
Di belahan bumi lainnya saat ini sedang mengalami krisis kebangkrutan. Perusahaan yang di urus sejak keponakannya itu masih hidup hingga sudah tiada, kini terancam bangkrut akibat kebocoran data yang di retas oleh seseorang.
Data-data penting itu kini sudah berada di pihak lawan.
"Aarrgthh.. Se tan!!! Siapa yang berani ingin menghancurkan ku, huh?! Susah payah aku mendapatkan perusahaan ini! Seenaknya saja mereka mencuri data-data perusahaan ini!! Sialaaannn!!! Se tan!!!!" pekiknya dengan mengumpati entah siapa.
Asisten Pribadi serta sekretarisnya tidak berani menjawab. Karena mereka pun kaget saat mengetahui jika perusahaan tempat dimana mereka mencari sesuap nasi, kini terancam bangkrut.
Baru satu hari mereka bahagia karena tender yang di menangkan oleh perusahaan Surya Company's, kini malah terancam gulung tikar akibat kebocoran data kepada pihak lawan yang membuat tender itu di alihkan pada perusahaan lain.
Yaitu perusahaan Alamsyah Company's.
Mendengar nama itu membuat sang pemilik perusahaan semakin marah. Ternyata lawan mereka merupakan seseorang yang mereka sangat kenal.
Seseorang yang mereka benci karena pernah membantu Surya dalam memberantas korupsi di perusahaan mereka.
"Argantara hariawan!!!! Kurang ajar!! Kau ternyata dalang dibalik kehancuran perusahaanku! Sialaan!!!!" teriaknya lagi dengan mengamuk menghancurkan semua barang yang ada di meja dan melempar semua barang yang bebentuk kaca itu hancur berserakan di lantai.
Semua karyawan yang mendengarnya terjingkat kaget. Merek ahanya berani diam sepeti patung. Tak ingin membantah ataupun menyela Direktur perusahaan yang saat ini sednag mengamuk seperti orang kesurupan Se tan kolong jembatan.
"Kurang ajar! Se taaaaannn!!! Aaaaaa!!!"
Pyaarr!!!
Bugh.
__ADS_1
Bugh.
Bugh.
Berbagai macam suara pecahan kaca dan juga pukulan di dalam ruangan yang tertutup itu.
Dari kejauhan terlihat seorang wanita muda dan wanita paruh baya berlari-lari kecil dengan wajah yang begitu khawatir.
"Mana? Dimana dia?? Masih mengamuk kah??" tanya nya dengan nafas ngos ngosan karena baru saja berlari-lari kecil.
"Nyonya! Nyonya muda! Tuan Damar ada di dalam ruangan. Kami tidak berani masuk karena semua barang di dalam ruangan itu berserakan di lantai karena sengaja di lempar olehnya." Jawab sang sekretaris yang kini sedang menunduk merasa takut dengan tatapan dua wanita beda usia itu.
"Terimaksih, kami akan segera masuk ke dalam!" imbuhnya dengan segera berlalu memasuki ruangan sang suami yang kini begitu banyak barang berserakan dimana-mana.
Mengamuk, menjerit bahkan memukul semua barang yang ada diruangan itu hingga hancur berantakan.
Dua wanita yang merupakan istri dari Tuan Damar itu segera mendekati sang suami yang kini sedang mengamuk itu.
"Abi.."
"Papa.." panggil keduanya bersamaan
Sang direktur yang sedang mengamuk itu berhenti. Ia berbalik dan menatap nyalang pada kedua istrinya.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Bagaikan busur panah yang begitu tajam saat melihat mata itu hingga rasanya menembus ke jantung.
Istri pertama dari Tuan Damar tersenyum teduh padanya. Sedang istri kedua mengukir senyum terpaksa. Karena ia takut pada sanga suami tua nya itu.
Jika bukan karena kedua putraku, maka aku tidak mau menikah dengan tua bangka bangkotan ini! Tapi.. Sayang kalau di tinggalkan begitu saja. Ia begitu hot saat di ranjang! Oh ya ampun Tina! Sadar! Bukan waktunya untuk memikirkan ranjang untuk saat ini! Haisshhh... Batin istri kedua yang bernama Tina itu.
Istri pertama tuan damar mendekat dengan senyum teduhnya yang seketiak melenyapakn rasa amarah di hati Direktur damar yang sudah berusia hampi tujuh puluh tahun itu.
"Sayang.. Ummi.. Abi bangkrut..." lirihnya tak berdaya ketika sang istri memeluknya dan menenangkannya.
"Nita.. Aku bangkrut. Apakah kamu akan meninggalakn ku seperti istriku yang lainnya?" sindirnya pada istri keduanya.
Tina yang di sindir seperti itu menelan saliva nya. "Nggak akan Abi. Kamu suami ku. Kita mulai semua ini dari awal dan bersama-sama. Tina tidak akan meninggalkan mu. Kalaupun dia meninggalkan mu, maka masih ada aku dan ke empat anak kita yang saat ini sedang di perjalanan dan akan pulang ke Surabaya. Yang tenang ya? Ayo kita duduk dulu di dalam kamar. Perlu kami servis?" tanya sang istri pertama yang bernama Nita itu.
Tuan Damar mengangguk. "Hanya dengan mu. bukan dengan yang lain. Kamu pulang saja Tina! Aku tidak ingin di ganggu! Kamu dari seribu wanita sama dengan wanita lainnya. Aku menikahimu, karena kedua anak kita yang kamu ambil paksa dari istriku! Jika bukan karena salah langkah, maka aku tidak akan pernah menikah dengan mu!" ketusnya dengan wajah yang begitu dingin.
Sang Istri menenangkannya. "Sebaiknya kami bekerja sama saja dalam membuatmu senang, bagaimana? Seperti biasanya? Kamu mau kan Tina??" tanya wanita tua bernama Nita yang masih terlihat cantik dengan hijab panjang nya itu.
Tina menelan salivanya. Ia ketakutan melihat sorot mata Tuan Damar yang seakan mengoyak jantungnya.
"Bi.. Jangan melihatnya seperti itu. Bukankah dia juga istrimu?? Dan bukannya kita sudah sering melakukan hal ini bersama-sama? Kamu kan yang sering mengatakan jika kami berdua harus duet??" goda sang istri pada lelaki tua yang kini tersenyum lembut padanya.
"Tentu, apapun yang kamu inginkan, akan aku kabulkan! Mari kita duet!" katanya pada kedua istrinya yang diangguki dengan senyum manis keduanya.
__ADS_1