Argantara Mega

Argantara Mega
Kenapa Pa?


__ADS_3

Arga terkejut.


Bagaimana mungkin Bayu tahu? Sedang orang-orang ku tidak terlihat dimana pun??


Bayu tersenyum tipis. Ia bisa melihat wajah Arga yang kini terkejut karena ucapannya. Bayu melanjutkan lagi ucapannya,


"Kenapa Papa diam? Bayu benar bukan? Papa selama ini selalu mengawasi Mama Mega. Papa bohong sama semua orang! Kenapa? Kenapa papa berbohong pada semua orang dan juga diri Papa Sendiri? Bukankah Papa masih sangat menginginkan Mama Mega? Papa sengaja menolak kenagn itu karena mama Mega terpaksa menikah dengan ayah Surya dan itu menyakiti hati Papa??" tanya Bayu mendesak Arga yang saat ini terdiam dan tidak tahu harus berbicara apa.


Semua pertanyaan Bayu membuat lidahnya kelu untuk menjawab dan bertanya lagi. Semua yang Bayu katakan itu memang benar adanya.


"Kenapa Pa? Jawab Bayu!"


Arga menatap dalam pada manik mata hitam yang sama sepertinya itu. Hanya saja Bayu tidak sepenuhnya bisa melihat wajah tampan Arga yang kini sangat terkesiap dengan semua pertanyaannya.


"Papa?"


Arga menghela nafasnya. "Benar! Semua pertanyaan kamu itu memnag jawabannya adalah benar! Karena Papa masih menginginakn mama kamu. Papa masih menginginkannya sedari dulu. Tetapi karena satu hal, Papa mencoba melupkannya. Tetap saja tidak bisa. Papa sengaja berbohong dan menutup diri dari semua orang karena jauh di dalam hati ini masih menginginakn mama kamu yang menjadi istri papa. Salah, jika Papa menginginkannya?"


Bayu menggeleng, "Nggak. Papa nggak salah. Hanya saja Papa sudh berdosa. Berdoa karena menginginkan sesutu yang bukan menjadi milik papa!"

__ADS_1


Arga terkekeh, "Siapa bilang mama Mega bukan milik papa, hem?"


"Bayu lah! Emangnya siapa lagi??" jawabnya yang membuat Arga semakin gemas padanya.


Arga segera menjatuhkan tubuh kecil itu dan menyuguhinya dengan ciuman di seluruh wajahnya.


Bayu yang kegelian tertawa. Hingga suara tawa itu mmebuat kedua orang di depan pintu mereka kini tersenyum dengan menyusut air matanya.


"Sudah Puas?"


"Sudah. Ayo kita kembali. Papi malu ketemu bocah bijak putra cucu mu itu!" ketusnya sambil berlalu dan meninggalkan sang istri yang kini tertawa melihat kelakuannya yang tidak pernah berubah itu.


"Semoga kita seperti mereka ya hunny?"


Ummi Ira mengangguk. "Tentu By. Kita harus selalu harmonis di setiap saat. Tidak perlu mempertontonkan keharmonisan kita di depan orang. Karena dari sekian orang banyak yang melihat kita, ada satu orang yang tidak menyukai kebahagiaan kita!"


"Benar sekali. Inilah yang selalu Mak ajarkan kepada kita semua. Dan lihatlah. Kita semua sama sepertinya."


"Nggak! Kamu nggak sama kayak Papi!" bantah Ummi Ira sambil berlalu.

__ADS_1


"Loh?"


"Iyalah. Kamu itu samanya dengan Abi Hendra! Manja dan selalu usil!" ketus Ummi Ira lagi sambil berlalu memasuki kamarnya.


Abi Raga tertawa. "Tetapi aku cuma manja sama kamu, hunny! Bukan sama orang lain. Bahkan sejak menikah dengan mu? Aku tidak pernah lagi bermanja dengan Ummi Hani? Ingat?"


"Ya, Ya, terserah anda lah Dokter Ragata!" keduanya tertawa bersama di dalam kamar mereka berdua.


Sementara Mega yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kerumahnya, bibir tipis itu tidak berhenti untuk melengkungkan senyum manis.


"Lihatlah Pa. Putri kita sedang jatuh cinta lagi!" ledek Ibu Desi pada Mega.


Pak Adi tertawa. "Benar ma. Setelah dua tahun, bibir itu baru tersenyum. Ia tersenyum hanya pada Bayu saja. Sedang kita orang tuanya? Jangankan senyum. Yang di suguhkan hanya wajah datarnya saja!"


Mega terkekeh mendengar ucapan sang Papa. "Ya iyalah tersenyum papa? Kan cintanya saat ini sudah kembali padanya? Jadi tidak ada yang perlu ia takutkan lagi bukan?"


"Benar! Semoga kamu bahagia Nak?"


Mega hanya mengangguk saja. Bibir itu tidak berhenti untuk melengkungkan senyum manis semanis madu.

__ADS_1


__ADS_2