Argantara Mega

Argantara Mega
Sudah jelas


__ADS_3

"Papa. Abang udah bisa lihat dengan jelas wajah Papa dan Mama Mega. Juga semua orang. Akung dan Uti serta Eyang!"


Deg!


Tubuh Arga mematung dengan jantung berdegup kencang. Ingin ia melihat mata Bayu, tetapi Bayu tidak mengizinkannya.


Ia bahkan semakin erat memeluk tubuh hangat sang Papa sambungnya itu.


"Jangan katakan pada siapa pun! Cukup Papa saja yang tahu. Abang tidak mau ada yang tahu dan akan membahayakan semua orang. Kakek Damar mengincar kami berdua. Makanya ia sengaja meledakkan bom dirumah kita saat kami tiba. Abang sudah curiga saat melihat seseorang yang berdiri di pintu gerbang tadi. Abang pikir dia pengemis. Tidak tahunya, dialah pengendali remot kontrol dari bom peledak itu."


Deg!


Lagi, tubuh itu semakin kaku saat ini. Bayu masih memeluknya dengan erat. Tidak ingin melepaskan sedikitpun.


"Mereka menyuruh orang untuk membunuh kami terutama Abang, agar hak waris dari semua harta ayah Surya menjadi miliknya. Abang tahu itu Pa. Saat orang itu memegang remot kontrol untuk meledakkan bom itu, disitulah Abang berteriak. Dan Kakek Joni segera memeluk Abang. Kami berdua terpental dengan tubuh kakek menghantam dinding. Sebelum Papa datang, Abang sempat melihat mereka dengan jelas."


"Kalau mereka menggerutu karena target tidak tepat sasaran. Dirumah kita ada cctv kan ya? Abang bisa lihat kok. Di atas balkon kamar Papa ada kamera tersembunyi disana. Bukan begitu Pa??"


Ddduuuaaarrr!!!

__ADS_1


Serasa di hantam petir tubuh Arga saat itu. Tubuhnya bergetar dengan keringat dingin mengucur di dahinya.


Ia terkesiap saat Bayu tahu jika di sudut tersembunyi kamarnya yang berada di balkon atas yang memang sengaja ia letakkan disana.


Yang membuat Arga, sejeli itukah mata Bayu hingga bisa melihat benda kecil yang hanya seukuran telur ayam di sudut atap kamar nya? Setajam apa penglihatan Bayu saat ini?


Benarkan Bayu sudah bisa melihat dengan jelas??


Bayu yang tahu dari gelagat tubuh Arga kembali berbisik. Bisikannya itu hanya keduanya yang tahu. Karena saat ini keduanya duduk di jog paling belakang dan hanya mereka berdua.


Di depan mereka saat ini ada Ummi Ira dan Mega yang sesekali melirik Arga dan Bayu yang saling berdiaman.


"Papa jangan bingung seperti itu. Jangankan benda kecil seperti itu Abang tahu, bahkan mobil di belakang sana pun Abang tahu. Sedan CVR berwarna putih dengan plat B4432 itu sedang mengikuti mobil kita dari jarak lima belas meter!"


Deg!


Deg!


Lagi, Arga terkesiap. Ia mengurai pelukannya dan melihat pada Bayu yang kini tersenyum dan mengangguk padanya.

__ADS_1


"Papa Abang sangat tampan! Pantas saja Mama tidak pernah mau di jodohkan dengan orang lain!" celutuknya sambil berbisik yang hanya keduanya yang tahu dan membuat Arga melototkan matanya.


Bayu terkikik geli. Arga masih melotot.


"Hihihi.. Papa nggak cocok jadi pemeran orang jahat. Papa itu tampan! Cocoknya jadi Raja kaya raya saja. Dan Abang yang jadi pangerannya!" celutuknya lagi masih dengan berbisik.


Bayu terkikik geli. Arga yang tidak tahan pun ikut terkekeh. Ummi Ira dan Mega menoleh ke belakang dimana keduanya sedang terkikik geli.


"Kamu udah mendingan, Nak?"


Deg!


Bayu melebarkan matanya yang membuat Arga terkekeh lagi hingga suara kekehannya itu mengundang tanda tanya dari ke empat orang yang kini berada di depan sana.


"Jawab, Nak. Uti nanya loh.." timpal Mega yang membuat Bayu mengerucutkan bibirnya kemudian menggeleng.


Arga yang gemas segera menciumi seluruh wajahnya yang membuat anak kecil berusia dua tahun lebih itu tertawa-tawa.


Hingga suara tawanya itu mengakibatkan orang yang ada di dalam mobil itu pun ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2