
Tiga hari kemudian.
Hari ini merupakan hari pernikahan Arga dan Mega. Keduanya sudah bersiap dan sedang menuju ke mesjid komplek perumahan Ummi Hani.
Bayu, putra sambung Arga itu tidak pernah lepas darinya sekalipun. Ia tetap bersama Arga saat ini di dalam mesjid dimana acara pernikahan mereka di gelar.
Keduanya saat ini sedang duduk saling berhadapan dengan penghulu setelah ijab Qobul selesai.
Sempat terjadi kericuhan karena ada salah satu orang suruhan Damar menghalangi Mega untuk menikah dengan Arga tadi.
"Karena kedua mempelai sudah ada disini, segera kita laksanakan pernikahan ini. Sudah siap nak Arga selaku mempelai Pria??"
"Alhamdulillah, sudah!" jawabnya mantap.
Pak penghulu terkekeh mendengarnya. "Wali nikah dari.. Sri Megalaksmi segera berjabat tangan dengan Nak Arga!"
"Baik," sahut Pak Adi dengan segera menjabat tangan Arga dan mulai mengucapkan akad nikahnya.
"Saudara Argantara!"
"Saya Pak!"
"Saya Nikahkan dan saya Kawinkan engkau dengan putri kandungku Sri Megalaksmi Haryanto binti Adi Haryanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian 28karat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sri Megalaksmi Haryanto binti Adi Haryanto untuk saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian 28karat dibayar tunai!"
Deg, deg, deg..
Jantung keduanya berdetak tidak karuan.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
__ADS_1
"Sah!"
"Alhamdulillah-," ucapan Arga terputus saat Bayu menarik bajunya dan berbisik lirih di telinganya.
Deg!
Mata Arga seketika melotot tajam pada seseorang yang kini sedang masuk ke dalam mesjid dengan gaya angkuhnya.
"Hentikan pernikahan ini!"
Deg!
Semua orang terkejut. "Siapa kamu?" tanya Opa Gilang pada seseorang yang baru saja masuk tanpa permisi dan tanpa di undang itu.
Orang itu tersenyum sinis melihat Bayu yang kini pura-pura takut pada suaranya.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya! Yang jelas pernikahan ini tidak boleh terjadi dan tidak sah!" katanya yang membuat semua orang menganga.
Deg!
Orang itu mengepalkan tangannya dengan erat. "Tidak bisa!"
"Saya tidak peduli! Bagi saya pernikahan ini sah sah saja. Lagian, sebelum saudara sepupu kamu menikahi istri saya, saya yang lebih dulu melakukan taaruf dengannya hingga empat tahun lamanya!"
Glek.
Seseorang itu menelan ludahnya getir. Ia melirik Mega yang kini terpaku melihatnya. "Selamat pagi Kakak ipar? Kamu masih ingat bukan dengan saya?"
Deg!
Tubuh Mega bergetar. "Jelaslah dia masih mengingat kamu? Bukankah kamu yang sengaja melakukan penyerangan untuk mengambil Bayu satu tahun yang lalu saat di pusat perbelanjaan??"
Ddddduuuuuaaaarrr.!!!
__ADS_1
Seperti hantaman petir yang begitu kuat mengenai kepalanya. Seseorang itu terkesiap mendengar ucapan Arga yang kini menatapnya dengan sinis.
"Kenapa? Kamu baru ingat??" tanya Arga lagi yang membuat tubuh pemuda sebaya dengannya itu mematung seketika.
"Sial! Dari mana pria sialan ini tahu tentang kejadian satu tahun yang lalu??" gumamnya dalam hati
"Pergi! Sebelum saya membongkar semua kejahatan kamu disini! Atau?"
"Oke! Saya pergi! Tapi setelah ini, saya akan kembali lagi dan akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami!" jawabnya dengan tersenyum menyeringai melirik Mega yang kini semakin pias wajahnya.
"Silahkan! Saat itu terjadi, kamu sudah berhadapan dengan saya. Saya Agantara Putra Hariawan yang akan berdiri paling depan untuk melawan pecundang haus harta seperti kalian!" tegasnya dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Hingga rasanya menghunus ke jantung.
"Breng sek!"
"Kau sialan!" balas Arga yang membuat Bayu tertawa terbahak-bahak mendengar balasan Arga untuk seseorang itu.
Semua tamu itu tertegun melihat itu. Mereka semua saling berbisik. Tetapi Arga tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini ialah sang istri yang kini tubuhnya gemetar.
"Gaga.."
Deg, deg, deg..
Panggilan sayang dari Arga untuknya kini kembali ia dengar. Mega mendongak, Arga tersenyum tedih padanya.
Mata Mega berkaca-kaca melihatnya. "Tenanglah. Saat ini kamu tidak sendiri. Kami sekeluarga akan melindungi kamu dan Bayu dari orang-orang yang berniat menyakiti kalian."
"Betul itu!" timpal Bayu
Arga terkekeh, "Iya dong! Papa Arga!" celutuknya yang membuat suasana di dalam mesjid itu kembali hangat dan mencair.
Wau ada kejadian sedikit, tetapi kini mereka berdua kembali seperti biasanya. Ketiganya sedang berbahagia karena sudah bersatu dalam rumah tangga yang sebenarnya terjadi pada dua tahun yang lalu.
__ADS_1