Argantara Mega

Argantara Mega
Hukuman


__ADS_3

Arga menyeringai kejam. Seringai yang sangat menakutkan. Mega tersenyum dalam hati melihat seringai Arga masih sama seperti dulu saat mereka masih kuliah bersama.


"Permainan segera di mulai! Satu.. Dua.. Boam!" ucap Arga dengan seringai mematikan. Bibirnya tertarik membentuk senyum devil ketika melihat lawannya kini sedang mematung dengan tatapan kosongnya.


"Tidaaaakkk... Putrakuuuu!!!" pekik Mega saat melihat Bayu terkapar dengan tubuh terluka parah.


"Apa yang kau lakukan pada putraku sialan!! Bajingan Kau tua bangka sialaan!! Se tan!!!!"


Ddduuaaarr!


Tuan Samar yang masih mematung tidak sadar jika Mega sudah menyelinap masuk ke dalam ruangan di mana Bayu di kurung.


Arga menyeringai lagi. Seringai yang mengartikan jika tua bangka sialan itu kini akan berakhir.


Ia terkejut karena suara lengkingan Mega yang sedang mengumpati dirinya. Mega histeris melihat Bayu tubuh di penuhi luka lebam.


Ada luka bakar di kedua lengan dan kakinya serta hidung dan mulut Bayu mengeluarkan darah segar.


Mega yang panik segera membuka ikatan tali yang tersimpul dibelakang tubuh keci Bayu.


"Hiks.. Sialan!! Kau siksa Putraku! Huhh?! Tunggu kau! Hiks.. Bangun sayang! Ini Mama sama Papa sudah datang Nak! Bangun Bayu Surya Hadidiningrat!!"


Deg, deg, deg...


Hoosshh..


Nafas kecil keluar dari hidung Bayu. Ia seperti ditarik kembali ke alam nyata saat mendengar suara isakan Mega yang begitu jelas terdengar.


Klep. Klep.

__ADS_1


Mata sembab dan memar itu terbuka. Perlahan tapi pasti ia bisa melihat Mega yang kini terus mengumpati kakeknya dengan sumpah serapah yang tidak pernah ia dengar sama sekali dari sang Mama.


Ia terkekeh kecil tapi meringis setelahnya. "Mama.." panggilnya dengan suara yang nyaris hilang.


Mega yang sedang mengumpati tua bangka sialan itu berhenti seketika. Indera pendengarannya sungguh peka dan sangat tajam.


Ia menoleh pada Bayu, ia terkejut. "Kamu sadar, sayang?! Abang! Bayu kita masih hidup! Bangun Nak! Kita keluar dari sini! Papa sedang menghukum tua bangka sialan yang telah berani menyiksa kamu! Mana rubikmu?" tanya Mega pada Bayu yang di tunjuk dengan dagunya.


Rubik itu berada di atas kepala Bayu sedikit ke kiri kaki Mega. Mega segera mengambil rubik itu dan menyimpan di saku celana nya.


Ia menggendong bayu seperti menggendong baby koala. Bayu meringis saat tangan kanan nya tertarik.


"Sakit ma.."


Deg!


Mega menoleh pada Bayu yang kini menahna sakit hingga tubuhnya bergetar.


Ia hanya menujukkan lengan kirinya yang begeser hingga terasa sakit. Mega kembali mengetatkan rahangnya.


Ia segera keluar dari kamar itu dan menemui Arga yang kini sedang bersidekap tangan di dada saat melihat tangan tuan Damar sedang di ikat oleh anggotanya.


Mega kembali mengetatkan rahangnya saat melihat tua bangka sialan itu. Ia segera mendekati tua bangka itu dan melayangkan kaki kanan nya untuk menendang tuan Damar.


Dugh..


Brukk.


"Arrgghhtt.." pekiknya saat merasakan senjata tempur miliknya lagi dan lagi merasakan sakit saat menimpa lantai.

__ADS_1


Dagunya pun ikut terbentur dengan kuat. Mega, tidak puas sampai disitu saja. masih dengan menggendong Bayu, Mega menginjak tangan tuan damar dengan sepatunya.


Tua bangka itu menjerit kesakitan. Arga tersenyum miring melihat itu. Ia masih menunggu luapan kemarahna dari seorang Mega yang sudah berani mengganggu apa yang menjadi miliknya.


"Kau!"


Dugh..


Dugh..


"Sudah menyiksa putraku hingga kesakitan seperti ini! Hampir saja ia menyusul papa nya karena ulah serakah mu!"


Dugh..


Dugh..


"Aarrgghhtt.." pekiknya sangat kesakitan ketika tangan nya itu di pukul menggunkan balok kayu berukuran sedang.


"Kau ingin menyiksa putraku, huh?! Ini! rasakan ini!"


Dugh.. Dugh..


Pukulan bertubi-tubi Mega berikan pada tua bangka itu hingga ia menjerit kesakitan. Tetapi Mega tidak peduli. Ia terus menyiksa lelaki tua yang tidak punya perasaan dengan teganya menyiksa anak kecil berusia dua setengah tahun seperti Bayu yang tidak tahu apapun.


Mega memukul kepalanya dengan balok kayu itu hingga beliau pingsan. "Cukup sayang! Kamu bisa mendapat masalah jika ia mati!" cegat Arga pada Mega yang kini masih kesal dan marah pada Tuan Damar yang sudah pingsan itu.


Mega melempar balok kayu itu hingga mengenai salah satu anggota tuan Damar hingga diirinya pun ikut pingsan. Sebab lemparan Mega tepat mengenai kepalanya.


"Sudah, ayo kita pulang."

__ADS_1


"Itu belum seberapa dengan penderitaan putraku! kamu akan di hukum sesuai dengan perbuatan mu! Semua rahasia kamu sudah terbongkar! Jika di pikir-pikir, lelaki tua sepertinya kematian saja tidak akan cukup! Karena otak kriminalnya tega membunuh keponakan dan istrinya hingga tewas! Belum lagi saat ini. Ia menyiksa putraku tanpa belas kasih! Akan kupastikan kalau tua bangka sialan ini akan mati dan membusuk di penjara! Tarik semua saham abang yang ada di perusahaan bang Surya! Biarkan perusahaan itu bangkrut! Sita semua hartanya dan berikan kepada dinas sosial! Agar ia tahu, harta tidak sebanding dengan nyawa yang sudah ia hilangkan dua tahun yang lalu!"


__ADS_2