
Mendengar ada yang memanggil nama Aleta, akhirnya wanita itu dan kedua anaknya segera menegakkan kepala sambil melihat kearah panggilan itu. Namun yang mereka bertiga lihat adalah seorang laki-laki memakai jaket dan celana jeansnya dipadukan dengan topi yang menutupi bagian matanya. Laki-laki itu juga mengenakan masker sehingga sama sekali tak terlihat raut wajahnya.
Namun Aleta kini sedang terdiam dengan pikirannya, pasalnya dia seperti tak asing dengan suara yang didengarnya ini. Namun dia lupa dimana mendengar suara itu bahkan ia juga heran mengapa pria didepannya ini bisa tahu namanya. Laki-laki yang datang ke meja Aleta dan kedua anaknya itu pun menyerahkan sebuah bunga yang ia ambil diatas meja restorant dan tentunya sudah meminta ijin bahkan membayarnya.
"Aku penggemarmu saat kau masih menjadi model disini" ucap pria misterius yang tak lain adalah Devan.
Dengan ragu-ragu Aleta mengambil dua tangkai mawar merah itu karena menganggap hal ini biasa bagi dirinya yang dulunya memang seorang model yang tengah naik daun di Indonesia. Bahkan ia tak menyangka jika masih ada orang yang mengingat dirinya setelah 5 tahun dirinya vakum dari dunia modelling. Padahal yang memberi bunga itu adalah suaminya sendiri yang tentunya akan selalu mengingat wajah dari istrinya.
"Terimakasih" ucap Aleta sambil tersenyum tipis.
Sedangkan kedua anak Aleta hanya menatap menyelidik kearah pria misterius didekat mereka itu. Vincent dan Rubi curiga jika pria ini adalah salah satu dari orang-orang di masa lalu mamanya. Devan yang ditatap sedemikian rupanya oleh kedua anaknya itu pun mendadak gugup dan takut jika identitasnya terbongkar.
Devan pun segera pamit undur diri dari hadapan mereka kemudian tanpa bisa dicegah lagi dia mengacak rambut kedua anaknya dengan lembut. Setelah melakukan hal itu, ia segera berlalu pergi dari dua anak kecil yang mematung mendapatkan perlakuan seperti itu.
Mereka berdua merasakan kehangatan yang belum pernah keduanya rasakan selama ini. Bahkan keduanya dengan refleks menyentuh rambutnya dengan tangan sambil menikmati sisa-sisa usapan itu.
"Apa begini rasanya diusap rambutnya oleh seorang papa" gumam Rubi pelan.
__ADS_1
Walaupun suaranya pelan namun tetap saja terdengar jelas oleh Vincent dan Aleta, pasalnya suasana di meja itu memang sedang hening. Aleta yang masih mengingat siapa orang yang datang tadi, sedangkan Vincent memikirkan tentang ucapan Rubi. Mau bagaimanapun dewasanya cara berpikir Vincent dan Rubi, mereka tetaplah anak-anak yang menginginkan adanya orangtua lengkap.
Bahkan mereka berdua pertama kali ini diperlakukan seperti ini. Sebelumnya siapapun tak boleh yang namanya memegang bahkan mengusak rambut mereka. Namun entah mengapa dengan kali ini seperti ada sesuatu yang menyengat pada perasaan mereka sehingga tak bisa menolak usapan itu.
"Ayo pulang" ajak Aleta mencoba mengalihkan perhatian.
Akhirnya kedua anak itu menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi mengikuti Aleta setelah membayar makanannya. Ketiganya saling bergandengan tangan keluar dari restorant kemudian memasuki hotel tempat mereka menginap. Semua gerak-gerik mereka dari keluar restorant hingga masuk ke dalam hotel ini selalu dipantau oleh seorang laki-laki yang berada didalam mobil yaitu Devan.
