
"Ayo nak kita harus pu- lah? Bayu?!" serunya dengan panik.
Mega berputar mengelilingi tempat itu mencari Bayu, tetap saja tidak di temukan. Mega semakin panik. Ia menangis mencari Bayu yang sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Saat ia berkeliling mencari Bayu dengan air mata beruraian, seseorang menepuk bahu Mega yang kini semakin panik tidak menentu.
"Ada apa Bu?" tanya nya pada Mega yang kini terus berkeliling
"Anak saya Bu! Anak saya Bu!" serunya panik sampai-sampai ia tidak sadar jika di depan matanya ada lubang yang digenangi air kotor. Hingga ia terpeleset dan terjatuh di dalam genangan air itu.
Splasshh.
"Astaghfirullah! Ya Allah.. Basah bajuku!" serunya lagi masih dengan menangis.
Ibu-ibu tetap mengikutinya dan membantunya untuk berdiri kembali walau baju Mega basah separuhnya.
"Hoo.. Anak kecil yang ditutup mulutnya tadi? Saya melihatnya saat seorang wanita yang berdiri disamping anda membawa nya keluar dengan beberapa orang memakai baju hitam!" jawabnya sambil membantu Mega dan mengelap baju gamis kotor itu.
Mendengar ucapan ibu-ibu itu sontak saja mega terkejut bukan main.
__ADS_1
"Apa?!" serunya dengan pandangan mata yang mulai berkunag dan mengabur.
"Iya bu. Saya melihatnya sendiri tadi. Saya pikir anda tahu. Makanya saya diamkan saja. Berarti mereka itu tadi penculik anak?" ucapnya yang membuat pandangan mata Mega menghitam seketika.
Bruuk.
"Astaghfirullah! Bangun Bu! Tolong saya Pak!"
*
*
*
"Eghh.. Ya Allah.. Pusing nya.. Ini kenapa jadi gelap begini sih pemandangan ku?" keluh Mega saat merasakan pusing dan juga pandangan matanya yang masih menggelap.
Bibi Nita terkejut melihat Mega sudah sadar. Ia meletakkan berkas itu dan duduk di sisi Mega.
"Sudah sadar Nak? Ingin sesuatu??" tanya nya yang dingguki oleh Mega.
__ADS_1
"Aku ingin Bayu Bi.. Awh.. Sssstt.. Pusingnya.." keluhnya lagi masih merasakan sakit yang tiada tara di kepalanya.
Sementara Zee dan Arga sedang berbicara saat ini.
"Ini kasus penculikan kak. Aku harus bergerak cepat sebelum nyawa Bayu dalam bahaya!" ucapnya begitu panik dan gusar.
Zee menghela nafasnya. "Kakak tahu Bang. Makanya dengarkan dulu apa kata kakak tentang istrimu. Mega tidak apa-apa. Di usia kehamilan nya yang baru berjalan satu bulan memang sering terjadi seperti itu. Mual, pusing, perubahan mood dan juga seperti yang kamu dengar barusan. Kalau Mega pingsan disana saat ia tahu kehilangan Bayu,"
Arga menghela nafasnya. "Sungguh, aku tidak menyangka Kak. Nikmat Allah itu memang besar sekali. Aku tidak menduga akan mendapatklan kabar baik dan kabar buruk dalam waktu bersamaan. Jika saja Mega sudah sehat, pastilah aku sudah ke Surabaya untuk menjemput Bayu yang kini diculik oleh Kakeknya sendiri! Kalau sampai Bayu kenapa-napa. Maka nyawa kakek tua itu yang jadi taruhannya! Lihat saja nanti!" ucapnya menahan geram saat ia tahu jika dalang dari penculikan itu merupakan Paman Damar sendiri yang menjadi dalangnya.
"Ya, kamu benar. Kumpulkan semua bukti-bukti yang terkait dengannya. Setelah itu, kamu bisa menuntutnya. Salah satunya penculikan ini. Kakak punya ide!"
"Ide apapan? Jangan aneh-aneh kak. Aku nggak mau melakukannya!" seru Arga kesal kepada Zee yang kini terkekeh melihatnya.
"Dengar dulu Arga! Maksud kakak tuh baik. Kalau menurut kamu saran ini baik, maka kamu lakukan berdua sama Mega. Dan jika tidak, lebih baik menunggu kabar kematian tetang putra mu itu saja!" imbuh Zee yang membuat Arga melototkan matanya.
"Haisss.. Kakak kok gitu amat sih ngomongnya? Ayo, katakan! akan aku dengarkan! Tapi jika ini nanti berbelok dari pembahasan, akan ku dorong kakak dari lantai dua ini biar almarhum sekalian!" ketus Arga yang dibalas gelak tawa renyah oleh Zee.
Mega yang terpejam ikut terkekeh medengar tertawa renyah istri direktur Zidan itu.
__ADS_1