
Dua minggu berlalu semenjak Devan mengajukan test DNA antara dirinya dengan Vincent. Rubi, dan Andra. Sedari tadi saat akan berangkat ke rumah sakit, Devan benar-benar gugup. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya karena merasa gugup dengan hasilnya. Walaupun nanti hasil yang akan ia dapat tak sesuai dengan apa yang dipikirkannya, ia akan menerimanya dengan ikhlas.
Devan telah memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit. Begitupun dengan Raga yang juga telah sampai lebih dulu di rumah sakit itu sebelum Devan datang. Kini laki-laki itu tengah menunggu kedatangan Devan di lobby rumah sakit. Raga begitu kesal saat melihat Devan berjalan dengan santai menuju kearahnya, bahkan wajahnya tak menampakkan raut bersalah sama sekali.
"Lama banget sih loe" ketus Raga saat Devan sampai didepannya.
"Diare gue. Nunggu hasil ginian aja bikin perut mules" ucap Devan mengeluh.
Raga hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Devan itu. Menurutnya memang itu bisa saja terjadi pada seseorang yang terlalu gugup dan banyak pikiran. Pantas saja sejak semalam Devan terus menghubunginya dengan dalih tak bisa tidur.
"Ya udah ayo buruan masuk. Jangan sampai cepirit tuh di celana, jadi tahan" ejek Raga membuat Devan mendengus kesal.
Raga pun pergi berlalu dari hadapan Devan agar tak kena amuk dari laki-laki itu. Sedangkan Devan langsung mengejarnya, pasalnya Raga kini malah berlari menuju ke ruangan dokter. Sontak saja adegan itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di rumah sakit. Bahkan ada yang mengira bahwa mereka menjalin hubungan sesama jenis.
***
Keduanya telah sampai didepan sebuah ruangan dokter, segera saja mereka masuk setelah dipersilahkan oleh perawat yang berjaga. Keduanya duduk dihadapan dokter itu dengan gugup, terutama Devan. Dokter itu duduk dengan tenang di kursinya sambil membawa sebuah amplop putih yang diyakini adalah hasil test DNA.
__ADS_1
"Ini hasil dari test DNA yang kami lakukan dua minggu yang lalu. Seperti perintah dari Tuan Devan bahwa test dan hasilnya akan dirahasiakan dari siapapun sekalipun ada yang menyogok dengan uang" ucap dokter itu sambil menyerahkan amplop putih itu.
Devan menerimanya dengan tangan gemetaran dan Raga yang melihat hal itu hanya bisa menahan tawanya. Wajah Devan pun tampak takut dan ragu-ragu membuatnya terlihat pucat pasi. Dengan tangan gemetarannya, Devan membuka amplop putih itu dengan perlahan. Ternyata didalam amplop itu ada 3 kertas putih lagi yang diyakini hasil dari test DNA dirinya dengan Andra, Vincent, dan Rubi.
Devan membuka satu kertas yang paling depan dengan perlahan, sontak saja matanya membelalak kaget saat membacanya. 99% bahwa Vincent merupakan anak kandungnya membuatnya terkejut sekaligus terharu. Begitu pun dengan kertas kedua yang menunjukkan bahwa Rubi juga anaknya. Sungguh dia sangat bersyukur karena ternyata Aleta memiliki anak darinya namun perasaan bersalah mulai menyeruak di hati Devan.
"Vincent dan Rubi anak kandungku" gumam Devan dengan mata berkaca-kaca.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana dengan perjuangan Aleta dulu saat melewati masa kehamilan dan kelahirannya. Devan begitu salut pada Aleta yang mempertahankan kandungannya disaat tak ada suami yang menemaninya. Setelah ini dia berjanji akan menjaga Aleta dan kedua anaknya dengan sekuat tenaganya.
"Udah jadi bapak-bapak juga sekarang loe" goda Raga memecah suasana yang begitu haru menjadi lebih mencair.
Sedangkan dokter uang ada disana hanya terkekeh pelan melihat Raga yang terus saja meledek sahabatnya dengan ucapan tua. Namun dalam hati Devan membenarkan ucapan Raga kalau dirinya sudah punya anak dan menjadi orangtua, harus bertobat agar keturunannya tak meniru dirinya di masa depan.
Tanpa menghiraukan Raga, Devan segera membuka kertas yang terakhir. Dibukanya dengan pelan-pelan bahkan sampai menyipitkan mata karena khawatir dengan apa yang akan terjadi. Benar saja, matanya membulat karena shock dengan apa yang dibacanya bahkan Devan sampai menggeleng tak percaya.
"Ini serius, dok? Andra anak kandung saya?" tanya Devan dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
Raga yang mendengar ucapan Devan pun juga membelalakkan matanya terkejut kemudian menyambar kertas yang ada di genggaman tangan sahabatnya. Raga membacanya dengan seksama dan terlihat begitu shock saat mengetahui hal ini. Kalau seperti ini, memang sudah sepantasnya jika Devan itu ditinggal pergi oleh Aleta.
"Astaga... Loe benar-benar ceroboh, Dev. Pantas saja Seina menuntut dan membiarkan anaknya tetap berada di keluargamu, ternyata dia benar-benar anak kandung loe" ucap Raga sambil geleng-geleng kepala.
"Hasil yang didapatkan ini memang sudah akurat 99%. Bahkan kami sudah mengujinya dua kali dengan sample yang sama namun tetap saja hasilnya 99% anak kandung tuan Devan" ucap dokter itu dengan yakin.
Memang dari segi wajah, Andra lebih mirip dengan ibunya. Namun ketika tersenyum, maka terlihat sekali kalau dia mirip dengan Devan. Namun Devan masih tak mempercayai ini. Kalau ini memang benar, lalu apa yang dimaksud dengan obrolan Seina dan Lucas waktu itu? Apakah Lucas sudah menerima Andra sebagai anak tirinya atau Seina yang tak tahu mengenai fakta ini? Devan benar-benar dibuat frustasi oleh masalah ini.
"Kalau begitu terimakasih, dok. Kami pamit undur diri" ucap Raga setelah tak ada keperluan lainnya.
Raga mewakili Devan untuk berpamitan karena melihat Devan masih shock dengan fakta ini. Raga pun awalnya tak percaya, namun saat mengingat tentang Andra dia mulai membandingkan dengan Devan tentang bagian apa yang mirip antara dua laki-laki itu. Benar saja, garis senyum keduanya sangat mirip membuatnya yakin jika Andra memang anak Devan.
"Gue benar-benar masih nggak percaya tentang ini. Jika memang Andra anakku, kenapa dia melarangku untuk test DNA? Bukannya dengan test DNA bisa menguatkan posisi Andra dan dia? Ini sungguh-sungguh aneh" ucap Devan sambil menggelengkan kepala tak percaya.
"Kita harus menyelidiki ini, Dev. Coba kamu ambil ulang rambut milik Andra lalu kita test di rumah sakit berbeda" bisik Raga pada Devan.
Raga juga melihat kearah sekelilingnya untuk mengetahui apakah ada orang yang mencurigakan atau mengikutinya disini. Bisa saja ada orang yang mengetahui rencana ini dan memiliki ide jahat untuk memanipulasi usaha dari Devan untuk test DNA. Devan menganggukkan kepalanya menyetujui dengan ucapan Raga.
__ADS_1
Keduanya segera beranjak pergi dari rumah sakit itu untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing. Devan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena kini pikirannya sedang tidak pada tempatnya. Dia masih bingung dengan keadaan saat ini. Benar-benar diluar prediksinya selama ini.