ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Kembali


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Aleta dan kedua anaknya tengah bersiap-siap didalam kamar untuk melakukan perjalanan jauh ke Indonesia. Tampak Rubi sangat antusias dengan kepergiannya ini karena dia berharap akan bertemu dengan papanya yang selama ini hanya ia lihat dalam ponselnya saja. Sedangkan Vincent sudah memikirkan beberapa rencana menarik untuk membalas wanita yang dulunya menjadi duri daam pernikahan kedua orangtuanya.


Gara-gara wanita itu, dia dan adiknya tak pernah merasakan kehangatan dari sosok seorang papa. Mamanya juga harus bekerja keras sendirian demi menghidupi kedua anaknya dan merawat mereka tanpa didampingi oleh seorang suami. Dan tentunya Vincent juga akan menyiapkan kejutan menarik untuk papanya itu.


Semua lukisan Rubi pun sudah dikirimkan ke Indonesia melalui jasa pengiriman barang. Untuk kontrak pekerjaan yang sudah terlanjur ditandatangani oleh Vincent akhirnya berakhir dengan bocah cilik itu mengganti rugi kerugian agensi. Namun itu bukanlah hal yang menyulitkan baginya karena uangnya pun masih cukup banyak walaupun diambil untuk membayar ganti rugi.


"Kalian sudah siap?" tanya Aleta menatap kedua anaknya setelah selesai menyiapkan barang-barang yang ada di tasnya.


"Siap mama" seru keduanya secara bersamaan.


Aleta hanya terkekeh melihat kekompakan kedua kakak beradik itu. Sungguh dirinya bahagia melihat anaknya tersenyum dan mau mengikuti dirinya kembali ke Indonesia. Akhirnya mereka keluar dari apartemen yang disewanya selama bertahun-tahun itu kemudian pergi menggunakan taksi menuju bandara.


***


Selama hampir puluhan jam berada didalam pesawat, akhirnya Aleta, Rubi, dan Vincent mendarat dengan selamat di bandara yang ada di negara Indonesia. Ketiganya turun dari pesawat dengan menggunakan masker dan kacamata hitamnya untuk menghindari ada orang yang mengenal mereka.


Mereka terus berjalan ditengah hiruk pikuk keramaian bandara sampai akhirnya sampai di bagian luar. Aleta menghentikan sebuah taksi untuk mengantarkannya ke sebuah hotel yang akan menjadi hunian sementaranya sebelum mereka akan pindah apartemen mewah yang dibelinya.


"Kenapa nggak langsung ke apartemen saja, ma?" tanya Rubi.


"Hari ini masih ada beberapa orang yang membersihkan dan menata ulang apartemen disana. Mama kurang nyaman dengan suara berisik dan terlalu banyak orang" jawab Aleta.


Rubi hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali melihat kearah jalanan kota yang terasa asing baginya. Jalanan yang begitu macet sedangkan dulunya, hampir tak pernah mengalami hal ini. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Aleta dan kedua anaknya sampai juga di sebuah hotel mewah. Setelah selesai menurunkan koper-kopernya dan membayar jasa taksi, ketiganya segera saja masuk ke dalam hotel tersebut.

__ADS_1


***


Brakkk...


"Dev, Aleta ada di Indonesia" seru sahabat Devan memasuki ruang kerja laki-laki itu dengan mendorong keras pintunya.


Devan yang tadinya ingin marah-marah pada orang yang membuka pintunya dengan tak sopan itu pun akhirnya malah duduk dengan mematung. Ia menatap sahabatnya yang kini berdiri di depannya dengan wajah bercucuran keringat itu dengan pandangan mata yang berbinar-binar.


"Dimana Aleta sekarang, Ga?" tanya Devan setelah sadar dari keterkejutannya.


Raga Adiputra adalah salah satu sahabat Devan yang selama ini selalu membantu laki-laki itu untuk mencari keberadaan Aleta sejak awal. Walaupun selama 5 tahun ke belakang keduanya jarang berkomunikasi karena kesibukannya masing-masing, namun Raga dengan baiknya selalu menyempatkan untuk mencari keberadaan Aleta.


