" lagi, suara itu terdengar.


Tak tahan, Nita menoleh pada mereka berdua.


Deg!


Deg!


Tap.


Dua pasang kaki itu berhenti di tempat saat melihat tatapan dingin dari Nita untuk keduanya.


"Ta.." lirihnya dengan air mata membasahi kedua pipinya begitu juga dengan madu nya yang kini menggeleng ke arahnya.


"Lepaskan aku Tuan damar! Kamu sudah cukup hidup denganku! Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Selama ini aku selalu berusaha membuatmu baik, tetapi apa?? Kamu tetap tidak melihatku lagi. Aku sudah tersisishkan sejak kehadiran istri kedua mu."

__ADS_1


Tuan Damar menggelengkan keplanya. "Nggak gitu ta. Kamu salah paham.."


Nita tertawa sumbang. "Maaf tuan Damar. Saya bisa mengerti bagaimana seseorang yang sednag jatuh cinta! Bohong jika kalian berdua tidak saling mencintai. Di depan ku saja yang lebih kau dhulukan saja Tina?? Dalam segala hal pun Tina yang kau dulukan. Aku??? Selalu tersisihkan! Jadi.. Buat apa bertahan jika cintamu tidak ada lagi untukku?? Lebih baik aku hidup sendiri di hari tuaku daroapda akau harus melihat sabn hari suami dan maduku bercumbu di depanku dan aku selalu di sisihkan! Lepaskan aku Damar!"


__ADS_2