
Arga menyeringai lagi saat mereka sudah tiba di tempat tujuan. Titik merah itu berkedip tidak jauh dari tempat saat ini mereka berada.
"Ayo turun! Lakukan seperti rencana. Diam dan lakukan!"
"Baik Bos!" sahut mereka semua.
Semuanya berpencar. Sedang Arga dan Mega, mereka berjalan dengan santainya menuju kerumah yang tidak jauh lagi berada diari sana.
Titik merah itu semkain dekat saat keduanya sudah melihat sebuag gubuk kecil tetapi layak untuk di huni. Seperti rumah penduduk setempat khusus penunggu kebun teh itu.
Salah seorang dari anggota Arga mengabarkan jika pertolongan dari tim B dan tim C sudah berada di tempat. Mereka saat ini sedang menunggu perintah Arga saja untuk turun tangan.
Arga dan Mega memberi isyarat agar selalu waspada terhadap keadaan sekitar. Bisa saja mereka menelusupkan anggotanya di seti celah kebun teh itu.
Kini Arga dan Mega melipir ke sisi lain. Dimana titik merah rubik milik Bayu terus menunjukkan arahnya.
Arga mengangguk kala Mega menunjukkan ruangan dimana bayu disekap saat ini.
Keduanya terdiam di samping dinding itu sambil mendengar rencana yang sedang di susun oleh tua bangka Damar itu.
"Bagus! Mereka akan terjebak jika melewati rute ini. Apakah informasi itu benar jika mereka saat ini sudah bergerak? Jika salah, maka kepala kamu yang aku penggal!"
"Benar Bos! Informan kita tidak mungkin salah dalam melihat jika mobil yang di kendarai orang tua Tuan Muda saat ini sedang berada di jalan. Ini buktinya!" jawabnya sambil menunjuk sebuah mobil yang kini sedang melaju ke arah tempat mereka saat ini.
Arga dan Mega saling pandang dan menyeringai. Mereka berdua tersenyum menakutkan saat mengingat jika saat tadi di jalan mobil mereka di ikuti dan juga sudah dipasang penayadap suara disana.
__ADS_1
Arga dan Mega yang tahu tentang hal itu segera menukar mobil mereka dengan anggota yang saat itu mengikuti mereka.
Beruntungnya mereka berempat, saat di dalam mobil itu tidak ada satupun yang berbicara. Mereka kompak diam membisu. Hanya suara ketikan di papan keybord laptop milik Arga saja yang saat itu terdengar karena Mega sedang mencari sesuatu disana.
Dan saat ini keduanya semakin menyeringai saat menyadari jika tua bangka Damar itu sudah tertipu karena ulah Arga dan Mega tadi.
Arga memnberi kode kepada anggotanya untuk maju dan mengepung rumah itu. Tetapi belum lagi Mega dan arga selesai berbicara sudah ada senapan laras pendek mengarah ke kepala mereka.
"Ck. Ternyata orang yang ditunggu bos sudah kemari ya? Hem.. Licik sekali dua orang ini! Ayo jalan! Sebelum kepala salah satu dari kalian akan tembus dengan timah panas ini!" gertaknya yang membuat Arga menyeringai semakin menakutkan.
Mega terkekeh kecil. "Baik. Baik! Kami akan masuk. Hem.. Ternyata cepat sekali ketahuan ya bang? Percuma dong melakukan penyamaran seperti ini kalau akhirnya tertangkap juga??"
"Hahahaha... Makanya jangan sok paten! Sok jago kamu! Bisa-bisanya kalian menipu kami! Tidak tahunya kalian berdua sudah tiba kesini!" ketus nya dengan menatap tajam pada Arga dan Mega yang tidak gentar sedikitpun.
"Ya.. Apa boleh buat jika memang sudah ketahuan? Lagian kan kami datang kesini cuma berdua?? Lihat aja noh, anggota kamu itu lebih banyak dari kami semua!" ucap Mega merendah diri walau terselip senyum smirk disana.
Mega melirik Arga dengan ekor matanya. Arga memberi kode dengan bibirnya bersiul kecil.
Mega menyeringai.
"Baiklah Paman, apa yang kamu inginkan dari kami? Berkas? Atau nyawa kami?"
Tuan Damar menoleh pada Mega dengan seringai menakutkan. "Hahaha.. Cepat juga kamu berpikir ya? Oke. Mana berkas itu?"
"Ada. Tapi perlihatkan Bayu dulu. Jika Bayu dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun, maka berkas itu akan keluar dari bajuku. Tetapi. Jika Bayu terluka satu gores saja di tubuhnya maka berkas yang kamu mau, hangus!"
__ADS_1
Dduuaarr!!
Tuan Damar terkesiap mendengar itu. Mendadak pias wajah itu. Dan Mega tahu itu. Arga tertawa dalam hati.
Terus lanjutkan sayang!
"Bagaimana? Mana putraku? Perjanjiannya, bukankah kamu menginginkan berkas itu dengan cara Bayu kamu kembalikan kepada ku??"
Tuan Damar terdiam. Raut wajah itu masih terkesiap.
"Tunggu dulu! Apa kamu melakukan sesuatu pada putraku?? Huh?!" pekik Mega hingga memekak kan telinga.
Tuan Damar terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dugaan Mega benar adanya.
Suit.. Suit.. Suit..
Arga bersiul simpul sambil mata menatap ke atas rumah. Anggota tuan Damar curiga saat melihat gerak gerik Arga.
"Heh sialan! Apa yang kamu lakukan dengan siulan mu itu?!" tanya nya pada Arga yang kini menyeringai.
Anggota tuan Damar itu seketika bulu kuduknya meremang. Mereka menatap Arga dengan takut karena saat ini seringai yang Arga terbitkan seperti maut untuk mereka semua.
"Permainan segera di mulai! Satu.. Dua.. Boam!"
"Tidaaaakkk... Putrakuuuu!!!"
__ADS_1
Ddduuaaarr!