
Setelah mengatakan isi hatinya kepada dua orang yang sudah menyakitinya, tangan tua itu mendial nomor seseorang nan jauh di sana.
"Hallo, assalamu'alaikuam Ga?"
"Wa'alikum salam Bi. Ughh.. Abang! Berhenti dulu ih!"
"Nggak bisa sayang! Ini nanggung!"
Haishhh.." gerutu suara di seberang ponselnya.
Nita terkekeh, "maaf kalau Bibi mengganggu mu. Hari ini Bibi akan ke Medan untuk menemui mu dan Bayu. Ada yang harus Bibi katakan padamu."
Hening.
"Halo Ga? Kamu masih disana? Jika iya, dengarkan baik-baik! Minta pada suami kamu untuk melindungi kamu dan Bayu. Saat ini kami bertiga sedang dalam perjalananan ke Medan. Bibi menyerah Ga.. Bibi capek harus di dua kan begini. Tolong Ga.. Bantu Bibi.. Bibi tidak ingin lagi bersamanya.. Hiks.." Nita terisak di dalam taksi yang tadi mengantarnya untuk menuju ke Bnadara.
Terdengar suara helaan nafas di seberang sana. "Bibi datang saja kesini. Kami akan menyuruh seseorang untuk menjemput Bibi di bandara. Kami tidak bisa kesana karena sedang membuat adik untuk Bayu!"
__ADS_1
Plak!
Hahaha..
Terdengar suara gelak tawa dari suami Mega. "Abang apapan sih! Jangn di dengarkan Bibi. Bang Arga ngacok kalau ngomong! Oke, kami tunggu Bibi dirumah kami. Yang kuat Bi. Kita akan bahas masalah itu nanti saat Bibi sudah tiba di Medan, Ya?" ucap Mega dengan sesekali menepuk tubuh Arga yang disana sedang tertawa.
Bibi Nita pun ikut tertawa walau air matanya terus beruraian. "Tentu Ga. Bibi sedang dijalan menuju ke Bandara. Bibi tutup dulu. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikuam salam.." sahut Mega.
Bibi Nita segera memutuskan sambungan ponselnya dan meratapi nasib pernikahannya dengan suami nya yang selama ini ia bimbing dan ia rubah kepribadiannya.
Sedikit tidaknya, Bibi Nita bisa melihat perubahan suaminya kepadanya setelah kehadiran Tina, madunya.
Tina selalu yang didahuukan. Sedang dirinya di akhirkan. Bukan sekali dua kali, tetapi sering kali.
Bibi Nita hanya bisa bersbar walau sebenarnya hatinya itu begitu perih. Bgaia luak yang selalu tersiram garam setiap harinya tanap henti.
__ADS_1
Belum sembuh luka yang lama sudah ditambah dengan luka yang baru.
Tekadnya sudah bulat untuk mendatangi Mega yang saat ini sudah menikah lagi dengan seorang pemuda yang ternyata calonnya dulu.
Tetapi gagal menikah lantaran Surya yang menikahinya. Abang iparnya. Suami dari kakak kandung Mega yang bernama Purwanti atau sering dipanggil dengan Puri olehnya.
Ia sudah tidak ingin lagi tinggal bersama Tuan Damar. Ia ingin hidup bebas. Gugatan cerainya sudah ia layangkan sejak dua minggu yang lalu dan pengadian sudah mengabulkan karena melihat bukti-bukti yang sudah ada.
Satu bulan lagi, sidang putusan itu akan terjadi. Untuk sementara waktu, ia memilih tinggal di Medan bersama Bayu dan Mega dibandingkan dengan semua anaknya yang kini berpihak pada tuan Damar karena harta.
Harta, Tahta dan Wanita.
Adalah momok yang sangat menakutkan untuk dirinya saat ini. Karena dengan tiga hal tersebut, kehidupannya berubah total.
Dari bahagia menjadi sengsara. Ia terpaksa menutupi semua itu demi satu tujuan. Saat tujuan yang ia butuhkan sudah ada di tangannya, untuk apa lagi bertahan.
Bibi Nita menarik ujung bibirnya saat memikirkan nasib Tuan Damar dan madunya.
__ADS_1
"Kita lihat, sampai diaman aklaianakan bertahan dengan kebohongan kalain selama ini. Aku tidak mudah kalain tipu! Aku sudah tahu semuanya saat Tina masuk ke dalam rumah ku. Tak apa. Semua yang aku butuhkan sudah ada di tanganku. Kita lihat Damar. Aku, atau kamu yang akan menderita nantinya!" imbuhnya dengan seringai yang begitu menakutan keluar dari bibirnya.