Argantara Mega

Argantara Mega
Bayu sudah bisa melihat


__ADS_3

Arga dan Mega tersenyum, "Sama-sama Nek. Aku hanya mengikuti pesan Surya saja. Jika suatu saat Tuan Damar dihukum karena kesalahannya, maka kalian haru aku tanggung seumur hidupku. Jangan takut kalian nggak makan selama bersama ku. Harta habis bisa dicari asalkan diri ini sudah sehat kembali. Tapi keluarga yang kita sayangi itu yang lebih utama. Aku mengikuti saran Abi dan Ummi. Jika Nennek ingin berterimakasih, berterimakasihlah kepada kedua orang tuaku." Ucap Arga yang diangguki oleh Mega.


Bibi Nita dan Tina segera mendekati Ummi Ira dan Abi Raga. Keduanya duduk saling berhadapan dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


"Terimakasih Ra. Kamu sudah mau menerima kakak dan mengizinkan kakak serta madu kakak, bukan hanya itu. Kamu juga memberikan tempat yang layak untuk ke enam anak kami. Terimakasih banyak atas kebaikan yang kamu dan suami kamu berikan kepada kami. Kami berhutang budi karena hal ini." Ucapnya pada Ummi Ira yang kini sudah memeluk keduanya.


Ummi Ira mengangguk. Abi raga tersenyum. "Jangan bicara seperti itu Kak. Kalian itu juga bagian dari keluarga kami. Kalian itu Nenek Bayu. Cucu ku. Jadi, mana mungkin aku membiarkan kalian terlunta-lunta diluar sana sednag rumah putraku ini lebih dari cukup menampung kalian berdua?"


Keduanya mengangguk dan terharu.


"Dan untuk anak kalian, itu memang sudah menjadi rencana Arga. Bukankah kakak bilang, kalau ke empat anak kakak itu dibawah asuhan Tuan Damar?"


Bibi Nita mengangguk. "benar. Maka dari itu, kami senang jika kalian meletakkan mereka dipanti rehabilitasi. Begitu juga dnegan kedua anak ku yang kalian titipkan di Pesantren. Terimakasih untuk semuanya. Terimaksih banayak. Itu snagat berguna untuk mereka semau. Pesantren lebih baik daripada panti rehabilitasi mana pun!" Timpal Tina yang diangguki sambil terkekeh oleh Arga.


Masih teringat olehnya seebelum ia koma bersama Mega, salah seorang anggotanya mengatakan jika ke enam orang itu akan datang untuk menuntut balas.

__ADS_1


Arga bilang, "Biarkan saja mereka datang. Jika sudah datang. Kirimkan ke pesantrean Hafidz Qur'an Buya Khalidi. Guruku. Katakan padanya, jiaka ku yang mengirima mereka kesana. Nanti Buya ylangsung yang akan menghubungiku." Katanya pada salah satu anggotanya yang melaporkan hal itu.


Tepat seperti perkataan arga, jika ke ena anak tuan Damar datang kerumah sakit untuk menemuinya. Tetapi belum lagi masuk ke dalam rumah sakit, ke enamnya sudah ditahan dan seegra dibawa ke tempat tujuan seperti yang Arga katakan tadi.


Buya Khalidi menghubungi Arga bertanya tentang kebenaran itu dan Arga mengatakan iya. Tak lama setelahnya ia pingsan.


Arga terkekeh kecil mengingat itu. Bayu yang melihatnya pun tersenyum. Ia turun dari sofa dan menuju ke sisi Arga.


Karena kali ini ia duduk bersama nenek Nita dan Tina. Semua orang yang melihat Bayu beranjak pergi dengan mata dan bibir tersenyum padaarga tertegun.


Arga terkekeh kecil. Ia mengusak kepala Bayu yang membuat bocah kecil itu tersenyum manis pada semua orang.


"Begini. Bayu tidak ingin menyembunyikan apapun tentang dirinya dari kalian semua." Ucap arga yang disambut kernyitan dahi kedua nenek itu.


"Maksudnya?"

__ADS_1


Arga terkekeh lagi. "Bayu udah bisa melihat sama seperti kita. Udah sekitar dua bulan yang lalu!"


"Hah?"


Semuanya tercengang.


Tak lama setelahnya mengucap hamdalah bersama.


"Alhamdulillah ya Allah.. Ternyata cucu nenek sudah bisa melihat??" tanya Nenek Nita pada Bayu yang kini mengangguk dan menatapnya.


"Ya Allah.. Cucuku.." katanya lagi sambil mendekati Bayu dan memeluknya.


Ia menghujani wajah Bayu dengan kecupan sayangnya. Bayu tertawa.


Semuanya pun ikut bahagia melihat Bayu yang kini sudah bisa melihat. Masih teringat oleh mereka kejadian dua tahun yang llau tentang kecelakaan yang mengaibatkan kedua orang tua Bayu kritis hingga meninggal dunia.

__ADS_1


__ADS_2