"Ada di Hotel Royal" ucap Raga dengan antusias.


Mendengar kabar bahwa Aleta sekarang berada di hotel yang tak jauh dari tempat usahanya tentunya membuat Devan ingin segera bertemu dengan istrinya itu. Ya, sampai saat ini Aleta masihlah menjabat sebagai seorang istri dari Devan karena laki-laki itu menolak menandatangani berkas perceraian. Bahkan pengacara Aleta dibuat kesal akibat kekeras kepalaan dari Devan.


"Tunggu Dev. Kau harus mendengar beberapa hal dulu sebelum menemui Aleta" cegah Raga.


"Apaan sih, Ga. Gue mau nemuin Aleta sekarang juga" kekeh Devan.


Bahkan kini Devan sudah akan berjalan meninggalkan meja kerjanya tanpa mempedulikan Raga yang mencegahnya. Namun Raga masih kekeh mencegah Devan untuk mengunjungi Aleta saat ini juga. Dengan sigap Raga berlari mendahului langkah Devan menuju pintu kemudian menngunci pintunya.


"Apa-apaan kamu, Ga? Masa kamu larang aku ketemu istriku" kesal Devan.

__ADS_1


"Dih... Sekarang aja ngakunya istri, waktu selingkuh itu lagi lupa ingatan atau gimana" sindir Raga kemudian duduk di kursi depan meja kerja Devan sambil memutar-mutar kunci pintu dengan jari telunjuknya.


Devan hanya menghela nafasnya kasar setelah mendengar sindiran pedas dari sahabatnya itu. Mau tak mau dirinya harus kembali duduk di kursi kerjanya menanti apa yang akan diucapkan oleh Raga.


"Jadi apa yang mau kamu bicarakan? Sampai kamu mencegahku untuk pergi menemui Aleta" tanya Devan dengan malas.


"Aleta disini tidak sendiri. Namun ada dua anak kecil yang ikut, aku nggak tahu mereka siapa. Namun jika dilihat dari wajah anak perempuan, dia sangat mirip dengan Aleta. Kemungkinan itu anaknya karena dia tak mempunyai adik atau saudara lain" ucap Raga membuat Devan memelototkan matanya.


Memang saat Aleta dan kedua anaknya sampai di hotel Royal, wanita itu dan Rubi tak menggunakan masker maupun kacamata hitam untuk menutupi wajahnya. Hanya Vincent saja yang mengenakannya karena mereka berdua berpikir kalau hotel itu sudah aman dari orang-orang yang mengenalnya.


"Jangan ngada-ngada kamu, Ga. Aleta belum punya anak, bahkan saat keluar dari rumah pun dia sedang tak hamil. Bahkan malam itu kami masih melakukan hubungan suami istri untuk terakhir kalinya" ceplos Devan tanpa malu.


"Ya nggak usah ngomongin hubungan suami istri juga di depan gue, Dev" kesal Raga.


"Ya sorry, habisnya gue kecplosan dan emosi kalau Aneta udah punya anak" ucap Devan tak enak hati sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gue nggak ngada-ngada. Gue lihat sendiri kalau Aleta bawa dua anak laki-laki dan perempuan. Apa Aleta udah nikah lagi ya, Dev?" tanya Raga sambil berpikir.


Raga tak tahu bahwa sedari tadi Devan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar sahabatnya itu menduga kalau Aleta telah menikah kembali. Devan takkan pernah membiarkan Aleta jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain. Dia masih berstatus sebagai istrinya dan selamanya akan tetap seperti itu.


"Nggak... Aleta nggak mungkin nikah sama oranglain. Dia akan selamanya menjadi istriku" ucap Devan menatap datar langit-langit atap ruang kerjanya.


"Ini kan baru kemungkinan, Dev. Kita harus pastikan lebih dahulu sebelum kamu menemuinya" saran Raga.

__ADS_1


Devan hanya terdiam memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Ada rasa takut di hatinya jika Aleta kini telah berpaling. Pasalnya Aleta hanya tahu kalau dia sudah bercerai dengannya walaupun pada kenyataannya itu belum terjadi.


__ADS_2