
Dua Minggu berlalu.
Kini ketiga orang itu sudah diperbolehkan pulang. Mereka sudah sampai dirumah keduanya yang tidak jauh dari rumah Ummi Ira dan abi raga.
Satu komplek yang sama.
Tiba dirumah itu, mereka sudah disambut oleh kedua nenek Bayu. Yaitu nenek Nita dan Tina yang kini memilih tinggal di komplek yang sama setelah hukuman untuk tuan Damar di tetapkan.
Tuan Damar.
Setelah ia pingsan di pukuli Mega, ia segera dibawa ke kantor polisi dan juga semua antek-anteknya.
Mereka akan di hukum karena terlibat kasus penculikan dan penganiayaan terhadap Bayu. Semua bukti sudah ada di tangan Arga.
Sebelum Arga pergi kerumah sakit untuk membawa Bayu, ia terlebih dahulu menyerahkan laptop dan juga rubik milik Bayu yang merupakan jawaban dari semua pertanyan Polisi nantinya.
Disana juga ada fakta yang sangat mengejutkan tentang kematian Surya. Rekan Arga itu menerima amanah itu dengan baik. Ia melaksanakan tugasnya.
Awal dari rencana Arga bahwa tuan Damar akan mereka lemparkan ke dalam sapsiteng, malah tidak jadi. Karena saat itu kondisi Bayu yang tidak memungkinkan. Maka dari itu, ia mengubah rencananya dengan cara langsung saja menjebloskan tuan Damar ke penjara dengan bukti yang sudah ia kumpulkan selama ini.
__ADS_1
"Hah.. Berapa lama hukuman untuk tuan Damar, Bibi?" tanya Abi Raga yang kini menghempaskan bobot tubuhnya disamping Ummi Ira yang juga duduk dengan leluasa karena merasa begitu lelah.
Arga memutar bola mata malas melihat kedua orang tuanya itu. "Makanya kalau mau olahraga jangan siang begini Abi! Berapa ronde tadi? Sampai segitunya kelelahan?" sindir Arga yang di pelototi oleh Mega.
"Lima Ronde!" Arga tergelak kuat.
Ummi Ira terkekeh. "Iyalah lima ronde. Siapa salah tadi, Ummi bilangin Abi nggak dengar?"
"Lah.. Kan Ummi yang nyuruh? Gimana sih?" kesal abi Raga pada Ummi Ira yang kini tertawa melihat wajah suaminya itu kusut karena ulahnya.
Mega terkekeh, "Segitunya ya Bi?" ledek Arga lagi masih menjurus ke arah lain. "Hati-hati loh.. Ntar Abang punya adik bayi lagi! Nggak cocok ih! Abang udah tua Abi! Cukup Prince saja yang terakhir!" tekannya pada Abi Raga yang disambut gelak tawa oleh nenek Nita dan nenek Tina. Ummi Ira mengambil bantal dan menimpuk putra nya itu.
Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe.. Kirain Mi! Abang mau dikasih adik lagi gitu!"
"Hussh! Kalau ngomong, ngaur kamu! Ummi sama Abi udah tuir! Nggak cocok nimang anak lagi. Yang cocok itu nimang anak kamu dan juga semua saudara kamu!" ketus Ummi Ira mendadak kesal.
Semua yang mendengarnya ikut tertawa.
Mega melihat pada Bayu yang kini sedang sibuk dengan rubik baru pemberian Arga padanya seminggu yang lalu sebelum mereka keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Mega mengelus rambut hitam putranya itu. "Pertanyaan Abi tadi belum Bibi jawab kan ya? Berapa lama hukuman paman di penjara? Dua puluh tahun atau seumur hidup?"
Deg!
Gerakan tangan kedua istri tuan Damar itu berhenti seketika. Keduanya menoleh pada mereka semua yang kini menanti jawaban dari mereka. Tina menoleh pada Bibi Nita. Ia yang istri pertama dan lebih berhak menjawabnya.
"Jawab Mbak. Mereka berhak tahu dengan keadaan suami kita.." lirihnya mendadak sendu.
Bibi Nita menghela nafas panjang. "Ia di hukum se umur hidup. Hakim sebenarnya memutuskan hukuman mati untuknya. Tetapi karena ada salah satu dari anggota mu mengirimkan pesan darimu, maka hukumannya diringankan menjadi seumur hidup. Semua asetnya disita. Termasuk perusahaan Surya. Tanah, ruko, rumah dan juga sekolah milik kami sudah di sita oleh pihak berwajib demi membayar denda karena ulahnya.
Terimakasih karena kamu sudah meringankan beban nya dengan cara menaggung kami disini seumur hidup kami." Ujar bibi Nita yang dibalas anggukan oleh Arga.
Ya, pemuda yang meringankan hukuman tuan Damar adalah Arga. Ia masih ingat pesan dari Surya dulunya yang mana jika pamannya suatu saat tertangkap, maka hukum seumur hidup saja. Agar di sisa hidupnya ia bisa bertaubat sebelum ajal menjemputnya.
Dan Arga?
Memenuhi permintaan terakhir Surya sebelum ia mengalami kecelakan nahas hingga menyebabkan dirinya tewas setelah satu minggu koma dirumah sakit.
"Terimakasih banyak Arga.. Mega.. Karena kalian sudah menolong kami hingga ke enam anak kami kini masih di tempat mereka masing-masing." timpal Tina yang diangguki oleh Arga.
__ADS_1