Argantara Mega

Argantara Mega
Kedatangan Paman Damar


__ADS_3

Pukul dua belas malam Tuan Damar tiba di kediaman Arga dan Mega. Dirinya mematung melihat rumah berlantai dua bercat putih dan coklat susu itu.


Ia melirik ke pos Satpam. Disana ada dua orang yang sedang berjaga menunggu rumah tuan mereka.


Tuan Damar ingin masuk, tetapi tangannya di tarik oleh Tina. "Sudah malam Pa. Sebaiknya besok saja kita kesini lagi. Aku yakin, jika Mega dan Bayu tidak kemana pun. Sudah malam. Tidak baik bertamu diwaktu malam begini. Ayo, kita istirahat dulu. Tubuhku lelah sekali, Papa." Ucap Tina memelas pada Tuan Damar.


Tuan Damar menghela nafasnya. "Baiklah. Kita pulang dulu. Langsung ke hotel terdekat Pak!" katanya pada supir sewaan nya itu.


"Baik Tuan," jawabnya dengan segera melajukan mobil itu menuju hotel terdekat dari rumah Arga.


Arga, Mega dan Bibi Nita saling pandang kemudian tersenyum menyeringai melihat Tuan Damar pergi dari rumah mereka pasti karena ucapan Tina, begitu kata Bibi Nita.


Sedikit banyaknya Bibi Nita tahu siapa Tina dan bagaiaman cara madunya itu membujuk suami mereka.


Mereka bisa istirahat sejenak sebelum besok pagi akan ada drama marah-marah dan mengamuk diurmah Arga.


*


*

__ADS_1


Keesokan paginya.


Sedari subuh Tuan Damar dan sepuluh orang anggotanya mendatangi kediaman Arga tanpa Tina.


Ia tidak ingin Tina mengganggu acara pertemuannya dengan Mega dan Bayu. Dan ia pun tidak ingin gara-gara Tina bisa melemahkan pendiriannya dengan mengalah pada Bayu dan Mega nantinya.


Maka dari itu, ia datang bersama anggotanya saja. Lima orang dari mereka merupakan orang yang kemarin menghadang Bibi Nita saat diperjalanan menuju ke rumahnya.


Ia melangkah masuk ke dalam rumah Arga dan Mega dengan angkuhnya tanpa mengucapkan salam. Arga dan Mega sudah menunggunya disana.


Keduanya tersenyum melihat kedatagan Tuan Damar dengan wajah angkuhnya itu.


Tuan Damar tidak menyahutinya. Ia malah dengan angkuhnya sengaja langsung duduk tanpa dipersilahkan oleh Arga dan Mega.


Mega menatapnya jengah. "Selalu saja sok berkuasa! Tak tahunya yang dia punya itu milik orang lain!" sindir Mega pada Tuan Damar yang membuat lelaki tua itu menoleh ke Mega dengan tatapan tidak bersahabatnya.


Mega melengos. Ia segera menuju ke dapur untuk mengambil minum yang sudah dipersiapkan untuk tamunya yang berjumlah sepuluh orang itu.


Sambil berjalan Mega terus saja bersungut-sungut karena kesal dengan paman dari almarhum suaminya itu.

__ADS_1


Arga terkekeh saat melihat sang istri menggerutu sepanjang jalan ke menuju ke dapur. Ia menggeleng kecil melihat tingkah Mega yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Tidak perlu basa basi. Saya datang kesini ingin mengambil surat yang sudah istri saya berikan kepada kamu kemarin sore!" katanya tegas sambil menatap Arga dengan tajam.


Arga terkekeh sinis. "Kenapa anda memintanya sama saya? Saya tidak punya hak apapun terhadap berkas itu. Yang berhak itu Mega dan Bayu. Minta saja padanya. Bukankah anda Paman nya dan juga kakek dari putra tiri saya??" ucap Arga membalas ucapan Paman Damar yang terdengar seperti memerintah padanya.


Arga mana bisa diperintah. Ia bisa diperintah oleh keluarga nya saja, Selebihnya, ia lah yang memerintahkan orang.


Arga menyeringai melihat tatapan tajam Paman Damar yang ditujukan padanya.


Mega yang barusaja muncul dari dapur dengan membawa nampan segera meletakkan nampan itu di meja dengan kasar.


Karena sekilas ia mendengar ucapan ketus dari Paman Surya itu.


Tak!


Deg!


"Saya tidak akan memberikan nya pada Paman! sampai mati sekalipun!"

__ADS_1


Ddduuuaarrr!!!


__ADS_2