
Mega terus tersedu di pelukan Arga. Sedang Arga tidak berkata sepatah katapun, karena ia tahu jika istrinya sudah tahu tentang kenyataan yang baru saja lihat.
"Nak? Kamu kenapa?" tanya Ummi Ira pada Mega yang kini masih tersedu.
Arga menoleh pada Ummi Ira. "Kami duluan ya Ummi, Bibi. Ada sesuatu yang harus Abang katakan padanya. Bibi, silahkan lanjutkan makan malamnya. Aku mau menjelaskan sesuatu dulu agar Mega tidak salah paham." Imbuh Arga yang diangguki oleh kedua wanita paruh baya itu.
"Iya, silahkan nak. Selesaikan dulu urusan mu dengan Mega baru setelahnya kita bicara!" jawab Bibi Nita dan diangguki oleh Arga.
Keduanya pun segera beranjak dari meja makan menuju kamar mereka. Bayu menatap nanar pada sang mama yang baru saja mengetahui suatu fakta yang ia sembunyikan.
Bayu menunduk dengan menahan air matanya. Ia pura-pura kembali makan saat kedua paruh baya itu menoleh padanya.
Keduanya tersenyum lembut melihat Bayu makan dengan lahap. Mereka tidak tahu saja jika Bayu saat ini mati-matian menahan isakannya agar tidak terdengar oleh kedua orang itu jika dirinya sedang menangis saat ini.
__ADS_1
Bayu sengaja menutupinya dengan makan begitu lahap agar suara isakan nya tersamarkan walau sekali tubuh itu berguncang tetapi kedua paruh baya itu tidak tahu karena keduanya sedang bercerita.
Berbeda dengan Bayu, Mega mematung dengan tubuh terpaku di tempat saat Arga menjelaskan yang sebenarnya.
Air mata yang tadinya sudah kering kini kembali lagi. Air mata itu terus beruraian seiring penjelasan Arga padanya.
Mega lagi dan lagi tersedu saat mengetahui fakta jika putranya saat ini sudah bisa melihat dengan jela setelah kejadian dimana Pak Joni yang menjadi korbannya.
"Sejak kapan?" tanya Mega masih terdengar sesekali suara isakan disana.
"Ja-jadi.. Saat itu Bayu sudah bisa melihat? Tetapi ia sengaja menutupinya??"
Arga mengangguk. "Ya, ia sengaja menutupinya karena hal yang Abang katakan padamu tadi. Dan kedatangan Bibi Nita kesini pun untuk itu. Kalau tidak malam ini, besok pagi Paman Bang Surya pasti akan datang kesini untuk meminta tanda tangan hak waris dari mu karena ingin menjual perusahaan itu pada seseorang." Jelas Arga ambigu yang membuat Mega mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Jangan bilang jika orang yang ingin membeli perusahaan bang Surya itu Abang?" Tuduhnya tepat sasaran.
Arga menganguk dan terkekeh saat melihat wajah terkejut Mega.
"Tapi kenapa? Kenapa Abang? Apakah Abang sedang merencanakan sesuatu??" tuduhnya lagi pada Arga yang ditanggapi dengan tertawa keras oleh Arga.
Mega berdecak kesal. "Ternyata semua ini ide Abang ya?" tuduhnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Arga menggeleng tetapi masih tertawa. "Bukan Abang, sayang. Tetapi putra kita!"
Deg!
"Kok Bisa? Darimana Bayu bisa membuat masalah di perusahaan besar milik papa nya sedang umurnya saja belum genap tiga tahun? Mustahil ah! Abang ngacok ngomongnnya!" bantah Mega tidak percaya dengan ucapan Arga.
__ADS_1
"Tidak percaya juga tidak apa-apa. Toh, yang rugi juga kamu kan jika suatu saat apa yang Abang katakan ini benar adanya."
Mega mencebik karena kesal pada jawaban Arga. Ia yang gemas langsung saja menerkam Mega hingga membuat keduanya jatuh di ranjang dan tertawa bersama.