"Aku akan membuktikan jika kalian berdua memanglah kedua anak kandungku" gumam Devan sambil menatap dua helai rambut milik Rubi dan Vincent yang sengaja ia cabut saat mengacak rambut keduanya.
Devan akan melakukan test DNA tanpa sepengetahuan Aleta dan kedua anaknya untuk membuktikan tentang mereka. Walaupun ia sudah yakin jika itu anaknya, namun pasti suatu saat itu akan berguna untuk data diri anaknya. Setelah merasa area sekitar sepi, akhirnya Devan melajukan kemudi mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Dalam hatinya, ia sangat bahagia karena sudah menemukan Aleta dan sebentar lagi akan ia pastikan kalau anak juga istrinya akan berada disisinya.
***
Sedari keluar dari hotel, sebenarnya Vincent sudah tahu kalau ada orang yang mengawasi gerak gerik keluarganya dari keluar hotel hingga kembali lagi. Dia sangat peka pada area sekitarnya bahkan merasakan kalau pria misterius yang memberi bunga mamanya itu tak asing dalam kehidupannya. Namun ia tak bisa memprediksi siapa pasalnya tak melihat sama sekali wajah orang itu.
Vincent menatap dua orang perempuan yang teramat ia sayangi yang kini tengah tertidur dengan lelapnya. Tadi ia pura-pura tertidur saat mamanya menemani dia dan adiknya di kasur, namun setelah Aleta terlelap maka ia segera bangun dan memikirkan tentang identitas pria misterius di restorant.
__ADS_1
"Apa mungkin itu papa?" gumamnya.
"Kalau benar itu papa, dia tak ubahnya pengecut sih. Mendekati mama dan kami dengan menyamar sebagai fans bahkan tanpa mau menunjukkan wajahnya" lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.
Dengan perlahan kaki kecilnya turun perlahan dari kasurnya agar tak membangunkan mama dan adiknya yang tertidur. Ia segera duduk di meja belajarnya kemudian mengambil ponsel miliknya dan mulai berselancar didunia maya. Entah apa yang dikerjakan oleh Vincent, namun setelah beberapa menit memegang ponselnya bocah itu terlihat tersenyum penuh arti.
"Ah ternyata benar, kau adalah papaku. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya papaku tersayang" gumam Vincent.
Setelah puas dengan hasil yang didapatkannya, Vincent segera saja mematikan ponselnya dan beranjak dari meja belajarnya kemudian kembali naik keatas kasur. Ia segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga menyelami mimpi mengikuti mama dan adiknya.
***
Devan telah sampai di rumahnya dengan selamat. Ia segera saja masuk ke dalam kamarnya lalu melihat adanya sosok anak kecil yang tertidur diatas kasurnya. Ia segera saja masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah selesai, ia segera naik keatas kasur lalu mengamati wajah Andra yang tertidur dengan polosnya.
Selama ini memang Andra selalu tidur di kamarnya jika sedang menginap disini. Namun Devan selalu menghindarinya dengan tidur di ruang kerjanya. Devan juga akan melakukan test DNA pada Andra walaupun sedari awal Seina selalu berhasil mengelabuhinya agar tak bisa mendapatkan sample rambut atau darah dari anak itu. Selama ini ia hanya tahu jika test DNA bisa dilakukan dengan mengambil sample darah, namun tadi siang Raga memberinya pencerahan untuk mengambil rambut.
"Kau memanglah bodoh, Dev. Seharusnya dari dulu kau bisa melakukan ini, rambut kan mudah didapat" gumam Devan sambil menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Devan pun akhirnya tertidur setelah mengumpati dirinya sendiri. Ia memeluk Andra yang baru pertama kali ia lakukan. Walaupun nantinya Andra bukanlah anak kandungnya, namun ia akan tetap menganggap bocah kecil itu anaknya karena disini yang salah adalah Seina. Anak kecil ini tak tahu apa-apa, jadi tak boleh menanggung dosa yang dilakukan orangtuanya.