ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Kebun Binatang


__ADS_3

Devan, Aleta, Vincent, Rubi, dan Andra sudah sampai di sebuah kebun binatang. Bahkan kini dengan antusiasnya, Andra menarik kedua tangan Rubi dan Vincent untuk berlari ke area dalam kebun binatang itu. Sedangkan Rubi dan Vincent yang ditarik pun hanya bisa pasrah saja. Devan yang melihat hal itu hanya bisa terkekeh pelan, sedangkan Aleta hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aleta paham dengan anaknya yang tak terlalu suka dengan keramaian seperti ini sehingga terlihat sekali kalau wajah mereka masam begitu. Namun bersama Andra, Aleta yakin kalau kedua anaknya akan bertingkah seperti anak-anak yang lainnya.


"Jangan lari-lari, nanti jatuh" tegur Devan.


"Ini seru papa, baru kali ini Andra bisa lari-larian ditempat yang luas" jawab Andra dengan sedikit berteriak.


Suasana di kebun binatang itu memang sedikit ramai sehingga Devan khawatir kalau ketiga anaknya akan jatuh atau menabrak orang-orang yang ada disana. Namun mereka sama sekali tak memperhatikannya bahkan mengacuhkan tegurannya dengan terus berlari.


"Sudah biarkan saja, lagi pula katanya Andra baru pertama kali ini keluar dari rumah dan jalan-jalan seperti ini" ucap Aleta dengan sedikit menegur Devan.

__ADS_1


"Kau sudah seperti ibu-ibu kos yang lagi nagih tagihan sewa" lanjutnya meledek.


Devan hanya berdecak kesal mendengar ledekan dari Aleta itu kemudian berjalan menjauh dari wanita itu. Sedangkan Aleta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Devan terlebih sifatnya itu tak berubah sedari dulu. Aleta pun pergi menyusul Devan dan ketiga bocah kecil yang sudah tak terlihat dari pandangan matanya.


***


Setelah puas berkeliling, mereka akhirnya memutuskan untuk makan di restorant dekat kebun binatang itu. Mereka makan dengan suasana yang begitu hangat sampai keadaan itu langsung lenyap ketika ada seorang wanita yang datang mendekati meja kelimanya. Seorang wanita itu adalah Seina.


"Andra, kok kamu makan di tempat seperti ini tidak ijin dulu sama mama" ucap Seina dengan tak tahu malunya langsung duduk disamping Devan.


Sedangkan Aleta mulai risih melihat Seina yang mencoba untuk bergelayut manja di lengan Devan padahal laki-laki itu sudah berusaha menolaknya. Vincent dan Rubi malah acuh dengan apa yang diperbuat oleh perempuan yang dipanggil mama oleh Andra. Mereka sibuk dengan makanannya agar tak kelaparan.

__ADS_1


"Kok kamu mulai nggak sopan ya sama mama? Jangan-jangan karena dekat dengan anak begadulan dua ini lagi" ketus Seina.


"Bukan salah mereka. Ini semua salah mama yang nggak pernah peduliin Andra" seru Andra tak terima jika kedua saudaranya dituduh.


Seina yang mendengar kalau anaknya lebih membela kedua anak Aleta pun merasa tak terima, bahkan wajahnya sudah memerah karena emosi. Aleta yang melihat suasana sudah tak kondusif lagi untuk anak-anak memilih mengajak mereka menyudahi acara makan ini.


"Selesaikan urusanmu dengan wanita itu. Jangan sampai anak-anak melihat dan mendengar apa yang tidak seharusnya mereka tahu" ucap Aleta.


"Ayo kita pulang, mama akan memasakkan kalian makanan yang enak dirumah" lanjutnya sambil melihat kearah Rubi dan Vincent.


"Andra boleh ikut kan, tante?" tanya Andra sambil memilin ujung bajunya sampai kusut.

__ADS_1


"Tentu" jawab Aleta dengan yakin.


Entah mengapa Andra jauh lebih merasa aman dan nyaman ketika berdekatan dengan Aleta daripada mamanya sendiri. Ketiga bocah kecil itu langsung saja turun dari kursi kemudian pergi bersama Aleta keluar dari restorant meninggalkan Devan dan Seina yang hanya diam. Namun tanpa diketahui, Seina menyunggingkan senyum tipisnya karena berhasil mengusir Aleta dari Devan.


__ADS_2