ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Perkara Bodyguard


__ADS_3

"Papa diam-diam sewa bodyguard untuk kita?" tanya Vincent.


Vincent, Rubi, dan Andra kini tengah berada di halaman belakang rumah bersama dengan Devan. Malam ini mereka bertiga langsung mencecar pertanyaan kepada sang papa tentang adanya bodyguard di rumah ini. Pasalnya kemarin-kemarin tak ada bodyguard ataupun satpam yang berjaga disana.


Namun ada hal yang membuat Devan tak fokus saat Vincent sudah mau memanggilnya dengan sebutan "papa". Ia sungguh bahagia tanpa memperhatikan ucapan Vincent yang lainnya. Tanpa aba-aba, Devan langsung saja memeluk anak laki-lakinya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Akhirnya kau memanggilku dengan panggilan papa" ucap Devan lirih.


Vincent yang mendengar hal itu tentunya terkejut, bahkan mungkin ia tak sadar tadi saat memanggil Devan dengan sebutan papa. Pasalnya ia sudah sangat penasaran dengan alasan Devan yang menyewa bodyguard. Namun karena sudah terlanjur, Vincent akhirnya memeluk balik Devan sambil mengelus punggungnya lembut.

__ADS_1


"Jadi bisa dijelaskan tentang bodyguard yang ada di rumah ini?" tanya Vincent yang kemudian melepaskan pelukannya dari Devan.


Devan menghapus air mata yang tiba-tiba saja mengalir di kedua pipinya kemudian menganggukkan kepalanya. Ia menghela nafasnya sebentar kemudian melihat kearah Rubi dan Andra yang terlihat menahan tawanya.


"Papa dan mama punya firasat tak enak tentang keselamatan kalian makanya kami memutuskan untuk menyewa bodyguard. Bodyguard itu adalah milik sahabat papa jadi dipastikan kalau tak ada yang akan mengkhianati keluarga ini" ucap Devan memberi penjelasan.


Devan menatap ketiga anaknya yang terlihat terdiam setelah mendengar ucapannya. Mereka bertiga berpikir tentang firasat kedua orangtuanya yang kemungkinan tahu dengan apa yang akan terjadi pada anak-anaknya.


Ketiganya hanya pasrah menganggukkan kepalanya. Mereka tak menduga jika firasat Devan dan Aneta tentang anak-anaknya ternyata sangatlah kuat. Akhir-akhir ini Vincent juga merasakan ada sesuatu yang tidak baik namun ia berusaha untuk positif thinking.

__ADS_1


"Serius banget kalian ngobrolnya" ucap Aneta yang baru saja datang dengan senyuman hangatnya.


Vincent dan Rubi langsung saja memeluk mamanya yang baru saja datang itu. Ketiganya terlibat pelukan hangat yang begitu lama membuat Andra iri. Ia juga ingin dipeluk oleh seorang ibu namun apa daya jika mama kandungnya saja tak pernah memperlakukannya dengan baik.


"Andra... Sini" ajak Aneta dengan melambaikan sebelah tangannya.


Dengan senang hati Andra mendekat kearah Aneta dan kedua saudaranya kemudian ikut berpelukan dengan mereka. Walaupun Aneta sangat benci dengan Seina namun dia takkan pernah membenci bocah polos seperti Andra ini. Ia akan memperlakukan Andra dengan baik seperti anaknya sendiri.


"Pelukannya hangat, Andra ingin setiap hari merasakan ini" gumam Andra pelan.

__ADS_1


Walaupun pelan tentunya gumaman itu terdengar jelas di telinga Aneta. Aneta begitu terenyuh karena ada seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri bisa merasa nyaman di pelukannya. Ia takkan pernah membenci Andra karena bagaimanapun dia juga merasakan kekurangan kasih sayang dari orangtuanya.


Vincent dan Rubi yang juga mendengar gumaman Andra pun langsung menariknya lebih masuk dalam pelukan mereka. Sedangkan Devan yang tak mendengar itu tentu hanya bisa bahagia melihat semua anak-anaknya terlihat begitu akur.


__ADS_2