Argantara Mega

Argantara Mega
Kemarahan Tuan Damar


__ADS_3

Tuan Damar mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Mega yang menegaskan posisinya dimana.


Ian spontan berdiri dan mendekat ke arah Mega.


Plak!


Plak!


"Wanita rendahan seperti kamu bukanlah pewaris dari harta orang tua kami! Kamu hanya orang lain yang tiba-tiba masuk dan merebut semua harta peninggalan keponakan saya! Siapa kamu berani melawan saya? Huh?! Saya bisa berbuat lebih kejam dari ini jika kamu tidak menurut dengan perkatan saya! Segera serahkan berkas itu sebelum saya dan anak buah saya menghabisi kamu dan juga keluarga baru kamu ini! Kamu tidak ingin menjanda untuk yang kedua kalinya bukan?"


Ddduuuaaarrr!!


Arga spontan berdiri saat melihat sang istri ditampar dua kali di hadapannya.


Kejadian itu begitu cepat hingga Arga tidak sempat untuk menolong Mega. Ia berdiri mematung dan terpaku di tempat saat melihat Mega di tampar hingga wajahnya terhuyung ke samping.


Arga bisa melihatnya. Jika pipi Mega kemerahan dan ada setetes darah yang mengalir disana. Ia mengepalkan kedua tangannya.


Rahangnya mengetat seketika. Kakinya berjalan cepat menuju Mega. Tetapi belum lagi tubuh jangkung itu datang ke tempatnya, ia berhenti lagi karena ucapan Mega selanjutnya pada sang paman yang berujung kemarahan sang Paman padanya.


Mega mengalihkan wajahnya yang terhuyung kesamping dan menoleh pada Paman Damar dengan terkekeh sinis. Sakit di pipi tidak sebanding sakit dihatinya.


Selama ia besar belum pernah sekalipun ada seorang lelaki yang berani mengangkat tangannya kepada Mega.


Tetapi ini?

__ADS_1


"Cuih!" Mega meludah ke samping dimana paman Damar berdiri dan ludahnya itu mengenai sepatu hitam berkilat miliknya yang membuat pria tua bangkotan itu menahan marah dengan sangat.


"Kau!"


"Apa?! Ingin menampar saya lagi?? Atau ingin membunuh saya?? Iya? Ayo lakukan! Saya siap menerimanya!" balas Mega balik dengan menantang pria tua itu.


Apa yang terjadi dengan tuan Damar?


Lelaki tua itu meradang. Ia sangat marah pada Mega dan kembali ingin melayangkan tangannya untuk menampar dan mencekik Mega tetapi kalah cepat dengan Mega yang sudah menendang pusaka miliknya dengan kuat hingga lelaki paruh baya itu jatuh dengan terjengkang dan meringkuk menahan sakit di pusat tubuhnya akibat tendangan kuat dari Mega.


Arga menganga melihat itu. Apalagi semua anggota nya. Mereka sangat terkejut melihat tuan mereka di tendang oleh seorang wanita memakai gamis.


Mega tertawa ngakak melihat Pamannya sakit seperti itu. Ia menatap tajam pada tuan Damar yang masih meraung menahan sakit di pusat tubuhnya yang selalu saja on saat bersama istri muda nya itu.


Tetapi saat ini, benda keramat itu begitu sakit hingga rasanya ingin mati saja dirinya saking sakitnya pusat tubuhnya itu.


Mega tersenyum sinis melihat itu. "Bagaimana? Enak bukan di tendang oleh WANITA JA LANG RENDAHAN DAN HINA SEPERTI SAYA INI?!" ucap Mega pada Tuan damar yang kini menahan marahnya.


Ingin bergerak dan memukul balik Mega, tetapi pusat tubuhnya belum bisa di ajak kerja sama. Seluruh tubuh tuanya serasa mati rasa.


Bibi Nita terdiam terpaku melihat pemandangan itu. Ia tidak menyangka jika Mega sampai seberani itu menendang pusaka sang suami tua nya itu.


"Silaaaaaannnn!! Wanita rendahan! Ja lang!! Kembalikan berkas itu sebelum aku membunuhmu!! Akhhh.." pekiknya lagi masih merasakan ngilu yang sangat di pusat tubuhnya karena baru saja meneriaki Mega.


Mega tertawa melihatnya kesakitan seperti itu. Kemarahan tuan Damar dibuat mainan oleh Mega yang memang sangat sakit saat ini.

__ADS_1


Bukan karena sakit di pipinya. Tetapi karena sakit di hatinya lantaran kasus pembunuhan kedua saudaranya yang di buat oleh Tuan Damar sendiri.


Tadi malam, Mega tahu itu semua dari Bayu dan Arga yang membuatnya meradang seperti ini.


"Itu balasan bagi seorang pembunuh sepertimu! bahkan jika kamu mati sekalipun, hukuman itu belum cukup bagimu lelaki tua bangkotan gila harta dan tamak!"


Ddduuuaaarrr!


Tuan Damar mematung mendengar ucapan Mega. Ia menatap Mega dengan tubuhnya masih terkulai lemas tidak berdaya itu.


Ia melihat Mega menatap nyalang padanya.


Kenapa ja lang ini marah padaku? Seharusnya aku kan yang marah padanya? Pembunuh? Apakah dirinya...


"Kenapa? Kamu kaget jika saya mengetahui jika kamulah dalang dibalik pembunuhan kedua saudaraku yaitu kak Puri dan bang Surya? Iya?"


Deg!


Deg!


Brruuukk.


Bibi Nita jatuh terduduk saat mendengar ucapan Mega. Wajahnya memucat karena terkejut dengan ucapan Mega baru saja.


Apakah itu benar? Jika iya, darimana Mega mengetahuinya? Arga??

__ADS_1


Batin Bibi Nita menerawang jauh dengan air mata yang sudah berjatuhan tanpa dipinta.


Ia tidak menyangka jika sang suami lah otak dari kematian Surya dan Puri dua tahun yang lalu.


__ADS_2