
Deg!
Deg!
Mega mematung di tempat saat mendengar teriakan Arga yang kini keluar memanggil anggotanya untuk segera kerumah Paman Damar.
Arga juga menghubungi seorang perwira dan juga seorang polisi kenalannya untuk ikut dengan nya kerumah itu demi menyelamatkan bayu yang kini dalam bahaya.
Ponsel Arga terus berdenting membuat pemuda itu semakin panik. Mega tidak bisa berkata apapun saat ini.
Pikirannya mendadak blank. Lidahnya kelu walau untuk satu patah saja mengeluarkan suara.
Arga menyusun rencana penyelamatan Bayu sesuai yang Bayu instruksikan padanya. Mereka terus sibuk membicarakan rencana itu.
Sementara Bayu kini yang sedang di sekap di tempat lain berbeda dari rumah Paman Damar sedang menerima kemarahan tuan Damar dengan menyiksa anak kecil tidak berdosa itu.
Entah apa yang Paman Damar perbuat pada Bayu hingga suara tangisan Bayu melengking di seluruh ruangan itu.
Pintu kamar yang tertutup tidak bisa terlihat dengan jelas apa yang ia lakukan kepada Bayu. Tetapi Arga tahu, jika putranya saat ini sedang di siksa.
Arga meneteskan air matanya saat ia mengatakan rencana Bayu kepada mereka semua.
Arga bisa mendengar dengan jelas dari earphone yang terpasang di telinga itu terhubung langsung dengan rubik milik Bayu.
__ADS_1
Rubik itu bukan rubik sembarangan. Di dalam rubik itu memiliki suatu alat yang bisa mengirim pesan suara dan sinyal dimana keberadaan si pemilik itu. Termasuk juga mereka semua kejadian sang pemiik dimana pun ia berada.
Arga mengepalkan tangannya saat mendengar rintihan Bayu. Ia tidak sanggup mendengar rintihan putranya itu. Sekuat tenaga ia bertahan, tetapi tak bisa. Arga lepas kontrol. Ia menjerit dan meraung meluapkan semua amarahnya saat mendengar teriakan Bayu yang tidak ada hentinya.
Hingga suara itu senyap berganti dengan suara lirihnya.
"Pa-pa.. To-long.. Ba-yu.. A-ba-ang nggak ku-kuat la-gi Pa.."
Ddduuuaaarrr!!
"Tidaaakk!!! Putrakuuu!! Kita bergerak sekarang sebelum nyawa putraku yang menjadi taruhannya! Ingat pesanku!" katanya kepada seluruh anggotanya.
Ia mengusap air matanya dan masuk ke dalam.
Deg!
Bagaimana tidak. Wajah Mega yang terlihat sembab sama sepertinya. Belum lagi tatapan mata itu kosong dan juga kedua tangannya terkepal erat mendengar raungan Arga tentang Bayu tadi.
"Ayo kita pergi! Kali ini, aku sendiri yang akan menghukun tua bangka jahannam itu! Aku akan membalasnya dengan setimpal! Satu tetes darah bayu keluar dari tubuhnya, maka seluruh tubuhnya yang akan aku siksa! Dia menyiksa putra ku bukan? Baik! Kita lihat, sampai dimana dia sanggup menyiksa putraku! Jangan panggil namaku Sri Megalaksmi jika aku tidak bisa menghukumnya dengan tangan ku sendiri! Ayo bang!" ucapnya dengan wajah dingin dan datar.
Ia melewati Arga yang masih terpaku di tempat melihat kemarahan yang tercetak jelas di wajah Mega saat ini.
Maksud hati ingin mengabarkan keadaan Bayu padanya agar ia tidak terkejut, malah dirinya yang dibuat terkejut dengan perilaku Mega yang begitu menakutkan saat ini.
__ADS_1
Setelah Mega pergi, Arga terkekeh dan menyeringai. "Abang tidak akan melarang mu sayang. Kamu ingin menghukumnya? Silahkan! Bukan hanya kamu. Tapi Abang juga akan melakukan nya bersama kamu. Tunggu Abang sebentar Mega!" serunya pada Mega yang kini sudah berlalu keluar dan menunggu Arga di mobil nya.
Setelah siap, Arga segera keluar dan masuk ke dalam mobilnya di mana Mega sudah bermain dengan laptopnya mencari keberadaan Bayu.
Arga tersenyum saat melihat titik merah di laptopnya itu kini menunjukkan kemana arah jalan yang akan mereka lewati.
"Licik juga tua bangka ini, hem? Baik! Dia ingin bermain dengan Argantara Mega ternyata.." ucap Arga dengan seringai yang sangat menakutkan.
Mereka pun segera menuju ke tempat dimana Bayu saat ini sedang di sekap. Sepanjang perjalanan Arga terus berbicara pada Bayu yang dijawab hanya dengan helaan nafas saja.
Helaan nafas pertanda jika dirinya masih hidup tetapi sangatlah lemah saat ini. Mobil itu melesat cepat menuju ke tempat tujuan.
Dimana Paman Damar saat ini sedang tertawa menyaksikan jika bocah kecil itu sudah tidak berdaya dibawah kakinya.
Ia tertawa dengan sangat keras hingga telinga Arga dan Mega sakit mendengarnya. Mereka terpaksa melepaskan earphone itu dari telinga untuk sejenak.
Setelah dirasa suara tertawa merusak telinga itu diam, mereka kembali memasang earphone itu lagi.
Arga dan Mega menyeringai saat mereka sudah memasuki kawasan hutan lebat yang melewati kebun teh terlebih dahulu untuk mencapai ke tempat tuuan.
Arga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang ada. Ia memiliki banyak rencana jika rencana utama tidak berhasil.
Sedangkan Om Lana dan Om Ali kini pun sedang bergerak menuju ke Surabaya.
__ADS_1