
Sejenak ia menyandarkan dirinya yang terpaku di tempat karena ucapan sang istri yang baru saja ia ucapkan setelah puluhan tahun pernikahan mereka.
Sadar jika sang istri sudah pergi saat ia mendengar suara pintu tertutup dua kali. Berarti keduanya saat ini sudah pergi.
Tuan damar bergegas keluar. Benar, seperti dugaannya jika kedua istrinya sudah tidak lagi berada dikamar.
Secepat mungkin ia bergegas menggenakan pakaian yang sudah tersedia disana yang disiapkan oleh Tina sebelum keluar tadi.
Ia egera bersiap dengan sangat terburu-buru sebelum kedua istrinya pergi meninggalkan dirinya.
*
Sementara diluar sana, Tina duduk berhadapan dengan Nita sebelum ia pergi untuk selamanya dari kehidupan suami yang sangat ia cintai.
Ia menatap datar dan dingin pada Tina yang kini juga menatapnya dengan wajah datar.
"Sebelum aku pergi. Dengarkan aku baik-baik Tina." Ucapnya sembari menghela nafas berat. "Aku tidak pernah marah padamu yang sengaja menjebak suami kita dengan mengatakan jika kedua putramu itu anak kandungnya. Yang aku sesalkan ialah.. Sejak kedatangan mu di dalam hidup kami, kamu sudah berhasil mengubah Damar kembali menjadi buas seperti Singa. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Ia sudah berhasil aku bawa ke jalan yang benar. Tetapi sejak bertemu dengan mu dan juga sepupu kamu, Damar berubah menjadi seseorang yang gila harta bahkan tega melakukan hal sekeji apapun!"
Deg!
__ADS_1
Tuan damar mematung di depan pintu.
"Aku tidak menyalahkan mu dalam hal ini. Hanya menyayangkan. Sikap Damar yang dulunya lembut dan penyayang kini berubah menjadi sangat ganas baik itu di kantor bahkan di ranjang."
Deg!
Tina menatapnya dengan nanar. Nita tersenyum lirih. "Aku sadar siapa aku di kehidupan nya. Aku sudah tua. Tidak menarik dan cantik lagi. Tubuh ini halus karena perawatan rutin yang sering aku lakukan. Berharap jika suamiku tidak berpaling ke lain hati. Akan tetapi.. Tetap saja dirinya berubah ketika sudah mendapatkan daun muda yang berumur tiga puluh lima tahun! Berbeda dengan ku yang sudah paruh baya dan juga sudah bau tanah ini. Begitu yang putra kamu selalu katakan saat ia bertengkar dengan putraku. Tetapi tak apa. Aku ikhlas. Aku ikhlas menerima semuanya."
"Bahkan ketika suamiku membawa pulang kamu kerumah kami dan tidur di kamar yang sama bahkan melakukan hubungan pun bersama. Aku tetap diam demi dirinya. Aku memilih diam karena tidak ingin berdebat. Walau ku tahu kamu yang lebih dulu di dahulukan olehnya.."
Deg!
Deg!
"Dan ya, sekarang aku mundur! Aku titip Damar padamu. Semoga kamu mampu dan sanggup memuaskan has rat tuanya itu. Bukankah ketika sudah tua masih ada yang namanya pubertas kedua??"
Tina menatap nanar pada wanita paruh baya yang kini salah sangka padanya.
"kamu benar Mbak Nita. Tetapi kami tidak seperti yang kamu katakan. Suami kamu memnag berhubungan denganku, tetapi sellau kamau yang ia sebut saat kami bercinta. Bahkan tadi pun demikian." Ujar Tian yang ditertawakan oleh Nita.
__ADS_1
"Sudahlah Tina.. Tidak perlu membelanya di hadapanku. Kita hidup sudah lama loh.. Aku sangat mengenal seperti apa Damar dan juga kamu. Kalian saling mencintai. Tetapi karena ada masalah sedikit, kalian berdua menjadi seperti ini. Pesanku, bimbing dia. Tuntun dia menjadi lebih baik. Sekarang kamu yang menjadi Nyonya Damar. Bukan lagi aku. Hubungan ku dengannya cukup sampai disini. Wanita tua ini sudah tidak layak mendampinginya yang masih perkasa itu. Kamu lebih pantas bersanding dengannya. Aku pergi. Pesawatku akan berangkat satu jam lagi. Ini kunci rumah dan seluruh aset Damar aku serahkan padamu. Aku tidak membawa apapun dari rumahnya. Ini cincin mahar darinya aku kembalikan. Pakailah. Bukankah kamu waktu itu sangat menginginkan cincin murahan ini??"
Deg!
Deg!
Tina menggeleng tak percaya, "Mbak.. Nggak gitu.. Kamu salah paham padaku! Aku juga sama seperti mu. Kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan ini?? Kamu salah Mbak! Aku tidak pernah bahagia. Jika bukan karena amanat dari Surya, maka aku tidak mau menikah dengannya.." lirih Tina dengan dada yang begitu sesak.
Nita tertawa lagi. Suara tawa yang begitu menghancurkan hidup seorang lelaki paruh baya yang kini jatuh terduduk saat mendengar ucapan istri yang sangat ia cintai.
"Tidak usah berkata demikian Tina. Aku sudah pasrah saat ini. Sekarang tugasmu ialah membawa nya kembali seperti dulu. Pengorbanan ku selama ini sia-sia lantaran dia sangat haus akan harta dan tahta serta wanita!"
Deg!
Tina menggeleng. "Nggak gitu Mbak! Tunggu Mbak! Tunggu dulu!" cegat Tina pada Nita yang kini sudah meninggalkan nya tanpa berbalik lagi.
Kini tinggallah Tina dan tuan Damar meratapi nasib pernikahan mereka yang sudah hancur akibat ulahnya sendiri.
Karena kelakuan bejat nya kedua istri menderita dan sama terluka akibat perbuatannya.
__ADS_1
Jangan bilang nggak nyambung ye?! 🤨